Ropen & Orang Pendek

Cryptozoology merujuk kepada ilmu yang mencari hewan yang dianggap legenda dan tidak masuk didalam ilmu biologi secara umum. Ilmu ini mencakup pencarian hewan yang dianggap punah, hewan yang penampakannya hanya ada di dalam dongeng atau mitos, dan juga hewan yang hidup diluar habitat aslinya.

Orang yang menekuni cryptozoology disebut cryptozoologist. Sementara hewannya disebut Cryptid.

Contoh hewan yang masuk dalam kategori cryptid adalah bigfoot, monster loch ness, dan chupachabra.

Dunia dengan segala kebudayaannya menyimpan banyak makhluk – makhluk misteri dalam kisah – kisahnya. Inilah yang menjadi sumber utama para cryptozoologist dalam penelitian mereka.

Di Papua Nugini pada Juni 2008, Sekitar 150 mil sebelah timur laut Bali, Sebuah pesawat kecil jenis Britten Norman Islander sedang terbang melayang pada ketinggian 6.500 kaki. Sang pilot yang sedang mengemudikan pesawat itu tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah objek besar yang muncul dihadapan mereka. Pilot, dengan ketrampilannya segera menukikkan pesawat ke bawah untuk menghindar. Pilot dan Kopilot hanya melihat objek tersebut selama beberapa detik, namun cukup untuk mengenali objek tersebut sebagai seekor Pterodactyl, burung purba yang sudah punah jutaan tahun yang lalu.

Beberapa orang mengatakan bahwa mungkin mereka melihat burung Pelikan. Tapi mereka menyanggahnya dengan mengatakan bahwa makhluk yang terbang ini mempunyai warna kulit lebih gelap dan tak mungkin seekor Pelikan terbang di ketinggian 6500 kaki.

Bagi masyarakat sekitar Pterodactyl ini telah mereka ketahui sebelumnya, dan disebut dengan Ropen. Bahkan hewan ini mempunyai beberapa nama seperti Ahool, Indava, Duas.

Makhluk ini sendiri harusnya sudah punah jutaan tahun yang lalu. Tetapi masyarakat setempat masih membicarakannya dan beberapa diantaranya mengaku pernah melihat burung purba ini.

Sumatera menyimpan cerita makhluk misterius yang dikenal dengan Orang Pendek. Makhluk ini diperkirakan hanya mempunyai tinggi 70 cm dan seluruh tubuhnya diselimuti bulu. Mereka hidup tersebar di Palembang, Jambi dan Bengkulu. Mereka dipercaya hidup di hutan – hutan tapi sangat sulit untuk ditemui dan jarang sekali orang bisa melihatnya. Bahkan orang pun tak tahu keberadaan pastinya.

Orang Pendek mulai ramai diperbincangkan pada awal abad 20. Pada tanggal 21 Agustus 1915, Edward Jacobson menemukan sekumpulan jejak misterius di tepi danau Bento, di tenggara gunung Kerinci, Propinsi Jambi. Pemandunya yang bernama Mat Getoep mengatakan bahwa jejak sepanjang 5 inci tersebut adalah milik Orang Pendek.

Pada Desember 1917, seorang manajer perkebunan bernama Oostingh berjumpa dengan Orang Pendek di sebuah hutan dekat Bukit Kaba. Ketika makhluk itu melihatnya, ia bangkit berdiri lalu dengan tenang berjalan beberapa meter dan kemudian naik ke pohon dan menghilang.

Bukan hanya di Kerinci, penampakan makhluk ini juga sempat dilaporkan di wilayah Palembang. Seorang Belanda yang bernama Van Herwaarden menceritakan bahwa ia melihat Orang Pendek di sebuah pohon di utara Palembang pada Oktober 1923. Pertama, Herwaarden bermaksud menembaknya, namun kemudian ia melihat makhluk itu sangat mirip dengan manusia sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya. Pengalamannya dipublikasikan di majalah Tropical Nature no.13 yang terbit tahun 1924.

Pada tahun 1924 juga, museum nasional Bogor menerima cetakan jejak yang dipercaya sebagai milik orang pendek, namun akhirnya museum berhasil mengidentifikasi bahwa jejak tersebut adalah milik beruang Melayu yang diketahui kadang memang berdiri dengan dua kaki. Para ilmuwan yang skeptis kemudian menulis keraguan mereka akan keberadaan Orang pendek.

Beberapa tahun kemudian, Museum kembali menerima bangkai yang dipercaya sebagai Orang Pendek. Penemuan ini sempat menjadi headline selama 2 hari karena adanya hadiah yang ditawarkan untuk penemuan bangkai Orang Pendek. Namun kemudian ketahuan ternyata bangkai tersebut adalah milik seekor kera yang dimodifikasi oleh penduduk lokal yang ingin mendapat hadiah.

Orang Pendek mulai mendapat perhatian internasional ketika tahun 1989, penulis asal Inggris Deborah Martyr menemukan jejak kaki di barat daya Sumatera. Jejak kaki ini mirip jejak anak usia 7 tahun.

Setelah 5 tahun meneliti orang pendek, Deborah melihat sendiri orang pendek di wilayah Gunung Kerinci pada 30 September 1994. Orang pendek ketika itu terlihat berjalan dengan tenang, menoleh kepada Deborah dan kemudian menghilang masuk ke hutan. Setelah “pertemuan” itu Deborah masih sempat 2 kali melihat orang pendek.

Pada tahun 1995 ketika gempa besar melanda Liwa, Lampung, beberapa penduduk lokal menyampaikan kepada para pekerja asing bahwa mereka menyaksikan Orang Pendek keluar dari hutan, mungkin takut akibat gempa besar tersebut.

Jejak Kaki Orang Pendek

Para peneliti kemudian mulai mendapat kemajuan ketika pada tahun 2001, sekelompok tim ekspedisi amatir dari Inggris yang dipimpin oleh Adam Davies menemukan sekumpulan jejak yang dipercaya milik Orang pendek. Cetakan jejak kaki tersebut dikirim ke Cambridge untuk dianalisa dan hasilnya jejak tersebut adalah miliki seekor kera dengan campuran karakter gibon, orangutan, simpanse dan manusia. Dengan adanya segudang laporan penampakan dan contoh rambut serta cetakan jejak kaki, pada September 2009 ini, sekelompok tim peneliti dari Inggris yang bernama Centre for Fortean Zoology (CFZ) berangkat menuju Kerinci untuk mencari keberadaan Orang Pendek.

Tim ini berangkat pada awal September 2009. Pada pertengahan September, mereka melaporkan bahwa mereka telah menemukan jejak kaki yang diyakini sebagai milik Orang Pendek. Bahkan dua anggota tim, Dave Archer dan Sahar Didmus mengaku melihat Orang pendek dengan mata kepala sendiri. Menurut mereka, makhluk itu awalnya bersembunyi di belakang pohon, lalu kemudian tiba-tiba berlari dengan dua kakinya masuk lebih dalam ke hutan. menurut Dave, Orang pendek memang memiliki kemiripan dengan simpanse. Bedanya makhluk ini berjalan dengan dua kaki seperti manusia.

Sampai saat ini penampakan orang pendek hanya sekilas saja. Mereka terlihat kemudian menghilang seketika dan tidak dapat terkejar. Walaupun begitu masyarakat setempat telah mengetahui sejak lama orang pendek ini. Mereka dipercaya mencari binatang – binatang kecil untuk dijadikan makanan. Tapi tidak diketahui dimana tempat keberadaannya.

sumber :

jendralberita.wordpress.com

wikipedia.org

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Ropen & Orang Pendek”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s