Sea Games 2017 : Indonesia Sulit Membuat Peluang Gol.

Bersusah payah, akhirnya timnas sepakbola putra Indonesia berhasil lolos ke semifinal Sea Games Kuala Lumpul 2017. Dua pemain mencetak dua gol perdana mereka bagi timnas yaitu Ezra Walian dan Febri Haryadi, mengantarkan Indonesia ke posisi runner up grup B pada saat yang bersamaan Vietnam, pesaing Indonesia, dikalahkan Thailand.

Menuju semifinal, Indonesia memiliki masalah dengan kesuburan mencetak gol. Hanya mencetak 7 gol dalam 4 pertandingan. Hanya sekali Indonesia gagal mencetak gol yaitu ketika bermain imbang tanpa skor dengan Vietnam. Hal yang cukup mengkhawatirkan walau hanya memboyong 2 penyerang murni, Marinus Wanewar dan Ezra Walian, tapi timnas diisi oleh gelandang – gelandang haus gol seperti Febri Haryadi, Yabes Roni, Osvaldo Haay, dan Saddil Ramdani.

Namun pemusatan latihan nasional (Pelatnas) yang digelar dalam beberapa tahap rupanya masih menyisakan banyak masalah terutama di lini depan. Dalam beberapa kali ujicoba antar negara, Indonesia kesulitan mencetak gol dan menyusun peluang didepan gawang lawan.

Kalau mau dirunut, kesulitan menyusun satu skema mematikan didepan gawang lawan, bermula dari lini tengah. Hanya ada seorang kreator disana yaitu, Evan Dimas Darmono. Ia diapit oleh dua gelandang, yaitu M.Hargianto dan David Septian Maulana. M.Hargianto lebih sebagai gelandang bertahan dan David Septian Maulana menjalani peran menyokong tiga pemain didepan yakni dua winger dan seorang striker.

Evan Dimas berperan sebagai seorang playmaker yang beroperasi di lini pertahanan sendiri. Areal bermainnya nampak dibatasi, hanya lewat sedikit saja dari garis tengah lapangan. Nampaknya selain sebagai penjemput bola dari pemain bertahan dan menyalurkan ke para pemain depan, Evan Dimas juga berperan sebagai pemutus serangan lawan.

Menurut penulis, disinilah masalahnya. Evan Dimas akan lebih optimal jika dimainkan sebagai attacking miedfielder seperti peran yang selama ini ia lakukan sejak di timnas U-19 kala dilatih Indra Sjafri. Ia bukan hanya seorang kreator serangan, peluang tapi juga fasih mencetak gol. Membatasi pergerakan Evan Dimas, sama juga mempersempit peluang menambang gol, karena komunikasi, koordinasi para pemain depan belum terlalu baik.

David Septian Maulana meskipun telah mencetak 2 gol dan berfungsi sebagai penyerang lubang, namun belum memiliki koordinasi yang baik dengan striker tunggal didepannya. Bahkan terkadang kehilangan bola. Ia belum bisa menjalankan sebagai seorang kreator di lini depan dengan optimal.

Skema permainan timnas yang mengandalkan serangan dari kedua sisi sayap membuat pemain – pemain yang terpilih kebanyakan adalah winger dan minim kreator serangan. Kreatifitas para winger pun masih harus terus dibangun, karena seringkali hanya berlari lurus menjelajah sisi lapangan dan berusaha mengalahkan pemain lawan dengan kecepatan dan trik memainkan bola. Umpan – umpan yang memanjakan penyerang pun jarang diberikan.

Hal ini patut disayangkan, karena timnas menerapkan high pressing kepada lawan, namun belum diikuti dengan proses menyusun peluang mencetak gol yang rapih baru sebatas sporadis.

Rasanya satu diantara para winger ini bisa dicoba untuk menggantikan peran David Septian Maulana, karena minimnya pilihan.

Melawan Malaysia yang telah mengintip permainan Indonesia pada saat melawan Kamboja kemarin (24/8), daya dobrak Indonesia dari lini tengah perlu diperkuat. Mungkin Osvaldo Haay dapat menjalani peran ini. Kreasi lain perlu dilakukan, karena jika hanya mengandalkan serangan dari sayap, niscaya Malaysia akan siap mengantisipasi hal ini. Apalagi dari 7 gol yang diciptakan para pemain timnas, hanya dua berasal dari umpan sisi sayap. Satu gol berasal dari kreasi dari tengah, dua gol lagi berasal dari pergerakan cut inside para pemain winger.

Masalah menciptakan peluang mencetak gol dan membuat gol harus segera diatasi dalam waktu sehari ini, Jumat (25/8) karena Sabtu (26/8), Indonesia akan menghadapi tuan rumah, Malaysia di semifinal. Pengalaman kalah 0-3 dalam kualifikasi Piala Asia U-23 2018, bisa dijadikan pembelajaran.

Tampil tanpa Hansamu Yama, M.Hargianto dan Marinus Wanewar besok, Indonesia harus mempressing lawan sejak dini untuk mencegah lawan leluasa masuk ke areal pertahanan. Penguasaan bola yang baik di tengah dan depan, bisa menjamin hal itu.

 

 

Advertisements

Farewell Janur

Jajang Nurjaman akhirnya mundur dari kursi pelatih Persib pasca kalah 1-2 dari tuan rumah Mitra Kukar. Pengunduran diri jilid II ini akhirnya disetujui oleh manajemen Persib setelah jilid I, Janur, panggilan akrab Jajang Nurjaman, masih dipertahankan.

Jika dibandingkan dengan raihan Persib pada putaran pertama Indonesian Soccer Championship (ISC) tahun 2016 maka apa yang diraih Persib sampai dengan pekan ke -15 Liga 1 lebih buruk dari capaian tahun lalu. Pada ISC 2016, Persib menutup putaran pertama dengan raihan 27 poin. Saat ini, meski menang dalam dua pertandingan tersisa di putaran pertama (lawan Persija dan Perseru) menang maksimal poin hanya 26. Pada ISC 2016 hingga putaran pertama, Persib hanya kalah 4 kali, saat ini sampai dengan pekan-15, Persib sudah kalah 5 kali.

Memang beda – beda tipis, namun secara keseluruhan, permainan Persib mengalami penurunan drastis. Hingga pekan ke 15 Liga 1, Janur gagal membawa peningkatan signifikan. Meskipun dengan suntikan 2 pemain “lulusan” Liga Inggris, Janur masih terlihat bingung menentukan sebelas pemain terbaik yang mampu memberikan permainan bagus.

Ada beberapa hal yang menurut penulis bisa disimpulkan, kenapa Janur gagal pada tahun ini.

  1. Materi pemain tidak seimbang. Pada ISC, Persib memiliki Robertino Pugliara dan di putaran 2 ISC mendatang Marcos Flores sebagai playmaker. Kali ini Persib tidak memiliki pemain dengan tipe playmaker. Michael Essien dan Gian Zola bukan pemain yang mampu mengatur ritme permainan;
  2. Kondisi fisik Michael Essien dan Carlton Cole. Sebagai pemain berkelas dunia yang telah lebih dahulu dikenal bobotoh sejak lama, keduanya datang ke Persib dalam kondisi tidak fit. Ini hal yang selalu dikeluhkan oleh Janur bahwa kedua pemain tersebut sudah habis. Essien agak mending sering diturunkan dalam starting eleven atau muncul dari bangku cadangan, bahkan sudah mencetak 2 gol. Beda nasib dengan Cole yang sampai mundur pun, Janur enggan memainkannya. Kita bisa saja berargumen bahwa kedua pemain ini sudah melewati masa keemasan mereka, namun jika melihat penampilan Michael Essien dari pekan ke pekan, tidak nampak perubahan signifikan dari sisi stamina. Ini menunjukkan tim pelatih fisik Persib gagal memperbaiki kondisi fisik dan stamina kedua pemain tersebut, walau Janur terus berulang kali mengatakan bahwa fisik dan stamina kedua pemain tersebut sedang ditingkatkan;
  3. Pola permainan yang sama dari tahun ke tahun, membuat permainan Persib mudah dipatahkan. Janur memaksa menggunakan pola permainan yang sama meskipun materi pemain sudah tidak sebagus dulu. Kini praktis yang dijadikan andalan utama adalah kecepatan Febri Haryadi pun dengan catatan bahwa sejak ISC 2016, Febri sudah mudah dihadang lawan;
  4. Regulasi wajib menurunkan 3 pemain muda maksimal 1 babak. Sebagai pelatih yang jarang memberikan kesempatan kepada pemain muda, Janur kesulitan mengatasi hal ini. Jika saja tahun lalu, Persib masih memiliki skuad ideal selayaknya tahun 2014, bukan tidak mungkin Febri pun tidak akan diberikan menit bermain;
  5. Kehilangan kepercayaan terhadap pemain. Bahkan pada saat emergency dengan striker Sergio Van Dijk cedera panjang dan striker muda Angga Febriyanto masih demam panggung, ia enggan menurunkan Carlton Cole. Alasannya selalu sama kondisi fisik. Tantan pun jarang diberikan kesempatan bermain. Ia lebih percaya pada Matsunaga Shohei yang terlambat panas dan Raphael Maitimo yang dianggap pemain serba bisa atau multi posisi (Kedua pemain ini memang pilihan Janur sendiri). Kepercayaan pula yang membuatnya sekarang tidak segan membangkucadangkan pemain yang sekali berbuat kesalahan, sehingga sering kali menampilkan formasi yang tidak ideal karena pemain yang dibangkucadangkan tidak memiliki pengganti ideal;
  6. Terlalu mengandalkan Febri Haryadi, sedangkan pemain timnas U-22 ini belum sepenuhnya matang. Febri selalu mengulangi kesalahan yang sama yaitu telat dalam membuat keputusan.

Alarm penampilan Persib yang anjlok sebenarnya sudah berbunyi sejak pramusim Liga 1. Pemilihan pemain yang tidak seimbang dan kekalahan atas Bali United, imbang lawan PSMS seakan sudah menyiratkan bahwa jangan berharap banyak untuk saat ini.

All the good things must come to an end. Seandainya Janur tidak menerima tawaran untuk mengganti Dejan Antonic mungkin ia akan tetap diingat sebagai pelatih yang membawa masa keemasan Persib setelah 20 tahun tanpa gelar juara. Memang rasanya kejam, jika kita melupakan begitu saja masa lalu, tapi Janur seharusnya sudah menyadari bahwa puncak tertinggi itu telah ia raih bersama tim yang ia bela sebagai pemain dan pelatih.

Semua ada akhirnya, Persib kini akan memasuki masa transisi menuju masa baru. Kesabaran para bobotoh merupakan salah satu hal utama dalam masa peralihan ini, jangan sampai seperti era Dejan Antonic. Ketegasan manajemen dan kejelian manajemen pun sangat dibutuhkan sehingga bisa menempatkan sosok pengganti yang pas.

Anyway, Haturnuhun Coach Janur telah memberikan kami gelar juara.

Format Baru AFC Cup : Banyak Juaranya.

AFC Cup 2017 merupakan AFC Cup edisi ke – 14. Kompetisi antar negara level 2 yang diselenggarakan oleh AFC untuk tahun ini menggunakan format baru. Pengelompokan klub berdasarkan zona wilayah, dan ada 3 final sesuai zona wilayah masing – masing merupakan perubahan paling mencolok di AFC Cup 2017.

Perubahan pertama, pengelompokan klub berdasarkan wilayah. AFC membagi klub ke dalam 5 zona yaitu :

  1. zona asia barat (West Asia) yang berisikan klub dari negara Irak, Suriah, Jordania, Bahrain, Libanon, Oman , Yaman , Kuwait dan Palestina;
  2. Zona Asia Tengah ( Central Asia ), negara yang tergabung ke dalam zona ini adalah Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, dan Afghanistan;
  3. Zona Asia Selatan (South Asia) yang dihuni klub dari negara India, Maladewa, Bangladesh, Bhutan, Nepal, Pakistan dan Sri Lanka;
  4. Zona Asia Timur ( East Asia), yang dihuni Korea Utara, Taiwan, Mongolia, Guam, dan Macau;
  5. Zona Asean yaitu zona negara – negara Asia Tenggara

Dengan pemisahan klub berdasarkan zona ini pertemuan dua klub dari dua zona berbeda hanya terjadi pada babak Playoff pertama saja. Play off kedua sudah memisahkan klub sesuai zona masing – masing.

Pada babak grup AFC Cup 2017 Grup A – C diisi oleh klub zona asia barat, Grup D diisi oleh klub zona asia tengah, Grup E zona Asia Selatan, Grup F – H diisi klub dari zona asia tenggara, sedangkan zona asia timur menempati Grup I.

Jadi tidak ada lagi pertemuan antara klub Indonesia dengan klub Maladewa dengan format baru ini.

Perubahan Kedua, Setiap zona membuat semifinal dan final masing – masing terkecuali zona asia timur, asia tengah dan asia selatan karena hanya punya satu grup saja di babak grup, maka tiga zona ini akan bertanding di semifinal antar zona melawan juara zona asia tenggara.

Zona asia barat pada babak semifinal diisi juara grup A, Juara dan Runner up Grup B, dan Juara Grup C. Fase semifinal telah usai dengan hasil juara bertahan Al Quwa Al Jawiya Irak berhadapan dengan Al Wahda Suriah di babak final Asia Barat.

Zona asia tenggara yang diwakili 11 klub dari Filipina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Myanmar dan Vietnam tersebar di Grup F, G, dan H juga telah menyelesaikan fase semifinal zona. Mereka yang bertanding di semifinal adalah juara dan runner up grup F, Juara grup G, dan Juara grup H. Pertandingan final zona asia tenggara mempertemukan Ceres Negros Filipina dengan Home United Singapura.

Setiap pertandingan final menggunakan sistem Home and Away.

Screenshot_4

Sedangkan klub dari zona asia timur, asia tengah dan asia selatan yang telah lolos dari babak grup ke fase semifinal antar zona adalah Bengaluru India, Istiklol Tajikistan, dan April 25 Korea Utara. Ketiga klub menunggu juara zona asia tenggara untuk kemudian bertarung di semifinal antar zona.

Setiap juara di semifinal akan bertanding di final antar zona dengan sistem home and away.

Pemenang final antar zona pada akhirnya akan bertemu dengan juara zona asia barat pada pertandingan bertajuk FINAL AFC CUP pada 4 November 2017 untuk menentukan juara sejati. Pertandingan final ini akan digelar satu kali.

Itulah dua perubahan mendasar pada AFC Cup 2017.

sumber : wikipedia.org

The Scape Goat : Carlton Cole

The ex West Ham’s striker had played in 3 matches ( 1 as starting, 2 as substitute player) collect 106 minutes, create 3 goal scoring chances, while the league already played 7 matches, still no goal from this “giant” striker. Unfit, lack of stamina is always the reason why the coach didn’t play him.

As Persib’s coach, Djajang Nurjaman, critisized by the fans because of the team’s bad performance, lack of creativity, and can’t find the ideal formation, he and the management put the blame on Carlton Cole as evasive maneuver.

Manajer Persib Bandung, H.Umuh Muhtar dan Pelatih Djajang Nurjaman secara bergantian melakukan usaha untuk menenangkan bobotoh, fans Persib Bandung, usai PBFC berhasil menahan imbang Persib di pekan ke – 7 Liga 1 Indonesia.

Pertama, seusai pertandingan melawan PBFC, Djanur sapaan akrab pelatih Persib mengungkapkan beberapa alasan kenapa Persib hanya mampu meraih 1 poin di Gelora Bandung Lautan Api pada Sabtu (20/5). Salah satu yang menggelikan tentunya menyalahkan Michael Essien karena gagal mengeksekusi penalti ke gawang PBFC.

Djanur beralasan bahwa Michael Essien berkeras mengambil penalti padahal seharusnya Vladimir Vujovic yang menendang penalti. Dia mengungkapkan ini semua sudah tercantum pada game plan Persib. Alasan ini bisa saja diterima namun menimbulkan pertanyaan yaitu kenapa Michael Essien dibebaskan begitu saja mengambil tugas pemain lain? Apakah Atep sebagai kapten tidak ditegur karena pemain tidak mengikuti arahan pelatih? Kenapa alasan ini tidak mengemuka ketika Essien sukses melakukan penalti ke gawang Persipura? Tentunya hanya Djanur yang tahu.

Michael Essien, another world class player in Persib, also received sharp critic from the coach when he failed to score penalty last week. He was accused didn’t follow the team order, because as Djanur said that before the match last week he already decided which player become  penalty, corner kick and free kick’s executor. However that was not Essien first penalty. When Persib met Persipura in week 5, he scored penalty and the coach was happy.

Kedua, performa Persib minggu lalu tetiba menghadirkan ancaman manajer kepada Carlton Cole. Padahal striker bertubuh jangkung ini tidak dimainkan. Manajer menganggap fisik dan stamina Cole sulit untuk ditingkatkan dan karenanya tidak akan dimainkan. Ia merasa membeli kucing dalam karung, karena tidak tahu fisik dan stamina Cole ada di titik terendah. Hal yang aneh tentunya, karena informasi soal Cole kini bisa diakses dimana saja. Sepertinya pak manajer jarang googling.

carlton-cole-dapat-ancaman-lagi-dari-manajer-persib-17341937_thumb

Yesterday, the manager claimed that Carlton Cole in Persib just for half season, because as the coach said his physic and stamina can’t be improved anytime soon.

Tentunya semua bobotoh tahu, alasan dari pelatih dan manajer ini hanyalah sebuah penyangkalan atas buruknya penampilan Persib sampai dengan pekan 7 Liga 1. Memang Persib belum mengalami kekalahan dan sementara runner up klasemen.  Namun penampilan tim memang mengkhawatirkan. Sampai dengan saat ini Djanur belum memiliki formasi ideal dan dalam dua pertandingan terakhir ia tidak pernah melontarkan senyum sekalipun Persib mencetak gol.

Statistik Persib dalam lima pertandingan terakhir membuat waswas. Dalam empat pertandingan terakhir baik shot off target dan on target lawan selalu lebih tinggi. Jumlah corner kick lawan selalu lebih tinggi. Memang saat melawan PBFC, statistik ini mulai naik tapi hanya tiga pemain lawan saja bisa menggoyang hebat pertahanan Persib. Terlebih penampilan pemain ketika melawan PBFC seperti kehabisan bensin.

Menurut manajer, Pertandingan pekan ke – 8 melawan Bali United akan menjadi tolok ukur Djanur apakah stay or out dari Persib. Namun sampai hari Rabu nanti, 31 Mei 2017, rasanya keduanya akan tetap mengumbar alasan – alasan tidak perlu.

 

 

Persib : In pemain we trust..Janur..

5 poin dari 3 pertandingan Liga 1 hasil 2 kali imbang dan 1 kali menang, menempatkan Jajang Nurjaman (Janur), pelatih Persib di kursi panas. Ditambah dengan usulan perubahan jadwal yang diterima PT.Liga Indonesia Bersatu (PT.LIB), sehingga membuat 5 pekan awal Liga I memasukkan PS TNI dan Persegres, Persib seharusnya sudah mengumpulkan 7 poin seandainya laga melawan PS TNI di pekan 2 Liga I tidak berakhir imbang.

Memang Persib belum mengalami kekalahan, jika sudah, kursi pelatih tentunya akan merah membara. Hasil imbang di pekan 2 melawan PS TNI, telah membuat Janur sasaran kritikan pedas terutama dari bobotoh.

Ada beberapa hal yang nampaknya masih belum ditemukan solusi idealnya oleh Janur :

Pertama, regulasi harus menurunkan 3 orang pemain berusia maksimal 23 tahun minimal selama 45 menit atau 1 babak. Pada periode pertama kepelatihannya (2012 – 2016), Janur bukanlah pelatih yang sering mempromosikan pemain muda. Ia lebih suka memasang pemain yang sudah jadi, sudah berpengalaman. Ketika ia memegang posisi pelatih, Jajang Sukmara merupakan salah satu pemain muda berbakat Persib. Dipercaya oleh pelatih sebelumnya, Drago Mamic. Tetapi ketika Janur masuk, Jajang Sukmara kehilangan tempatnya di tim utama.

5907b6a080edf-gelandang-persib-bandung-febri-haryadi_663_382

Saat membawa Persib juara Liga Super Indonesia tahun 2014, Janur hanya memberikan porsi jam bermain sedikit kepada para pemain muda ketika itu seperti, M.Agung Pribadi, dan Rudiyana.

Periode kedua kepelatihannya ( 2016 – ….. ) , ia mulai mau memasang pemain muda. Febri “bow” Haryadi mendapatkan banyak kesempatan bermain karena Bow menempati posisi winger sesuai dengan skema permainan Janur yang lebih banyak mengandalkan lebar lapangan. Juga karena saat ia mengambil kembali tampuk pelatih dari Dejan Antonic, Persib kekurangan winger di sisi kanan setelah ditinggalkan M.Ridwan.

Tetapi dengan regulasi wajib pemain muda di liga I mau tidak mau ia harus menurunkan pemain muda. Sehingga ia memberikan kepercayaan kepada Gian Zola, Henhen Herdiana, Angga Febriyanto dan Ahmad Basith. Dua nama awal lebih sering diturunkan. Tetap saja Janur terlihat masih ragu dan kurang percaya dengan pemain muda. Regulasi minimal bermain 45 menit untuk pemain muda diterapkan oleh Janur sehingga sering sebelum kick off babak kedua dimulai Zola dan Henhen diganti pemain berusia lebih senior.

Sejauh ini Gian Zola sudah tampil 111 menit, Henhen 135 menit, Ahmad Basith 45 menit, Angga Febriyanto 36 menit, Fulgensius Billy Keraf 62 menit dan Febri Haryadi 180 menit.

Dua kali pergantian pemain muda ini bisa dibilang agak kurang tepat karena mereka diganti ketika tengah on fire. Gian Zola diganti di babak kedua ketika Persib menghadapi Arema, kemudian Billy Keraf diganti di menit 74 saat Persib menghadapi PS TNI.

Kedua, belum ditemukannya susunan sebelas pemain yang ideal. Jika saja, tanpa ada regulasi pemain muda rasanya susunan starting eleven tetap sudah dimiliki Janur. Sehingga Janur lebih mengandalkan kepada kemampuan individu setiap pemain.

Melihat di lini pertahanan, dari mulai sektor penjaga gawang sudah memiliki pilihan tetap, I Made Wirawan (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan empat pemain bertahan, duet centre back dipercayakan kepada Vladimir Vujovic (3 pertandingan 270 menit)  dan Ahmad Jufriyanto (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan disektor full back, terlihat Janur agak kebingungan karena terimbas peraturan pemain muda. Ia akan memasang Henhen (3 pertandingan 135 menit) di babak pertama dan Supardi Natsir (3 pertandingan 180 menit) di babak kedua untuk di full back kanan. Sedangkan di kiri Tony Sucipto (2 pertandingan 180 menit) sudah diturunkan dalam dua pertandingan. Pada pertandingan ketiga ia diistirahatkan dan perannya diganti oleh Supardi juga Wildansyah (1 pertandingan 45 menit).

Ditengah yang “banjir” pemain dengan tipe sama, Hariono diberikan kepercayaan turun di 2 pekan awal selama 180 menit full. Dedi Kusnandar diberikan kepercayaan di pekan 1 dan 3 dengan total 113 menit bermain. Kim Jeffrey Kurniawan tampil di pekan 2 selama 90 menit. Raphael Maitimo bermain di pekan 3 bermain 90 menit, Michael Essien diturunkan dalam setiap pertandingan dengan total menit bermain 136 menit. Ahmad Basith bermain dipekan 2 selama 45 menit.

5f5b3b3b-74a8-4782-8006-b5a60af92648_169

Sedangkan di sektor gelandang serang dan penyerang, ada 3 pemain yang menjadi pilihan yaitu Atep, Febri Haryadi dan Matsunaga Shohei. Atep bermain di 3 pertandingan dengan total 225 menit. Febri 2 pertandingan mengumpulkan 180 menit. Matsunaga Shohei bermain di 3 pertandingan sebanyak 225 menit. Gian Zola bermain pada dua pertandingan dengan 111 menit bermain, Billy Keraf turun di pekan 2 dan 3 dengan 62 menit bermain. Tantan diturunkan di pekan ketiga selama 76 menit. Angga Febriyanto pekan kedua selama 36 menit (cedera), dan Carlton Cole bermain di dua pertandingan mengumpulkan 61 menit bermain.

Dengan melihat kepada fakta tersebut, terlihat Janur masih terus merotasi skuadnya untuk menemukan komposisi ideal sambil beradaptasi dengan regulasi pemain muda di Liga I.

Ketiga, belum optimalnya beberapa pemain. Hal ini sangat kentara pada diri Matsunaga Shohei. Pemain asal Jepang ini semenjak datang ke Persib seperti kehilangan sentuhannya seperti yang pernah ia tampilkan bersama Persiba Balikpapan. Padahal Matsunaga sudah bergabung sejak Piala Presiden 2017, namun penampilannya tidak kunjung membaik. Pada pekan kedua melawan PS TNI, ia sangat mudah dihentikan oleh pemain lawan bahkan jarang pula mengancam gawang lawan. Ia adalah pilihan Janur sendiri dan ditunjukkan dengan selalu memberikan tempat bagi Matsunaga di lapangan meski datang dari bangku cadangan.

Dua pemain yang menjadi sorotan di Persib musim ini, Michael Essien dan Carlton Cole, belum sepenuhnya dipercaya oleh Janur dengan alasan stamina yang masih harus diperbaiki. Memang kedua pemain sempat absen beberapa bulan dari lapangan hijau sebelum bergabung dengan Persib. Tetapi diluar itu, sepertinya memang Janur masih enggan memberikan kepercayaan penuh kepada kedua ditambah sekali lagi regulasi wajib pemain muda. Atau ini tanda – tanda Janur masih grogi menangani dua pemain eks liga Inggris tersebut? seperti yang pernah ia kemukakan ketika Essien datang.

Jika melihat pada pemain berstatus marquee player di klub lain, apa yang ditunjukkan oleh Michael Essien dan Carlton Cole (non marquee player) masih kurang namun tidak terlepas dari kesempatan yang diberikan Janur kepada mereka selama 3 pekan Liga I.

persib-arema-imbang.jpg

Khusus untuk Carlton Cole, meskipun memiliki posisi striker murni, tetapi Janur saat ini lebih memilih penyerang bertipe forward seperti Atep, Matsunaga Shohei, Tantan dan “memaksa”  Febri sebagai goal getter. Janur masih menunggu Sergio Van Dijk (SVD) sembuh karena memang telah terbiasa bekerjasa sama dengan SVD. Sejauh ini baru Atep yang subur dengan 2 gol, sedangkan gol persib lain disumbang Essien 1 gol dan Febri 1 gol.

Keempat, last but not least. Janur merupakan seorang pelatih yang jarang melakukan perubahan. Sejak membawa Persib meraih gelar Liga Super Indonesia tahun 2014, skema permainannya selalu sama. Kekuatannya ada pada kemampuan individu para winger. Seiring dengan waktu, meski masih bisa diandalkan tetapi pelatih lawan sudah demikian paham dengan gaya permainan ini. Febri ketika tampil di Indonesia Soccer Championship tahun 2016, masih sulit dihentikan lawan. Tetapi sekarang, lawan sudah tahu bagaimana menghambat Febri. Ini merupakan salah satu bukti Janur harus merubah gaya permainannya.

Jarang melakukan perubahan juga ditunjukkan dalam pergantian pemain. Henhen yang selalu diganti Supardi, membuat lawan sudah dapat mengantisipasi apa yang terjadi di babak kedua.

Baru dipekan 3 saat menghadapi Sriwijaya, Janur sedikit berani merombak lini depan dengan menurunkan Tantan dan terbukti berhasil. Gerakan – gerakan Tantan berhasil membuat pertahanan Sriwijaya lengah.

Pekan ini di awal bulan Mei, Persib akan menjalani jadwal padat. Rabu (03/05) tandang ke Gresik dan Minggu (07/05) kembali ke Bandung untuk menghadapi Persipura. Kunci keberhasilan Janur dalam dua pertandingan tersebut adalah apa yang ia tunjukkan pada saat melawan Sriwijaya yaitu mendobrak pola tetapnya.

Penuh dengan pemain mumpuni, Janur harus segera menetapkan pola permainan baru yang efektif. Regulasi pemain muda bukanlah sesuatu yang sulit untuk klub karena klub yang lain pun bisa, tinggal keberanian dan kepercayaan yang harus dimiliki Janur karena tanpa itu, kursinya akan semakin panas.

 

(simpan dulu) harapan

Carlton Cole, mantan striker West Ham United dan Chelsea, bergabung dengan Persib Bandung sebagai pemain asing ke-4 di tahun 2017. Menjelang liga baru yang bernama Gojek Traveloka Liga 1, Persib memang membutuhkan penyerang baru karena baru memiliki Sergio Van Dijk (SVD) dan Angga Febriyanto. Pada beberapa kesempatan terakhir, Persib lebih memilih bermain tanpa striker murni karena SVD cedera meski bermain seperti itu agak kacau.

Kehadiran Carlton Cole menambah gempita Persib di Liga I setelah sebelumnya Michael Essien bergabung dengan status marquee player. (Saya belum bisa menemukan hubungan kenapa eks Chelsea yang dipilih oleh Persib, apakah karena sama – sama jersey biru?). Carlton Cole bergabung walau sebenarnya di Inggris pun ia memiliki beberapa tawaran termasuk dari klub no liga, Billericay Town.

Jika kehadiran keduanya sudah memberikan kehebohan tersendiri karena pernah tampil di pentas sepakbola Eropa dan dikenal para fans sepakbola luar negeri di Indonesia, pertanyaan selanjutnya apakah mereka mampu menambah kekuatan Persib di atas lapangan hijau?

Michael Essien tahun lalu bermain untuk Panathinaikos di Liga Super Yunani. Total 15 kali penampilan dan 1 gol sejak ia bergabung dari bulan Juni 2015. Essien mengalami cedera otot sehingga harus menepi lebih dari 3 bulan di Yunani. Performa Essien memang menurun secara bertahap apalagi dengan catatan cedera panjang yang pernah ia alami membuatnya menghabiskan waktu hampir setahun menyembuhkan cederanya.  Waktu istirahat terpanjang Essien karena cedera adalah 184 hari ketika masih bermain untuk Chelsea pada tahun 2012.

Essien-ball-fly

Essien tidak masuk dalam pilihan Panathinaikos menjelang Liga Super Yunani 2016/2017. Statusnya dibekukan dan 3 bulan kemudian dilepas oleh Panathinaikos. Sejak bulan November 2016 ia tidak memainkan laga kompetitif karena berstatus tanpa klub walau menjaga kebugaran dengan ikut latihan di Chelsea.

Sedangkan Carlton Cole terakhir kali bermain di laga kompetitif bersama klub Amerika Serikat, Sacramento United, di United League atau sekelas divisi II. Bergabung sejak bulan Agustus 2016, bermain 4 kali, kemudian pada bulan Oktober 2016 ia dilepas dan libur bermain sejak itu.  Cole menyadari bahwa kedatangannya ke Sacramento hanya menjadi pemain cadangan saja.  Menjadi cadangan dirasakannya pula ketika bergabung bersama Glasgow Celtic di Skotlandia. Dikontrak pada bulan Oktober 2015 dan dilepas pada Juni 2016 dengan mengoleksi 5 kali bermain dan satu gol saja. Ia gagal menggeser Leigh Griffiths dan tidak meyakinkan untuk dipertahankan oleh manajer Brendan Rodgers.

Untuk menjaga kebugaran, Cole berlatih di gimnasium milik West Ham United menunggu tawaran berbagai klub sejak ia belum memutuskan pensiun dari lapangan hijau. Satu tawaran yang sempat ditanggapi serius datang dari klub non liga, Billericay Town.

Melihat catatan gol striker yang menyandang status “living legend” West Ham United, ia bukanlah seorang penyerang yang subur untuk ukuran Liga Inggris. 9 musim menjadi bagian The Hammers (julukan West Ham United) ia mencatatkan 293 penampilan dan 68 gol di semua kompetisi. Rekor gol terbaiknya di Liga Inggris ketika ia berusia 25 tahun atau pada musim 2008/2009 dengan 10 gol. Musim selanjutnya ia juga mencetak 10 gol. Sedangkan rekor golnya bersama West Ham adalah 14 gol di divisi Championship ketika musim 2011/2012 West Ham terdegradasi dari liga Inggris.

159911_1

Setelah itu, produktifitas Cole terus menurun. Bahkan fans West Ham mulai ragu kepadanya. Meski dengan postur menjulang 1.91 meter, ia bukanlah ancaman duel udara. Sedangkan kontrol bolanya juga mendapatkan kritikan.  Jangankan mencetak 14 gol, mengulangi 10 gol semusim saja sulit meski terus diberikan kesempatan. Prestasi yang mendekati 10 gol hanya terjadi sekali di musim 2013/2014 dengan 6 gol di semua kompetisi.

Dengan melihat sejarah tersebut dari kedua pemain ini, rasanya jangan dulu membebankan harapan setinggi langit kepada mereka. Meski bisa berargumen bahwa level permainan di Liga I Indonesia tidak seperti di Inggris atau Eropa secara umum, namun masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi optimal mereka. Salah satunya adalah soal kualitas lapangan.

Walaupun, kedatangan mereka menaikkan pamor kompetisi dan membuat bangga para bobotoh, namun pembuktian sebenarnya adalah 2 x 45 menit diatas lapangan. Karena mereka dikontrak bukan menjadi brand ambassador tapi untuk bermain. Mereka bukanlah eks liga Inggris pertama sebelumnya ada Marcus Bent di Mitra Kukar dan Lee Hendrie di klub Bandung FC di kompetisi LPI. Keduanya menunjukkan performa yang rata – rata saja.

Rasa penasaran memang tak bisa dihindarkan, bangga pun tak bisa dipangkas, namun janganlah terlalu berharap banyak dulu. Kedua pemain lama tidak bermain, masalah kebugaran semoga saja bisa diatasi cepat agar yang lainnya bisa beradaptasi dengan mudah.

Marquee Player : Bisa Berhasil , Bisa Gagal

PSSI seperti telah diketahui menetapkan peraturan baru dalam pelaksanaan Liga I yang menurut rencana digulirkan pada 15 April nanti. Pemberlakuan kuota pemain asing 2+1 ( 2 pemain asal non asia + 1 pemain asia ). Plus jika klub mampu diperbolehkan memiliki pemain asing ke – 4 namun harus berstatus Marquee player dengan syarat pernah bermain di tiga edisi terakhir Piala Dunia (Piala Dunia 2006, Piala Dunia 2010, dan Piala Dunia 2014) atau berasal dari 8 liga top Eropa serta berusia maksimal 35 tahun.

PSSI tidak merinci apakah pemain asing tersebut harus mempunyai menit bermain di tiga edisi piala dunia tersebut atau cukup menjadi bagian skuad Piala Dunia (cadangan atau tidak bermain).

Menurut definisinya Marquee merujuk pada bintang utama dalam sebuah pertunjukan. Sehingga pemain yang berstatus Marquee biasanya adalah pemain yang dinilai memiliki kelas dan kemampuan diatas rata – rata pemain pada satu liga tertentu.

Sebenarnya agak kontradiktif, karena Marquee player di beberapa liga yang menerapkan aturan ini, biasanya adalah “pemain sisa”. Sudah mulai kehilangan tempat di liga – liga utama eropa, rentan cedera, dan kemampuannya pun kadang tidak sehebat ketika masih muda karena biasanya para marquee player menyandang status lain yaitu pemain veteran.

Pada kompetisi di Indonesia, ini bukanlah konsep yang baru pada liga sempalan bentukan Arifin Panigoro, Liga Premier Indonesia, Lee Hendrie (eks Aston Villa) pernah didatangkan dengan status ini bermain untuk Bandung FC.

Marquee Player ( Pada Major League Soccer disebut designated player) memiliki gaji diatas rata – rata dan tidak dibatasi aturan pembatasan gaji.

Liga yang menerapkan aturan ini  secara umum memiliki tujuan promosi dan investasi. Promosi untuk meningkatkan citra kompetisi di mata pendukung sepakbola lokal dan mampu menarik sponsor. Membangun citra menarik ke luar negeri. Berkaitan dengan investasi, diharapkan dengan adanya para pemain berstatus kelas dunia pada satu kompetisi, para investor kakap akan mau menanamkan uang mereka pada kompetisi baik pada liga itu sendiri atau pada klub.

Ketika David Beckham datang ke LA Galaxy pada tahun 2007, mampu menaikkan pamor sepakbola di Amerika Serikat dan berbanding lurus terhadap keuntungan finansial. Rumus ini juga digunakan oleh Indian Super League (ISL). Liga yang berjalan setelah i-league usai dan berdurasi selama 3 bulan ini, mendatangkan banyak pemain veteran kelas dunia bahkan beberapa diantaranya sudah berstatus pensiunan. Mereka didatangkan sejalan dengan tujuan ISL untuk mempopulerkan sepakbola di India menyaingi olahraga kriket.

Dalam ukuran popularitas dan investasi kedatangan para pemain berstatus bintang utama ini berhasil menaikkan pamor dan finansial, bagaimana dengan prestasi klub itu sendiri?

a.espncdn.com

Pengalaman Tampines Rovers pada Singapore League tahun 2016 mendatangkan Jermaine Pennant (eks Liverpool, Stoke City, Real Zaragoza) bisa dijadikan cerminan. Jermaine Pennant ternyata tidak mampu memberikan kontribusi yang banyak kepada timnya. Riwayat cedera yang panjang membuat kecepatan yang menjadi ciri khasnya hilang. Selain itu penampilannya dilapangan tidak stabil. Hanya sesaat saja ketika para penonton berdecak kagum dengan kemampuannya. Selebihnya ia dijadikan kambing hitam kegagalan Tampines Rovers menjuarai Singapore League.

Meskipun pengelola S-League mengklaim bahwa kedatangan pemain Inggris ini mampu mendongkrak jumlah penonton di stadion sebanyak 25 %, namun secara umum tetap saja masyarakat Singapura masih banyak abai ke kompetisi sepakbola mereka. Jermaine Pennant bahkan mengkritik pengelola S-league yang menumpukan terlalu banyak harapan kepada dirinya karena jika S-league sendiri tidak berbenah dan klub – klub Singapura tanpa memiliki Marquee player pun sudah ngos – ngosan maka jangan harap sepakbola Singapura akan berkembang.

Kembali ke Liga I Indonesia. Upaya PSSI dengan re-branding kompetisi setelah pembekuan FIFA dengan nama baru dan aturan baru memang patut dinanti. Jika melihat pada ukuran untuk menaikkan popularitas, sesungguhnya Indonesia sudah tidak perlu berusaha keras mendatangkan pemain kelas dunia karena sepakbola kita sudah demikian merakyat, stadion pun selalu penuh.

Promo ke luar negeri? rasanya juga sepakbola kita sudah terkenal karena para pendukung sepakbola Indonesia termasuk yang aktif mempopulerkan klub dukungan mereka lewat media sosial.

Mungkin dengan ukuran investasi finansial, ya klub – klub Indonesia memerlukan sokongan dana yang terus mengalir. Baru segelintir saja klub yang mampu dari musim ke musim. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Jermaine Pennant tentang S-League, PSSI sendiri harus memiliki rencana dan aksi yang pasti dalam melakukan pembenahan liga dalam negeri. Karena jika tidak, kedatangan pemain kelas dunia hanya akan mubazir dan membuat klub hanya merasakan efek sesaat saja tanpa kontinyu.

Memberikan bimbingan kepada pemain muda? Karena PSSI mewajibkan tiga pemain berusia 23 tahun diturunkan minimal 45 menit per pertandingan untuk Liga I, belum tentu juga akan tercapai. Karena haruslah didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas dan tim kepelatihan yang ada di setiap klub. Jika ingin menjadikan pemain Marquee sebagai “guru” maka sediakanlah “kelas” yang juga mendukung pembelajarannya.

17126882_864339263704634_8562734581294301184_n

Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung dan menurut kabar berita akan segera datang, Peter Odemwingie ke Madura United, memang sudah membuat rasa penasaran dan harapan penonton membuncah. Sudah ramai di media sosial, tinggal menunggu aksi para pemain dunia ini di lapangan hijau saat Liga I resmi kick off pada 15 April nanti.

Tetapi jangan sampai kedatangan para pemain ini hanya “meramaikan” saja dan PSSI pun berpuas diri dengan kegaduhan ini. PSSI harus mampu dan memiliki rencana yang bagus dengan memberlakukan aturan ini. Harus ada timbal balik yang sepadan, ketika kita memberikan “panggung” kepada para bintang utama ini baik dalam pembinaan maupun pendanaan.

Mengenai harapan yang tinggi dari para penonton? emh lebih baik kita berkaca pada Jermaine Pennant. Bahkan secara finansial pun, PSSI dapat mengambil pengalaman kepada Liga Singapura yang di awal tahun 2017 ini hampir tidak terlaksana, karena klub eungap mencari dana.