Mengenang Kalian yang Terkasih

gusar dalam hempasan debu jalanan

resah langkah menggugah kenangan

Bandung, desa Cilisung 9 agustus 2009 pukul 13.00 WIB

pagi tadi berangkat ke bandung, karena ada rapat keluarga nikahan adik. jalanan lengang, enak sekali untuk memacu mobil kencang. tiba pukul 10.00 dirumah pamanku, bertemu keluarga besar, setelah hampir beberapa bulan ta k bertemu, ramai celoteh sepupu yang masih kecil, menambah ceria pertemuan itu.

usai rapat, makan siang, aku melangkah keluar rumah, berdiri di pinggir jalan, menyalakan rokok. sambil kuhisap rokokku, lalu lalang motor dan mobil, daerah ini kini sudah ramai, tak seperti dulu masih sepi dan asri.

5 menit ku berdiri disitu, ada satu tanya muncul dihati…sudah berapa lama aku tak kesana? sudah lama jawabku pula. jaraknya hanya beberapa ratus meter dari sini, berjalan pun tak sampai 5 menit. ingin kesana, hasrat tiba – tiba muncul…ah tapi disana pun tak ada siapa – siapa. ada keraguan dan rasa malas untuk melangkah kesana. tapi rupanya rindu tak tertahan, melangkahlah kaki ini menuju kesana.

jalanan ini penuh debu, beberapa anak muda mengendarai motor melintasiku, motor – motor mereka khas anak muda, penuh arogansi dan kebanggaan masa muda, suara knalpot mereka menjerit keras, seakan kuda pacu mendengus kencang saat pecuti penunggang dihempaskan ke tubuh mereka, memaksa mereka berlari kencang.

lepas dari belokan, di kanan kiri kini tembok pabrik, berdiri angkuh. kebun disebelah kananku dipapas setengahnya, diganti tembok beton tinggi. rumah – rumah kontrakan, tinggal beberapa meter ke mulut jalan. belok ke kanan, tinggal sedikit lagi

masuk ke jalan itu. ini dulu tak seperti ini, warung ini dulu warnanya kuning kusam, rumah ini dulu tak ada, rumah ini dulu pagarnya pendek sekarang tinggi, tempat kost -an ini baru. pepohonan tak serimbun dahulu.tapi jalan ini masih tetap sama seperti dahulu, aspal dihiasi bolong – bolong,sambil terus kuberjalan ku mengingat masa lalu.

“PANGKALAN AIR” sebuah papan nama berwarna coklat, berdiri dengan kaki – kakinya ditancapkan diantara jalan, layaknya sebuah gerbang. dua buah torrent air warna biru ada didepan rumah disebelah kananku, rupanya orang ini sekarang bisnis air minum. aku ingat dulu penghuni rumah ini pernah sakit gara – gara makan rujak, kebun disebelah kiri rumahnya kini hampir tidak ada.

spanduk warna hitam yang entah apa tulisannya, melintang menutupi pagar, umbul – umbul iklan roko ikut juga dipasang disana. Aku sampai, Aku kembali.

tertegun ku dijalan menatap rumah kosong dihadapanku. tulisan dari karton warna putih tertera dipintu rumah “DIJUAL”. plafon teras, robek disana sini, seng penghalang air hujan hampir terlepas dari pinggiran atap.

masih ku tertegun, hendak ku kembali lagi kerumah mang, tapi sesuatu menarikku agar aku tak segera pulang. ragu ku melangkah masuk kehalaman rumah. tapi sesuatu itu makin memaksaku untuk masuk ke pekarangan. Ada jalan masuk yang tidak dipagar didepan bangunan baru dipekarangan rumah itu, bangunan yang asalnya warung mang lukman. ku melangkah masuk, tapi hanya sampai situ, aku tak sampai masuk jauh kedalam pekarangan rumah.

dalam ku pandangi rumah ini, disamping kiri rumah ada kebun yang luas, tempat kami bermain dulu saat lebaran tiba, atau saat kami berkumpul dirumah ini. rumah ini luas ada 4 kamar didalamnya, ruang makan yang luas, 2 kamar mandi yang kalau malam tiba aku agak takut kesana, karena salah satu bagian plafonnya sengaja dibiarkan terbuka, agar mudah untuk membetulkan atap yang bocor. aku selalu takut untuk melihat atap yang terbuka, karena gelap baik siang maupun malam. dibelakang ada pekarangan kecil, ada kandang ayam dan tiang jemuran disana.

rumah ini kesepian, sendirian. rumah yang menjadi saksi celoteh riang cucu – cucu bermain disana, kehangatan keluarga bercengkrama saat lebaran tiba, cerita – cerita masa muda orang tua kami, kisah kakek dan nenek kami merajut hari – hari.

rumah ini tak terawat karena tak ada lagi yang tinggal disana selepas kake dan nenek kami berpulang menghadap-Nya.

rumah ini bahkan nyaris tenggelam. rumput – rumput liar tumbuh menutupi pekarangan dan kebun, bahkan hampir menenggelamkan ubin teras depan. dulu pernah pekarangan ini ditutupi rumput gajah, berpagar bambu. tapi tak lama, kakek menutup pekarangan dengan semen agar mudah untuk kendaraan anak – anaknya saat mereka berkumpul disini.

Rumah ini memanggilku kembali, setelah sekian lama tak berkunjung, terakhir saat masih kuliah di bandung aku beberapa kali berkunjung menemui mang dan bibi yang masih tinggal dirumah ini, walau tak lama tak sampai menginap.

setelah kakek dan nenek meninggal semuanya tak sama, tak ada lagi kisah perjuangan kakek, yang dengan bangga mengatakan dibetisnya masih tertanam peluru kena tembak belanda saat perang, tak ada lagi kehangatan nenek memeluk kami, tak ada lagi toples – toples penuh berisi kue lezat buatan nenek, tak ada lagi belai lembut mereka, tak ada lagi keresahan mereka menunggu anak dan cucu datang saat takbir mulai berkumandang, tak ada lagi kesedihan mereka selepas lebaran melepas anak dan cucu kembali ke perantauan masing – masing, tak ada lagi risau mereka menanti kabar anak cucu mereka, tak ada lagi doa tulus mereka bagi kami semua.

nenek meninggal saat aku kelas 4 SD, setelah berjuang lama untuk sembuh. tetapi struk terlebih dahulu menyerangnya. Hanya tertidur tanpa daya, itu yang kuingat menjelang kepergiannya.

dini hari kami menerima telepon, nenek meninggal, antara jam 2 – 3 dinihari. yang kuingat kakaku menangis pada subuh kelam itu. aku hanya terdiam, menguatkan diri, yang kuingat aku terus menerus berkata dalam hati ‘setiap manusia pasti meninggal’. aku hanya terdiam. air mataku telah membasahi pipiku jauh – jauh hari, saat kami berkunjung ke bandung, menjenguk nenek.

dia kurus, tulang – tulang pipinya terlihat jelas, tapi sinar matanya masih hangat memeluk kami. nenek sudah tak mampu bergerak, sesekali lirih suaranya memanggil kami. waktu itu ibu memanggilku, ibu bilang ” nenekmu ingin dipijat, ayo sana!!”.

naik ku tempat tidur nenek yang besar itu, disamping kanannya ku memijat perlahan tangan dan kakinya, tak terasa air mataku leleh, aku menangis sejadi – jadinya, saat kutatap wajahnya, yang seakan letih menghadapi sakit. aku terus memijatnya, sambil menangis.

kake meninggal saat aku SMP, kake menderita kanker saat itu. kuingat keresahan kami, saat kami berkumpul pada lebaran tahun itu, ibu selalu menyuruh melihat kake yang tertidur, dikursi rotan diruang tamu. rupanya itulah ramadhan terakhir kake, berselang 2 minggu kemudian, saat magrib tiba, kake berpulang menghadap -Nya. bisik “la ilaha illallah ” mengiringi hembusan napas terakhirnya. Kucium keningnya saat itu, matanya terpejam. aku menangis, dalam hati kutemukan kehampaan yang sangat.

mereka telah pergi. semenjak mereka tiada semuanya yang ada dirumah itu terasa muram, pepohonan yang dulu hijau, kemarin kulihat mulai menguning gersang. pohon kelapa didepan rumah, kini tak lagi berbuah, oleh – oleh kake dan nenek saat kami pulang berlebaran.

muram dinding rumah itu, yang telah penuh dengan corat – coret kenangan kami. pada semua bagian rumah ini, tersimpan begitu banyak kisah – kisah kami. ayunan yang ada dikebun, kini hanya teronggok dibatang pohon, tak ada lagi tawa riang kami saat bermain disitu.

tak lama kulangkahkan kaki pulang ke rumah mang toto, gontai langkahku, gusar hatiku, mengenang kalian. sudah berapa lama aku tak menyebut kalian dalam doa ku, maafkan aku.

resah kurasa saat debu – debu jalanan hempas tubuhku, saat ku kenang kalian, saat khawatirku pada rumput – rumput yang menutupi rumah itu, saat getirku pada pepohonan yang meranggas, saat gundahku bila kenangan kalian terhapus.

kutulis ini untuk mengenang kalian, mengenang kehangatan cinta dan kasih sayang kalian, mengenang kalian yang dengan ceria kami panggil “kake dan nenek” saat hangat tangan kalian memeluk kami.

inilah kenang – kenangan untuk kalian yang terkasih.

sukabumi, 10 agustus 2009, pada siang yang penuh akan kenangan kake dan nenek.

* mang = paman dalam bahasa sunda

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s