AFC Cup : Satu Patah, Satu Masih (bisa) Melaju

Bali United menjadi tim ketiga dari Indonesia yang gagal melaju ke babak 16 besar sepanjang keikutsertaan Indonesia pada kompetisi “level 2” setelah Liga Champions Asia.  Kehilangan topskor, Sylvano Comvalius juga playmaker Marcos Flores terasa menurunkan kekuatan Serdadu Tridatu, julukan Bali United musim ini. Persiwa Wamena pada tahun 2010, Persibo Bojonegoro pada tahun 2013 dan kini Bali United meskipun nasib tim asuhan Widodo C Putro ini lebih baik dibandingkan kedua klub tersebut karena memiliki poin 5 dan berada diposisi runner up Grup H.

Namun sejak musim lalu, Piala AFC menerapkan sistem yang berbeda. Dengan menerapkan sistem zona, maka tidak lagi pencampuran klub di fase grup (contoh Asia Tenggara dengan Asia Barat). Hingga menerapkan semifinal dan final Zona dan antar zona.

Sistem ini membuat 3 grup yang dihuni klub – klub Asia Tenggara hanya meloloskan para juara grup dan 1 runner up grup terbaik ke babak selanjutnya yaitu semifinal zona Asia Tenggara dan Final Zona Asia Tenggara.

Persija yang saat ini berada diperingkat pertama Grup H memiliki peluang besar lolos ke babak selanjutnya dengan catatan tidak kehilangan poin pada pertandingan terakhir melawan Tampines Rovers 24 April mendatang. Persija saat ini memiliki poin 10 dan unggul head to head dari pesaing terdekat mereka yaitu Song Lam Nghe An Vietnam (SLNA) ( 1-0 & 0-0) juga Johor Darul Ta’zim Malaysia (JDT) (0-3 & 4-0).

Skenario yang bisa terjadi agar Persija lolos adalah jika pada pertandingan terakhir menang lawan Tampines Rovers. Kedua, mereka bisa lolos jika pada pertandingan terakhir imbang dan dipertandingan lainnya SLNA dan JDT juga berbagi skor imbang namun dengan catatan keunggulan selisih gol tetap terjaga.

Tetapi jika Persija kalah, maka akan menggantungkan harapan kepada JDT untuk mengalahkan SLNA. Jika Persija sampai harus turun ke peringkat kedua andai kalah, maka dipastikan tidak akan lolos karena peringkat kedua terbaik saat ini adalah Home United Singapura yang memiliki poin sama 10 namun lebih produktif dengan 13 gol meskipun pada pertandingan terakhir Home United kalah. Bahkan Jika pada akhirnya Home United di Grup F menggeser Ceres Negros Filipina dari posisi pertama, maka jatah runner up terbaik akan menjadi milik Ceres Negros.

 

Screenshot_83

Screenshot_82

sumber : wikipedia

Sejak tahun 2010 ketika Indonesia mendapatkan dua jatah wakil di AFC Cup, sejarah mencatat setidaknya ada 1 klub yang lolos ke babak selanjutnya. Pada tahun 2010 ketika Persiwa Wamena kandas, Sriwijaya FC yang maju ke babak 16 besar. Tahun 2013, Semen Padang melaju ke babak 16 besar meski Persibo gagal.

Advertisements

Piala Presiden : No more Secret

Piala Presiden 2018 tuntas sudah pada akhir pekan lalu. Persija tampil sebagai juara setelah mengalahkan Bali United 3-0 lewat penampilan impresif striker baru mereka asal Kroasia, Marko Simic.

Kompetisi pramusim yang pada postingan sebelumnya saya tulis terlalu serius ini, setidaknya tidak menimbulkan seorang pemain cedera parah, hanya kelelahan fisik saja. Saking seriusnya, para pelatih cenderung menurunkan skuad terbaiknya dalam setiap pertandingan. Pramusim yang bertujuan untuk mencoba seluruh skuad, menyiapkan semua pemain menjelang Liga 1 2018, dari sudut pandang persiapan tim secara menyeluruh rasanya kurang mengenai target.

Kelemahan lain dari kompetisi pramusim ini, jika boleh dibilang kelemahan, adalah tidak ada lagi “rahasia” antar klub karena cenderung menurunkan skuad terbaik untuk meraih prestasi pada piala tahunan ini.

Sebagai contoh, Bali United. Klub yang musim lalu di Liga 1 2017 menjadi runner up, dalam Piala Presiden ini terlihat mengalami penurunan kualitas materi pemain. Nick Van der Velden salah satu pemain asing yang dipertahankan, dalam Piala Presiden ini difungsikan sebagai pemain serba bisa. Musim lalu ia sering ditempatkan di sisi kiri dalam formasi 4-2-3-1. Tapi sekarang ia ditempatkan sebagai gelandang bertahan sekaligus playmaker atau lebih sebagai deep lying playmaker. Tetapi juga ia ditugaskan untuk menutup lini belakang ketika dua centre back meninggalkan celah. Bahkan di pertandingan final, ketika Demerson diganti, Van der Velden menempati posisi centreback.

Lini depan yang ditinggalkan oleh topskor Liga 1 2017, Sylvano Comvalius, cukup kesulitan. Ilija Spasojevic, pemain naturalisasi, belum terlihat mampu menggantikan peran tersebut. Ilija memang memiliki kemampuan menahan bola tetapi ia terlalu sering jatuh (body balance kurang bagus). Jika musim lalu Van der Velden  diposisikan sebagai pelayan Comvalius dengan umpan – umpannya, musim ini Bali United dikarenakan perubahan posisi yang dilakukan tidak memiliki keunggulan tersebut.

Sriwijaya FC dengan materi pemain bintang mereka terlihat Overload. Namun Rahmad Darmawan, sebagai pelatih, memiliki pemain yang akan diandalkan untuk menempati satu posisi salah satunya Makan Konate. Meski masih memiliki gelandang kreatif lain seperti Esteban Vizcarra, namun Makan Konate adalah yang utama.

Dengan materi skuad utama dan cadangan yang mumpuni, belum terlihat ada chemistry yang bagus diantara mereka.

Piala Presiden 2018 menelanjangi kelemahan klub sejak awal sebelum liga dimulai. Sebetulnya ini merupakan kerugian, meski pada liga nanti pelatih mencoba mengotak – ngatik kembali taktik, namun dengan dasar gaya permainan di Piala Presiden ini tentunya kekuatan satu klub dapat terbaca dengan baik.

Bagusnya seperti pada tulisan yang lalu, agar gelaran Piala Presiden ini dijadikan kompetisi resmi saja yang mendampingi Liga 1. Memang pada tahun ini, Piala Indonesia akan ditandingkan kembali namun tidak ada salahnya jika tahun depan ada 2 kompetisi pendamping seperti halnya FA Cup dan EFL Cup di Inggris.

Kompetisi pramusim lebih baik diserahkan kembali kepada klub, biar klub membuat kompetisi mereka sendiri. Tahun ini saja kita melihat Suramadu Cup Madura United dan Asian Cup PSM Makassar yang mampu menghadirkan klub luar negeri. Karena jika diserahkan kembali kepada PSSI, maka nuansa serius itu akan selalu ada, dan klub akan sejak dini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan mereka.

Bagi Marko Simic yang tampil sebagai topskor Piala Presiden 2018, Liga 1 2018 akan menjadi sesuatu yang lebih berat karena setiap klub sekarang sudah sadar dengan kemampuannya.

 

AFC Cup atau Piala Presiden??

Tidak salah nampaknya ketika pada akhir bulan Januari yang lalu, pelatih PSM Makassar asal Belanda, Robert Rene Alberts, mengkritik penyelenggaraan Piala Presiden 2018 karena dianggapnya terlalu serius untuk turnamen pra musim yang ditujukan untuk mempersiapkan tim menjelang Liga 1 tahun 2018.

Hasil dua wakil Indonesia pada pertandingan perdana AFC Cup 2018 mengonfirmasi kritikan tersebut. Bali United kalah di Stadion I Wayan Dipta oleh Yangon United Myanmar dan Persija kalah oleh Johor Darul Ta’zim (JDT) Malaysia. Keduanya menderita kebobolan 3 gol.

Pada pertandingan melawan Yangon United, Bali United menyimpan kekuatan terbaik mereka, karena sehari kemudian setelah pertandingan AFC Cup mereka harus melawan Sriwijaya FC pada leg II semifinal Piala Presiden.

 

Hal yang sama dilakukan oleh Persija ketika tandang ke markas JDT. Tampil tanpa skuad terbaik karena seperti diungkapkan oleh pelatih Stefano Cugurra para pemain mereka kelelahan karena jadwal padat Piala Presiden 2018.

Jadwal marathon pada babak semifinal Piala Presiden 2018 dijalani oleh kedua tim. Bahkan untuk Bali United, sejak babak penyisihan mereka harus membagi tim dan memiliki 2 pelatih agar bisa tampil baik di Playoff Liga Champions Asia dan Piala Presiden.

Bali United tampil di semifinal Leg 1 melawan Sriwijaya pada tanggal 10 Februari, kemudian 13 Februari menghadapi Yangon United, dan 14 Februari menjalani Leg II semifinal Piala Presiden. Sedangkan Persija sebelumnya menghabiskan energi di dua leg semifinal Piala Presiden pada 10 dan 12 Februari 2018.

Kedua klub lebih memprioritaskan meraih prestasi turnamen pra musim Piala Presiden. Mungkin pertimbangan mendapatkan kas keuangan menjadi alasan karena juara akan mendapatkan 3,3 Milyar Rupiah. Ditambah dengan match fee yang didapatkan dengan nilai uang kalah, imbang, dan menang yang berbeda. Dengan faktor tersebut, sah saja memang jika memprioritaskan Piala Presiden. Tetapi jangan dilupakan, bahwa untuk tampil di AFC Cup adalah sebagai perwakilan Indonesia yang telah didapatkan susah payah dengan berprestasi bagus pada Liga 1 2017.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Robert Rene Alberts bahwa Piala Presiden yang seharusnya merupakan pertandingan ujicoba menjadi terlalu serius. Bahkan ia sendiri khawatir para pemainnya mengalami cedera sebelum kompetisi sebenarnya yaitu Liga 1 2018 dimulai. Jika seperti itu, maka manfaat Piala Presiden untuk membantu klub mempersiapkan diri menjelang Liga 1 akan mubazir.

Andai saja berdalih masih ada 5 pertandingan lagi di AFC Cup untuk Bali United dan Persija sehingga pertandingan perdana “dilepas” dengan tidak menampilkan kekuatan terbaik adalah pemikiran terbalik. Karena mereka membawa nama negara dalam ajang kompetisi antar klub Asia ini.

PSSI lebih baik mempertimbangkan ulang penyelenggaraan turnamen pra musim. Bagusnya sih, turnamen pra musim yang serius ini dimasukkan saja ke dalam agenda resmi kompetisi yang dilaksanakan ketika Liga 1 sudah bergulir dan statusnya sebagai turnamen pendamping liga 1. Turnamen pra musim sudahlah tidak perlu dikoordinir oleh PSSI, karena tahun ini pun klub membuat turnamen pra musim mereka sendiri bahkan lebih memiliki greget karena mengundang tim dari luar negeri seperti Suramadu Cup.

 

Reborn?

Reborn

Kata ini menjadi trend yang ada dalam judul film rilisan satu rumah produksi di Indonesia. Setelah Warkop DKI Reborn pada tahun 2016 kini dirilis Benyamin S Biang Kerok Reborn.

Ketika Warkop DKI Reborn dirilis sebenarnya saya sudah agak bingung dengan konsep film ini (meski cuma nonton trailer aja), tapi ketika saat ini Biang Kerok Reborn semakin bingung. Pertanyaan yang mendasar apa perlunya me- Reborn / melahirkan kembali satu tokoh dalam film?

Memang saat ini perfilman Hollywood sedang banyak melahirkan film – film lawas yang dibuat ulang (Remake). Tak jarang beberapa film diubah jalan ceritanya dari film yang terdahulu atau yang dikenal dengan konsep Reboot. Film yang di-remake seperti Magnificent Seven, Ocean’s Eleven. Sedangkan film reboot seperti spider-man Homecoming ketika pemeran maupun alur cerita dirubah dari film spider-man sebelumnya.

Alasan para pembuat film melakukan ini adalah untuk mencoba mengais keuntungan dengan memanfaatkan kenangan. Film yang di – remake dan di – reboot tentunya adalah film yang memiliki kesuksesan sebelumnya. Meskipun kreatifitas yang dimiliki “sempit” karena masyarakat tentunya sudah memiliki memori dari film yang pertama namun hal ini tidak menyurutkan studio untuk tetap merilis film remake dan reboot walau banyak kisah gagal seperti film Ben Hur.

Hal yang sama yaitu untuk memanfaatkan kenangan atau mencoba mendompleng kesuksesan masa lalu sepertinya juga menjadi salah satu alasan adanya konsep Reborn di Indonesia. Tetapi ada hal yang paling mendasar yang saya kira salah dalam konsep film ini.

Pada judul – judul film yang disebutkan diatas dengan konsep remake dan reboot semuanya adalah tokoh fiksi. Beda hal dengan Warkop DKI dan Alm.Benyamin Suaeb karena mereka tampil di film sebagai diri mereka sendiri. Warkop DKI sempat menggunakan nama lain dalam salah satu film mereka, tetapi kebanyakan, mereka tampil memakai nama mereka sendiri Dono, Kasino, Indro.

Sekarang mereka semua di – reborn atau dilahirkan kembali dalam film terbaru tentunya ini merupakan satu hal yang sangat beresiko. Bagaimana jadinya “melahirkan kembali” satu karakter asli nyata yang dibawa ke film?. Bagi para penggemar film Alm.Benyamin Suaeb tentunya akan garuk – garuk kepala ketika Reza Rahadian menjadi Benyamin Suaeb dalam film Biang Kerok, film yang dulu pernah dibintangi Benyamin Suaeb.

Banyak hal yang tidak bisa tergantikan dalam konsep reborn ini karena pihak studio memilih merilis ulang film dengan tokoh nyata dalam film. Nilai keaslian satu tokoh dari mulai gaya bicara, ekspresi wajah, gaya humor semuanya tidak akan tergantikan walau mau di reborn berapa kali pun. Lain hal jika tokoh nyata yang dibawa ke film belum pernah tampil sebagai diri mereka sendiri atau dengan kata lain lebih baik membuat film otobiografi saja.

Kenapa tidak juga membuat satu film fresh, jika tetap ingin memanfaatkan kesuksesan masa lalu, dengan membuat judul misal “son of” atau “next generation”. Rasanya lebih enak seperti itu daripada konsep Reborn yang secara tidak langsung seperti ingin memupus kenangan terhadap tokoh – tokoh nyata dengan aktor film yang sekarang.

Saya harap ini bukanlah satu pertanda perfilman Indonesia menurun dan kembali ke masa – masa gelap. Mengejar keuntungan sah – sah saja tapi jangan mengacaukan kenangan.

 

 

Timeline Singkat Persib Liga 1 Tahun 2017

  1. Pemain Baru : Supardi, Wildansyah, Dedi Kusnandar, Matsunaga Shohei (Jepang), Michael Essien ( Ghana /Marquee player), Carlton Cole ( Inggris), Raphael Maitimo, Fulgensius Billy Keraf, Iman Arif Fadhillah

2. Mempromosikan pemain muda : Gian Zola, Ahmad Basith, Puja Abdillah, Agung Mulyadi, Angga Febriyanto.

3. Pelatih Jajang Nurjaman mundur dari kursi kepelatihan, pasca kalah dari Bhayangkara FC, 5 Juni 2017.

4. Pertengahan bulan Juni 2017, Sergio Van Dijk dinyatakan tidak bisa tampil membela Persib tahun ini karena cedera berkepanjangan

5. Manajer, Umuh Muchtar mengkambinghitamkan Carlton Cole karena performa Persib terpuruk.

6. Melepas Carlton Cole diakhir putaran pertama. Mengontrak dua pemain baru yaitu Ezechiel N’Douassel (Chad) dan Purwaka Yudhi.

7. Pada akhir putaran pertama, Persib berada di peringkat 14.

7. Emral Abus ditunjuk menjadi pelatih Persib pada awal bulan September 2017.

8. Bulan Oktober 2017, Persib meminjamkan Jajang Sukmara, Ahmad Basith, Puja Abdillah dan Agung Mulyadi ke PSGC Ciamis untuk Babak Playoff Liga 2.

9. Pada akhir Liga 1, Persib terpuruk di peringkat 13.

Screenshot_33

10. Pemain paling banyak tampil : Ahmad Jufriyanto (31 Pertandingan, kurang lebih 2784 menit bermain);

11. Pemain muda paling sering tampil : Fulgensius Billy Keraf ( 24 Pertandingan/ 2 kali starting eleven 22 kali bermain dari bangku cadangan). Henhen Herdiana (23 Pertandingan/ 23 kali starting eleven).

12. Pemain cadangan yang paling sering mencetak gol : Fulgensius Billy Keraf (5 gol).

13. Pemain dengan kedisiplinan terburuk : Vladimir Vujovic ( 9 Kartu Kuning, 1 Kartu Merah), Michael Essien ( 9 Kartu Kuning ).

14. Pemain asing dengan caps terbanyak : Michael Essien ( 22 kali starting eleven, 6 kali bermain dari bangku cadangan)

15. Topscore : Raphael Maitimo ( 9 gol )

Screenshot_32.jpg

16. Top assist : Raphael Maitimo ( 7 Assist )

raphael-maitimo-persib-bandung_nqngq9i0zb2u13q9jyrw7mrqu
Man Of the Season ( 9 goals, 7 assists, 1 hattrick)

17. Pemain tanpa menit bermain : Iman Arif Fadhillah (Penjaga gawang ketiga)

18. Cleansheet : 11 kali Cleansheet .I Made Wirawan ( 2 kali cleansheet dari 10 kali bermain), M.Natshir (9 kali cleansheet dari 24 kali bermain).

19. Rekor Kandang – Tandang Persib :

Screenshot_34

20. Kemenangan terbesar : melawan Persegres (6-0) pada 5 Agustus 2017.

21. Kekalahan terbesar : melawan Madura United (1-3) pada 9 Juli 2017.

22. Back to back kemenangan : Persegres Gresik United ( 0-1 & 6-0)

23. Back to back kekalahan : Perseru Serui (2-1 & 0-2).

24. Back to back imbang : Arema ( dua kali bertemu skor 0-0), Semen Padang ( 0-0 & 2-2).

25. Best Youngster : Fulgensius Billy Keraf

billy_selebrasi_2_kukar_jat

27. Best game (my opinion) : Persib vs PSM Makassar 2-1, 5 Juli 2017.

Ending Liga 1 : Anti Klimaks.

Bhayangkara FC akhirnya menjadi Juara (sementara) Liga 1 Indonesia. Kenapa sementara? Sebab PT. Liga Indonesia Baru (PT.LIB) selaku pengelola Liga 1 belum mengeluarkan pengesahan juara kepada Bhayangkara FC masih menunggu jika Mitra Kukar mau melakukan banding terhadap keputusan Komisi Disiplin PSSI yang memberikan kemenangan kemenangan WO (3-0) kepada Bhayangkara FC karena Mitra Kukar dinilai menggunakan pemain yang sedang dalam hukuman kartu merah yaitu Mohammed Sissoko.

Persaingan tiga besar klasemen Liga 1 musim perdana berlangsung ketat. Sebelum keputusan WO dari Komisi Disiplin untuk Mitra Kukar, pemuncak klasemen adalah Bali United yang bersusah payah mengalahkan PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta pada 6 November yang lalu. Kemenangan Bali United menghentikan ambisi juara PSM Makassar yang sebelum pertandingan memiliki poin yang sama dengan Bali United yaitu 62 poin. Sedangkan saat itu, Bhayangkara FC masih memiliki 63 poin.

Harapan untuk melihat ketegangan penentuan juara hingga pekan – 34 mulai hangus ketika Komisi Disiplin menjatuhkan sanksi kepada Mitra Kukar.  Semakin menjadi abu, ketika dalam pertandingan semalam (8/11) antara Madura United vs Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bangkalan Madura, 3 kartu merah diberikan kepada Madura United ditambah 3 gol Ilija Spasojevic maka pertandingan yang dijaga ketat dari luar stadion sampai ruang ganti pemain walau tanpa penonton, menjadi milik Bhayangkara FC. 68 poin untuk bhayangkara FC masih mungkin terkejar oleh Bali United apalagi di partai terakhir Irfan Bachdim dkk. akan menghadapi Persegres Gresik yang pekan lalu dihajar Sriwijaya FC 10-2.

Secara catatan gol, kemenangan dipartai ke – 34 akan menjadi milik Bali United karena mereka adalah tim paling produktif di Liga 1 dengan 73 gol plus striker mereka, Sylvano Comvalius, memecahkan rekor Peri Sandria dengan torehan 35 gol untuk sementara berbanding terbalik dengan Persegres yang menjadi tim dengan pertahanan buruk sudah kemasukan 101 gol.

Namun akhirnya yang “membunuh” harapan Bali United , selain WO Mitra Kukar dan 3 kartu merah untuk pemain Madura United, adalah rekor head to head dengan Bhayangkara FC. Dalam dua pertemuan, Bhayangkara selalu unggul atas mereka (menang 1-3 dan 2-3). Secara aturan jika ada dua tim dengan poin sama maka penentuan peringkat dilihat berdasarkan head to head pertemuan kedua tim, kemudian jika masih berimbang selisih gol yang akan jadi rujukan peringkat.

Mitra Kukar, Sang Penentu

Mau tidak mau, ending liga 1 yang antiklimaks ini menyisakan penyesalan dan banyak pertanyaan mengapa Mohammed Sissoko dimainkan Mitra Kukar ketika melawan Bhayangkara FC. Berikut Kronologis yang dihimpun dari beberapa sumber :

  1. Mohammed Sissoko mendapatkan kartu merah pada saat Mitra Kukar melawan PBFC tanggal 23 Oktober 2017.
  2. Regulasi Liga 1 pasal 57 mengenai sanksi pemain yang mendapatkan kartu merah adalah 1 kali tidak boleh bermain pada pertandingan berikutnya.Berdasarkan aturan tersebut, Mitra Kukar tidak memainkannya pada saat melawat ke Persib Bandung tanggal 27 Oktober 2017.
  3. Sehari kemudian, 28 Oktober 2017, Komisi Disiplin mengeluarkan keputusan bahwa Mohammed Sissoko disanksi 2 pertandingan dan denda Rp.100 juta.
  4. Anehnya, Mitra Kukar mengaku tidak tahu mengenai keputusan ini, karena dalam Nota Larangan Bertanding yang dirilis oleh PT.LIB sebelum laga melawan Bhayangkara FC, hanya Herwin Tri Saputra (Mitra Kukar) dan Indra Kahfi (Bhayangkara) yang dilarang bermain.
  5. Dimainkanlah, Mohammed Sissoko melawan Bhayangkara FC pada 3 November 2017, dengan skor akhir 1-1. Bhayangkara FC ditengarai mengetahui hukuman terhadap Sissoko dan kemudian selepas pertandingan mengajukan protes karena Mitra Kukar memainkan pemain yang sedang menjalani hukuman.
  6. 5 November 2017, Komisi Disiplin mengeluarkan keputusan memenangkan Bhayangkara dengan skor 3-0 karena Mitra Kukar memainkan Mohammed Sissoko.

Sejak keputusan Komisi Disiplin tersebut dirilis, Mitra Kukar diberikan waktu 7 hari untuk melakukan banding. Seyogyanya, banding dilakukan oleh Mitra Kukar karena mau tidak mau, dalam drama ini mereka menjadi lakon.

Apapun hasil banding mereka nantinya, setidaknya ada 1 hal yang dapat terungkap yaitu kurang profesionalnya PT.LIB. Karena Komisi Disiplin telah mengeluarkan keputusan tentang Mohammed Sissoko pada 28 Oktober dan pertandingan digelar 3 November, ada jarak 5 hari yang perlu dipertanyakan kepada PT.LIB kenapa tidak  mencantumkan Mohammed Sissoko di Nota Larangan Bertanding.

Mitra Kukar beralasan bahwa keputusan Komisi Disiplin masuk ke email yang dikelola CEO Mitra Kukar tetapi tidak terpantau dengan kemungkinan ia tengah dalam kesibukan. Apakah alasan tersebut email tidak terpantau juga digunakan PT.LIB ?

Kuda Hitam

Sambil menunggu keputusan dari Mitra Kukar apakah mengajukan banding atau tidak, memang kemunculan Bali United dan Bhayangkara FC kejar mengejar gelar juara diluar prediksi awal musim.

Dua klub yang muncul setelah mengakuisisi klub lain pada tahun 2015 ini ( Bali United mengakuisisi Persisam, Bhayangkara FC mengakuisisi Persikubar) berada diluar peta juara. Bali United yang lebih duluan diperhatikan karena mendatangkan beberapa pemain terkenal seperti Irfan Bachdim dan I Gede Sukadana.

Bhayangkara muncul belakangan ke peringkat atas dimotori eks pelatih timnas Filipina, Simon Mcenemy. Keberhasilan keduanya ke papan atas juga disebabkan ketidakstabilan yang dialami klub – klub langganan peringkat atas pada Liga 1 ini. Hal ini dapat terlihat dari pergantian pelatih klub – klub langganan papan atas tersebut.

PT.LIB Perlu Berbenah

Bukan hanya sekali ini PT.LIB melakukan kesalahan. Pada playoff Liga 2, PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi adu jotos karena ketidakjelasan PT.LIB. Aturan pemain U-23 yang direvisi, padahal ini sudah merupakan suatu hal yang sangat baik. Sempat tertundanya babak 8 Besar Liga 2.

Dengan kesalahan pada Nota Larangan Bertanding, maka terlihat ada kelemahan administrasi pada PT.LIB yang harus diperbaiki musim depan agar tidak ada antiklimaks lagi.

Oh ya, rasanya Komisi Disipilin pun perlu menyelidiki lebih lanjut kenapa pemain Madura United sampai lepas emosi!!

 

 

Sea Games 2017 : Indonesia Sulit Membuat Peluang Gol.

Bersusah payah, akhirnya timnas sepakbola putra Indonesia berhasil lolos ke semifinal Sea Games Kuala Lumpul 2017. Dua pemain mencetak dua gol perdana mereka bagi timnas yaitu Ezra Walian dan Febri Haryadi, mengantarkan Indonesia ke posisi runner up grup B pada saat yang bersamaan Vietnam, pesaing Indonesia, dikalahkan Thailand.

Menuju semifinal, Indonesia memiliki masalah dengan kesuburan mencetak gol. Hanya mencetak 7 gol dalam 4 pertandingan. Hanya sekali Indonesia gagal mencetak gol yaitu ketika bermain imbang tanpa skor dengan Vietnam. Hal yang cukup mengkhawatirkan walau hanya memboyong 2 penyerang murni, Marinus Wanewar dan Ezra Walian, tapi timnas diisi oleh gelandang – gelandang haus gol seperti Febri Haryadi, Yabes Roni, Osvaldo Haay, dan Saddil Ramdani.

Namun pemusatan latihan nasional (Pelatnas) yang digelar dalam beberapa tahap rupanya masih menyisakan banyak masalah terutama di lini depan. Dalam beberapa kali ujicoba antar negara, Indonesia kesulitan mencetak gol dan menyusun peluang didepan gawang lawan.

Kalau mau dirunut, kesulitan menyusun satu skema mematikan didepan gawang lawan, bermula dari lini tengah. Hanya ada seorang kreator disana yaitu, Evan Dimas Darmono. Ia diapit oleh dua gelandang, yaitu M.Hargianto dan David Septian Maulana. M.Hargianto lebih sebagai gelandang bertahan dan David Septian Maulana menjalani peran menyokong tiga pemain didepan yakni dua winger dan seorang striker.

Evan Dimas berperan sebagai seorang playmaker yang beroperasi di lini pertahanan sendiri. Areal bermainnya nampak dibatasi, hanya lewat sedikit saja dari garis tengah lapangan. Nampaknya selain sebagai penjemput bola dari pemain bertahan dan menyalurkan ke para pemain depan, Evan Dimas juga berperan sebagai pemutus serangan lawan.

Menurut penulis, disinilah masalahnya. Evan Dimas akan lebih optimal jika dimainkan sebagai attacking miedfielder seperti peran yang selama ini ia lakukan sejak di timnas U-19 kala dilatih Indra Sjafri. Ia bukan hanya seorang kreator serangan, peluang tapi juga fasih mencetak gol. Membatasi pergerakan Evan Dimas, sama juga mempersempit peluang menambang gol, karena komunikasi, koordinasi para pemain depan belum terlalu baik.

David Septian Maulana meskipun telah mencetak 2 gol dan berfungsi sebagai penyerang lubang, namun belum memiliki koordinasi yang baik dengan striker tunggal didepannya. Bahkan terkadang kehilangan bola. Ia belum bisa menjalankan sebagai seorang kreator di lini depan dengan optimal.

Skema permainan timnas yang mengandalkan serangan dari kedua sisi sayap membuat pemain – pemain yang terpilih kebanyakan adalah winger dan minim kreator serangan. Kreatifitas para winger pun masih harus terus dibangun, karena seringkali hanya berlari lurus menjelajah sisi lapangan dan berusaha mengalahkan pemain lawan dengan kecepatan dan trik memainkan bola. Umpan – umpan yang memanjakan penyerang pun jarang diberikan.

Hal ini patut disayangkan, karena timnas menerapkan high pressing kepada lawan, namun belum diikuti dengan proses menyusun peluang mencetak gol yang rapih baru sebatas sporadis.

Rasanya satu diantara para winger ini bisa dicoba untuk menggantikan peran David Septian Maulana, karena minimnya pilihan.

Melawan Malaysia yang telah mengintip permainan Indonesia pada saat melawan Kamboja kemarin (24/8), daya dobrak Indonesia dari lini tengah perlu diperkuat. Mungkin Osvaldo Haay dapat menjalani peran ini. Kreasi lain perlu dilakukan, karena jika hanya mengandalkan serangan dari sayap, niscaya Malaysia akan siap mengantisipasi hal ini. Apalagi dari 7 gol yang diciptakan para pemain timnas, hanya dua berasal dari umpan sisi sayap. Satu gol berasal dari kreasi dari tengah, dua gol lagi berasal dari pergerakan cut inside para pemain winger.

Masalah menciptakan peluang mencetak gol dan membuat gol harus segera diatasi dalam waktu sehari ini, Jumat (25/8) karena Sabtu (26/8), Indonesia akan menghadapi tuan rumah, Malaysia di semifinal. Pengalaman kalah 0-3 dalam kualifikasi Piala Asia U-23 2018, bisa dijadikan pembelajaran.

Tampil tanpa Hansamu Yama, M.Hargianto dan Marinus Wanewar besok, Indonesia harus mempressing lawan sejak dini untuk mencegah lawan leluasa masuk ke areal pertahanan. Penguasaan bola yang baik di tengah dan depan, bisa menjamin hal itu.