Suap Hancurkan Prestasi Sepakbola Indonesia

ditengah prestasi kesebelasan Indonesia, yang terpuruk tak kunjung berprestasi, membuat saya menerawang ke masa lalu, masa dimana Indonesia dijuluki “Macan Asia”. walaupun saya tidak tahu bagaimana sepak terjang kesebelasan nasional kita pada saat itu, tapi cukuplah julukan itu membuat saya bangga akan prestasi kesebelasan merah putih.

minggu kemarin, saya membaca sebuah artikel di harian Republika terbitan minggu 31 Januari 2010 yang ditulis Alwi Shahab dalam kolom Nostalgia.

dalam tulisannya, Alwi Shahab mengemukakan bahwa pada tahun 1950-an sampai dengan 1970-an, Indonesia sangatlah diperhitungkan dikancah sepakbola internasional. demikian pula prestasi kita dicabang olahraga lainnya, yang saat ini senasib dengan Cabang Sepakbola, TERPURUK

pada tahun – tahun itu, bagusnya prestasi olahraga secara umum, juga dicanangkan oleh Bung Karno, yang berpendapat bahwa kejayaan Indonesia di bidang olahraga akan menjulangkan nama Indonesia di dunia internasional. bahkan Bung Karno menyatakan bahwa olahraga harus menunjang revolusi Indonesia yang menjadi mercu suar dunia. Maka tak heran, Indonesia bisa sangat diperhitungkan pada saat itu di kancah olahraga.

Kembali ke sepakbola, dalam tulisannya kemudian Alwi Shahab, menjelaskan prestasi Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956, dengan menahan imbang Uni Soviet 0 – 0, yang pada saat itu merupakan salah satu kekuatan sepakbola dunia.

Pada tahun 1958, Kesebelasan Indonesia yang diperkuat Saelan, Ramang, Djamiat, Liong Houw, dan Kiat Sek, berhasil memukul Cina 2 – 0 pada pertandingan prakualifikasi Piala Dunia 1958 di Jakarta. Pada pertandingan ke – 2 di Beijing Indonesia kalah tipis 3-4 dari Cina. Kemudian untuk menentukan siapa yang berhak lolos ke babak selanjutnya, pertandingan ke – 3 diadakan di tempat netral, hasilnya adalah 0 – 0, dan Indonesia dinyatakan lolos ke babak selanjutnya.

Lawan Indonesia di babak selanjutnya adalah Israel. dengan alasan politik, Indonesia menolak bermain melawan Israel, dan mengusulkan kepada FIFA agar pertandingan diadakan ditempat netral tanpa menyanyikan lagu kebangsaan.

Usulan ini ditolak FIFA, dan gagallah Indonesia melaju ke Piala Dunia 1958.

Lima tahun sebelumnya, pada 1953 dalam PSSI Far Eastern Tour di Manila, Indonesia menang 8 – 0 atas Football League. Hongkong kala itu memiliki klub – klub terkuat di Asia, pada pertandingan selanjutnya Indonesia mengalahkan Hongkong 4 – 2 dan mengalahkan Hong Kong All Chinese 5 – 0.

Lebih lanjut, Alwi Shahab menerangkan bahwa prestasi Thailand dan Vietnam yang saat ini mengangkangi Indonesia, pada tahun 1950 – an masih dalam taraf pembinaan. Sedangkan Arab Saudi dan Jepang pada saat itu belum dikenal kekuatan sepakbolanya. Negara – negara Afrika pun yang saat ini menjadi salah satu importir pemain – pemain berbakat ke berbagai liga dunia, pada tahun itu masih berkutat dengan penjajahan. Bisa dibayangkan saat itu kita memang benar – benar diperhitungkan bukan hanya di Asia, tapi juga dunia.

Kemunduran prestasi sepakbola Indonesia, dimulai ketika suap – menyuap mulai masuk ke dalam sepakbola. Adalah seorang bandar judi yang bernama, Lo Biek Tek, yang menyuap pemain kita. Mulai dari saat itulah prestasi terkikis karena pemain kita bisa disuap, bahkan pertandingan pun bisa diatur.

Bisa kita bayangkan masifnya efek suap menyuap yang masih saudara kandung korupsi ini. Tidak aneh bila hal ini menyebabkan terpuruknya prestasi sepakbola kita, ditambah hal lain, seperti pembinaan sepakbola kita yang juga tak tentu arah. Bila saat tahun 50-an sampai 70-an kita sudah kuat, maka sebetulnya pondasi sepakbola kita sudah siap untuk berbicara banyak diarena internasional di kemudian hari, namun kini kita lihat justru Arab Saudi dan Jepang lah yang menjadi langganan Piala Dunia dari benua Asia, mereka berlari meninggalkan kita.

Semuanya dimulai dari suap – menyuap, yang berimbas pada penurunan kualitas dan hancurnya pondasi persepakbolaan kita.

Kasus suap yang memunculkan istilah makelar pertandingan, kembali mencuat belakangan ini, setelah kesaksian Abu Bakar Assegaf manajer Persekabbpas, yang mengaku pernah menyuap wasit untuk mengatur pertandingan.

PSSI sebagai induk sepakbola Indonesia langsung membuat Tim Antisipasi Makelar Pertandingan yang beranggotakan, Brigjen (purn) Ashar Suryoboroto, Kolonel Bernhard Limbong, Kolonel Dody Wijanarko, dan Kombes Bagus.

Kita tunggu gebrakan tim ini dalam memberantas makelar pertandingan yang menghancurkan sepakbola Indonesia. Kita berharap bahwa tim ini benar – benar tak pandang bulu, dan tegas dalam menindak setiap makelar pertandingan.

Kita pun berharap Ketua Umum PSSI, benar – benar bisa bertindak tegas, dan konsisten dalam menerapkan hukuman pada setiap pihak yang terlibat dalam makelar pertandingan ini. Karena bukan rahasia, bahwa setiap hukuman yang diberikan oleh Komisi Disiplin pada setiap pelanggaran yang dilakukan pemain, klub, suporter, ataupun pihak – pihak persepakbolaan lainnya, ujung – ujungnya bisa dinegosiasikan dengan Ketua Umum dan lenyaplah hukuman.

Konsisten PSSI…HABISI MAKELAR PERTANDINGAN!!!!

Sumber :
1. Republika, 31 Januari 2010
2. Koran Bola, 2 Februari 2010

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Suap Hancurkan Prestasi Sepakbola Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s