Pulang

Rumput – rumput telah dipangkas. Tak lagi menutupi lantai teras. Kendati masih menutupi halaman yang telah diplester. Menyembunyikan hancur halaman disana – sini. Plafon rumah masih sobek didepan dan dipinggir. Disana sini pepohonan tandus. Tapi rindu tak surut untuk kembali pulang.

Minggu 4 April 2010 Jam 08.15 memacu motor ke Bandung untuk menghadiri pernikahan teman kuliah. Motor melaju santai, menikmati perjalanan. Tiba di Kota Bandung, tepatnya di Pasteur jam 11.10, langsung meluncur ke Kampung Cilisung. Tiba disana pukul 11.30 siang. Sengaja kesana, karena memang tempat resepsi tak jauh dari situ, dan juga sehari sebelumnya saya membaca status saudara saya di FB yang menyebutkan besok (minggu) akan membenahi rumah kake. Kerinduan ingin menginjak kembali rumah kake, kerinduan ingin kembali kesana, mengais sisa – sisa kenangan.

Beberapa orang memasukkan potongan – potongan kayu kedalam karung, seorang ibu membakar beberapa kayu dihalaman rumah kake. Pandangan pertama saat tiba disana, tak sempat aku mampir langsung saja menuju rumah mang yang tak jauh dari situ.

“dua minggu yang lalu, uwa pernah membersihkan rumah, sekarang memang sering dibersihkan” kata mang saat aku bertanya tentang rumah kake. Rumah itu memang kotor, lapuk, tak terurus, ketika terakhir Agustus 2009 aku kesana. Syukurlah, dalam hati ku merasa tenteram, karena kini rumah itu kembali dirawat, walau mungkin tak seperti saat kake dan enek, tapi cukuplah sebelum “prasasti” itu hilang.

Atap ruang makan dekat pintu ke halaman belakang jebol, begitu pula atap dapur. Air hujan yang dengan mudah menerobos masuk, menjadikan ubin tergerus dan penuh dengan lumpur.

Barang – barang berserakan. Kaleng – kaleng bekas tergeletak dilantai. Botol kaca hiasan dilemari ruang tengah waktu dulu teronggok ditengah noda lumpur kering diatas lantai. Foto – foto dalam beberapa album kecil juga terserak dilantai. Foto – foto pamanku saat masih muda. Khas dengan gaya rambut gondrong, agak kribo, sekilas mirip Ahmad Albar, Nampaknya dia tengah mengikuti sebuah pelatihan kerja di foto itu.

Foto – foto berlembar – lembar. Menunjukkan pergantian zaman. Hitam putih menjadi penuh warna. Bibiku yang masih muda, tengah berkebaya dan sepertinya sedang bernyanyi, mungkin disebuah acara. Foto – foto saksi bisu kisah perjalanan para orangtua kami. Foto yang menyimpan kegagahan mereka saat muda bergelora. Foto – foto saksi perjuangan mereka sampai menjadi seperti sekarang. Kini hanya terbengkalai dilantai penuh lumpur kering.

“Ini..siapa nih?” Mang Nia yang memang dari pagi disitu, bersama seorang tukang membenahi rumah, menyodorkan sebuah foto hitam putih. Klasik sekali. Tiga orang ada dalam foto itu.

Mang Nia bukan?” aku berkata setelah kucoba menebak ketiga orang itu.

“Bukan, itu mama dan bapa mu” Mang menjawab. Aku tersenyum, Ibu dan Bapak masih sangat muda difoto itu. Bapak masih lengkap dengan gaya cambangnya. Cantik dan tampan. Ternyata setelah pulang kerumah dan kutanyakan, itu adalah ketika piknik ke Gunung Singa. Sedangkan orang yang ketiga, yang memakai topi dan jongkok disebelah keranjang buah – buahan, adalah penjual buah itu.

Aku pun mengambil beberapa foto lewat kamera Hpku. Ya sebagai kenang – kenangan. Setiap sudut kuambil fotonya. Kamar mandi yang kini dikeringkan, dan atap plafonnya masih terbuka juga kujepret lewat kamera seadanya.

Aku pun melangkah keluar. Kebun samping rumah, plafon yang sobek, Ubin yang kini mungkin sudah tak ada ditoko material ikut kuambil gambarnya. Tak ketinggalan pohon kelapa yang kini sudah tak berbuah. Tak ada lagi yang mengurus. Sayang kamar – kamar saat itu dikunci. Padahal sangat ingin aku melihat kedalam. Melihat kembali isi kamar. Mengenang kembali semua yang pernah terjadi.

Kusempatkan diri mengobrol dengan Mang sebelum pergi ke resepsi nikahan teman. Hati ini masih terasa rindu dengan rumah ini. Rasa masih terkait erat, karena dirumah inilah kenangan – kenangan kami tanam dalam – dalam. Dirumah inilah kehangatan kake dan enek kami rasakan, dirumah inilah ceria kami habiskan. Rumah inilah yang selalu memanggil hatiku dalam kerinduan.

Mungkin tak lama lagi atau entah kapan rumah ini akan berpindah tangan. Selama itu pula aku akan selalu rindu untuk pulang, biar hanya sekedar menatap.

Rindu kalian yang terkasih.

*Mang = paman
* enek = nenek

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s