AFF 2016 : Preview Indonesia vs Vietnam

Pertandingan pertama semifinal Piala AFF 2016 (AFF Championship) antara Indonesia lawan Vietnam akan dipertandingan di Stadion Pakansari Cibinong Bogor pada 3 Desember 2016 jam 19.00 WIB.

Vietnam lolos dengan raihan poin sempurna. Tiga kemenangan atas Myanmar, Malaysia dan Kamboja menjadikan mereka pemuncak Grup B. 5 gol mereka cetak di babak grup sedangkan 2 gol bersarang mereka. Striker senior, Le Cong Vinh sejauh ini menjadi pencetak gol terbanyak dengan 2 gol.

Sedangkan Indonesia maju ke semifinal setelah menjalani partai hidup mati melawan Singapura. Menang dan disaat bersama Filipina dikalahkan Thailand membuat Boaz Solossa dkk lolos dramatis. Total poin 4 (1 menang, 1 imbang, dan 1 kalah) menyamai capaian Alfred Riedl ketika menangani Indonesia pada Piala AFF 2014. Hanya saja ketika itu Indonesia kalah bersaing dari Filipina dan calon lawan di semifinal hari Sabtu nanti, Vietnam.

Sejak Piala AFF edisi pertama pada tahun 1996 hingga tahun 2016 yang merupakan edisi ke-11, Indonesia dan Vietnam sudah  6 kali bertemu di ajang dua tahunan ini. Indonesia, melihat catatan, berada diatas angin karena Vietnam belum pernah sekalipun mengalahkan Indonesia. Sedangkan Indonesia membukukan 2 kemenangan selebihnya kedua negara berbagi hasil seri.

Memang Vietnam cukup bisa menepuk dada mereka karena pernah menjadi juara Piala AFF 2008 sedangkan Indonesia masih rekor menjadi runner up terbanyak dengan 4 kali menjadi runner up.

Vietnam beberapa tahun terakhir muncul sebagai salah satu kekuatan Asia Tenggara baik di level senior maupun usia. Tim Vietnam U-20 menjadi salah satu wakil Asia pada Piala Dunia U-20 Korea Selatan 2017 karena menjadi salah satu finalis pada Piala Asia U-19 di Bahrain bulan Oktober lalu. Sedangkan timnas senior tahun depan akan berjibaku pada babak 3 kualifikasi Piala Asia 2019.

Kekuatan dan Kelemahan Vietnam

Melihat permainan Vietnam yang diasuh Nguyen Huu Thang, yang pada bulan Juni lalu membawa Vietnam meraih Trophy Aya Bank, menerapkan permainan impresif dengan pressing tinggi. Prinsip permainan mereka adalah secepat mungkin mengambil bola dari kaki lawan meskipun masih berada dalam daerah pertahanan lawan.

Vietnam bukanlah tim yang akan berusaha memegang bola lama – lama. Cukup satu dua sentuhan bola akan dilepaskan menuju ruang kosong di pertahanan lawan. Keunggulan mereka dalam kecepatan berlari membuat skema ini selalu merepotkan bek – bek lawan.

 

viet3

Seperti dalam gambar diatas ketika satu pemain menguasai bola digaris tengah lapang, pemain yang berada didepannya akan segera mencari ruang – ruang yang kosong untuk mendapatkan bola. Nampaknya ini adalah pola yang terus dijadikan menu latihan Vietnam karena para pemainnya sudah fasih menjalankan pola ini.

Dalam pertandingan melawan Myanmar dan Malaysia, sisi kiri Vietnam selalu menjadi sisi yang lebih aktif. Pada saat bersamaan justru sisi kanan Indonesia menjadi sisi terlemah dalam bertahan.

Formasi 4-3-3 yang dipakai oleh Vietnam membuat full back mereka pun agresif. Sisi kiri yang sudah disinggung diatas dihuni para pemain dengan komunikasi yang bagus sehingga tekanan ke pertahanan lawan lewat sisi kanan bisa maksimal. Belum lagi, pemain yang berada ditengah sering membantu bergerak ke sisi tersebut.

Melakukan pressing intens kepada lawan membutuhkan stamina yang bagus. Ini juga dimiliki oleh Vietnam ketika pemain mereka selalu terlihat “nafsu” mengejar bola. Bahkan tak jarang tackle keras dilakukan dalam upaya merebut bola dari penguasaan lawan.

Keunggulan Vietnam lainnya adalah para pemain inti dan cadangan yang sudah “panas” karena Nguyen Huu Thang menerapkan rotasi dalam 3 pertandingan grup B. Sementara pergantian pemain Indonesia cenderung sama, jika saja Fachrudin dan Yanto Basna hukuman akumulasi kartu kuningnya tidak diputihkan maka dipastikan Indonesia akan menurunkan duet centre back yang belum pernah turun bertanding. Dalam ujicoba pun hanya Abdul Rahman dan Manahati Lestusen bergiliran main mengganti kuartet bek Indonesia saat ini. Itupun mereka berdua lebih sering ditempatkan sebagai full back.

Namun disisi lain pola permainan high pressure juga menjadi titik lemah mereka. Seringkali 2-3 pemain Vietnam mengurung 1 pemain lawan yang menguasai bola. Hal ini tidak saja terjadi diareal tengah lapangan tetapi juga ketika mereka mempertahankan areal kotak penalti mereka.

viet1.png

Banyak celah yang tercipta. Gambar diatas diambil dari pertandingan melawan Myanmar. Dua pemain Myanmar dibiarkan tidak terjaga sementara 1 pemain bertahan tersisa jaraknya berjauhan sehingga peluang mencetak gol dapat terjadi.

viet2.png

Situasi yang sama juga terjadi, ketika Myanmar memanfaatkan lebar lapangan. Satu pemain Myanmar dijaga dua pemain bertahan Vietnam sedangkan 3 pemain Myanmar dikotak penalti dibiarkan tidak terjaga. 3 Pemain bertahan Vietnam seperti ditunjukkan dalam gambar diatas lebih fokus melihat bola daripada mengawasi pemain Myanmar.

Vietnam rupanya menerapkan pertahanan terbaik adalah menyerang. Memang ini terlihat dengan hanya dua gol yang bersarang di jala gawang Tran Nguyen Manh. Berharap saja mereka lupa lanjutan dari kutipan pernyataan Sun Tzu tersebut bahwa “pertahanan terbaik adalah menyerang, bertahan adalah saat untuk merencanakan serangan”.

Selain itu masalah efektifitas mencetak gol pun tidak dimiliki Vietnam. Meski diperkuat striker senior Lee Cong Vinh, tetapi peluang mencetak gol sekalipun sudah dimulu gawang sering disia – siakan para pemain depan Vietnam. Hanya 5 gol dicetak Vietnam, sedangkan Indonesia yang tidak menjalani pertanding grup dengan mulus masih dapat mencetak 6 gol.

Masalah lainnya adalah kedisiplinan. Memang baru satu kartu kuning yang mereka terima, tetapi satu kartu merah sudah mereka dapat atas nama Truong Dinh Luat ketika menghadapi Kamboja. Selain itu pada saat melawan Malaysia para pemain tengah mereka pun seringkali melakukan tackling – tackling keras.

Inilah kelemahan – kelemahan yang dapat dimanfaatkan timnas Indonesia pada pertandingan nanti. Beruntung timnas Indonesia dihuni oleh para pemain dengan olah bola yang bagus seperti Rizky Ripora, Andik Vermansyah, Boaz Solossa. Mereka pun dapat menarik lawan dan membuat rekan mereka berada di ruang kosong yang memungkinkan untuk berlari dan menerima bola.

Kuncinya adalah tidak panik ketika diserang lawan. Rasanya pula Alfred Riedl harus melatih strategi counter attack dengan baik karena beberapa kali Vietnam kesulitan mengatasi lawan yang punya kecepatan menyusun serangan balik.

Kemenangan tanpa kebobolan apalagi dengan selisih gol yang tinggi sangat diharapkan karena hanya berjarak 4 hari setelah pertandingan di Stadion Pakansari, Indonesia yang akan dijamu di Stadion Mi Dinh Vietnam. Recovery dipotong waktu perjalanan ke Vietnam tentunya sangat singkat sedangkan  para pemain Vietnam seperti disebutkan diatas memiliki stamina lebih mumpuni daripada pemain Indonesia.

AFF Championship 2016 : Sejarah Belum Memihak

Tim Nasional Indonesia saat tengah menjalani pemusatan latihan di Tangerang dibawah arahan pelatih Alfred Riedl. 40 pemain sepakbola pilihan menjalani berbagai program latihan agar dapat menjadi bagian skuad Piala AFF 2016. Hanya 23 pemain yang akan diberangkatkan ke Filipina tergantung kepada hasil ujicoba melawan Myanmar (4/11) dan Vietnam (8/11). Meski Riedl mengatakan ada kemungkinan 24 pemain yang didaftarkan tetapi sejauh ini bayangan starting eleven sudah dapat diprediksi.

Irfan Bachdim, Boaz Solossa, Zulham Zamrun, Andik Vermansyah, Evan Dimas, Andrittany Ardhyasa, Manahati Lestusen sepertinya akan menjadi pilihan Riedl untuk mengisi formasi sebelas pemain.

Riedl berusaha memberikan kesegaran di timnas. Nama – nama senior seperti Firman Utina, Hamka Hamzah, M.Ridwan, Titus Bonai, Ian Kabes tidak lagi dipanggil. Justru timnas kali ini di dominasi para pemain usia 20 tahunan. Sejalan dengan keinginan Riedl yang ingin mengembangkan para pemain eks timnas U-19 didikan Indra Sjafri. Muchlis Hadi Ning Syaifulloh, I Putu Gede, Hansamu Yama, Muhammad Hargianto, Rudolof Yanto Basna, Bayu Pradana, dan Septian David Maulana merupakan tumpuan timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

crop_d18154da3fbf36995fb022563dc5ec55

Jika kita melihat calon lawan Indonesia di Grup A Piala AFF yaitu Thailand, Filipina, dan Singapura. Mayoritas skuad mereka diisi oleh para pemain dengan rentang usia 21 – 28 tahun. Hanya beberapa pemain saja yang berusia 30 tahun. Indonesia hanya memiliki sekitar 3 pemain berusia 30 tahunan. Secara usia Indonesia mampu bersaing.

Tetapi masalah terbesarnya adalah pembekuan PSSI selama setahun mengakibatkan timnas tidak menjalani pertandingan internasional. Sebelum dibekukan laga terakhir timnas senior Indonesia terjadi pada bulan Maret 2015 dengan hasil kalah dari Kamerun dan menang atas Myanmar. Sedangkan timnas U-23 yang diperkuat Evan Dimas Dkk terakhir kali berlaga di Sea Games 2015 dengan prestasi tempat keempat.

Sedangkan penantang Indonesia di Grup A semuanya berstatus aktif dan rata – rata pemain menjalani laga kompetitif internasional baik di timnas U-23 atau senior. Ambil contoh Tanaboon Kesarat dan Chanatip Songkrasin dari Thailand, Shahfiq Ghani dan Sahil Suhaimi dari Singapura, Atau Daniel Gadia dan Paolo Bugas dari Filipina, mereka adalah pemain – pemain timnas U-23 yang kini diandalkan di timnas senior negara masing – masing jelang AFF Cup 2016.

Dari mulai Sea Games 2015 hingga kualifikasi Piala Dunia 2018, rata – rata pemain yang dipersiapkan oleh setiap negara menjalani untaian kompetisi tersebut. Memang Indonesia tertolong dengan masih adanya beberapa turnamen level klub dalam negeri pada masa pembekuan maupun sehabis pembekuan. Namun tentunya persaingan antar negara akan menyajikan hal yang berbeda.

Pengalaman dapat menjadi kunci

Bagaimana bermain dibawah tekanan suporter asing, bagaimana menghadapi sebelas pemain terbaik dari negara lain, bagaimana mempersiapkan mental membawa nama negara berusaha yang terbaik untuk mempersembahkan kemenangan untuk negara, dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan alasan kenapa pengalaman dapat berperan penting.

Inilah yang kurang dari timnas Indonesia. Ditambah dengan perjalanan Indonesia di AFF Cup 2016 akan menentukan nasib Indonesia pada cabang sepakbola Sea Games 2017. Menpora memberikan syarat bahwa jika ingin sepakbola bertanding di Sea Games tahun depan, maka timnas Indonesia minimal harus menjadi peringkat dua ( runner up ) di AFF Cup 2016 yang akan dimulai pada 19 November 2016.

Dua partai ujicoba melawan Malaysia dan Vietnam pada awal bulan September dan Oktober dengan hasil menang dan imbang belum bisa dijadikan ukuran karena kedua pertandingan tersebut dijalani di dalam negeri. Plus timnas Malaysia saat ini berada dalam grafik menurun. Dukungan penonton tuan rumah sangat besar tapi ini akan berbalik ketika tampil di negara lain. Ini sesuatu yang harus bisa diatasi pula.

Masalah pengalaman yang berujung pada mental bertanding adalah masalah akut yang belum pernah dicarikan solusinya secara bagus oleh PSSI baik sebelum ataupun sesudah pembekuan. Seringkali performa timnas Indonesia bagus di dalam negeri namun ketika harus menjalani pertandingan dengan status tandang hasilnya memble.

Dua lawan timnas Indonesia nanti yaitu Singapura dan Thailand memiliki sejarah unggul di AFF Cup. Sejak tahun 1996, AFF Champioship edisi pertama (ketika itu masih dikenal dengan nama Tiger Cup), pertemuan Indonesia dengan Thailand sudah terjadi 8 kali. Thailand menang 6 kali sedangkan Indonesia hanya bisa menang 2 kali.

Sementara dengan Singapura, Indonesia sudah bertemu sebanyak 7 kali. Singapura menang 4 kali, imbang 2 kali. Indonesia hanya mampu menang sekali atas Singapura pada AFF Championship 2010 lewat gol tunggal Andik Vermansyah. Sementara dengan Filipina, Indonesia bertemu sebanyak 6 kali dengan hasil 5 kemenangan untuk Indonesia dan 1 kemenangan untuk Filipina. Tapi dengan catatan dari dua edisi terakhir AFF Championship, Filipina adalah semifinalis, sementara Indonesia naik turun.

Catatan memasukkan dan kemasukan gol Indonesia melawan tiga negara tersebut :

  1. Indonesia vs Thailand : 10 – 16 (memasukkan disebut pertama);
  2. Indonesia vs Singapura : 5 – 11;
  3. Indonesia vs Filipina : 18 – 4.

*gol dalam adu penalti tidak dihitung*

Pelatih Pengalaman, Semangat Fresh

Alfred Riedl akan menjalani AFF Championship yang ke -8 pada tahun 2016 ini. Prestasi terbaik yang diraih pelatih asal Austria ini adalah runner up tahun 1998 bersama Vietnam dan runner up tahun 2010 bersama Indonesia. Kegagalan bersama Vietnam, Laos dan Indonesia pernah dia alami sebelumnya.

Berkaca pada AFF Championship 2010, ia mengorbitkan nama Irfan Bachdim, Arif Suyono, Ahmad Bustomi dan Cristian Gonzales dalam starting eleven timnas Indonesia. Saat itu penampilan Indonesia disebut – sebut sebagai yang terbaik meski pada partai puncak antiklimaks.

Pada AFF Championship 2014 situasinya hampir mirip dengan sekarang. Dualisme organisasi dan kompetisi membuat bakat – bakat terbaik sepakbola tersendat untuk dapat memperkuat timnas sehingga timnas ketika datang ke Vietnam ketika itu bermasalah dengan kekompakan dan stamina. Hasilnya, meski ia mengorbitkan nama baru seperti Evan Dimas dan Rizky Pora, hancur lebur.

Kini ia lebih memilih untuk mengutamakan pemain – pemain muda. Tidak ada lagi dualisme kompetisi atau organisasi, walau sekali lagi timnas hanya melakukan maksimal empat pertandingan ujicoba sebelum turun di turnamen dua tahunan ini.

Melihat susunan pemain yang diturunkan dalam ujicoba melawan Myanmar (4/11) dan Vietnam (8/11) lini belakang Indonesia diisi 5 pemain yang tidak  bermain di Piala AFF 2014. Begitu pula dengan lini tengah Indonesia, 5 pemain anyar. Sedangkan untuk urusan pencetak gol hanya Lerby Eliandry pemain fresh.

Hasil dua ujicoba tersebut memang jauh dari kata memuaskan. Jika sejak ujicoba pertama melawan Malaysia dibuat grafik, maka performa timnas sedang berada di titik rendah. Myanmar (hampir) menang atas Indonesia, sedangkan Vietnam jelas – jelas mengalahkan Indonesia.

Memang mengkhawatirkan tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Riedl dikenal sebagai pelatih yang mampu membangkitkan motivasi anak asuhnya. Apalagi AFF Championship bukanlah sesuatu yang asing untuknya, meski ia mengakui sendiri timnas Indonesia adalah tim tersulit yang pernah ditangani.

Ia masih kesulitan menemukan kekompakan antar pemain. Belum lagi formasi 4-4-2 tidak berjalan dengan baik di lapangan. Masih ada waktu 10 hari lagi menuju partai pertama melawan Thailand. Riedl tentunya harus teliti memilih siapa saja pemain yang akan didaftarkan ke AFF.

Semangat muda para pemain yang pernah merasakan juara Piala AFF U-19 adalah salah satu modal Riedl mengatasi minimnya pengalaman ujicoba internasional. Para pemain baru ini diharapkan mampu mengulang penampilan hebat mereka pada tahun 2013. Semangat yang tinggi sering bisa menutupi kekurangan di atas lapangan.

Modal lainnya adalah pengalaman Boaz Solossa. Ia diharapkan mampu menularkan pengalaman bertanding di Piala AFF. Boaz adalah pemain berpengalaman di timnas Indonesia. Sempat melewatkan 4 edisi Piala AFF tapi penampilannya di kompetisi dalam negeri masih membuktikan ia adalah salah satu penyerang terbaik yang dimiliki Indonesia.

Evaluasi hasil ujicoba melawan Myanmar dan Vietnam akan dilaksanakan pada 11 – 15 November 2016 di Tangerang. 5 hari tersebut juga akan menentukan siapa saja yang akan dipilih Riedl untuk membawa nama Indonesia di AFF Championship 2016.

 

Russian Rosswell

Apakah balon udara atau pesawat makhluk asing (UFO) yang jatuh pada tahun 1947 di Roswell Amerika Serikat, masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Klaim fasilitas militer tersembunyi yang dikenal dengan Area 51 yang menyimpan puing -puing pesawat yang jatuh juga jasad pilotnya, membuat popularitas insiden UFO Rosswell mendunia. Namun kandasnya suatu benda yang diduga pesawat milik alien bukan hanya terjadi di Rosswell tetapi juga di belahan dunia lain.

%d1%80%d0%b0%d0%b9%d0%be%d0%bd_%d0%b3%d0%be%d1%80%d0%bd%d1%8f%d0%ba%d0%b0

Dalgenorsk Rusia, 29 Januari 1986. Kota kecil dengan populasi sekitar 37 ribu jiwa (sensus 2013) dengan industri pertambangan zync sebagai salah satu pekerjaan mayoritas warga, 30 tahun lalu dikejutkan dengan satu ledakan keras yang diawali dengan penampakan bola api membelah langit yang jatuh menghantam Height 611 (nama lain Gunung Izvestkovaya di Dalgenorsk).

Bola api merah melesat menabrak salah satu bukit di gunung tersebut tanpa suara. Diperkirakan kecepatannya mencapai 54 Km/jam dengan ketinggian 700 – 800 meter di atas tanah. Bola api ini menghantam gunung sekitar pukul 08.00 malam. Banyak saksi mata yang melihat peristiwa ini. Beberapa diantaranya memperlihatkan perbedaan sudut pandangan ketika menjelaskan detik – detik bola api tersebut hancur menabrak bukit.

Ada yang menyatakan hantaman disertai kilatan cahaya, ada pula yang mengatakan benda tersebut bergerak dahulu kesana kemari diatas salah satu bukit memancarkan beragam cahaya sebelum jatuh. Tabrakan benda misterius dengan bukit memicu kebakaran hutan yang berlangsung selama 1 jam. Dari beberapa kisah yang beredar tidak ditemukan adanya tindakan dari aparat berwenang setelah peristiwa misterius ini terjadi.

2 Februari 1986, sekelompok mengunjungi lokasi tersebut. Disana mereka menemukan batang kayu yang terbakar, lubang dengan luas sekitar 3×3 Meter (keterangan lain menyebutkan 2×2 meter), lelehan – lelehan berwarna perak pada beberapa objek di sekitar lokasi tersebut. Semuanya dikumpulkan dan dibawa ke museum lokal yang dikepalain oleh Valeri Viktorovich Dvuzhilni.

Setelah berada dimuseum, mereka memfokuskan penelitian pada lelehan – lelehan warna perak yang nampak seperti logam lunak. Beberapa zat digunakan dalam tes untuk mengetahui kandungan zat lelehan tersebut namun tidak ada reaksi apa – apa. Untuk mendapatkan jawaban Valeri Viktorovich Dvuzhilni kemudian mengontak V.Berlizov seorang pengalaman dalam bidang hal – hal yang bernuansa luar angkasa karena pernah tergabung dalam tim ekspedisi meteor Sikhot alin pada tahun 1947 untuk meneliti penemuan di Height 611. Hanya saja  V.Berlizov cukup lama dalam membalas ajakan sang kepala museum sehingga tiga hari kemudian Valeri Viktorovich Dvuzhilni memimpin sendiri tim ke lokasi untuk menggali lebih banyak bukti dan informasi.

Ketika berada di lokasi mereka menemukan bahwa benda tersebut menabrak dan memecah hamparan batu seluas 2 meter kubik, dan menguapkan salju seluas 10 meter persegi. Selain itu juga ditemukan batuan sedimen yang mengandung magnet. Bebatuan yang berada dibukit tersebut seperti batuan sedimen yang mengandung 85 % silica terbelah dan sehitam arang. Ditemukan pula satu benda seberat tiga puluh gram  yang tidak diketahui jenisnya. Benda tersebut mempunyai butiran – butiran hitam yang mengeras. Butiran tersebut memiliki diameter yang berbeda dari mulai 2 milimeter, terbesar sekitar 5 milimeter.

russias-roswell-burnt-soil

Sepulangnya dari lokasi mereka meneliti bukti yang dikumpulkan dengan bantuan  perusahaan pertambangan Bor and Dalnopolimetall. Salah satu yang diteliti adalah butiran hitam dengan diameter 2 milimeter. Hasil ujicoba mengungkap bahwa butiran tersebut memiliki kandungan campuran timbal yang tinggi dan memiliki tujuh belas unsur kimia dalam tabel mendeleev.

Sedangkan butiran terbesar  memiliki kandungan krom, nikel, dan alumunium juga sangat keras. Dibutuhkan gergaji khusus untuk membelah butiran besar tersebut. Setelah terbelah diketahui struktur dalam butiran seharusnya mengkristal agar bisa sekeras itu namun ternyata strukturnya sangat lembut bahkan tak berbentuk seperti sabun.

Beberapa temuan lainnya seperti benda menyerupai jaring kecil dengan 18 kandungan zat berbeda didalamnya dengan 17 jalinan kecil.  Menggunakan mikroskop elektron ditemukan permukaan jaring tersebut berlapis jalinan kuarsa setebal 17 mikron. Jalinan – jalinan tersebut saling mengikat satu sama lain dalam ukuran yang pas.

russias-roswell-ocmamku-tree

Batang pohon yang terbakar juga memiliki satu ujung yang mengkilap seperti dipernis. Kesimpulan dari semua temuan menurut Bor and Dalnopolimetall adalah tidak ada jenis produk olahan pabrik yang menghasilkan satu benda dengan begitu banyak kandungan zat didalamnya untuk tujuan apapun.

Tetapi laporan lain hasil penelitian IZMIRAN (Institute of Earth magnetism, ionosphere and radiowaves propagation) yang pernah terlibat dalam proyek rahasia penelitian UFO pada tahun 1978 sampai 1991 menyebutkan bahwa bola misterius tersebut berasal dari bumi sedangkan kuarsa yang terkandung dalam bukti – bukti yang dikumpulkan berasal dari Kholodnensky di wilayah Baikal Utara.

Memang dari kedua hasil penelitian dari kedua lembaga tersebut tidak dapat menyebutkan apa sebenarnya benda misterius berbentuk bola api merah yang menghantam Height 611. Apalagi selama pengumpulan bukti, foto yang digunakan adalah foto hitam putih sehingga sulit untuk meneliti dari hasil dokumentasi.

Namun selang setahun kemudian sekitar bulan November 1987, warga setempat kembali menyaksikan beberapa kali benda misterius serupa terbang diatas Dalgenorsk. Pada salah satu peristiwa, benda misterius tersebut berputar – putar  memancarkan cahaya diatas lokasi tabrakan. Dari beberapa kesaksian benda yang muncul beberapa bulan kemudian mirip dengan yang mengalami tabrakan pada tahun 1986.

Was it air ballon or alien’s ship? nobody knows.

 

sumber : wikipedia.org

alienjigsaw.com

 

 

 

 

 

 

 

FIFA Women’s World Cup 2016, All Asian Final, Buah Visi 100 Tahun.

Lari mereka kencang, bola tendangan mereka melaju keras, taktik mereka mengalir mulus di atas lapangan membuat negara seperti Inggris, Spanyol, Amerika Serikat bertekuk lutut. Mereka adalah Timnas sepakbola putri Jepang U-17. Babak grup hingga babak final pada 21 Oktober 2016 di Stadion Internasional Amman Yordania dilewati tanpa cela.

Jepang tampil di Piala Dunia Wanita U-17 tahun 2016 Yordania sebagai salah satu wakil Asia bersama tuan rumah Yordania (kalah dibabak grup) dan Korea Utara, lawan mereka di final nanti. Benua Asia tentunya berpesta karena berhasil mencetak sejarah All Asian Final di Piala Dunia Junior.

Tidak banyak yang bisa diketahui dari Korea Utara, yang juga tanpa kekalahan masuk ke final, karena informasi dari negara yang terus berseteru dengan Korea Selatan ini menutup dan “diisolir” dari pergaulan dunia. Namun jika kita melihat kiprah timnas sepakbola putra dan putri baik level junior maupun senior, pengasingan mereka dari mata dunia tidaklah berpengaruh besar. Sepakbola seperti menjadi salah satu jalan bagi mereka mengenal dunia bahkan beberapa pesepakbola putra juga berkiprah di klub luar negeri.

Sedangkan Jepang dikenal dengan visi 100 tahun dalam pembangunan sepakbola. Visi yang ditujukan mengangkat sepakbola jepang saat ini berjalan dan menuai hasil memuaskan. Contoh sederhana, Jepang kini merupakan negara eksportir pemain ke benua Eropa. Situasi tersebut bukan hanya berlaku pada sepakbola laki – laki tapi juga wanita.

Menyoal prestasi, timnas wanita memang lebih mentereng daripada timnas putra. Timnas putri Jepang pernah menjadi juara dunia pada tahun 2011. Prestasi yang mendongkrak jumlah penonton stadion Liga Sepakbola Wanita Jepang (Nadeshiko Div.1).

Dapat dikatakan bahwa kesuksesan menjadi juara dunia plus star factor, kapten timnas wanita Homare Sawa ketika itu mendapatkan kontrak besar dari sponsor, semakin memuluskan pencapaian visi 100 tahun. Terbukti sepakbola putri menjadi cabang baru dalam turnamen nasional antar sekolah.

Salah satu cara dalam usaha mewujudkan visi 100 tahun adalah dengan meleburkan sepakbola dengan komunitas masyarakat. Prakteknya yaitu klub dari setiap daerah harus bekerja sama dengan perusahaan lokal, sekolah sepakbola lokal. Selain mempromosikan dan memberikan tempat untuk bakat – bakat muda ini juga membuat ikatan klub dengan masyarakat sehingga jumlah penonton yang datang ke stadion akan banyak dan tentunya berimbas kepada stabilitas finansial klub.

Visi 100 tahun ini bukan hanya menyasar kepada pemain muda, tetapi juga menyiapkan klub profesional Jepang tahan banting jika krisis ekonomi mendera. Ya sepakbola Jepang hampir runtuh ketika krisis ekonomi tahun 1997. Visi ini merupakan hasil pengalaman mereka.

Pemain muda adalah target paling utama. JFA (Federasi Sepakbola Jepang) menebar sumber daya ke setiap sekolah sepakbola, kursus pelatih dan pemandu bakat. Jejaring diciptakan yang melibatkan sekolah – sekolah umum dalam pelatihan dan turnamen antar sekolah.

Tidak cukup dengan itu, anak – anak muda juga diberikan satu sosok idola yang dekat dengan kesenangan khas anak – anak. Film kartun Captain Tsubasa menjadi inspirasi anak – anak Jepang agar bermain sepakbola dan mereka memiliki hasrat seperti Tsubasa yang dikisahkan sukses di level dunia. Role Model memang diperlukan. Keberhasilan timnas wanita Jepang di tingkat dunia adalah model acuan anak – anak lainnya.

Deadline visi itu masih lama, namun buahnya sudah dapat dinikmati.

Meski dengan fakta bahwa timnas pria dan wanita Jepang adalah pelanggan Piala Dunia, tetap saja keberhasilan timnas wanita U-17 ini masih membuat terhenyak apalagi jika menonton gaya mereka bermain. Rasanya dari beberapa highlight pertandingan – pertandingan Piala Dunia U-17, hanya Jepang yang memang mantap dalam artian sangat enak untuk dinikmati.

Meski memang sadar dan tentunya tidak sebanding, rasanya kembali harus bertanya bagaimana visi pembangunan sepakbola Indonesia? Apakah 100 tahun atau dari tahun ke tahun ganti?.

Insiden UFO, Nha Trang 1966

Perang Vietnam yang juga dikenal dengan nama Perang Indochina 2 merupakan peperangan yang pecah di tahun 1960an walau perang yang juga merupakan perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan ini telah diawali sejak tahun 1955. Pada tahun 1960an, Amerika Serikat ikut terlibat sebagai pendukung Vietnam Selatan disisi lain Uni Sovyet adalah penyokong Vietnam Utara.

Bukan persaingan ideologi, Vietcong atau Rambo yang akan dituliskan disini. Namun seperti judul, pertempuran Vietnam juga menyimpan kisah – kisah yang masih belum dapat ditemukan jawabannya, salah satunya adalah UFO (Unidentified Flying Object).

Salah satu insiden terjadi di pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni 1966. Pangkalan yang terletak di Nha Trang sebuah wilayah yang kini memiliki banyak hotel, ketika itu menjadi basis pertahanan AS dengan 4.000 tentara. Pangkalan ini juga dilengkapi dengan landasan pesawat, gudang, juga dermaga.

Satu malam di bulan Juni ketika para tentara tengah beristirahat berkumpul menonton film, sekira pukul 21.45 malam, tiba – tiba langit di bagian utara menyala terang. Cahaya yang pada awalnya disangka sebagai flare langsung menarik perhatian para tentara dan seketika mereka tahu bahwa ini bukanlah flare karena punya pola pergerakan sendiri. Seorang saksi menyatakan dari bergerak lambat ke bergerak cepat.

Tinggi cahaya tersebut diperkirakan sekitar 25 ribu kaki atau 7.620 Meter tetiba menukik turun sehingga membuat kepanikan lalu berhenti diatas kepala tentara dengan jarak sekitar 150an meter. Cahaya itu diam menggantung di udara menerangi pangkalan militer AS Nha Trang yang berada di lembah.

Semua mesin dan kendaraan mati total. Ketika cahaya itu datang 8 bulldozer tengah membersihkan pepohonan untuk membuat jalan dekat pangkalan langsung mendadak mati.

Sekejap cahaya itu langsung bergerak menanjak terbang lurus ke atas dan menghilang dari pandangan. Kendaraan dan mesin tetap tidak bisa dinyalakan. Menurut saksi mata, hingga 4 menit lebih semua mesin mati total.

Kejadian ini dikabarkan menarik perhatian Pemerintah AS yang menurunkan tim untuk menyeliki kejadian ini. Hanya sampai saat ini belum diketahui apa dan siapa yang datang malam itu di Nha Trang.

sumber : 1 2

KRISIS PLAYMAKER

Dua kekalahan Indonesia dari Myanmar dan Thailand dalam ajang AFF Youth Cup Vietnam 2016 membuat skuad muda Garuda kini harap – harap cemas menghadapi pertandingan ketiga yang dijadwalkan esok hari, Jumat 16 September 2016. Imbang atau kalah sama saja dengan menutup pintu langkah Indonesia ke babak semifinal.

Permainan timnas U19 sebenarnya menjanjikan. Torehan 4 gol dalam 2 partai awal membuktikan bahwa Indonesia mempunyai daya saing di turnamen yang pernah dijuarai pada tahun 2013 lalu. Sayangnya faktor persiapan yang singkat karena PSSI baru diaktifkan kembali dan ujicoba seadanya membuat potensi meraih poin di 2 pertandingan awal lenyap.

Ada kelemahan yang sangat kentara dalam permainan Timnas U19 arahan pelatih Eduard Tjong. Ketiadaan pengarah dan pengatur bola (playmaker) di lini tengah serta mudahnya lini tengah diterobos lawan karena gelandang bertahan yang tidak berfungsi. 

Diluar faktor kematangan bertanding yang menjadi kelemahan lainnya akibat tidak adanya kompetisi resmi, berdurasi panjang juga berjenjang yang dimiliki PSSI untuk usia muda, kehilangan seorang playmaker  merupakan kelemahan krusial sehingga membuat permainan tergesa – gesa dan mudah dihentikan lawan.

Jika pada tahun 2013 ada Evan Dimas yang kini mulai digunakan di timnas senior, pada tim yang sekarang tidak ada. Bola dialirkan dengan cepat dari kedua sisi lapangan memanfaatkan kecepatan winger – winger Indonesia meski hasilnya sering tidak sesuai.

Saat ini bukan hanya di usia muda namun juga senior, seorang playmaker menjadi spesies langka. Evan Dimas satu – satunya nama yang paling sering disebut akhir – akhir ini. Memang Indonesia masih memiliki Firman Utina, Eka Ramdani atau Ramdani Lestaluhu tetapi jika dibandingkan dengan ‘kelahiran’ winger – winger maka perbandingan jumlahnya sangat jomplang.

Sebutlah Anis Nabar, Zulham Zamrun, Ilhamudin, Maldini Pali, Terens Owang, Bayu Gatra dan masih banyak lagi. Mereka adalah spesies pemain sayap dan penyerang yang memiliki ketajaman berbekal kecepatan dan olah bola. Habitat mereka adalah disisi lapangan dan kesenangan mereka memang menyayat pertahanan lawan dari sisi lapangan.

Winger ini terus terlahir disisi lain kelahiran dirijen lapangan tengah terhambat. Entah karena kurikulum pembangunan sepakbola Indonesia yang mengakibatkan hal ini tapi ah rasanya kurikulum pun belum dimiliki PSSI. Jadi apa yang menghambat proses kelahiran seorang playmaker yang semakin langka dibandingkan dengan era 90an nama – nama  playmaker seperti Fachri Husaini, Ansyari Lubis, Yusuf Bachtiar, dan Uston Nawawi  bermain  bersama dalam satu kompetisi.

Cobalah ketika playmaker Indonesia di halaman google, beberapa hasil pencarian mungkin berjudul “playmaker top yang bermain di Indonesia” tetapi setelah ditelusuri ternyata nama – nama pemain asing lebih banyak disana. Apakah ini jawaban absolut? Bisa saja. Meski jika dirunut banyak jawaban yang bisa diajukan. Hanya hasil pencarian google tadi mengingatkan saya pada satu klub yang saat ini berkompetisi di Indonesian Soccer Championship yang enggan menggunakan playmaker muda binaan sendiri dan lebih memilih menempatkan pemain asing di posisi itu bahkan karena hasilnya belum memuaskan, kerinduan pada playmaker asing lainnya yang sebelumnya pernah berada di klub itu lebih mengemuka daripada menuntut memberikan kesempatan kepada pemain muda.

Jika ada jawaban bahwa ini akibat pembekuan PSSI bisa saja tapi tokh kita harus ingat bahwa sebelum dibekukan pun kondisi pembinaan sepakbola Indonesia masih beginih – beginih aja.

Posted from WordPress for Android