KRISIS PLAYMAKER

Dua kekalahan Indonesia dari Myanmar dan Thailand dalam ajang AFF Youth Cup Vietnam 2016 membuat skuad muda Garuda kini harap – harap cemas menghadapi pertandingan ketiga yang dijadwalkan esok hari, Jumat 16 September 2016. Imbang atau kalah sama saja dengan menutup pintu langkah Indonesia ke babak semifinal.

Permainan timnas U19 sebenarnya menjanjikan. Torehan 4 gol dalam 2 partai awal membuktikan bahwa Indonesia mempunyai daya saing di turnamen yang pernah dijuarai pada tahun 2013 lalu. Sayangnya faktor persiapan yang singkat karena PSSI baru diaktifkan kembali dan ujicoba seadanya membuat potensi meraih poin di 2 pertandingan awal lenyap.

Ada kelemahan yang sangat kentara dalam permainan Timnas U19 arahan pelatih Eduard Tjong. Ketiadaan pengarah dan pengatur bola (playmaker) di lini tengah serta mudahnya lini tengah diterobos lawan karena gelandang bertahan yang tidak berfungsi. 

Diluar faktor kematangan bertanding yang menjadi kelemahan lainnya akibat tidak adanya kompetisi resmi, berdurasi panjang juga berjenjang yang dimiliki PSSI untuk usia muda, kehilangan seorang playmaker  merupakan kelemahan krusial sehingga membuat permainan tergesa – gesa dan mudah dihentikan lawan.

Jika pada tahun 2013 ada Evan Dimas yang kini mulai digunakan di timnas senior, pada tim yang sekarang tidak ada. Bola dialirkan dengan cepat dari kedua sisi lapangan memanfaatkan kecepatan winger – winger Indonesia meski hasilnya sering tidak sesuai.

Saat ini bukan hanya di usia muda namun juga senior, seorang playmaker menjadi spesies langka. Evan Dimas satu – satunya nama yang paling sering disebut akhir – akhir ini. Memang Indonesia masih memiliki Firman Utina, Eka Ramdani atau Ramdani Lestaluhu tetapi jika dibandingkan dengan ‘kelahiran’ winger – winger maka perbandingan jumlahnya sangat jomplang.

Sebutlah Anis Nabar, Zulham Zamrun, Ilhamudin, Maldini Pali, Terens Owang, Bayu Gatra dan masih banyak lagi. Mereka adalah spesies pemain sayap dan penyerang yang memiliki ketajaman berbekal kecepatan dan olah bola. Habitat mereka adalah disisi lapangan dan kesenangan mereka memang menyayat pertahanan lawan dari sisi lapangan.

Winger ini terus terlahir disisi lain kelahiran dirijen lapangan tengah terhambat. Entah karena kurikulum pembangunan sepakbola Indonesia yang mengakibatkan hal ini tapi ah rasanya kurikulum pun belum dimiliki PSSI. Jadi apa yang menghambat proses kelahiran seorang playmaker yang semakin langka dibandingkan dengan era 90an nama – nama  playmaker seperti Fachri Husaini, Ansyari Lubis, Yusuf Bachtiar, dan Uston Nawawi  bermain  bersama dalam satu kompetisi.

Cobalah ketika playmaker Indonesia di halaman google, beberapa hasil pencarian mungkin berjudul “playmaker top yang bermain di Indonesia” tetapi setelah ditelusuri ternyata nama – nama pemain asing lebih banyak disana. Apakah ini jawaban absolut? Bisa saja. Meski jika dirunut banyak jawaban yang bisa diajukan. Hanya hasil pencarian google tadi mengingatkan saya pada satu klub yang saat ini berkompetisi di Indonesian Soccer Championship yang enggan menggunakan playmaker muda binaan sendiri dan lebih memilih menempatkan pemain asing di posisi itu bahkan karena hasilnya belum memuaskan, kerinduan pada playmaker asing lainnya yang sebelumnya pernah berada di klub itu lebih mengemuka daripada menuntut memberikan kesempatan kepada pemain muda.

Jika ada jawaban bahwa ini akibat pembekuan PSSI bisa saja tapi tokh kita harus ingat bahwa sebelum dibekukan pun kondisi pembinaan sepakbola Indonesia masih beginih – beginih aja.

Posted from WordPress for Android

Harimau : Raja Hutan, Fact or Myth?

The Jungle Book dan Tiger : The Old Hunter’s Tale merupakan dua film dari dua benua yang menjadikan harimau sebagai salah satu tokoh utama. Shere Khan, seekor harimau bengal, menjadi musuh Mowgli dalam the Jungle Book, sedangkan seekor Harimau Korea (kini dikenal sebagai Harimau Amur atau harimau siberia ) yang dijuluki , Penguasa Gunung Jirisan, menjadi lawan aktor Choi Min Sik di The Old Hunter’s Tale.

Kedua harimau tersebut muncul dalam film sebagai hasil rekayasa teknologi CGI (Computer Generated Image). Namun hasilnya mengesankan, kemampuan aktor di kedua film tersebut mampu membuat seakan mereka mempunyai lawan akting yang nyata.

Selain sama hasil rekayasa komputer, tentunya kesamaan lain dan sesuai dengan apa yang telah kita dengar selama ini kedua “kucing besar” ini digambarkan sebagai  raja hutan yang ditakuti bukan hanya oleh binatang lain termasuk sesama predator, tetapi juga oleh manusia.

Muncul rasa penasaran, kenapa harimau yang kini dijaga kelangsungan hidupnya agar tidak punah mendapatkan status Raja?. Memang agak sulit mendapatkan sumber pertama yang menyebutkan bahwa kucing yang masuk dalam genus panthera adalah penguasa hutan. Apakah dari luas wilayah yang bisa dijelajahi seekor harimau? ataukah dari kekuatannya? atau yang lainnya?.

inside right amur tiger by Sergei Belsky

Seekor harimau betina bisa memiliki wilayah perburuan seluas 20 km persegi. Harimau jantan lebih luas lagi yaitu mencapai 60 – 100 km persegi.  Dari segi kekuatan, seekor harimau bisa membunuh mangsa yang memiliki ukuran 2 kali lebih besar, mampu melompat  vertikal setinggi 4 – 5 meter dan melompat horizontal sejauh 6 meter, juga mempunyai suara yang menggelegar bahkan auman seekor harimau bisa terdengar sampai 3 kilometer. Bukan hanya itu, jika dihadapkan pada mangsa yang mempunyai kecepatan berlari, harimau sering kalah cepat, namun ia akan mengakalinya dengan cara berburu yang efektif, bersembunyi dan menyergap secara tiba – tiba. Satu pukulan dengan kaki depannya cukup untuk menghancurkan tengkorak seekor beruang.

Harimau adalah pemburu yang bekerja sendiri dan memang merupakan penyendiri. Wilayah kekuasaan yang luas tidak membuat mereka lupa berbagi, karena seringkali bisa ditemukan dua ekor harimau pada luas wilayah yang sama atau juga hewan pemangsa lain bisa berdampingan berburu mangsa di wilayah yang sama.

Hewan ikonik dalam kebudayaan manusia yang ironisnya justru hampir punah karena manusia itu sendiri sering dipercaya memiliki kekuatan mistis. Bukan hanya itu organ – organ tubuhnya dipercaya berbagai pengobatan, sehingga tidak aneh jika jumlah harimau semakin menyusut.

Tapi bukankah kita sering mendengar singa juga Raja Hutan? Sebagai dua kucing besar dan predator keduanya memang dipercaya sebagai raja. Namun keduanya menguasai dua hutan yang berbeda. Karena harimau hanya hidup di belahan benua Asia dari mulai Turki hingga Rusia, sedangkan singa di benua Afrika dan benua eropa. Singa dan harimau berbagi hutan yang sama hanya di negara India.

Membangkitkan rasa penasaran, siapakah raja diraja diantara keduanya? Ternyata pertanyaan tersebut telah mengusik pikiran manusia sejak dahulu, bahkan untuk membuktikannya pada arena sirkus Roma kuno sering dipertontonkan pertarungan antara singa vs harimau. Bahkan Kaisar Roma, Titus, memiliki harimau jagoan dari jenis harimau Bengal yang sering ia tarungkan melawan singa.

Gunga, seekor harimau yang dimiliki Raja dari Kerajaan Awadh (Oude/ Kini United Provinces dibawah Pemerintahan India), memiliki catatan 30 kali membunuh singa dalam pertarungan bahkan saat dipindahkan ke Kebun Binatang London (London Zoo) ia juga membunuh singa lain disana.

Salah satu pertarungan yang dicatat sejarah adalah pertarungan antara Atlas (seekor singa jenis Barbary yang merupakan salah satu jenis singa terbesar) melawan seekor harimau Bengal dengan reputasi pernah memakan manusia di daerah Shimla pada abad 19 yang diadakan Dinasti Gaekwad yang menguasai daerah Baroda (sekarang dikenal dengan nama daerah Vadodara dibawah pemerintahan India).

Kedua hewan ganas ini ditempatkan dalam sebuah arena dengan diameter 15.24 meter dan  dikelilingi pagar setinggi 1.83 meter, penonton mengelilingi mereka. Harimau Shimla (Kita singkat dengan sebutan Shimla biar ga kepanjangan ngetiknya hehehe) mempunyai tinggi 1,02 meter dan panjang tubur 3,05 meter. Sedangkan Atlas sang singa mempunyai ukuran tubuh lebih besar.

Selayaknya pertarungan antara dua petinju, catatan sejarah juga mengungkap pertarungan ini bisa dibagi menjadi 6 ronde. Dari salah satu sumber, ronde pertama Shimla langsung menyerang namun diakhir ronde atlas berhasil mendaratkan pukulan yang mengoyak telinga shimla, shimla yang berguling dilantai karena pukulan ini berhasil lolos dari atlas dan kemudian menjaga jarak.

Ronde dua, Shimla kembali menunjukkan agresivitasnya ia melompat sejauh 6 meter untuk kemudian mendarat dipunggung atlas. Keduanya terlibat saling memukul, mencakar selama tiga menit, Shimla tidak lagi menjaga jarak seperti di ronde pertama. Keduanya mengalami cedera berat. Shimla, meski bertubuh lebih kecil, namun ia memiliki kecepatan yang tidak bisa ditandingi Atlas.

Ronde Tiga, Shimla mulai tahu kelemahan atlas. Ia bergerak mengelilingi atlas. Ketika atlas lengah karena tidak bisa merespon kecepatan gerakan shimla, shimla kembali menyerang punggung atlas. Akhir ronde ini dua sayatan jelas nampak di punggung atlas. Secara teknis ia telah kalah dari shimla. Ronde empat, shimla mengulangi gerakan mengelilingi atlas yang sudah kehabisan napas, namun ia tetap memberikan perlawanan hebat. Ronde Lima, Atlas diselamatkan surai ketika shimla mengincar lehernya. Shimla yang mencoba menggigit leher atlas terhalangi oleh surai sehingga terpaksa mengendurkan serangan dan kesempatan ini dimanfaatkan atlas untuk melancarkan serangan dengan kaki depannya yang membuat shimla terlempar sejauh 6 meter. Ronde lima juga memperlihatkan atlas sudah kehabisan tenaga dan tak mampu mengimbangi gerakan akibat luka – lukanya.

Ronde enam, taktik mengelilingi tubuh atlas kembali dilancarkan shimla. Peluang terbuka, shimla langsung melancarkan serangan dengan kaki depan dan belakang selama 40 detik, atlas bertahan habis – habisan, ia berhasil melempar tubuh shimla tetapi itulah pertahanan terakhir atlas karena singa barbary ini kemudian jatuh dan mati.

Atlas dimakamkan bak pahlawan. Dinasti Gaekwad mengeluarkan dana sebesar 37 ribu Rupee untuk biaya pemakamannya.

Apakah ini membuktikan harimau lebih kuat dari singa? tidak selalu, karena mereka berdua saling mengalahkan dalam pertarungan bahkan di alam bebas sekalipun. Namun menurut beberapa keterangan memang harimau akan lebih kuat dan mempunyai kesempatan menang lebih besar daripada singa.

Salah satu alasannya karena singa adalah pemburu yang berburu berkelompok sedangkan harimau berburu mangsa sendirian. Dalam pertarungan satu lawan satu harimau lebih terlatih. Harimau dalam pertarungan akan memberikan segala kekuatannya untuk mengalahkan lawan dengan agresif dan juga penuh taktik.

Oh ya dalam hal berbagi dengan sesama mereka pun ternyata harimau lebih bisa berbagi. Seekor harimau jantan akan membiarkan harimau betina dan anaknya untuk makan terlebih dahulu. Singa jantan sebagai pemimpin kelompok akan mendapatkan jatah makan duluan meskipun yang berburu adalah singa betina.Jika dua harimau secara kebetulan berada di satu areal perburuan yang sama mereka juga bisa berbagi satu mangsa.

Namun keduanya tidak selalu bersaing karena di alam bebas, singa dan harimau bisa kawin dan melahirkan keturunan yang dinamai Lion – Tiger disingkat menjadi Liger.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Jadi dengan segala kekuatan dan pembuktian di arena pertarungan, harimau terbukti bisa mengungguli sesama raja hutan, maka apakah pantas disebut raja hutan? Rasanya ya, tetapi kembali seperti penjelasan diatas keduanya memang raja di hutan yang berbeda bahkan di India sekalipun mereka berbagi wilayah. Fakta lain seekor buaya bisa membuat singa melangkah mundur tetapi harimau tidak pernah takut kepada ancaman buaya.

sumber :

http://www.wikipedia.org

http://www.quora.com

http://www.nationalgeographic.com

 

Angka 4 Untuk Belencoso

Angka 4 menjadi sesuatu yang keramat untuk Persib tahun ini. Bagaimana tidak, angka 4 sudah membuat dua orang dari klub berjuluk Maung Bandung ini berhenti dan diberhentikan. Kalah 4-1 melawan Bhayangkara Surabaya United, Dejan Antonic memilih mundur sebagai pelatih, dan kalah 4-0 dari Semen Padang, Juan Belencoso diputus kontraknya oleh manajemen.

Pagi ini di beranda akun media sosial, ada sebuah foto yang menunjukkan Juan Belencoso termenung di samping gawang dalam latihan Persib. Ia tidak diajak dalam gim internal dan menurut keterangan yang menyertai foto tersebut ia hanya sesekali melakukan peregangan yang berarti ia sudah tidak diajak berlatih.

Jika kita menurut perasaan rasanya tidak adil jika striker dengan kontrak termahal di Persib ini diperlakukan seperti itu. Namun fakta bahwa ia belum mencetak satu gol pun bahkan kesulitan melakukan shooting ataupun heading ke arah gawang lawan membuatnya tak bisa berkelit ketika Manajer, Umuh Muchtar, muntab mencari kambing hitam saat Persib kandas di Stadion Agus Salim Padang hari Senin lalu.

Melihat pada penampilan stiker Spanyol yang pernah menjadi topskor di AFC Cup ini memang menunjukkan ia kesulitan beradaptasi dengan taktik dan strategi pelatih baik ketika masih bersama Dejan Antonic atau saat ini bersama Djajang Nurjaman. Sebagai ujung tombak ia seringkali berada dalam posisi membelakangi gawang harus selalu jauh dari kotak penalti, ball keeping-nya mudah direbut, dan body charge juga tidak terlalu kuat. Ia lebih kepada tipe penyerang yang dilayani, petarung di kotak penalti. Soal dilayani inilah yang menjadi masalah karena Persib saat ini tidak mempunyai pengumpan yang handal. Winger – winger Persib seringkali tidak akurat memberikan umpan ke kotak penalti. Mungkin akan berbeda nasibnya jika Belencoso sudah ada ketika pemain seperti M.Ridwan, Firman Utina dan Makan Konate masih ada.

21-5.jpg

Justru dalam beberapa penampilan ia lebih berguna ketika memilih turun ke lapangan tengah pada posisi yang sering ditempat Robertino Pugliara saat ini. Pada posisi itu ia bisa menjadi pembagi bola yang baik. Penampilan lainnya yang membuat ia nyaman dan bisa mencetak gol hadir ketika Persib berlaga di Piala Segitiga Ciamis. Belencoso bisa mencetak 2 gol dalam 2 pertandingan sehingga ia mengatakan inilah gaya permainan yang cocok dengannya. Salah satu pujian ia sematkan kepada Febri Haryadi yang mampu menyajikan banyak umpan ke kotak penalti. Sayangnya di gelaran Indonesian Soccer Championship, Febri Haryadi belum sekali pun diturunkan.

Tidak beruntungnya Belencoso di Persib selain karena komposisi skuad yang tidak seimbang dibandingkan dengan gaya bermain saat ini, adalah juga belum ditemukannya strategi yang pas baik ketika ditangani Dejan Antonic dan Djanur sekalipun. Djanur saat ini masih mengadopsi formasi yang diterapkan oleh Dejan Antonic hanya menitik beratkan serangan dari sektor sayap. Sejak ditangani Djanur penampilan Persib terutama ketika membangun serangan masih labil.

Jika mau bersabar rasanya akan ada sesuatu yang bagus dihadirkan oleh striker Spanyol kelahiran tahun 1981. Bahkan jika mau fair, belum ada striker persib lainnya yang menunjukkan performa apik. Sergio Van Dijk baru mencetak 1 gol lewat penalti, Samsul Arif yang kerap terpinggirkan baru mencetak 2 gol. Masalah mereka semua sama belum nyetel dengan taktik dan gaya bermain yang masih dicari kemapanannya.

Hanya inilah Persib yang sering dilanda ketidaksabaran. Sehingga striker yang pernah satu tim dengan Diego Costa (Chelsea) ini harus cepat mengakhiri karir di klub yang pernah ia bobol pada babak 16 besar AFC Cup 2015.

 

 

Euro 2016 : ANTI TIKI TAKA

Bertahan terkadang lebih penting daripada menyerang. Sepertinya itulah filosofi permainan beberapa negara yang bertarung di Euro 2016. Sebut saja Irlandia Utara, Wales, Islandia bahkan Italia membangun pusat permainan mereka lewat permainan bertahan untuk melancarkan serangan balik ke jantung pertahanan lawan. Italia dan Islandia terhenti di babak perempatfinal, sedangkan Wales menyudahi kiprah mereka di semifinal.

Mungkin Euro 2016 menjadi sebuah tempat kelahiran anti tiki taka. Gaya bermain yang menekankan pada penguasaan bola dengan tujuan memperbesar peluang mencetak gol yang dipopulerkan Barcelona dan timnas Spanyol, kini mulai bisa teratasi. Gaya bermain yang terkadang meniadakan penempatan striker murni dan mengganti dengan seorang gelandang agar aliran bola bisa terus lancar di Euro 2016 terhentikan.

Kekalahan Spanyol menjadi cermin bahwa tiki taka belum tentu dapat diandalkan di masa mendatang, seperti yang diungkapkan pemain bertahan Spanyol, Gerard Pique, bahwa saatnya Spanyol berganti gaya bermain. Spanyol kalah oleh formasi klasik 3-5-2. Formasi tersebut sudah tidak terlalu banyak digunakan karena sekarang yang sering digunakan pada level klub atau timnas adalah varian  formasi 4-4-2. Gaya Italia yang bertahan dan melakukan serangan balik dengan cepat, membunuh Spanyol yang dalam pertandingan tersebut “dibiarkan” banyak menguasai bola.

untitled

Bertahan tidak selamanya negatif. Seperti yang dikatakan Manajer Polandia, Adam Nawalka, bahwa dengan bertahan mereka sebenarnya mengendalikan lawan. Polandia meraih hasil imbang tanpa gol saat bertemu Jerman di fase grup. Adam Nawalka menegaskan bahwa penguasaan bola Jerman yang tinggi adalah bagian dari skenario mereka.

Kalau sebelumnya terkenal istilah Parkir Bis untuk gaya total defensif yang sering digunakan satu tim ketika berhadapan dengan tim yang memiliki kualitas pemain lebih baik dan mempunyai ketajaman, sekarang istilah itu tidak terlalu terdengar, mungkin berganti menjadi Efektif.

duet striker menjadi penting kembali.

Kekalahan Jerman dari Prancis di babak semifinal membuktikan bahwa posisi seorang Big Man di lini depan tetap diperlukan. Ketika menghadapi Turki di babak grup sebenarnya Joachim Loew telah mengganti gelandang serang Mario Goetze dengan striker murni Mario Gomez dan skema ini dipertahankan sampai dengan babak perempatfinal. Namun di semifinal Emre Can, seorang pemain tengah, yang menggantikan peran Mario Gomez dan Thomas Muller, yang belum mencetak satu gol pun di Euro 2016, diandalkan mengambil alih peran pencetak gol.

Skema tersebut gagal total meski Prancis “mempersilakan” Jerman menguasai bola sebanyak – banyaknya. Memasang 3 gelandang yang fasih bertahan dan menyerang yaitu Blaise Matuidi, Moussa Sissoko, dan Paul Pogba, akhirnya Prancis menumbangkan juara Piala Dunia 2014 tersebut.

Prancis mirip dengan Italia ketika menyerang. Mereka mengandalkan seorang striker yang mampu berduel dengan pemain bertahan lawan dengan kekuatan fisik yang dikombinasikan dengan seorang pelari cepat. Italia punya Graziano Pelle – Eder, Prancis memiliki Olivier Giroud – Antoine Griezzman.

Duet ini bisa ditempatkan sejajar seperti Wales yang memainkan Gareth Bale dan Hal Robson Kanu, atau seorang striker ditempatkan sendiri di lini depan. Bagaimana pun penempatannya pada prakteknya ada dua pemain dengan posisi asli penyerang. Ini meniadakan pola tanpa striker ataupun striker tunggal yang sempat menjadi trend karena para manajer memilih untuk memainkan banyak pemain tengah dengan harapan bisa banyak menguasai bola.

3-5-2, duet striker, ah memang seperti inilah sebuah trend yang akan tidak akan hilang tetapi berputar mengikuti perubahan arus waktu. Jika dalam beberapa tahun terakhir tiki – taka menjadi contoh permainan banyak tim, bisa jadi Euro 2016 mempopulerkan kembali gaya bermain klasik yang sempat ditinggalkan.

Oh ya, berdasar statistik 5 tim dengan penguasaan bola terbaik per pertandingan, semuanya telah angkat koper dari Prancis.

sumber : http://www.uefa.com

 

 

#dejan_don’t_out

Imbang di kandang itu sama dengan kalah. Kalimat ini pernah diucapkan oleh Alm.Ateng Wahyudi, Manajer Persib kepada Indra Thohir yang saat itu masih menangani Maung Bandung, julukan Persib. Inilah pula yang dirasakan bobotoh menerima hasil imbang Persib melawan Madura United di Bandung hari Sabtu pekan lalu.

#Dejanout. Hashtag yang menjadi populer di lini masa twitter sehabis pertandingan tersebut menandakan kekesalan bobotoh. Bukan hanya soal imbang tetapi sampai dengan saat ini pola permainan yang masih terlihat tidak sempurna menjadi kekecewaan lainnya.

Jika diingat pada awal kedatangan Dejan Antonic ke Persib sebetulnya ia cukup berhasil. Ujicoba melawan Bali United di Bandung berhasil ia menangkan. Lolos ke Final Piala Bhayangkara dan menjaga catatan pertandingan Persib hanya 2 kali kalah dari Arema. Memang dalam beberapa pertandingan, Persib menunjukkan masih butuh waktu untuk memproses skema permainan yang diinginkan Dejan. Meski tampil buruk tapi Persib dapat mempertahankan stabilitas permainan dan tidak mengalami kekalahan.

Pola permainan saat ini memang masih buruk. Komunikasi tidak berjalan, kekompakan masih bayang – bayang semu, dan gol yang tercipta baru satu kali lewat skema permainan terbuka. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi :

  1. Cedera Rahmad Hidayat.

Tidak bisa dipungkiri Rahmad Hidayat adalah penerjemah pola permainan yang diinginkan Dejan di Persib. Ia telah fasih memainkan posisinya dalam formasi 4-2-3-1 dan gaya pressing tinggi. Dalam dua pertandingan melawan Bali United dan PSS Sleman, ia menunjukkan selain sebagai playmaker juga pencetak gol yang handal.

2. Hail Lord

Lord Atep pada Torabika Soccer Championship (TSC) sering datang dari bangku cadangan. Biasanya ia mengganti David Laly atau juga Robertino Pugliara. Dalam tiga pertandingan terakhir di TSC melawan Bali United, Persiba Balikpapan, dan Madura United, ia mempunyai kesempatan untuk memberikan assist ataupun mencetak gol. Namun ia gagal melakukan semua itu. Atep ketika tidak memberikan assist terlihat ingin membuktikan dirinya bahwa ia masih mampu dan bangku cadangan bukanlah tempat baginya. Sayangnya sejauh ini ia tidak sukses dan malah memperlihatkan adanya masalah pada kekompakan antar pemain.

3. Persib Kehilangan winger yang mumpuni.

David Laly memang mempunyai olah bola yang bagus, kecepatan dan keberanian. Tapi ia sering kali menunjukkan tidak matang mengambil keputusan. Ia selalu ingin melewati satu atau dua pemain lawan membawa bola hingga ke garis tepi lapangan sebelum melepaskan umpan. Dalam melakukan “hobi” -nya ini banyak sekali momen bagus yang terpaksa hilang percuma. Samsul Arif? terlalu dipaksakan bermain di posisi flank meskipun punya kecepatan namun akurasi umpannya rendah.

Seharusnya Tantan bisa menjadi harapan tetapi ia yang dulu sangat tangguh dalam melindungi bola dan mendobrak pertahanan ketat lawan, sekarang mudah kehilangan bola. Sedangkan Febri Haryadi belum dinilai matang sejak ia masih menunjukkan belum terlalu bisa mengatur ritme permainannya.

4. No Playmaker.

Berkaitan dengan poin pertama, pengganti yang diharapkan bisa menjadi sutradara permainan bukanlah pemain tanpa pengalaman. Robertino Pugliara sudah lama malang melintang di sepakbola Indonesia, hanya saja selama ini ia masih kesulitan menempatkan dirinya dalam permainan. Sebetulnya masih ada Gian Zola di bangku cadangan namun belum pernah di coba dimainkan di TSC.

5. Kompak?

Kemana kekompakan para pemain saat ini? Rasanya jika kekompakan ini sudah terjalin, poin 1-4 bisa diatasi. Namun saat ini terlihat komunikasi yang tidak berjalan baik, para pemain masih menunjukkan ego yang tinggi dalam bermain. Apakah istilah bobotoh untuk Kim Jeffrey Kurniawan, si anak emas, ikut menyumbang sulitnya kekompakan ini terbangun?.

Kim Jeffrey rasanya dipilih karena staminanya. Memang masih ada M.Taufiq yang lebih matang hanya saja pergerakannya terbatas tidak seperti Kim. Dejan menginginkan pressing ketat dan M.Taufiq secara logika bukanlah pilihan yang tepat untuk itu sejak ia dalam bermain lebih banyak berputar di areanya sendiri.

Pandangan bobotoh yang berbeda terhadap Kim bisa saja malah menumbuhkan ego pemain.

Dejan Antonic mempunyai beban yang berat. Jeda TSC selama seminggu ini bisa dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang luwes antar pemain. Ketika Djajang Nurjaman pertama kali menangani Persib ia mempunyai keuntungan memanfaatkan koneksi M.Ridwan – Supardi dan membangun poros permainan Persib di sayap kanan. Kali ini Dejan belum mempunyai itu dan harus membangun dari awal.

Dejan layak diberikan waktu dan tidak seharusnya ia out cepat – cepat.

 

 

 

“Mencairnya” PSSI : HAMBAR

Pembekuan itu akhirnya mencair setelah Menpora, Imam Nahrawi, pada Selasa malam tanggal 10 Mei 2016. Dua alasan yang akhirnya meluluhkan sikap Imam Nahrawi adalah menghargai putusan Mahkamah Agung dan sikap FIFA. Menghargai. Kata ini mendasari kedua alasan tersebut. Entah bermakna sudah puas atau belum pokoknya PSSI kini aktif lagi. Genap satu tahun PSSI dibekukan? namun kalau diingat ice cream yang sudah mencair biasanya berasa hambar, apakah ini pun demikian?.

Sebelum soal hambar, pencabutan ini disambut suka cita seluruh pendukung klub – klub eks QNB League yang kini berkompetisi di Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Seakan meraih kemenangan yang sudah lama dinantikan. Karena hanya segelintir saja yang sejalan dengan Menpora, sisanya berseberangan dengan alasan jika ingin mengusir tikus dari sebuah gudang tak perlulah gudang tersebut dihancurkan. Hanya saja Menpora pun tahu akan sulit infiltrasi ke tubuh PSSI, maka pembekuan diambil sebagai jalan. Apa maksud ini semua? hanya mereka yang tahu. Adanya beberapa klub yang sudah dicoret dari keanggotaan PSSI lalu pro kepada Menpora, bisa jadi salah satu alasan. Namun entahlah.

Lantas selama setahun pembekuan ini apakah Menpora berhasil “menang”? Tidak juga jika kompetisi yang dijadikan patokan. Kompetisi Piala Kemerdekaan hanya diikuti klub – klub diluar QNB League. Piala Presiden, Piala Jendral Sudirman, Piala Bhayangkara, diikuti oleh klub – klub TSC setelah ada izin PSSI.

Masih soal kompetisi, Piala Kemerdekaan sempat meninggalkan catatan hutang untuk klub juara. Berbeda dengan kompetisi dengan restu PSSI lewat Event Organizer Mahaka, PT. GTS yang bergelimang uang dalam pelaksanaannya.

Bagaimana dengan sikap klub? mereka adalah anggota PSSI, pemilik suara PSSI, pembekuan tidak menggoyahkan kepatuhan mereka, walau diakhir mereka menuntut Kongres Luar Biasa (KLB) setelah Ketua Umum PSSI tersangkut masalah pidana.

Jika tuntutan diselenggarakannya KLB oleh para pemilik suara PSSI dianggap sebagai kemenangan Menpora rasanya hampa. Karena sejatinya Menpora tidak memberikan perubahan apa – apa dalam hal pelaksanaan organisasi sepakbola. Meski sering kali Menpora mencetuskan konsep – konsep pengelolaan sepakbola tapi tanpa kepatuhan klub kepada Imam Nahrawi semuanya sia – sia.

Jadi setahun ini Menpora gagal merombak sepakbola Indonesia? Bisa dibilang ya. Kalau pun Menpora ingin sedikit pembelaan mungkin munculnya beberapa operator kompetisi, penyiaran sepakbola yang lebih variatif, melihat Boaz Solossa berganti jersey klub, dan beberapa pemain keluar negeri untuk bertahan hidup adalah beberapa diantaranya. Walau untuk operator kompetisi yang terlibat nya si eta deui (orangnya masih terkait PSSI juga).

Hambar dong? menurut saya IYA. Karena apapun tujuan Menpora dibalik ini semua, gagal. Menyusun ulang sepakbola tidak, memperbaiki prestasi apalagi engga bingiiiit. Terus? ya sepakbola Indonesia masih gini – gini aja seperti sebelum pembekuan.

Taktik parkir bus PSSI gagal dibongkar strategi all out attack Menpora.

Menpora mencoba mempertahankan rasa manis dengan menambahkan gula ketika “mencairkan” PSSI. Nama manajer Portugal, Jose Mourinho diinginkan menjadi pelatih timnas. Hanya saja ini pun gagal menepis rasa hambar ketika pembekuan PSSI dicabut.

What about you, Mou?