Pengiriman Pemain Ke Luar Negeri, Berhasilkah?

PSSI sebagai induk pusat persepakbolaan Indonesia, memang punya cara unik untuk mengembangkan persepakbolaan dalam negeri yaitu dengan cara pengiriman remaja – remaja ke negara yang dianggap mempunyai persepakbolaan yang maju untuk belajar sepakbola. Italia pernah jadi tempat tujuan. Kita kenal dengan proyek PSSI Primavera dan Baretti. Yang sekarang sedang berjalan adalah SAD di Uruguay, dimana bakat – bakat sepakbola yang masih berusia belasan tahun dikirim kesana, untuk ditempa dan dilatih juga mengikuti kompetisi sepakbola disana.

Proyek pelopor adalah PSSI Garuda I dan II. Kemudian dilanjutkan dengan PSSI Primavera dan Barretti. Pastinya sudah familiar dengan nama ini. Proyek pada tahun 1993/1994 ( tolong dikoreksi bila salah ) mengirimkan pemain muda Indonesia untuk berlatih dan ikut dalam kompetisi Primavera Italia, kompetisi U-20 .

Proyek ini tidak bisa dilepaskan dari satu sosok, yaitu Nirwan Bakrie. Salah satu petinggi PSSI pada saat itu disebut menyukai gaya permainan Italia. Latar belakang proyek ini adalah pembentukan tim nasional yang tangguh.

Maka remaja – remaja inipun dikirim ke Genoa selama 2 tahun. Diantara nama – nama yang dikenal adalah Yeyen Tumena, Kurniawan DY, Kurnia Sandi, Bima Sakti, Indriyanto Nugroho. Ternyata tidak semua pemain bisa tahan belajar disana, beberapa memilih pulang, salah satunya adalah Sugiantoro.

Beberapa diantaranya berhasil. Sempat pula membela klub asing seperti Kurniawan DY. Namun banyak pula yang gagal. Target utama untuk membentuk timnas yang tangguh pun gagal dicapai, karena selama periode itu Indonesia tetap kering gelar.

Keberhasilan PSSI Primavera yaitu membentuk pemain – pemain yang baik secara individual dan mampu memberikan warna segar di persepakbolaan dalam negeri. Tetapi ketika berbicara timnas masih jauh dari harapan semula.

Pertanyaannya apakah proyek PSSI menyekolahkan remaja – remaja kita efektif untuk meningkatkan mutu timnas Indonesia?

Melihat Pra Piala Asia U -19 2009, dimana Indonesia diwakili tim SAD yang berlatih di Uruguay, hasilnya bisa dibilang buruk dan lumayan. Gagal maju ke Piala Asia dan digunduli Jepang 8 – 0 memang membuat kita bertanya – tanya, apa yang didapat remaja – remaja ini selama “bersekolah”. Tetapi disisa pertandingan Indonesia mampu memberikan perlawanan, pada akhirnya hasil 2 kali menang, 1 imbang dan 2 kali kalah yang didapat.

PSSI Primavera dan Baretti tak bisa mengangkat Indonesia. Garuda I pada tahun 1985 bisa dibilang yang terbaik dari segi prestasi dengan berjaya di Piala Raja Thailand.

Sejauh ini yang saya lihat, pemusatan – pemusatan latihan pemain ke luar negeri hanya berhasil dalam memoles bakat – bakat pemain secara individual dan sukses di tingkat klub saja.

Ada satu kritik dari Hermansyah, mantan penjaga gawang tim nasional, bahwa pemusatan pemain diluar negeri tidak mengubah gaya bermain, tetapi yang berubah hanya gaya hidup saja. Hal ini bisa dijadikan pembenaran atas kasus pemain yang pernah menggunakan narkoba akibat gaya hidup diluar negeri.

Dari sisi yang lain, pembentukan tim nasional tak mungkin hanya melihat pemain – pemain yang dikirim ke luar negeri saja. Pemain – pemain yang menunjukkan kelasnya di kompetisi dalam negeri pun layak mendapatkan kesempatan. Bisa jadi disinilah akan ada “masalah”. Para pemain yang telah bersama – sama diluar negeri dalam jangka waktu yang lama pasti akan padu, tetapi ketika ada “pemain luar” masalah komunikasi bisa menghambat, dan menjadikan permainan dilapangan tidak padu.

Pemusatan – pemusatan diluar negeri pun hanya berkompetisi dilevel klub saja. Level klub dan level tim nasional adalah berbeda dari segi permainan. Mental bertanding selama membela klub yang sudah terasah, bisa jadi belum apa – apa ketika harus menghadapi pertandingan dengan negara lain. Lihat saja para pemain kita sangatlah hebat di Liga Indonesia. Tetapi ketika menghadapi Singapura saja di Piala AFF, kita tak bisa berbuat banyak.

Oleh karena itu menurut saya, PSSI harus mengkaji ulang format proyek ini dan juga “pelajaran” pada tim yang dikirim ke luar negeri. Imbangilah mental bertanding di tingkat klub dan tingkat tim nasional.

Bagaimana menurut anda?

Indonesia Jaya………!!!!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s