Asian Games 2018 : Peluang Besar Timnas U-23

Timnas sepakbola U-23 yang berlaga di Asian Games 2018 akan menghadapi Uni Emirat Arab pada babak 16 besar, 24 Agustus 2018. Ini merupakan pertemuan pertama kali sepanjang sejarah sepakbola kedua negara.

Indonesia mencetak 11 gol dan hanya kebobolan 3 gol dalam 4 pertandingan Grup A dengan hasil 3 kemenangan dan 1 kekalahan. Dari jumlah gol tersebut, 9 gol dicetak di babak kedua. Menit 60 keatas merupakan masa paling subur bagi timnas karena berhasil mencetak 7 gol antara menit 60 – 90. Sedangkan dalam urusan kebobolan, Timnas asuhan Luis Milla rentan dibabak pertama, karena 2 gol bersarang di gawang Andrittany pada babak pertama.

Jika melihat skema terciptanya gol, ternyata mendobrak pertahanan lawan dari tengah lapangan merupakan skema yang paling ampuh karena telah menyumbangkan 5 gol. Sedangkan sisi kanan yang ditempati bergantian antara Irfan Jaya dan Saddil Ramdani, 4 kali terlibat dalam proses gol, sementara sisi kiri 2 kali.

Dari 11 gol, Stefano Lilipaly merupakan pemain dengan assist paling banyak yakni 4 kali assist. Bukan hanya assist tetapi juga urusan mencetak gol, pemain yang akrab dipanggil Fano ini telah mencetak 3 gol. Jumlah yang sama juga telah disarangkan oleh pemain naturalisasi lain, Alberto “beto” Goncalves.

Kekuatan Indonesia cukup merata baik starting eleven maupun para pemain cadangan. Untuk pemain tengah dan depan rata – rata memiliki “senjata” sama yakni kecepatan dan olah bola.

Menghadapi Uni Emirat Arab (UEA), keunggulan ini dapat dijadikan andalan. Dari 3 pertandingan skuad UEA U-23 yang diasuh pelatih Polandia, Maciej Skorza, kalah 2 kali dan menang 1 kali. Sisi kanan pertahanan UEA menjadi sisi lemah mereka. Cina menjaringkan gol ke gawang UEA dari sisi ini. Selain itu gol kemenangan Suriah ke gawang UEA juga diawali umpan yang dilepaskan dari sisi kanan.

Melihat 2 gol lainnya yang bersarang ke gawang UEA, didapatkan Cina dan Timor Leste dari sisi tengah. Timor Leste, meski kalah, berhasil mendobrak pertahanan UEA lewat kecepatan Rufino Gama dari sektor tengah.

UEA yang lolos ke babak 16 besar dengan menjadi salah satu dari 4 negara peringkat ketiga terbaik memang memiliki kekuatan. Indonesia perlu mewaspadai pemain dengan nomor punggung 24 yaitu Mohammed Khalvan yang memiliki kecepatan dan ketajaman.

Andalan terbaik mereka adalah sejarah. Dalam 2 edisi terakhir Asian Games, UEA mencapai perempatfinal pada Asian Games 2014, kemudian meraih medali perak pada Asian Games 2010. Pada turnamen 2010 merupakan pencapaian tertinggi UEA di Asian Games.

Apa yang dibutuhkan oleh Indonesia, diluar keberanian dan semangat tinggi, adalah kecepatan mencetak gol dan lebih bermain efektif. Ketika menghadapi Hongkong dipertandingan terakhir Grup A, Indonesia banyak melepas umpan lambung yang sia – sia.

Febri disisi kiri yang akan berhadapan langsung dengan sisi kanan UEA, perlu bermain lebih efektif. Walau beberapa pelatih negara pesaing, sepakat Febri merupakan salah satu pemain berbahaya, sering kali ia kehilangan timing untuk melepas umpan atau menembakkan bola ke gawang. Selain itu, kekompakan antara Rezaldi Hehanusa dengan Febri Haryadi harus lebih ditingkatkan.

Indonesia juga perlu banyak mencoba skema serangan lewat tengah mengandalkan kecepatan yang dimiliki Fano dan Beto, juga pergerakan cut inside kedua winger.

Kelemahan Indonesia adalah sering kesulitan mencetak gol. Hal ini menjadi masalah akut yang dimiliki oleh skuad timnas. Beberapa striker yang telah dicoba tetap belum sepenuhnya menjawab masalah ini.

Lini tengah yang dikawal M.Hargianto dan Zulfiandi perlu lebih disiplin dalam melakukan covering didepan para pemain bertahan. Kebijakan rotasi perlu hati – hati dilakukan oleh Luis Milla. Kekalahan atas Palestina salah satunya dikarenakan rotasi pemain.

Indonesia perlu percaya dan memiliki keuletan dalam pertandingan esok hari. Keunggulan kecepatan dan olah bola harus selalu ditunjukkan untuk terus menggoyahkan dan menjebol pertahanan lawan. Hal lainnya adalah persaingan di level usia tidaklah mencerminkan persaingan di level senior, sehingga Garuda Muda memiliki peluang besar untuk lolos ke perempatfinal Asian Games 2018.

Advertisements

World Cup 2018 : Ball posession isn’t everything

Arab Saudi, Peru dan Maroko menjadi kloter pertama negara – negara yang kandas di Piala Dunia 2018. Dalam 2 pertandingan ketiga negara tersebut mengalami kekalahan dan dipastikan tidak akan lolos ke babak 16 besar.

Gagal lolos bagi ketiga negara tersebut cukup menyakitkan karena berdasarkan statistik pada pertandingan kedua setiap negara yakni Arab Saudi vs Uruguay, Peru vs Prancis dan Maroko vs Portugal, mereka yang kalah menguasai jalannya pertandingan dengan penguasaan bola lebih dari 50 %.

Selain lawan yang mampu memaksimalkan satu peluang yang dimiliki untuk menciptakan gol ada beberapa faktor lagi yang mengakibatkan penguasaan bola banyak namun sia – sia, check this video analysis

subscribe my youtube channel ya

VAR dan Kegalauan Wasit

Video Assistant Referee ( VAR ), teknologi yang diharapkan meredam munculnya pertanyaan soal keputusan wasit dilapangan hijau kini untuk pertama kalinya digunakan dalam turnamen Piala Dunia. Pada Piala Dunia 2018 ini, penonton disuguhkan dengan pemandangan ruangan VAR sebelum setiap pertandingan dimulai.

VAR pertama kali terlihat perannya ketika pertandingan Grup C antara Prancis vs Australia. Gol penalti Antoine Griezmann ke gawang Australia diberikan wasit setelah melihat tayangan ulang video. Hanya sehari berselang, dalam pertandingan Grup D antara Islandia vs Argentina, terlihat beberapa handball didalam kotak penalti oleh pemain Islandia dan Argentina, namun wasit tidak memutuskan memberi hukuman pun tidak sekali meminta review video.

TOPSHOT-FBL-WC-2018-MATCH5-FRA-AUS

Jika mengacu pada keterangan penggunaan VAR dari situs http://www.theifab.com , satu prinsip yang pasti adalah VAR tidak mengganggu kewenangan wasit dan VAR hanya digunakan setelah wasit mengambil keputusan. Setiap keputusan di lapangan hanya wasit yang berhak mengeluarkannya. Penggunaan VAR sendiri adalah pada kejadian – kejadian berikut yang dianggap dapat mengubah jalannya pertandingan (Match changing):

a. Keputusan mengesahkan gol;

b. Keputusan memberikan penalti atau tidak;

c. Kartu merah langsung (bukan kartu merah akumulasi 2 kartu kuning);

d. Kepastian Identitas (agar wasit tidak salah menghukum pemain).

VAR sendiri bukan pengambil keputusan. Asisten wasit yang berada diruangan VAR hanya diperbolehkan merekomendasikan wasit meninjau tayangan ulang pada 4 kejadian tersebut. Kembali ke atas bahwa setiap keputusan ada ditangan wasit.

Perlu diingat dalam keputusan gol atau tidak gol, proses terjadinya gol (diluar terjadi pelanggaran) meskipun wasit salah mengambil keputusan tidak boleh diulangi dan VAR tidak dilibatkan. Contoh satu situasi corner kick/tendangan penjuru berujung pada gol padahal semestinya bukan tendangan penjuru tetapi lemparan ke dalam / Throw in. Wasit tidak diperkenankan mengubah keputusan itu.

Pasal 5 Laws of the game, memastikan hal tersebut. Bahwa seorang wasit tidak boleh mengubah keputusan sekalipun ia menyadari kemudian (setelah keputusan diambil dan permainan dilanjutkan) bahwa keputusannya salah. Oleh karena itu pasal 5 ini memberikan pengertian yakni dalam memutuskan satu gol sah atau tidak, wasit hanya akan melihat apakah terjadi offside atau pelanggaran lainnya. Hal ini juga berlaku pada 3 situasi penggunaan VAR lainnya seperti yang dijelaskan diatas.

VAR merupakan jawaban saat ini yang ditawarkan oleh FIFA (badan sepakbola dunia) karena banyaknya protes atas satu keputusan wasit. Kontroversi yang muncul pasca satu pertandingan coba diredam dengan penggunaan teknologi. Hal ini juga sudah dilakukan sebelumnya lewat Goal Line Technology (Teknologi Garis Gawang). 

Namun berbeda dengan teknologi garis gawang yang hanya memastikan apakah bola sudah lewat dari garis gawang atau tidak, penggunaan VAR lebih rumit dan tujuan untuk meredam kontroversi justru menimbulkan kontroversi baru. Salah satunya melalui prinsip bahwa ketepatan lebih diutamakan dibandingkan kecepatan. Sehingga tidak ada acuan pasti berapa lama seorang wasit boleh meninjau tayangan ulang VAR. Apakah 1 menit? 2 menit? 3 menit? tidak ada kepastian karena diharapkan seorang wasit teliti.

Ketiadaan acuan pasti soal waktu tersebut tentunya memiliki dampak negatif bagi para pemain. Kita sering melihat bahwa ketika satu alur permainan tiba – tiba dihentikan seringkali alur tersebut rusak.

VAR rasanya belum bisa menjadi jawaban absolut untuk meniadakan protes atas satu keputusan wasit. Selama kesalahan keputusan wasit masih dilindungi dalam Laws Of The Game , kemudian VAR hanyalah sebuah rekomendasi, dan keputusan mutlak ditangan wasit maka teknologi ini tidak akan meredam kontroversi.

Memang kewenangan wasit pun tidak bisa digugat lebih jauh, karena apa gunanya jika terlalu banyak “wasit”. Sejauh ini pun tidak ada sanksi pasti jika wasit memutuskan misal satu gol sah padahal menurut VAR tidak. Penggunaan VAR masih akan tetap direview karena saat ini masih dalam tahap pengembangan. Namun pastinya ini memberikan beban lebih berat kepada seorang wasit karena justru tekanan kepada seorang wasit pasca pertandingan bisa jauh lebih besar, jika setelah melihat VAR pun keputusannya dirasa merugikan satu pihak. Lalu FIFA pun berusaha “cuci tangan” dengan belum melakukan amandemen pada Laws Of The Game karena setelah wasit meniup peluit panjang 2×45 menit setiap hasil tidak akan diubah dan apapun ketidakpuasan yang timbul akibat keputusan wasit akan tetap menjadi beban wasit tersebut.

Satu hal yang perlu FIFA sadari adalah kontroversi selepas pertandingan akan selalu terjadi karena sepakbola bukan hanya 11 vs 11.

 

 

 

AFC Cup : Satu Patah, Satu Masih (bisa) Melaju

Bali United menjadi tim ketiga dari Indonesia yang gagal melaju ke babak 16 besar sepanjang keikutsertaan Indonesia pada kompetisi “level 2” setelah Liga Champions Asia.  Kehilangan topskor, Sylvano Comvalius juga playmaker Marcos Flores terasa menurunkan kekuatan Serdadu Tridatu, julukan Bali United musim ini. Persiwa Wamena pada tahun 2010, Persibo Bojonegoro pada tahun 2013 dan kini Bali United meskipun nasib tim asuhan Widodo C Putro ini lebih baik dibandingkan kedua klub tersebut karena memiliki poin 5 dan berada diposisi runner up Grup H.

Namun sejak musim lalu, Piala AFC menerapkan sistem yang berbeda. Dengan menerapkan sistem zona, maka tidak lagi pencampuran klub di fase grup (contoh Asia Tenggara dengan Asia Barat). Hingga menerapkan semifinal dan final Zona dan antar zona.

Sistem ini membuat 3 grup yang dihuni klub – klub Asia Tenggara hanya meloloskan para juara grup dan 1 runner up grup terbaik ke babak selanjutnya yaitu semifinal zona Asia Tenggara dan Final Zona Asia Tenggara.

Persija yang saat ini berada diperingkat pertama Grup H memiliki peluang besar lolos ke babak selanjutnya dengan catatan tidak kehilangan poin pada pertandingan terakhir melawan Tampines Rovers 24 April mendatang. Persija saat ini memiliki poin 10 dan unggul head to head dari pesaing terdekat mereka yaitu Song Lam Nghe An Vietnam (SLNA) ( 1-0 & 0-0) juga Johor Darul Ta’zim Malaysia (JDT) (0-3 & 4-0).

Skenario yang bisa terjadi agar Persija lolos adalah jika pada pertandingan terakhir menang lawan Tampines Rovers. Kedua, mereka bisa lolos jika pada pertandingan terakhir imbang dan dipertandingan lainnya SLNA dan JDT juga berbagi skor imbang namun dengan catatan keunggulan selisih gol tetap terjaga.

Tetapi jika Persija kalah, maka akan menggantungkan harapan kepada JDT untuk mengalahkan SLNA. Jika Persija sampai harus turun ke peringkat kedua andai kalah, maka dipastikan tidak akan lolos karena peringkat kedua terbaik saat ini adalah Home United Singapura yang memiliki poin sama 10 namun lebih produktif dengan 13 gol meskipun pada pertandingan terakhir Home United kalah. Bahkan Jika pada akhirnya Home United di Grup F menggeser Ceres Negros Filipina dari posisi pertama, maka jatah runner up terbaik akan menjadi milik Ceres Negros.

 

Screenshot_83

Screenshot_82

sumber : wikipedia

Sejak tahun 2010 ketika Indonesia mendapatkan dua jatah wakil di AFC Cup, sejarah mencatat setidaknya ada 1 klub yang lolos ke babak selanjutnya. Pada tahun 2010 ketika Persiwa Wamena kandas, Sriwijaya FC yang maju ke babak 16 besar. Tahun 2013, Semen Padang melaju ke babak 16 besar meski Persibo gagal.

Piala Presiden : No more Secret

Piala Presiden 2018 tuntas sudah pada akhir pekan lalu. Persija tampil sebagai juara setelah mengalahkan Bali United 3-0 lewat penampilan impresif striker baru mereka asal Kroasia, Marko Simic.

Kompetisi pramusim yang pada postingan sebelumnya saya tulis terlalu serius ini, setidaknya tidak menimbulkan seorang pemain cedera parah, hanya kelelahan fisik saja. Saking seriusnya, para pelatih cenderung menurunkan skuad terbaiknya dalam setiap pertandingan. Pramusim yang bertujuan untuk mencoba seluruh skuad, menyiapkan semua pemain menjelang Liga 1 2018, dari sudut pandang persiapan tim secara menyeluruh rasanya kurang mengenai target.

Kelemahan lain dari kompetisi pramusim ini, jika boleh dibilang kelemahan, adalah tidak ada lagi “rahasia” antar klub karena cenderung menurunkan skuad terbaik untuk meraih prestasi pada piala tahunan ini.

Sebagai contoh, Bali United. Klub yang musim lalu di Liga 1 2017 menjadi runner up, dalam Piala Presiden ini terlihat mengalami penurunan kualitas materi pemain. Nick Van der Velden salah satu pemain asing yang dipertahankan, dalam Piala Presiden ini difungsikan sebagai pemain serba bisa. Musim lalu ia sering ditempatkan di sisi kiri dalam formasi 4-2-3-1. Tapi sekarang ia ditempatkan sebagai gelandang bertahan sekaligus playmaker atau lebih sebagai deep lying playmaker. Tetapi juga ia ditugaskan untuk menutup lini belakang ketika dua centre back meninggalkan celah. Bahkan di pertandingan final, ketika Demerson diganti, Van der Velden menempati posisi centreback.

Lini depan yang ditinggalkan oleh topskor Liga 1 2017, Sylvano Comvalius, cukup kesulitan. Ilija Spasojevic, pemain naturalisasi, belum terlihat mampu menggantikan peran tersebut. Ilija memang memiliki kemampuan menahan bola tetapi ia terlalu sering jatuh (body balance kurang bagus). Jika musim lalu Van der Velden  diposisikan sebagai pelayan Comvalius dengan umpan – umpannya, musim ini Bali United dikarenakan perubahan posisi yang dilakukan tidak memiliki keunggulan tersebut.

Sriwijaya FC dengan materi pemain bintang mereka terlihat Overload. Namun Rahmad Darmawan, sebagai pelatih, memiliki pemain yang akan diandalkan untuk menempati satu posisi salah satunya Makan Konate. Meski masih memiliki gelandang kreatif lain seperti Esteban Vizcarra, namun Makan Konate adalah yang utama.

Dengan materi skuad utama dan cadangan yang mumpuni, belum terlihat ada chemistry yang bagus diantara mereka.

Piala Presiden 2018 menelanjangi kelemahan klub sejak awal sebelum liga dimulai. Sebetulnya ini merupakan kerugian, meski pada liga nanti pelatih mencoba mengotak – ngatik kembali taktik, namun dengan dasar gaya permainan di Piala Presiden ini tentunya kekuatan satu klub dapat terbaca dengan baik.

Bagusnya seperti pada tulisan yang lalu, agar gelaran Piala Presiden ini dijadikan kompetisi resmi saja yang mendampingi Liga 1. Memang pada tahun ini, Piala Indonesia akan ditandingkan kembali namun tidak ada salahnya jika tahun depan ada 2 kompetisi pendamping seperti halnya FA Cup dan EFL Cup di Inggris.

Kompetisi pramusim lebih baik diserahkan kembali kepada klub, biar klub membuat kompetisi mereka sendiri. Tahun ini saja kita melihat Suramadu Cup Madura United dan Asian Cup PSM Makassar yang mampu menghadirkan klub luar negeri. Karena jika diserahkan kembali kepada PSSI, maka nuansa serius itu akan selalu ada, dan klub akan sejak dini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan mereka.

Bagi Marko Simic yang tampil sebagai topskor Piala Presiden 2018, Liga 1 2018 akan menjadi sesuatu yang lebih berat karena setiap klub sekarang sudah sadar dengan kemampuannya.

 

AFC Cup atau Piala Presiden??

Tidak salah nampaknya ketika pada akhir bulan Januari yang lalu, pelatih PSM Makassar asal Belanda, Robert Rene Alberts, mengkritik penyelenggaraan Piala Presiden 2018 karena dianggapnya terlalu serius untuk turnamen pra musim yang ditujukan untuk mempersiapkan tim menjelang Liga 1 tahun 2018.

Hasil dua wakil Indonesia pada pertandingan perdana AFC Cup 2018 mengonfirmasi kritikan tersebut. Bali United kalah di Stadion I Wayan Dipta oleh Yangon United Myanmar dan Persija kalah oleh Johor Darul Ta’zim (JDT) Malaysia. Keduanya menderita kebobolan 3 gol.

Pada pertandingan melawan Yangon United, Bali United menyimpan kekuatan terbaik mereka, karena sehari kemudian setelah pertandingan AFC Cup mereka harus melawan Sriwijaya FC pada leg II semifinal Piala Presiden.

 

Hal yang sama dilakukan oleh Persija ketika tandang ke markas JDT. Tampil tanpa skuad terbaik karena seperti diungkapkan oleh pelatih Stefano Cugurra para pemain mereka kelelahan karena jadwal padat Piala Presiden 2018.

Jadwal marathon pada babak semifinal Piala Presiden 2018 dijalani oleh kedua tim. Bahkan untuk Bali United, sejak babak penyisihan mereka harus membagi tim dan memiliki 2 pelatih agar bisa tampil baik di Playoff Liga Champions Asia dan Piala Presiden.

Bali United tampil di semifinal Leg 1 melawan Sriwijaya pada tanggal 10 Februari, kemudian 13 Februari menghadapi Yangon United, dan 14 Februari menjalani Leg II semifinal Piala Presiden. Sedangkan Persija sebelumnya menghabiskan energi di dua leg semifinal Piala Presiden pada 10 dan 12 Februari 2018.

Kedua klub lebih memprioritaskan meraih prestasi turnamen pra musim Piala Presiden. Mungkin pertimbangan mendapatkan kas keuangan menjadi alasan karena juara akan mendapatkan 3,3 Milyar Rupiah. Ditambah dengan match fee yang didapatkan dengan nilai uang kalah, imbang, dan menang yang berbeda. Dengan faktor tersebut, sah saja memang jika memprioritaskan Piala Presiden. Tetapi jangan dilupakan, bahwa untuk tampil di AFC Cup adalah sebagai perwakilan Indonesia yang telah didapatkan susah payah dengan berprestasi bagus pada Liga 1 2017.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Robert Rene Alberts bahwa Piala Presiden yang seharusnya merupakan pertandingan ujicoba menjadi terlalu serius. Bahkan ia sendiri khawatir para pemainnya mengalami cedera sebelum kompetisi sebenarnya yaitu Liga 1 2018 dimulai. Jika seperti itu, maka manfaat Piala Presiden untuk membantu klub mempersiapkan diri menjelang Liga 1 akan mubazir.

Andai saja berdalih masih ada 5 pertandingan lagi di AFC Cup untuk Bali United dan Persija sehingga pertandingan perdana “dilepas” dengan tidak menampilkan kekuatan terbaik adalah pemikiran terbalik. Karena mereka membawa nama negara dalam ajang kompetisi antar klub Asia ini.

PSSI lebih baik mempertimbangkan ulang penyelenggaraan turnamen pra musim. Bagusnya sih, turnamen pra musim yang serius ini dimasukkan saja ke dalam agenda resmi kompetisi yang dilaksanakan ketika Liga 1 sudah bergulir dan statusnya sebagai turnamen pendamping liga 1. Turnamen pra musim sudahlah tidak perlu dikoordinir oleh PSSI, karena tahun ini pun klub membuat turnamen pra musim mereka sendiri bahkan lebih memiliki greget karena mengundang tim dari luar negeri seperti Suramadu Cup.

 

Reborn?

Reborn

Kata ini menjadi trend yang ada dalam judul film rilisan satu rumah produksi di Indonesia. Setelah Warkop DKI Reborn pada tahun 2016 kini dirilis Benyamin S Biang Kerok Reborn.

Ketika Warkop DKI Reborn dirilis sebenarnya saya sudah agak bingung dengan konsep film ini (meski cuma nonton trailer aja), tapi ketika saat ini Biang Kerok Reborn semakin bingung. Pertanyaan yang mendasar apa perlunya me- Reborn / melahirkan kembali satu tokoh dalam film?

Memang saat ini perfilman Hollywood sedang banyak melahirkan film – film lawas yang dibuat ulang (Remake). Tak jarang beberapa film diubah jalan ceritanya dari film yang terdahulu atau yang dikenal dengan konsep Reboot. Film yang di-remake seperti Magnificent Seven, Ocean’s Eleven. Sedangkan film reboot seperti spider-man Homecoming ketika pemeran maupun alur cerita dirubah dari film spider-man sebelumnya.

Alasan para pembuat film melakukan ini adalah untuk mencoba mengais keuntungan dengan memanfaatkan kenangan. Film yang di – remake dan di – reboot tentunya adalah film yang memiliki kesuksesan sebelumnya. Meskipun kreatifitas yang dimiliki “sempit” karena masyarakat tentunya sudah memiliki memori dari film yang pertama namun hal ini tidak menyurutkan studio untuk tetap merilis film remake dan reboot walau banyak kisah gagal seperti film Ben Hur.

Hal yang sama yaitu untuk memanfaatkan kenangan atau mencoba mendompleng kesuksesan masa lalu sepertinya juga menjadi salah satu alasan adanya konsep Reborn di Indonesia. Tetapi ada hal yang paling mendasar yang saya kira salah dalam konsep film ini.

Pada judul – judul film yang disebutkan diatas dengan konsep remake dan reboot semuanya adalah tokoh fiksi. Beda hal dengan Warkop DKI dan Alm.Benyamin Suaeb karena mereka tampil di film sebagai diri mereka sendiri. Warkop DKI sempat menggunakan nama lain dalam salah satu film mereka, tetapi kebanyakan, mereka tampil memakai nama mereka sendiri Dono, Kasino, Indro.

Sekarang mereka semua di – reborn atau dilahirkan kembali dalam film terbaru tentunya ini merupakan satu hal yang sangat beresiko. Bagaimana jadinya “melahirkan kembali” satu karakter asli nyata yang dibawa ke film?. Bagi para penggemar film Alm.Benyamin Suaeb tentunya akan garuk – garuk kepala ketika Reza Rahadian menjadi Benyamin Suaeb dalam film Biang Kerok, film yang dulu pernah dibintangi Benyamin Suaeb.

Banyak hal yang tidak bisa tergantikan dalam konsep reborn ini karena pihak studio memilih merilis ulang film dengan tokoh nyata dalam film. Nilai keaslian satu tokoh dari mulai gaya bicara, ekspresi wajah, gaya humor semuanya tidak akan tergantikan walau mau di reborn berapa kali pun. Lain hal jika tokoh nyata yang dibawa ke film belum pernah tampil sebagai diri mereka sendiri atau dengan kata lain lebih baik membuat film otobiografi saja.

Kenapa tidak juga membuat satu film fresh, jika tetap ingin memanfaatkan kesuksesan masa lalu, dengan membuat judul misal “son of” atau “next generation”. Rasanya lebih enak seperti itu daripada konsep Reborn yang secara tidak langsung seperti ingin memupus kenangan terhadap tokoh – tokoh nyata dengan aktor film yang sekarang.

Saya harap ini bukanlah satu pertanda perfilman Indonesia menurun dan kembali ke masa – masa gelap. Mengejar keuntungan sah – sah saja tapi jangan mengacaukan kenangan.