Kisah Juna dan Markonah

Tersebutlah sebuah kampung asri, hijau, damai dan tenteram. Kampung tersebut bernama Tarsi. Masyarakatnya hidup nyaman dan berkecukupan, dengan berbagai macam latar belakang pekerjaan. Kampung ini masihlah memegang teguh norma – norma budaya dengan baik. Belum banyak tergerus modernisasi. Walau sedikit – sedikit pergeseran terjadi. Para orang tua tetap menjaga teguh norma – norma.

Dari beberapa bulan yang lalu, kampung ini digegerkan oleh berita Markonah, kembang desa yang jadi rebutan para lelaki dari tua sampai muda. Berita ini bukanlah berita biasa, bukan berita siapa yang sedang pedekate sama Markonah. Kalau itu sudah lumrah, bahkan orang – orang yang sering ngopi di warung Ijem sampe bikin taruhan berhasil atau engga kalau ada yang deketin Markonah.

Markonah hamil!!!…Itu yang bikin geger desa Tarsi. Bahkan Pa’ Misro sebagai ketua desa sampe dibikin pusing gara – gara berita ini. Soalnya banyak orang yang menanyakan kenapa Markonah bisa hamil. Pa’ Misro menjawab tidak tahu karena memang dia tidak tahu. Yang bikin pusing adalah bahwa Markonah belum kawin.

“jadi siapa ya kira – kira yang bikin Markonah hamil?”

Itulah pertanyaan yang ada disetiap pikiran orang – orang. Pagi siang malam inilah hot gosip yang benar – benar panas. Banyak orang mencibir kelakuan Markonah, bahkan anak – anaknya pun dilarang main dekat rumah Markonah. Takut ketularan kelakuannya.

Tak tahan mendengar omongan warga kampung, orangtua Markonah pun akhirnya melarang anaknya keluar rumah. Tidak boleh keluyuran. Kalau mau keluar rumah cukup sampai diteras saja jangan keluar sejengkal pun dari pagar rumah.

Dengan perut yang makin membuncit. Markonah sering duduk diteras rumahnya, dari pagi sampe siang. Bahkan siang sampe sore. Maklum kini dia dikekang, hiburannya hanya duduk dikursi teras. Pun begitu ia tak kehilangan senyumannya. Tiap orang yang lewat didepan rumahnya selalu disapa ramah. Sapa berbalas sapa, meski isu tak mereda. Malah makin ramai.

“ko dia masih bisa senyum – senyum ya, ga malu apa?” itulah tanggapan orang ketika mereka lewat depan rumah Markonah.

Perbincangan dipos ronda, diwarung ijem, dijalan, dilapang sepakbola semakin kencang. Kini warga mencurigai dua lelaki yang dekat dengan Markonah sebagai sang bapak.

Tersebutlah Supri seorang pemuda pengangguran anak bandar lele dikampung Tarsi. Memang dia dikenal dekat dengan Markonah beberapa bulan terakhir. Bahkan rela antar jemput Markonah tiap pergi ke pasar. Sering pula menyambangi Markonah dalam kekangan saban pagi.

Ada juga Juna, lelaki berpenampilan polos ini adalah pimpinan orkes andalan kampung Tarsi tiap ada pesta. Markonah yang gandrung musik, juga sangat dekat dengan Juna. Tiap Juna mentas pasti Markonah ada. Kalau si Juna sering datang ke Markonah yang duduk diteras saban sore.

Tak ayal gosip dua kandidat ini memusingkan kedua orang tua lelaki itu. Bahkan mereka kini menutup diri dari pergaulan. Jadi sensitif tak seramah sebelum gosip ini beredar. Tak lagi mereka terlihat berbincang – bincang dengan warga. Mereka malu walau ini baru sebatas gosip yang belum tentu kebenarannya. Mereka pun melarang anak – anaknya bertemu Markonah lagi.

Kepala Pa’ Misro tambah gundul karena hal ini. Banyak warga yang menginginkan Markonah diusir dari kampung. Soalnya bisa bawa efek negatif buat pergaulan. Tapi ternyata ada juga yang membela Markonah karena merasa iba dan melihat Markonah tetap tegar dan keliatan santai – santai saja walau bapak si anak masih tanda tanya.

Dan hari yang dinanti – nanti segenap warga itu pun datang. Kelahiran bayi Markonah. Orang – orang mengerubungi rumah Markonah ingin melihat rupa si bayi. Ingin mencocokkan dengan kedua kandidat tadi. Pas mereka melihat bayi itu dari balik kaca ruang tamu digendong Mak’ paraji. Mulailah perdebatan terjadi. Hidungnya mirip si ini. Matanya mirip si itu. Telinganya mirip si itu. Saling berdebat dan riuh semua ingin tebakannya benar.

Tiba – tiba seorang lelaki dengan santai masuk kedalam keriuhan tersebut, dan dengan lantang :

“Saya Bapaknya!!!!”

Semua diam. Hening.

“saya mengaku khilaf, saya siap bertanggung jawab atas anak saya”

Keheningan lambat laun ramai kembali.

“Lelaki sialan, bikin malu”

“sekarang saja baru ngaku, kemarin kemana aja?”

“amit – amit jangan sampe anak gw kelakuannya kaya kamu..Juna!!!!”

“dosa lo dosa!!!!”

“Keluar lo dari kampung ini, kelakuan bejat…tobat Juna!!!”

Sumpah serapah mulai bertebaran. Juna tenang saja. Dengan tenang dia melangkah masuk ke ruang tamu melihat anaknya, meninggalkan orang – orang yang masih ramai diluar.

Keramaian sirna perlahan. Orang – orang mulai meninggalkan rumah Markonah. Sumpah serapah masih saja terdengar kencang. Oh…ternyata ada juga yang membela Juna. Menganggap dia pahlawan, walaupun kesiangan dan tak pantas kelakuannya, berani mengaku didepan umum. Tapi suara mereka tenggelam dalam sumpah serapah.

Sedang Juna dan Markonah tak lagi mendengar itu, mereka asyik bercanda dengan bayi mungil yang masih merah.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s