Terjepit : LSI diacak

10 04 2013

Terjepit. Boleh dikata itulah menurut saya kata yang pas bagi para pengguna parabola non berbayar seperti saya. Semenjak ANTV dan TV One memberlakukan pay per view atau berbayar untuk siaran Liga Super Indonesia, maka acara favorit saya ini mesti hilang sejenak dari layar kaca dirumah saya.

Pihak pemegang hak siar Liga Super Indonesia ( LSI ) tersebut, mengacak siaran dengan tujuan, menurut mereka, memproteksi hak mereka sebagai pemegang hak siar. Bukan hanya LSI yang diacak tapi juga pertandingan Divisi Utama ( DU ) ikut diacak.

Awalnya, soal peng-acakan sinyal ini saya dengar hanya pada para pelanggar TV Berbayar macam Indovision dan Telkomvision. Ketika para pelanggan tv berbayar menggerutu tak bisa menonton klub favorit di LSI, para pengguna parabola masih tenang – tenang saja. Kini pengguna parabola gratisan pun ikut – ikutan menjerit.

Mereka tak membayangkan jika hari ini siaran sepakbola dalam negeri pun harus menjadi “barang mewah” dirumah mereka. Padahal biasanya sepanjang minggu, mereka selalu disuguhi ketatnya persaingan LSI.

Jika dipandang dari hak pemilik siar, maka apa yang dilakukan oleh ANTV dan TV One sih sah – sah saja. Seperti alasan yang mereka ajukan bahwa jika para penyedia para tv berbayar menarik iuran dari pengguna, maka seharusnya yang menyiarkan LSI dan DU pun kebagian dari uang iuran tersebut. Memang inilah alasan awal mereka untuk mengacak siaran pada saluran tv berbayar.

Hanya kemudian, para pengguna parabola seperti saya ikut kesel, sejak mereka membisniskan pula LSI dan DU kepada pada para pengguna parabola. Caranya para pengguna parabola harus mengganti receiver mereka dengan receiver yang telah menjalin kerjasama dengan ANTV dan TV One. ( Receiver matrix garuda yang diiklankan dengan alur cerita yang cukup sederhana mengambil tema kecurigaan istri pada suami ).

Receiver ini memang terkenal ahlinya dalam siaran sepakbola. Maksud kata “ahli” adalah produsen receiver ini memang gemar menjalin kerjasama dengan pemilik hak siar sepakbola. Sebelumnya kalau tidak salah pada Piala Dunia 2010, receiver ini juga menjalin kerjasama dengan MNC Grup.

Pada waktu itu, memang sempat juga ada yang meradang karena untuk menonton event akbar dunia tersebut mesti merogoh kocek mengganti receiver yang hanya berguna selama Piala Dunia.

Namun tidak banyak yang meradang, karena sinyal UHF MNC sudah bagus dan luas jangkauannya. Biasanya para pengguna parabola juga masih menggunakan antena UHF jadi masih bisa mengatasi. Gambar agak bersemut tentunya tidak terlalu menjadi masalah.

Hanya saja, untuk kasus LSI dan DU, maaf – maaf saja sinyal UHF kedua tv tersebut belumlah sebagus MNC Grup. Ini fakta. Sehingga banyak penonton tidak punya alternatif lain untuk menonton jika siaran kena acak.

Belum lagi, misalkan daerah – daerah terpencil yang memasang parabola karena sebuah keharusan jika ingin menonton tv. Saat ini memasang parabola tidaklah mencirikan sebuah gaya hidup mahal. Tapi memasang karena memang tuntutan sebab sinyal UHF masih belum bisa menjangkau mereka, sekalipun antena tinggi sudah terpasang.

Pergi ke warnet, nonton lewat streaming? rasanya percuma. Karena kecepatan internet Indonesia belum mendukung sebuah streaming yang mulus tanpa banyak loading. Belum lagi, seperti kasus pengacakan siaran sepakbola sebelumnya, jika sudah kena acak maka streaming pun akan hilang.

Untuk sementara, mesti mengucap selamat tinggal dulu kepada siaran LSI dan DU, sebelum mendapatkan solusi yang lain.

Pihak pemegang hak siar berdalih mereka melakukan ini selain memproteksi tetapi juga karena mereka masih merugi dalam hal menyelenggarakan siaran LSI dan DU. Meski sebenarnya image mereka sudah sangat banyak terbantu dengan siaran LSI dan DU, sebagai contoh siaran ISL mendapat penghargaan Panasonic Gobel Award pada tahun 2009 dan tahun 2010 dan mereka tak akan memenangkan itu tanpa kehadiran penonton baik yang menggunakan UHF atau Parabola, karena untuk memenangkan penghargaan itu lewat voting sms dari penonton !!!!.

So, untuk apa lagi ada tulisan ” I love ANTV” atau “terimakasih TV One” yang diusung para fans sepakbola yang hadir di stadion yang selalu disorot kameramen saat laga ISL berlangsung.

Jika mereka menggunakan penonton, yang sukarela mendukung, untuk membangun image mereka, lantas kenapa mereka harus membuat mahal satu siaran LSI ataupun DU???

About these ads

Actions

Information

One response

2 06 2013
reza

Betul tuhh .
Tapi sekarang , isl udah FTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 737 other followers

%d bloggers like this: