Kongres Sepakbola Nasional, Berhasilkah?

Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang digagas oleh Presiden SBY, resmi dibuka kemarin ( 30/03 ) di Malang Jawa Timur. Berbagai pihak yang terlibat dalam persepakbolaan dalam negeri diundang untuk menyuarakan pendapatnya pada kongres ini. Termasuk elemen suporter dan Hendri Mulyadi, Suporter Indonesia yang turun ke lapangan saat Indonesia tanding lawan Oman.

Acara KSN yang dilaksanakan oleh PWI yang diketuai Margiono, diisi dengan berbagai sidang. Para peserta kongres sendiri dibagi ke dalam tiga komisi. Komisi A membahas Organisasi, Komisi B membahas bidang pembinaan, dan Komisi C membahas bidang umum.

Pada hari pertama KSN yang dibuka langsung oleh Presiden, mencuat isu pemakaian pemain asing yang menyebabkan gagalnya bibit – bibit lokal mendapatkan kesempatan unjuk kemampuan dan mengembangkan diri.

KSN yang dilatarbelakangi salah satunya oleh rasa miris terhadap kerusuhan dalam pertandingan sepakbola. Nyatanya juga diwarnai kericuhan. Kericuhan terjadi saat sidang Komisi A yang membahas bidang organisasi, ternyata dalam persidangan malah membahas anggaran. Peserta pun melemparkan protes, termasuk diantaranya Manajer Persebaya, Saleh Mukadar, yang berpedoman pada panduan KSN. Masalah anggaran sendiri dibahas pada Komisi C. Alhasil Saleh beserta tiga orang lainnya, termasuk Abu Bakar Assyegaf, Manajer Persekabpas, melakukan Walk Out.

Ricuh juga terjadi saat rekomendasi KSN akan ditetapkan. Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI, memprotes poin ke – 8 rekomendasi tentang pembentukan Dewan Sepakbola Nasional yang bersifat independen. Saling protes antara Nurdin Halid dan Agum Gumelar sebagai ketua KSN. Agum pun akhirnya mengalah dan poin delapan rekomendasi pun dihapus.

Inilah 7 butir rekomendasi yang telah diserahkan kepada Menegpora, Andi Malarangeng pada acara penutupan KSN sore tadi ( 31/03).

1. PSSI perlu segera melakukan reformasi dan restrukturisasi atas dasar usul, saran dan kritik serta harapan masyarakat, dan mengambil langkah-langkah kongkret sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai prestasi yang diharapkan masyarakat.

2. Perlu adanya pembangunan dan peningkatan infrastruktur olahraga khususnya sepakbola.

3. PSSI perlu meningkatkan komunikasi, koordinasi dan sinkronisasi dengan seluruh stake holder terutama KONI dan pemerintah.

4. Dilakukan pembinaan sejak usia dini melalui penangan secara khusus melalui pendekatan IPTEK, dengan melibatkan tim yang terdiri dari dokter, psikolog, pemandu bakat, dan pakar olahraga, dan perlu segera disusun kurikulum standar nasional untuk penyelenggaraan Sekolah Sepakbola, PPLP dan PPLM sepakbola

5. Metode pembinaan atlet pelajar/muda agar juga memperhatikan pendidikan formalnya.

6. Pemerintah menyediakan anggaran dari APBN dan APBD untuk mendukung dan menunjang target dan pencapaian sasaran untuk menuju prestasi (karena dana APBD masih diperlukan untuk stimulan).

7. Perlu segera disusun dan dilaksanakan program pembinaan prestasi yang fokus kepada pembentukan tim nasional untuk menjadi juara dalam SEA Games 2011.

Adapun butir kedelapan yang tidak jadi ditetapkan sebagai bagian rekomendasi berbunyi: “Pemerintah dan masyarakat perlu mengawal hasil rekomendasi yang konkret, dalam hal ini diminta kepada Presiden RI untuk membentuk Dewan Sepakbola Nasional yang bersifat Independen.”

7 butir rekomendasi ini masih tidak memuaskan. Para kelompok suporter ( saya sendiri pula ) masih kurang puas dengan rekomendasi ini. Masalah yang utama Nurdin Halid sebagai Ketua PSSI haruslah turun, karena diperiode kepemimpinannya, Indonesia tak mencatat prestasi manis apapun. Bahkan cenderung asal – asalan.

Salah satu alasan saya adalah tidak adanya ketegasan dari Nurdin Halid. Hal ini bisa dilihat dari berbagai hukuman Komdis pada klub, pemain, suporter yang menodai sepakbola, bisa dihapuskan setelah berkonsultasi dengan Nurdin Halid.

Entah dengan program – program PSSI. Nampaknya sih masih tidak jelas juga. Saya lihat dari tidak adanya peningkatan kualitas timnas. Salah satunya melalui pertandingan ujicoba. Timnas kita sangatlah minim beruji coba dengan negara lain. Hal ini berefek pada minimnya pengalaman berkompetisi internasional.

Walau harus diakui, tidak semudah itu mengganti Nurdin, karena FIFA bisa saja menganggap KSN sebagai campur tangan pemerintah, karena yang menggagas Presiden. Sedangkan FIFA mensyaratkan bahwa organisasi sepakbola nasional mestilah independen. Tetapi Nurdin Halid tetap harus dipaksa lengser. Semestinya KSN ini meminta pertanggungjawaban kinerja Nurdin selama dia memimpin untuk dijadikan penilaian masih layakkah Nurdin memimpin PSSI. Pada akhirnya hasil penilaian itu disampaikan kepada Nurdin dan tuntutlah kesadarannya agar mundur.

Kembali kepada rekomendasi. Sekilas 7 butir rekomendasi ini tampak biasa saja. Tidak ada yang aneh. Namun PSSI sebagai pihak yang menerima rekomendasi ini, mesti mempertimbangkan rekomendasi ini dan menata ulang programnya.

Kita harap KSN ini sebagai langkah awal kebangkitan sepakbola Indonesia. Jangan sampai KSN yang menghabiskan dana yang mahal ini menjadi sia – sia dan menjadi pengalihan isu dari hingar bingarnya bank Century.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s