No Credit No Challenge

Hidup ini memang penuh tantangan. Kalo tiada tantangan, hidup jadi sepi. Setiap hari setiap matahari terbit, tantangan berganti. Masih ada yang sibuk dengan tantangan hari lalu, ada juga yang menghadapi tantangan baru. Tantangan demi tantangan datang deras terus berganti.

Orang bilang tantangan membuat seseorang menjadi lebih baik. Lebih dewasa, lebih kuat mental menghadapi tantangan lainnya. Ada orang yang menjadi lebih baik ketika tantangan datang pada dirinya. Tetapi ada pula yang terpuruk. Semuanya tergantung dari jawaban setiap pribadi terhadap tantangan.

Sedang kopi dalam gelas masih penuh, rokok pun belum habis sebatang kuisap. Larut aku dalam renungan,ketika kuingat seseorang berkata “no credit no challenge”. Dalam maknanya dan kalimat itu menyiratkan beban yang berat. Kucoba merenunginya dan ku alih bahasa kalimat itu menjadi “Kalo ga ngutang ga ada tantangan”.

Meringis aku melihat struk gaji rekan – rekan, setengah tak percaya, tatapanku masih ngeri melihat angka yang tertera, setelah kuhitung antara total gaji dan cicilan – cicilan yang harus dibayar. Ya, menjadi bendahara membawa pengalaman baru, yaitu jadi manajer pembagian gaji dan sekaligus “tukang jagal gaji” untuk membayar cicilan – cicilan rekan – rekan kepada koperasi – koperasi hehehe.

Ya kadang – kadang sering tak percaya melihat angka di struk gaji. Apalagi mengingat hampir mereka semua sudah berkeluarga.

Aku ingat suatu hari, aku bertanya pada seseorang yang akan mengajukan pinjaman ke koperasi dan butuh tandatangan bendahara. Aku menanyakan keyakinannya untuk meminjam, bukan apa – apa, soalnya aku tahu sisa gajinya, hanya puluhan ribu. Dan kebetulan pinjamannya yang lama sudah lunas ke satu tempat ( pinjamnya ke beberapa tempat) jadi sisanya agak lumayan dibanding bulan kemarin. Tapi dengan mantap dia berkata “YAKIN!!!!!!!” dan untuk mempertegasnya dia bilang “Kalo ga minjem teh, sepi, ga ada tantangan” sambil tertawa.

Atas keyakinannya, kusetujui ajuannya.

Ya kalo dipikir – pikir, mereka juga meminjam untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anak sekolah, beli rumah, rehab rumah, beli kendaraan dan lain – lain. Semua meminjam dengan alasan tertentu. Tapi dibalik itu semua ternyata sekali meminjam, rupanya susah untuk tidak meminjam kembali. Sungguh sangat complicated.

Meminjam disatu sisi adalah kemudahan. Di satu sisi adalah lilitan.

Tetapi inilah hidup. Sebuah tantangan yang tak terelakkan mesti dijawab.

Jaman pun mendukung. Jaman sekarang adalah jaman kredit. Apa saja dikreditkan. Motor, TV, Lemari dan alat – alat rumah tangga dikreditkan. Inilah kemudahan. Aku pun pernah dan sedang berkredit ria. Dulu motor, sekarang helm. Bayangkan bahkan helm pun dikreditkan. Inilah jaman kredit. Jaman ngutang.

Kembali ke soal tantangan. Orang yang berkredit memiliki tantangan tersendiri untuk mengatur keuangan yang sudah ngos – ngosan bahkan pada tanggal 1 setiap bulan. Apalagi yang sudah berkeluarga. Belum mikir bayar listrik, telepon, beli beras, anak sekolah dll. Mereka pasti melaksanakan gerakan kencangkan ikat pinggang pikirku. Ikat pinggang yang benar – benar kencang. Orang yang berkredit pastilah punya kemampuan untuk mengatur pengeluaran perhari dengan baik. Karena hidup akan terasa singkat karena bulan tua bisa jadi tanggal 10 bukan lagi tanggal 30 atau 31. Tapi disinilah kredit bisa mematangkan manajemen keuangan seseorang.

Aku yang membayangkan setiap kengerian karena melihat angka yang tertera pada struk gaji, ketika bertanya kepada mereka tentang kengerianku, jawabnya biasa saja. Dan satu yang pasti mereka punya keyakinan, “HIDUP INI ADA ALLAH YANG MENGATUR”.

Itulah jawaban dari mereka yang tidak terbantahkan, mengandung kebenaran yang sangat murni, kepasrahan dalam menjalani hidup, dan kekuatan untuk menjawab setiap tantangan hidup.

No credit no challenge. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya, ya ada benarnya kalimat itu. Berkredit adalah salah satu jalan menjawab tantangan hidup. Secara mudahnya, ketika ku merenung, kapan aku punya motor kalau tidak kredit.

Inilah kemudahan. Tapi jangan gara – gara mudah maka seenaknya kredit sana sini. Kredit harus ada tujuan sama seperti begadang, kata bang Haji Rhoma Irama.

No credit no challenge, keyakinanku bertambah saat mengisi formulir kredit barang.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s