Format Baru AFC Cup : Banyak Juaranya.

AFC Cup 2017 merupakan AFC Cup edisi ke – 14. Kompetisi antar negara level 2 yang diselenggarakan oleh AFC untuk tahun ini menggunakan format baru. Pengelompokan klub berdasarkan zona wilayah, dan ada 3 final sesuai zona wilayah masing – masing merupakan perubahan paling mencolok di AFC Cup 2017.

Perubahan pertama, pengelompokan klub berdasarkan wilayah. AFC membagi klub ke dalam 5 zona yaitu :

  1. zona asia barat (West Asia) yang berisikan klub dari negara Irak, Suriah, Jordania, Bahrain, Libanon, Oman , Yaman , Kuwait dan Palestina;
  2. Zona Asia Tengah ( Central Asia ), negara yang tergabung ke dalam zona ini adalah Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, dan Afghanistan;
  3. Zona Asia Selatan (South Asia) yang dihuni klub dari negara India, Maladewa, Bangladesh, Bhutan, Nepal, Pakistan dan Sri Lanka;
  4. Zona Asia Timur ( East Asia), yang dihuni Korea Utara, Taiwan, Mongolia, Guam, dan Macau;
  5. Zona Asean yaitu zona negara – negara Asia Tenggara

Dengan pemisahan klub berdasarkan zona ini pertemuan dua klub dari dua zona berbeda hanya terjadi pada babak Playoff pertama saja. Play off kedua sudah memisahkan klub sesuai zona masing – masing.

Pada babak grup AFC Cup 2017 Grup A – C diisi oleh klub zona asia barat, Grup D diisi oleh klub zona asia tengah, Grup E zona Asia Selatan, Grup F – H diisi klub dari zona asia tenggara, sedangkan zona asia timur menempati Grup I.

Jadi tidak ada lagi pertemuan antara klub Indonesia dengan klub Maladewa dengan format baru ini.

Perubahan Kedua, Setiap zona membuat semifinal dan final masing – masing terkecuali zona asia timur, asia tengah dan asia selatan karena hanya punya satu grup saja di babak grup, maka tiga zona ini akan bertanding di semifinal antar zona melawan juara zona asia tenggara.

Zona asia barat pada babak semifinal diisi juara grup A, Juara dan Runner up Grup B, dan Juara Grup C. Fase semifinal telah usai dengan hasil juara bertahan Al Quwa Al Jawiya Irak berhadapan dengan Al Wahda Suriah di babak final Asia Barat.

Zona asia tenggara yang diwakili 11 klub dari Filipina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Myanmar dan Vietnam tersebar di Grup F, G, dan H juga telah menyelesaikan fase semifinal zona. Mereka yang bertanding di semifinal adalah juara dan runner up grup F, Juara grup G, dan Juara grup H. Pertandingan final zona asia tenggara mempertemukan Ceres Negros Filipina dengan Home United Singapura.

Setiap pertandingan final menggunakan sistem Home and Away.

Screenshot_4

Sedangkan klub dari zona asia timur, asia tengah dan asia selatan yang telah lolos dari babak grup ke fase semifinal antar zona adalah Bengaluru India, Istiklol Tajikistan, dan April 25 Korea Utara. Ketiga klub menunggu juara zona asia tenggara untuk kemudian bertarung di semifinal antar zona.

Setiap juara di semifinal akan bertanding di final antar zona dengan sistem home and away.

Pemenang final antar zona pada akhirnya akan bertemu dengan juara zona asia barat pada pertandingan bertajuk FINAL AFC CUP pada 4 November 2017 untuk menentukan juara sejati. Pertandingan final ini akan digelar satu kali.

Itulah dua perubahan mendasar pada AFC Cup 2017.

sumber : wikipedia.org

The Scape Goat : Carlton Cole

The ex West Ham’s striker had played in 3 matches ( 1 as starting, 2 as substitute player) collect 106 minutes, create 3 goal scoring chances, while the league already played 7 matches, still no goal from this “giant” striker. Unfit, lack of stamina is always the reason why the coach didn’t play him.

As Persib’s coach, Djajang Nurjaman, critisized by the fans because of the team’s bad performance, lack of creativity, and can’t find the ideal formation, he and the management put the blame on Carlton Cole as evasive maneuver.

Manajer Persib Bandung, H.Umuh Muhtar dan Pelatih Djajang Nurjaman secara bergantian melakukan usaha untuk menenangkan bobotoh, fans Persib Bandung, usai PBFC berhasil menahan imbang Persib di pekan ke – 7 Liga 1 Indonesia.

Pertama, seusai pertandingan melawan PBFC, Djanur sapaan akrab pelatih Persib mengungkapkan beberapa alasan kenapa Persib hanya mampu meraih 1 poin di Gelora Bandung Lautan Api pada Sabtu (20/5). Salah satu yang menggelikan tentunya menyalahkan Michael Essien karena gagal mengeksekusi penalti ke gawang PBFC.

Djanur beralasan bahwa Michael Essien berkeras mengambil penalti padahal seharusnya Vladimir Vujovic yang menendang penalti. Dia mengungkapkan ini semua sudah tercantum pada game plan Persib. Alasan ini bisa saja diterima namun menimbulkan pertanyaan yaitu kenapa Michael Essien dibebaskan begitu saja mengambil tugas pemain lain? Apakah Atep sebagai kapten tidak ditegur karena pemain tidak mengikuti arahan pelatih? Kenapa alasan ini tidak mengemuka ketika Essien sukses melakukan penalti ke gawang Persipura? Tentunya hanya Djanur yang tahu.

Michael Essien, another world class player in Persib, also received sharp critic from the coach when he failed to score penalty last week. He was accused didn’t follow the team order, because as Djanur said that before the match last week he already decided which player become  penalty, corner kick and free kick’s executor. However that was not Essien first penalty. When Persib met Persipura in week 5, he scored penalty and the coach was happy.

Kedua, performa Persib minggu lalu tetiba menghadirkan ancaman manajer kepada Carlton Cole. Padahal striker bertubuh jangkung ini tidak dimainkan. Manajer menganggap fisik dan stamina Cole sulit untuk ditingkatkan dan karenanya tidak akan dimainkan. Ia merasa membeli kucing dalam karung, karena tidak tahu fisik dan stamina Cole ada di titik terendah. Hal yang aneh tentunya, karena informasi soal Cole kini bisa diakses dimana saja. Sepertinya pak manajer jarang googling.

carlton-cole-dapat-ancaman-lagi-dari-manajer-persib-17341937_thumb

Yesterday, the manager claimed that Carlton Cole in Persib just for half season, because as the coach said his physic and stamina can’t be improved anytime soon.

Tentunya semua bobotoh tahu, alasan dari pelatih dan manajer ini hanyalah sebuah penyangkalan atas buruknya penampilan Persib sampai dengan pekan 7 Liga 1. Memang Persib belum mengalami kekalahan dan sementara runner up klasemen.  Namun penampilan tim memang mengkhawatirkan. Sampai dengan saat ini Djanur belum memiliki formasi ideal dan dalam dua pertandingan terakhir ia tidak pernah melontarkan senyum sekalipun Persib mencetak gol.

Statistik Persib dalam lima pertandingan terakhir membuat waswas. Dalam empat pertandingan terakhir baik shot off target dan on target lawan selalu lebih tinggi. Jumlah corner kick lawan selalu lebih tinggi. Memang saat melawan PBFC, statistik ini mulai naik tapi hanya tiga pemain lawan saja bisa menggoyang hebat pertahanan Persib. Terlebih penampilan pemain ketika melawan PBFC seperti kehabisan bensin.

Menurut manajer, Pertandingan pekan ke – 8 melawan Bali United akan menjadi tolok ukur Djanur apakah stay or out dari Persib. Namun sampai hari Rabu nanti, 31 Mei 2017, rasanya keduanya akan tetap mengumbar alasan – alasan tidak perlu.

 

 

Persib : In pemain we trust..Janur..

5 poin dari 3 pertandingan Liga 1 hasil 2 kali imbang dan 1 kali menang, menempatkan Jajang Nurjaman (Janur), pelatih Persib di kursi panas. Ditambah dengan usulan perubahan jadwal yang diterima PT.Liga Indonesia Bersatu (PT.LIB), sehingga membuat 5 pekan awal Liga I memasukkan PS TNI dan Persegres, Persib seharusnya sudah mengumpulkan 7 poin seandainya laga melawan PS TNI di pekan 2 Liga I tidak berakhir imbang.

Memang Persib belum mengalami kekalahan, jika sudah, kursi pelatih tentunya akan merah membara. Hasil imbang di pekan 2 melawan PS TNI, telah membuat Janur sasaran kritikan pedas terutama dari bobotoh.

Ada beberapa hal yang nampaknya masih belum ditemukan solusi idealnya oleh Janur :

Pertama, regulasi harus menurunkan 3 orang pemain berusia maksimal 23 tahun minimal selama 45 menit atau 1 babak. Pada periode pertama kepelatihannya (2012 – 2016), Janur bukanlah pelatih yang sering mempromosikan pemain muda. Ia lebih suka memasang pemain yang sudah jadi, sudah berpengalaman. Ketika ia memegang posisi pelatih, Jajang Sukmara merupakan salah satu pemain muda berbakat Persib. Dipercaya oleh pelatih sebelumnya, Drago Mamic. Tetapi ketika Janur masuk, Jajang Sukmara kehilangan tempatnya di tim utama.

5907b6a080edf-gelandang-persib-bandung-febri-haryadi_663_382

Saat membawa Persib juara Liga Super Indonesia tahun 2014, Janur hanya memberikan porsi jam bermain sedikit kepada para pemain muda ketika itu seperti, M.Agung Pribadi, dan Rudiyana.

Periode kedua kepelatihannya ( 2016 – ….. ) , ia mulai mau memasang pemain muda. Febri “bow” Haryadi mendapatkan banyak kesempatan bermain karena Bow menempati posisi winger sesuai dengan skema permainan Janur yang lebih banyak mengandalkan lebar lapangan. Juga karena saat ia mengambil kembali tampuk pelatih dari Dejan Antonic, Persib kekurangan winger di sisi kanan setelah ditinggalkan M.Ridwan.

Tetapi dengan regulasi wajib pemain muda di liga I mau tidak mau ia harus menurunkan pemain muda. Sehingga ia memberikan kepercayaan kepada Gian Zola, Henhen Herdiana, Angga Febriyanto dan Ahmad Basith. Dua nama awal lebih sering diturunkan. Tetap saja Janur terlihat masih ragu dan kurang percaya dengan pemain muda. Regulasi minimal bermain 45 menit untuk pemain muda diterapkan oleh Janur sehingga sering sebelum kick off babak kedua dimulai Zola dan Henhen diganti pemain berusia lebih senior.

Sejauh ini Gian Zola sudah tampil 111 menit, Henhen 135 menit, Ahmad Basith 45 menit, Angga Febriyanto 36 menit, Fulgensius Billy Keraf 62 menit dan Febri Haryadi 180 menit.

Dua kali pergantian pemain muda ini bisa dibilang agak kurang tepat karena mereka diganti ketika tengah on fire. Gian Zola diganti di babak kedua ketika Persib menghadapi Arema, kemudian Billy Keraf diganti di menit 74 saat Persib menghadapi PS TNI.

Kedua, belum ditemukannya susunan sebelas pemain yang ideal. Jika saja, tanpa ada regulasi pemain muda rasanya susunan starting eleven tetap sudah dimiliki Janur. Sehingga Janur lebih mengandalkan kepada kemampuan individu setiap pemain.

Melihat di lini pertahanan, dari mulai sektor penjaga gawang sudah memiliki pilihan tetap, I Made Wirawan (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan empat pemain bertahan, duet centre back dipercayakan kepada Vladimir Vujovic (3 pertandingan 270 menit)  dan Ahmad Jufriyanto (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan disektor full back, terlihat Janur agak kebingungan karena terimbas peraturan pemain muda. Ia akan memasang Henhen (3 pertandingan 135 menit) di babak pertama dan Supardi Natsir (3 pertandingan 180 menit) di babak kedua untuk di full back kanan. Sedangkan di kiri Tony Sucipto (2 pertandingan 180 menit) sudah diturunkan dalam dua pertandingan. Pada pertandingan ketiga ia diistirahatkan dan perannya diganti oleh Supardi juga Wildansyah (1 pertandingan 45 menit).

Ditengah yang “banjir” pemain dengan tipe sama, Hariono diberikan kepercayaan turun di 2 pekan awal selama 180 menit full. Dedi Kusnandar diberikan kepercayaan di pekan 1 dan 3 dengan total 113 menit bermain. Kim Jeffrey Kurniawan tampil di pekan 2 selama 90 menit. Raphael Maitimo bermain di pekan 3 bermain 90 menit, Michael Essien diturunkan dalam setiap pertandingan dengan total menit bermain 136 menit. Ahmad Basith bermain dipekan 2 selama 45 menit.

5f5b3b3b-74a8-4782-8006-b5a60af92648_169

Sedangkan di sektor gelandang serang dan penyerang, ada 3 pemain yang menjadi pilihan yaitu Atep, Febri Haryadi dan Matsunaga Shohei. Atep bermain di 3 pertandingan dengan total 225 menit. Febri 2 pertandingan mengumpulkan 180 menit. Matsunaga Shohei bermain di 3 pertandingan sebanyak 225 menit. Gian Zola bermain pada dua pertandingan dengan 111 menit bermain, Billy Keraf turun di pekan 2 dan 3 dengan 62 menit bermain. Tantan diturunkan di pekan ketiga selama 76 menit. Angga Febriyanto pekan kedua selama 36 menit (cedera), dan Carlton Cole bermain di dua pertandingan mengumpulkan 61 menit bermain.

Dengan melihat kepada fakta tersebut, terlihat Janur masih terus merotasi skuadnya untuk menemukan komposisi ideal sambil beradaptasi dengan regulasi pemain muda di Liga I.

Ketiga, belum optimalnya beberapa pemain. Hal ini sangat kentara pada diri Matsunaga Shohei. Pemain asal Jepang ini semenjak datang ke Persib seperti kehilangan sentuhannya seperti yang pernah ia tampilkan bersama Persiba Balikpapan. Padahal Matsunaga sudah bergabung sejak Piala Presiden 2017, namun penampilannya tidak kunjung membaik. Pada pekan kedua melawan PS TNI, ia sangat mudah dihentikan oleh pemain lawan bahkan jarang pula mengancam gawang lawan. Ia adalah pilihan Janur sendiri dan ditunjukkan dengan selalu memberikan tempat bagi Matsunaga di lapangan meski datang dari bangku cadangan.

Dua pemain yang menjadi sorotan di Persib musim ini, Michael Essien dan Carlton Cole, belum sepenuhnya dipercaya oleh Janur dengan alasan stamina yang masih harus diperbaiki. Memang kedua pemain sempat absen beberapa bulan dari lapangan hijau sebelum bergabung dengan Persib. Tetapi diluar itu, sepertinya memang Janur masih enggan memberikan kepercayaan penuh kepada kedua ditambah sekali lagi regulasi wajib pemain muda. Atau ini tanda – tanda Janur masih grogi menangani dua pemain eks liga Inggris tersebut? seperti yang pernah ia kemukakan ketika Essien datang.

Jika melihat pada pemain berstatus marquee player di klub lain, apa yang ditunjukkan oleh Michael Essien dan Carlton Cole (non marquee player) masih kurang namun tidak terlepas dari kesempatan yang diberikan Janur kepada mereka selama 3 pekan Liga I.

persib-arema-imbang.jpg

Khusus untuk Carlton Cole, meskipun memiliki posisi striker murni, tetapi Janur saat ini lebih memilih penyerang bertipe forward seperti Atep, Matsunaga Shohei, Tantan dan “memaksa”  Febri sebagai goal getter. Janur masih menunggu Sergio Van Dijk (SVD) sembuh karena memang telah terbiasa bekerjasa sama dengan SVD. Sejauh ini baru Atep yang subur dengan 2 gol, sedangkan gol persib lain disumbang Essien 1 gol dan Febri 1 gol.

Keempat, last but not least. Janur merupakan seorang pelatih yang jarang melakukan perubahan. Sejak membawa Persib meraih gelar Liga Super Indonesia tahun 2014, skema permainannya selalu sama. Kekuatannya ada pada kemampuan individu para winger. Seiring dengan waktu, meski masih bisa diandalkan tetapi pelatih lawan sudah demikian paham dengan gaya permainan ini. Febri ketika tampil di Indonesia Soccer Championship tahun 2016, masih sulit dihentikan lawan. Tetapi sekarang, lawan sudah tahu bagaimana menghambat Febri. Ini merupakan salah satu bukti Janur harus merubah gaya permainannya.

Jarang melakukan perubahan juga ditunjukkan dalam pergantian pemain. Henhen yang selalu diganti Supardi, membuat lawan sudah dapat mengantisipasi apa yang terjadi di babak kedua.

Baru dipekan 3 saat menghadapi Sriwijaya, Janur sedikit berani merombak lini depan dengan menurunkan Tantan dan terbukti berhasil. Gerakan – gerakan Tantan berhasil membuat pertahanan Sriwijaya lengah.

Pekan ini di awal bulan Mei, Persib akan menjalani jadwal padat. Rabu (03/05) tandang ke Gresik dan Minggu (07/05) kembali ke Bandung untuk menghadapi Persipura. Kunci keberhasilan Janur dalam dua pertandingan tersebut adalah apa yang ia tunjukkan pada saat melawan Sriwijaya yaitu mendobrak pola tetapnya.

Penuh dengan pemain mumpuni, Janur harus segera menetapkan pola permainan baru yang efektif. Regulasi pemain muda bukanlah sesuatu yang sulit untuk klub karena klub yang lain pun bisa, tinggal keberanian dan kepercayaan yang harus dimiliki Janur karena tanpa itu, kursinya akan semakin panas.

 

(simpan dulu) harapan

Carlton Cole, mantan striker West Ham United dan Chelsea, bergabung dengan Persib Bandung sebagai pemain asing ke-4 di tahun 2017. Menjelang liga baru yang bernama Gojek Traveloka Liga 1, Persib memang membutuhkan penyerang baru karena baru memiliki Sergio Van Dijk (SVD) dan Angga Febriyanto. Pada beberapa kesempatan terakhir, Persib lebih memilih bermain tanpa striker murni karena SVD cedera meski bermain seperti itu agak kacau.

Kehadiran Carlton Cole menambah gempita Persib di Liga I setelah sebelumnya Michael Essien bergabung dengan status marquee player. (Saya belum bisa menemukan hubungan kenapa eks Chelsea yang dipilih oleh Persib, apakah karena sama – sama jersey biru?). Carlton Cole bergabung walau sebenarnya di Inggris pun ia memiliki beberapa tawaran termasuk dari klub no liga, Billericay Town.

Jika kehadiran keduanya sudah memberikan kehebohan tersendiri karena pernah tampil di pentas sepakbola Eropa dan dikenal para fans sepakbola luar negeri di Indonesia, pertanyaan selanjutnya apakah mereka mampu menambah kekuatan Persib di atas lapangan hijau?

Michael Essien tahun lalu bermain untuk Panathinaikos di Liga Super Yunani. Total 15 kali penampilan dan 1 gol sejak ia bergabung dari bulan Juni 2015. Essien mengalami cedera otot sehingga harus menepi lebih dari 3 bulan di Yunani. Performa Essien memang menurun secara bertahap apalagi dengan catatan cedera panjang yang pernah ia alami membuatnya menghabiskan waktu hampir setahun menyembuhkan cederanya.  Waktu istirahat terpanjang Essien karena cedera adalah 184 hari ketika masih bermain untuk Chelsea pada tahun 2012.

Essien-ball-fly

Essien tidak masuk dalam pilihan Panathinaikos menjelang Liga Super Yunani 2016/2017. Statusnya dibekukan dan 3 bulan kemudian dilepas oleh Panathinaikos. Sejak bulan November 2016 ia tidak memainkan laga kompetitif karena berstatus tanpa klub walau menjaga kebugaran dengan ikut latihan di Chelsea.

Sedangkan Carlton Cole terakhir kali bermain di laga kompetitif bersama klub Amerika Serikat, Sacramento United, di United League atau sekelas divisi II. Bergabung sejak bulan Agustus 2016, bermain 4 kali, kemudian pada bulan Oktober 2016 ia dilepas dan libur bermain sejak itu.  Cole menyadari bahwa kedatangannya ke Sacramento hanya menjadi pemain cadangan saja.  Menjadi cadangan dirasakannya pula ketika bergabung bersama Glasgow Celtic di Skotlandia. Dikontrak pada bulan Oktober 2015 dan dilepas pada Juni 2016 dengan mengoleksi 5 kali bermain dan satu gol saja. Ia gagal menggeser Leigh Griffiths dan tidak meyakinkan untuk dipertahankan oleh manajer Brendan Rodgers.

Untuk menjaga kebugaran, Cole berlatih di gimnasium milik West Ham United menunggu tawaran berbagai klub sejak ia belum memutuskan pensiun dari lapangan hijau. Satu tawaran yang sempat ditanggapi serius datang dari klub non liga, Billericay Town.

Melihat catatan gol striker yang menyandang status “living legend” West Ham United, ia bukanlah seorang penyerang yang subur untuk ukuran Liga Inggris. 9 musim menjadi bagian The Hammers (julukan West Ham United) ia mencatatkan 293 penampilan dan 68 gol di semua kompetisi. Rekor gol terbaiknya di Liga Inggris ketika ia berusia 25 tahun atau pada musim 2008/2009 dengan 10 gol. Musim selanjutnya ia juga mencetak 10 gol. Sedangkan rekor golnya bersama West Ham adalah 14 gol di divisi Championship ketika musim 2011/2012 West Ham terdegradasi dari liga Inggris.

159911_1

Setelah itu, produktifitas Cole terus menurun. Bahkan fans West Ham mulai ragu kepadanya. Meski dengan postur menjulang 1.91 meter, ia bukanlah ancaman duel udara. Sedangkan kontrol bolanya juga mendapatkan kritikan.  Jangankan mencetak 14 gol, mengulangi 10 gol semusim saja sulit meski terus diberikan kesempatan. Prestasi yang mendekati 10 gol hanya terjadi sekali di musim 2013/2014 dengan 6 gol di semua kompetisi.

Dengan melihat sejarah tersebut dari kedua pemain ini, rasanya jangan dulu membebankan harapan setinggi langit kepada mereka. Meski bisa berargumen bahwa level permainan di Liga I Indonesia tidak seperti di Inggris atau Eropa secara umum, namun masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi optimal mereka. Salah satunya adalah soal kualitas lapangan.

Walaupun, kedatangan mereka menaikkan pamor kompetisi dan membuat bangga para bobotoh, namun pembuktian sebenarnya adalah 2 x 45 menit diatas lapangan. Karena mereka dikontrak bukan menjadi brand ambassador tapi untuk bermain. Mereka bukanlah eks liga Inggris pertama sebelumnya ada Marcus Bent di Mitra Kukar dan Lee Hendrie di klub Bandung FC di kompetisi LPI. Keduanya menunjukkan performa yang rata – rata saja.

Rasa penasaran memang tak bisa dihindarkan, bangga pun tak bisa dipangkas, namun janganlah terlalu berharap banyak dulu. Kedua pemain lama tidak bermain, masalah kebugaran semoga saja bisa diatasi cepat agar yang lainnya bisa beradaptasi dengan mudah.

Marquee Player : Bisa Berhasil , Bisa Gagal

PSSI seperti telah diketahui menetapkan peraturan baru dalam pelaksanaan Liga I yang menurut rencana digulirkan pada 15 April nanti. Pemberlakuan kuota pemain asing 2+1 ( 2 pemain asal non asia + 1 pemain asia ). Plus jika klub mampu diperbolehkan memiliki pemain asing ke – 4 namun harus berstatus Marquee player dengan syarat pernah bermain di tiga edisi terakhir Piala Dunia (Piala Dunia 2006, Piala Dunia 2010, dan Piala Dunia 2014) atau berasal dari 8 liga top Eropa serta berusia maksimal 35 tahun.

PSSI tidak merinci apakah pemain asing tersebut harus mempunyai menit bermain di tiga edisi piala dunia tersebut atau cukup menjadi bagian skuad Piala Dunia (cadangan atau tidak bermain).

Menurut definisinya Marquee merujuk pada bintang utama dalam sebuah pertunjukan. Sehingga pemain yang berstatus Marquee biasanya adalah pemain yang dinilai memiliki kelas dan kemampuan diatas rata – rata pemain pada satu liga tertentu.

Sebenarnya agak kontradiktif, karena Marquee player di beberapa liga yang menerapkan aturan ini, biasanya adalah “pemain sisa”. Sudah mulai kehilangan tempat di liga – liga utama eropa, rentan cedera, dan kemampuannya pun kadang tidak sehebat ketika masih muda karena biasanya para marquee player menyandang status lain yaitu pemain veteran.

Pada kompetisi di Indonesia, ini bukanlah konsep yang baru pada liga sempalan bentukan Arifin Panigoro, Liga Premier Indonesia, Lee Hendrie (eks Aston Villa) pernah didatangkan dengan status ini bermain untuk Bandung FC.

Marquee Player ( Pada Major League Soccer disebut designated player) memiliki gaji diatas rata – rata dan tidak dibatasi aturan pembatasan gaji.

Liga yang menerapkan aturan ini  secara umum memiliki tujuan promosi dan investasi. Promosi untuk meningkatkan citra kompetisi di mata pendukung sepakbola lokal dan mampu menarik sponsor. Membangun citra menarik ke luar negeri. Berkaitan dengan investasi, diharapkan dengan adanya para pemain berstatus kelas dunia pada satu kompetisi, para investor kakap akan mau menanamkan uang mereka pada kompetisi baik pada liga itu sendiri atau pada klub.

Ketika David Beckham datang ke LA Galaxy pada tahun 2007, mampu menaikkan pamor sepakbola di Amerika Serikat dan berbanding lurus terhadap keuntungan finansial. Rumus ini juga digunakan oleh Indian Super League (ISL). Liga yang berjalan setelah i-league usai dan berdurasi selama 3 bulan ini, mendatangkan banyak pemain veteran kelas dunia bahkan beberapa diantaranya sudah berstatus pensiunan. Mereka didatangkan sejalan dengan tujuan ISL untuk mempopulerkan sepakbola di India menyaingi olahraga kriket.

Dalam ukuran popularitas dan investasi kedatangan para pemain berstatus bintang utama ini berhasil menaikkan pamor dan finansial, bagaimana dengan prestasi klub itu sendiri?

a.espncdn.com

Pengalaman Tampines Rovers pada Singapore League tahun 2016 mendatangkan Jermaine Pennant (eks Liverpool, Stoke City, Real Zaragoza) bisa dijadikan cerminan. Jermaine Pennant ternyata tidak mampu memberikan kontribusi yang banyak kepada timnya. Riwayat cedera yang panjang membuat kecepatan yang menjadi ciri khasnya hilang. Selain itu penampilannya dilapangan tidak stabil. Hanya sesaat saja ketika para penonton berdecak kagum dengan kemampuannya. Selebihnya ia dijadikan kambing hitam kegagalan Tampines Rovers menjuarai Singapore League.

Meskipun pengelola S-League mengklaim bahwa kedatangan pemain Inggris ini mampu mendongkrak jumlah penonton di stadion sebanyak 25 %, namun secara umum tetap saja masyarakat Singapura masih banyak abai ke kompetisi sepakbola mereka. Jermaine Pennant bahkan mengkritik pengelola S-league yang menumpukan terlalu banyak harapan kepada dirinya karena jika S-league sendiri tidak berbenah dan klub – klub Singapura tanpa memiliki Marquee player pun sudah ngos – ngosan maka jangan harap sepakbola Singapura akan berkembang.

Kembali ke Liga I Indonesia. Upaya PSSI dengan re-branding kompetisi setelah pembekuan FIFA dengan nama baru dan aturan baru memang patut dinanti. Jika melihat pada ukuran untuk menaikkan popularitas, sesungguhnya Indonesia sudah tidak perlu berusaha keras mendatangkan pemain kelas dunia karena sepakbola kita sudah demikian merakyat, stadion pun selalu penuh.

Promo ke luar negeri? rasanya juga sepakbola kita sudah terkenal karena para pendukung sepakbola Indonesia termasuk yang aktif mempopulerkan klub dukungan mereka lewat media sosial.

Mungkin dengan ukuran investasi finansial, ya klub – klub Indonesia memerlukan sokongan dana yang terus mengalir. Baru segelintir saja klub yang mampu dari musim ke musim. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Jermaine Pennant tentang S-League, PSSI sendiri harus memiliki rencana dan aksi yang pasti dalam melakukan pembenahan liga dalam negeri. Karena jika tidak, kedatangan pemain kelas dunia hanya akan mubazir dan membuat klub hanya merasakan efek sesaat saja tanpa kontinyu.

Memberikan bimbingan kepada pemain muda? Karena PSSI mewajibkan tiga pemain berusia 23 tahun diturunkan minimal 45 menit per pertandingan untuk Liga I, belum tentu juga akan tercapai. Karena haruslah didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas dan tim kepelatihan yang ada di setiap klub. Jika ingin menjadikan pemain Marquee sebagai “guru” maka sediakanlah “kelas” yang juga mendukung pembelajarannya.

17126882_864339263704634_8562734581294301184_n

Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung dan menurut kabar berita akan segera datang, Peter Odemwingie ke Madura United, memang sudah membuat rasa penasaran dan harapan penonton membuncah. Sudah ramai di media sosial, tinggal menunggu aksi para pemain dunia ini di lapangan hijau saat Liga I resmi kick off pada 15 April nanti.

Tetapi jangan sampai kedatangan para pemain ini hanya “meramaikan” saja dan PSSI pun berpuas diri dengan kegaduhan ini. PSSI harus mampu dan memiliki rencana yang bagus dengan memberlakukan aturan ini. Harus ada timbal balik yang sepadan, ketika kita memberikan “panggung” kepada para bintang utama ini baik dalam pembinaan maupun pendanaan.

Mengenai harapan yang tinggi dari para penonton? emh lebih baik kita berkaca pada Jermaine Pennant. Bahkan secara finansial pun, PSSI dapat mengambil pengalaman kepada Liga Singapura yang di awal tahun 2017 ini hampir tidak terlaksana, karena klub eungap mencari dana.

 

 

 

Catatan Persib di Piala Presiden 2017

Kekalahan Persib di semifinal Piala Presiden 2017 memang menyesakkan. Tendangan penalti Kim Jeffrey Kurniawan yang gagal menemui jala gawang PBFC menjadi kesimpulan soal ketidak beruntungan Persib di malam itu.

Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Hilangnya peluang Persib mempertahankan gelar Piala Presiden setidaknya memperlihatkan masih banyak hal harus dipersiapkan Persib menuju Liga 1 (mudah – mudahan tidak mundur lagi). Beberapa kelemahan Persib yang tercatat selama Piala Presiden adalah :

  1. Komposisi pemain belum ideal.

Cederanya Sergio Van Dijk pada perempatfinal melawan Mitra Kukar membuat Jajang Nurjaman (Janur) kehilangan formasi idealnya. Striker muda, Angga Febriyanto, diberikan kesempatan turun pada semifinal leg pertama hanya karena itu penampilan perdananya terlihat ia belum bisa seperti seniornya. Sehingga Janur lebih menyerahkan posisi ujung tombak kepada Matsunaga Shohei. Walau ia ketika kali pertama datang ke Persib sebagai striker dan berduet dengan Cristian “el loco” Gonzalez tapi di klub lain ia lebih banyak bermain sebagai gelandang serang. Ia kurang bisa mengeksplorasi kemampuannya jika menjadi ujung tombak karena ia membutuhkan areal lebar lapangan.

2. Kedua sisi sayap  tak seimbang

Jika pada fase grup, Febri Haryadi di sisi kanan yang menggila, pada tahap perempatfinal dan semifinal justru sisi kiri yang lebih menonjol. Peran Atep atau Matsunaga Shohei terlihat mampu memberikan kontribusi bahkan lebih tajam dalam urusan mencetak gol. Febri Haryadi tidak bisa diporsir terus menerus. Ia masih belum mekar sepenuhnya. Gaya bermain yang masih mengedepankan egoisme perlu dirubah agar ia paham betul bagaimana bermain dengan efektif dan efisien. Bukan sekali, satu celah di pertahanan lawan keburu tertutup karena Febri ingin mempertontonkan aksi dribbling melewati satu atau dua pemain. Berharap, karena ia mengikuti seleksi timnas Indonesia U-22, Luis Milla sebagai pelatih timnas akan memberikan pelajaran yang penting bagi pemain muda ini. Karena jika hanya di klub rasanya akan begitu – begitu saja.

3. Kebobolan terbanyak diantara 4 semifinalis

Kembalinya duet soulmate Vladimir Vujovic dan Ahmad Jufrianto nyatanya tidak memberikan jaminan keamanan di pertahanan. Persib mencetak 12 gol sampai semifinal leg kedua tapi kebobolan 6 gol. Ada sesuatu yang hilang setelah kedua pemain ini terpisah setahun ( Ahmad Jufriyanto bermain untuk Sriwijaya FC pada 2016). Di turnamen pra musim ini, justru Vujovic lebih menjadi penyelamat Persib melalui gol yang ia cetak. Pada dua leg semifinal, 3 gol yang dicetak PBFC semuanya berasal dari situasi corner kick. Bahkan gol Dirkir Glay ke gawang Persib hari Sabtu yang lalu membuktikan lemahnya pertahanan Maung Bandung.

092870000_1488790610-KIRIM_MG_6388

 

4. Skema permainan dan pergantian selalu sama

Tidak ada salahnya jika seorang pelatih memiliki gaya khas. Setiap pelatih selalu memiliki gaya permainan yang ia sukai. Namun jika kita melihat pada tahun 2014 saat Persib menjadi juara Liga Super Indonesia sampai dengan saat ini, gaya permainan yang ia terapkan tidak  mengalami perubahan. Perubahan hanya terjadi pada siapa pemain yang memainkan gaya tersebut. Serangan dari sayap, satu penyerang tunggal yang disokong tiga atau dua gelandang serang sudah sangat dipahami oleh lawan. Selain itu selama turnamen pra musim Piala Presiden 2017, pergantian pemain yang dilakukan oleh Janur terutama di babak perempatfinal sampai semifinal cenderung sama. Sehingga sekali lagi, lawan pun sudah memprediksi hal ini dan menyiapkan counter strategy. Lawan yang tampil dengan kualitas pemain tidak terlalu mentereng pun bisa merepotkan.

5. Mental bertanding yang lemah

Efek psywar lawan ternyata betul – betul efektif. Menggoyahkan mental bertanding Persib. Penjaga gawang sekelas I Made Wirawan pun yang sudah banyak memainkan pertandingan skala nasional dan internasional tampil bak pemain kemarin sore. Belum lagi ketika melihat pada semifinal leg pertama di Kalimantan, Persib seperti kebingungan, psywar ini merontokkan mental semua pemain. Agak aneh memang jika Persib yang dihuni beberapa pemain berpengalaman gugup menghadapi lawan yang sudah menyerang bahkan sebelum peluit kickoff dibunyikan.

6. There’s only one Hariono

Ahmad Basith, Dedi Kusnandar bukanlah pemain bertipe seperti Hariono. Sekalipun Kim Jeffrey Kurniawan yang memiliki “napas kuda” ia tidak sama persis. Pada pertandingan melawan Persiba Balikpapan ketika Hariono tidak turun, lini tengah Persib tidak dapat memberikan sokongan baik ke depan ataupun belakang. Persib perlu memiliki back up sepadan. Persib butuh pemain “kasar” yang mau beradu fisik dengan lawan untuk merebut bola plus memiliki kemampuan mengumpan yang baik.

7. Pemain asing tidak maksimal

Bukan tidak mungkin jika awalnya Janur menumpukan harap kepada Erick Weeks atau Matsunaga Shohei. Ketika penampilan mereka tidak juga memuaskan, Janur tidak memiliki cadangan skema permainan dan kembali mengandalkan pemain – pemain seperti Febri Haryadi.

Itulah beberapa catatan saya mengenai perjalanan Persib di Piala Presiden 2017. Memang masih ada satu poin lainnya yaitu Janur yang belum terlalu percaya sepenuhnya kepada para pemain muda. Ia masih mencoba mengandalkan sosok senior dalam setiap permainan. Well ini cuma pra musim, selayaknya pra musim ini digunakan untuk mencari kelemahan dan memperbaiki, juga untuk meningkatkan yang bagus menjadi lebih bagus.

 

Final Piala AFF 2016 Review : Kita Membantu Thailand Tetap Jadi King Of Asean

Dua gol penyerang UMT United, Siroch Chattong, di Stadion Rajamangala Bangkok, Sabtu 17 Desember 2016, ke gawang Indonesia, memupus sudah harapan tinggi Indonesia untuk memenangkan Piala AFF kali pertama.

Indonesia tampil menunggu di pertandingan Leg 2 Final Piala AFF 2016 pekan lalu. Tidak ada determinasi untuk merebut bola dari kaki lawan sejak dini, tidak ada pressing ketat di areal tengah lapangan. Menunggu dan menunggu lawan di wilayah pertahanan sendiri.

Kecerdikan Kiatisuk Senamuang, Pelatih Thailand, dengan mengembalikan formasi 3-4-2-1, memecah konsentrasi pertahanan dengan menurunkan duet Siroch Chattong dan Teerasil Dangda, mencecar sisi kanan yang merupakan sisi terlemah Indonesia, mematikan Rizky Pora dengan menurunkan Charryl Chappuis yang lebih mampu bertahan dibandingkan Pokklaw A-nan, ditambah motivasi untuk menang, membuat Indonesia kehilangan peluang terbaiknya untuk memenangkan Piala AFF 2016.

Perubahan Thailand di Leg 2 final tidak diantisipasi dengan baik oleh Alfred Riedl, pelatih Indonesia. Plus, mental bertanding Indonesia yang tiba – tiba menukik ketika harus tampil di Thailand membuat determinasi Indonesia di setengah waktu babak kedua sia – sia.

Takdir. Memang inilah takdir kita hanya saja jangan dijadikan dalih atas kekalahan ini. Perlu diingat bahwa takdir tergantung dari usaha. Jika melihat pada penampilan Indonesia hari Sabtu lalu, pantaslah kita hanya menggenggam gelar runner up  Piala AFF kelima kalinya.

Pesepak bola Indonesia tertunduk usai bertanding melawan Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12).

Thailand memang harus diakui King Of ASEAN. Negara pengoleksi gelar Piala AFF terbanyak, kualitas kompetisinya sudah lebih daripada Indonesia yang mementingkan kemeriahan saja, timnas level senior maupun usia bisa berbicara di tingkat Asia, juga pengoleksi medali emas sepakbola terbanyak di Sea Games baik di sepakbola putra dan putri. Bertahun – tahun, meski sempat menurun, namun Thailand berhasil menjaga reputasi sebagai nomor satu di sepakbola Asia Tenggara.

Tidak bisa dipungkiri predikat tersebut membuat negara – negara ASEAN lainnya gentar jika harus berduel diatas lapangan hijau. Singapura, Malaysia, Vietnam maupun Filipina akan berhati – berhati ketika menghadapi Thailand. Diluar Thailand, jika mereka bertemu satu sama lain termasuk dengan Indonesia, maka permainan menyerang yang akan ditampilkan. Pressing tinggi Vietnam saat melawan Indonesia akan berbeda cerita jika harus melawan Thailand.

Secara tidak disadari semuanya ikut “membantu” Thailand mempertahankan predikat tersebut. Jarang ada yang berani langsung tampil all out attack, berani mengambil resiko menantang Thailand. Thailand mungkin saja ketika bermain di ASEAN tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena predikat nomor satu sudah sangat banyak membantu mereka melemahkan mental bertanding lawan.

Singapura, Filipina, Myanmar di Piala AFF 2016 selama babak grup menghadapi negara lain, mampu membobol gawang lawan. Namun semuanya menguap begitu saja ketika menghadapi Thailand meski mendapatkan peluang besar mencetak gol. Ada rasa tidak tenang, terburu – buru jika harus menembakkan bola ke gawang Thailand.

Setelah Piala AFF 2016, Indonesia rasanya perlu melihat kembali perjalanannya di turnamen dua tahunan sejak 1996. Sebetulnya berkali – kali Indonesia mempunyai peluang bagus untuk menjadi juara. Lima kali ke final minimalnya 2-3 kali pernah merasakan juara.Singapura 4 kali ke final berhasil 4 kali membawa Piala AFF. Vietnam 2 kali ke final membawa satu gelar juara. Malaysia 3 kali tampil di final, 1 kali menjadi juara pada tahun 2010. Indonesia? 5 kali ke final 5 kali pula gagal.

Pertanyaannya ada apa dengan Indonesia? Apakah mental para pemain timnas tidak pernah dipersiapkan bertanding di final hanya cukup sampai semifinal? ataukah kaki – kaki mereka sudah keburu lelah menjalani pertandingan dari babak grup sampai semifinal? Kalau demikian bagaimana peluang Indonesia di Piala AFF 2018 yang akan menerapkan sistem home and away sejak babak grup? Apakah kita cepat berpuas diri? Atau kita tidak pernah belajar?

Pertanyaan – pertanyaan tersebut memenuhi benak saya sesaat setelah wasit meniup peluit panjang di Bangkok Sabtu kemarin. Pertanyaan yang semakin panjang untuk dinantikan jawabannya, menunggu kiprah timnas Indonesia dua tahun mendatang.

Namun satu hal yang pasti, tanpa meremehkan perjuangan keras para pemain, Sabtu lalu sepertinya semua bermain menunggu keajaiban saja. Pressing tinggi yang seharusnya dihadirkan untuk mengimbangi Thailand tidak muncul. Semuanya baru tersentak, ketika Siroch Chattong mendapat gol keberuntungan saat bola hasil sapuan Fahcrudin membentur badannya dan berbelok arah ke gawang Kurnia Meiga. Terkejut kemudian tergopoh – gopoh tanpa merencanakan perlawanan yang pas.

Kembali ke pernyataan diatas, disadari atau tidak, usaha kita ikut memberikan Thailand zona yang super nyaman, singgasana raja sepakbola Asia Tenggara. Kita belum berusaha berkelanjutan, tanpa putus, untuk menggoyang posisi Thailand. Satu pertandingan menang dan sudah membuat kebahagiaan kita membuncah padahal kita belum memenangkan apa – apa. Meski berkali – kali Thailand menunjukkan kelemahannya, namun berkali – kali pula kita tidak mencoba dengan kekuatan super keras.

2018. Masih banyak waktu tersisa untuk berbenah. Vo2 Max yang sering dijadikan alasan, mental bertanding yang dijadikan alasan, pemahaman taktik, dan segala macamnya harus segera dibenahi. Kompetisi di Indonesia yang menurut rencana akan dimulai pada bulan Maret 2017 jangan hanya menargetkan dipenuhi penonton dan bagus dalam rating TV saja. Harus ada perbaikan yang nyata meningkatkan dan membenarkan semua kesalahan – kesalahan. Jadwal ujicoba timnas harus tersusun rapi dan carilah lawan yang memiliki ranking FIFA diatas Indonesia. Mau tidak mau kita harus mulai melompat jauh bukan lagi berlari memperbaiki keadaan ini. .

Jangan lagi memberikan kenyamanan kepada Thailand. Mulailah menggoyang zona nyaman mereka, berikan penampilan ofensif diatas lapangan, beranilah mengambil resiko meruntuhkan dominasi Thailand.