Merger Klub, PSSI Playing Dangerous!

15 08 2011

Pemenuhan 5 aspek yang disyaratkan oleh PSSI terhadap semua klub LSI ( Liga Super Indonesia ), Divisi Utama dan LPI ( Liga Primer Indonesia ), jika ingin mengikuti format kompetisi musim yang akan datang, memunculkan wacana baru. Merger klub antara Klub LSI atau Divisi Utama dengan klub LPI dipandang PSSI sebagai solusi singkat agar klub bisa memenuhi aspek Legal dan Finansial, 2 syarat wajib calon peserta kompetisi musim depan.

Memang harus diakui, rata – rata klub LSI dan Divisi utama memang belum selesai menyelesaikan proses pembentukan klub yang berbadan hukum dengan membentuk perseroan terbatas ( PT ). Kebanyakan prosesnya masih tersendat di Kementerian Hukum dan HAM.

Sedangkan aspek finansial memang menjadi masalah bagi klub LSI dan Divisi Utama. Selepas dari APBD, mereka masih berusaha mencari sumber pendanaan, sedangkan musim akan segera dimulai. Apalagi PSSI, membuat peraturan sendiri, dengan mewajibkan klub menyetor uang deposit. 5 miliar untuk calon peserta kompetisi level I dan 2 Miliar untuk calon peserta kompetisi level 2.

Yang patut diingat, deposit ini bukanlah persyaratan dari AFC, tetapi merupakan kreatifitas PSSI. PSSI mengatakan deposit ini sebagai jaminan dan dana talangan jika dikemudian hari ada klub yang bangkrut dan tidak mampu menggaji personilnya.

Apa yang dipunyai oleh klub LPI sehingga PSSI menawar – nawarkan mereka kepada klub LSI dan Divisi Utama agar mau merger. PSSI beranggapan bahwa klub LPI telah memenuhi aspek legal, karena sudah berbentuk PT sejak LPI digulirkan.

Sedangkan aspek finansial, PSSI juga beranggapan, klub – klub LPI lebih mapan secara finansial. Karena disokong dana Arifin Panigoro. Tetapi bukan berarti klub LPI mandiri. Mereka masih dimodali oleh Arifin Panigoro, sedangkan sumber pendanaan sendiri juga belum mereka miliki.

Dengan kondisi seperti inilah PSSI menawarkan merger sebagai jalan terbaik. Klub LSI dan Divisi Utama sudah melengkapi 3 syarat yaitu infrastruktur, supporting dan personnel. Beberapa diantaranya juga sudah memenuhi 5 aspek. Sedangkan klub LPI menurut PSSI sudah memenuhi aspek finansial dan legal.

Kombinasi keduanya diharapkan terjadi melalui merger. Sampai saat ini baru PSS Sleman ( divisi utama ) dan Real Mataram ( LPI ) yang menyambut niat PSSI. Kedua pihak tengah bertemu dan sedang penjajakan. Nama klub baru direncanakan menjadi “PSS Real Sleman”. Terdengar janggal memang.

Sedangkan Persebaya, bagi saya tidak bisa disebut merger. Walau Ketua Umum Persebaya yang baru menyatakan hanya akan ada satu Persebaya musim depan. Persebaya 1927 kembali bergabung dengan induknya.

Kebanyakan klub, menolak rencana merger ini. Faktor sejarah dan suporter membuat klub – klub LSI dan divisi utama emoh untuk merger. Mereka lebih suka untuk berjuang sendiri.

Lantas kenapa PSSI menawarkan merger sebagai jalan tengah untuk memenuhi tenggat waktu bagi para klub LSI dan Divisi Utama. Sebenarnya menurut saya perombakan kompetisi tujuan sejatinya adalah untuk mengakomodasi cepat klub LPI kedalam sistem kompetisi tanpa harus menunggu kongres untuk mengesahkan keanggotaan klub LPI sebagai anggota PSSI.

Selain mengizinkan mereka ikut assessment, merger juga menjadi sebuah alternatif permasalahan “keanggotaan” mereka. Merger dengan klub LSI dan Divisi Utama, akan mengakomodasi mereka dengan status anggota milik Klub LSI dan Divisi Utama. Walau nama tidak boleh dirubah karena harus sesuai dengan nama yang ada di PSSI. Paling nama hanya bisa dikotak – katik seperti contoh PSS Sleman dan Real Mataram.

Memang jika klub LPI ini lolos verifikasi dan ikut kompetisi, maka akan menjadi masalah. Karena tak mungkin sebuah kompetisi resmi PSSI justru diikuti oleh klub non – anggota PSSI. Ini menyalahi aturan AFC dan FIFA.

Wacana merger juga selain untuk “mendapatkan secara cuma – cuma” status keanggotaan PSSI, bagi klub LPI ini adalah cara untuk memutar modal yang telah diberikan oleh Arifin Panigoro.

Kompetisi LPI telah dibubarkan oleh PSSI baru. Lantas bagaimana soal modal yang telah dikeluarkan oleh Arifin Panigoro dan konsorsiumnya yang menurut perjanjian dengan semua klub LPI harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu? Apakah modal tersebut digratiskan? menurut saya tentu tidak!

Bolehnya klub LPI untuk mengikuti verifikasi sebagai calon peserta kompetisi musim depan walau berstatus “peserta tidak resmi” bisa dikatakan cara klub untuk terus eksis dan bisa mengembalikan modal. Pun begitu jika merger terjadi. Proses balik modal kepada konsorsium LPI bisa dipastikan terjadi. Merger bisa dikatakan sebagai jaminan balik modal.

Klub LSI dan divisi utama harus hati – hati dan waspada menyikapi wacana merger ini. Karena sesungguhnya PSSI sedang memainkan sesuatu yang berbahaya, yang bisa mengancam masa depan sepakbola Indonesia.

Inilah menurut saya permainan “maut” yang sedang dimainkan PSSI terkait kompetisi :

1. Izin bagi klub LPI untuk mengikuti kompetisi musim depan dengan mengikuti proses verifikasi.

2. Status non – anggota klub LPI tetapi diakui layaknya sebagai anggota dan diizinkan ikut verifikasi kompetisi musim depan.

3. Permodalan klub – klub LPI yang dilakukan oleh pihak tunggal yaitu Arifin Panigoro dan Konsorsium LPI. Ketika LPI bergulir pertama kali hal ini tidak menjadi masalah bagi FIFA atau AFC karena LPI diluar sistem resmi.

Namun jika musim depan klub – klub LPI jadi peserta resmi kompetisi maka permodalan semacam ini akan menjadi masalah karena bertentangan dengan aturan FIFA yang melarang seseorang memiliki lebih dari satu klub. Sedangkan dalam kasus LPI, Arifin Panigoro, bukanlah pemilik klub – klub LPI. Tetapi dia membayar semua gaji pemain, pelatih, staf – staf semua klub LPI. Beda – beda tipis. Tapi sama intinya mendanai banyak klub.

4. Jika klub LPI lolos jadi peserta kompetisi baik level I atau II maka akan menjadi masalah. Karena status mereka bukanlah anggota PSSI dan tidak diakui AFC atau FIFA.

So waspadalah…waspadalah !!!!!!

About these ads

Actions

Information

5 responses

15 08 2011
rafi

PSS dan Real Mataram banyak permasalahan yang timbul salah satunya adalah ditentang dari pihak suporter …

15 08 2011
catatanbujangan

Terakhir baca info justru dalam merger Real Mataram menguasai 95 % saham dalam merger….ngeriiii!!! sama aja pemegang saham tunggal..PSS Sleman “milik” Real Mataram

19 08 2011
adh22play

hmmm.. semakin ruwet –

25 08 2011
rizal

namax juga A B A P apa juga mw dimerger mentang2 AP yang modalin dy jadi ketua umum PSSI, semua peraturan diTABRAK semau AP juga dy lakuin. PSSI itu milik bangsa INDONESIA bukan milik AP .LPI aja g jelas kompetisi apa. kembaliin kompetisi seperti semula bukan seperti kemauan orang yang punya duit

1 09 2011
Adi

Makasih beritanya, semoga saja timnas bisa lebih maju.

Dan dengan adanya PSSI persepakbolaan Indonesia dapat terorganisir dengan baik, baik timnas maupun klub.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 734 other followers

%d bloggers like this: