Baru Ramainya Saja

Sejak pertama kali jatuh cinta pada sepakbola dari kelas 2 SMP, sedari itu pula saya tak bisa lepas dari sepakbola. Memang bermain sepakbola sudah dari SD, tetapi baru menemukan “chemistry” dengan sepakbola saat kelas 2 SMP. Maklum ketika itu saya satu kelas dengan teman – teman yang gila bola.

Bahkan menjadi pesepakbola profesional sempat jadi impian saya. Walau tak terwujud dan hanya menjadi pemain dilevel sekolah, kuliah, dan kampung. Tetapi sepakbola tidak bisa terpisahkan. Juara antar RT pernah saya rasakan, duduk di peringkat 4 klasemen liga sepakbola STIE Bandung pernah juga dicapai bersama rekan – rekan di STBA Bandung. Singkat kata sepakbola adalah candu saya .

Gemar bermain pasti gemar menonton. Saya ingat pertandingan dini hari pertama yang saya tonton adalah Manchester United di Liga Champion antara tahun 1996 – 1997. Kemudian berbagai pertandingan saya tonton dari liga Indonesia sampai liga mancanegara tak luput dari pengamatan. Hanya akhir – akhir ini saya mulai jenuh melihat liga – liga luar negeri, saya lebih menikmati liga Indonesia. Mungkin karena keterkaitan emosi.

Keterkaitan emosi pula yang membuat saya bisa jengkel, kecewa, dan sedih, ketika melihat timnas Indonesia kalah dari lawan – lawannya. Timnas Indonesia pula yang membuat saya bersorak gembira saat menang. Getaran perasaan yang membuat bulu kuduk merinding ketika mendengar “INDONESIA RAYA” dikumandangkan setiap Indonesia mengawali pertandingan, selalu saya rasakan.

Karena saya orang Indonesia.

Gelaran piala dunia 2010 memang membuat saya sebagai pencinta sepakbola Indonesia iri. Bagaimana tidak dari awal saya menonton piala dunia pertama saya tahun 1998 kemudian piala dunia 2002 dan piala dunia 2006, Indonesia hanya kebagian ramainya saja.

Lucunya walau hanya jadi penonton, tapi kita “super sibuk” di Indonesia ketika piala dunia datang. Ada yang bikin kampung bola, ada yang menjagokan habis – habisan satu negara seperti negaranya sendiri, dan macam – macam lagi respon banyak orang saat piala dunia digelar. Fenomena ini bukan hanya terjadi di piala dunia tetapi juga piala eropa dan turnamen sepakbola mancanegara. Lucunya kadang orang – orang itu tidak menyukai turnamen sepakbola dalam negeri. Sering kalah, mainnya jelek, itulah alasan yang sering saya dengar soal keengganan mereka menonton sepakbola dalam negeri. Padahal inilah yang sejatinya milik mereka, bukan sesuatu yang ada diluar negeri. Inilah yang memiliki keterkaitan emosi dengan mereka bukan yang lain.

Memang tidak bisa disalahkan juga. Sepakbola itu bak makanan. Tiap orang punya selera masing – masing. Mungkin rasa memiliki kita terlalu besar.

Buruknya prestasi Indonesia sendiri adalah salah satu faktor yang mendatangkan rasa enggan tersebut. Indonesia pernah tampil di piala dunia 1938 dengan nama Hindia Belanda. Sampai sekarang belum sekalipun Indonesia tampil lagi di piala dunia.

Kita baru sampai tahap berandai – andai Indonesia masuk piala dunia. Belum sampai tahap siap menonton Indonesia di piala dunia. Tapi baru berandai – andai pun, respon negatif sudah bermunculan. Jadi lumbung gol, penampilan memalukan sudah dibenak orang – orang seketika berandai – andai Indonesia di Piala Dunia.

Sikap pesimistis ini juga muncul dari turunnya prestasi Indonesia dikancah internasional. Sikap pesimistis ini pula yang membuat sepakbola kita diam ditempat. Tenggelam dalam indahnya kenangan masa lalu. Tanpa bermaksud tidak menghargai perjuangan para pemain timnas, tetapi setiap kali mereka bertanding dikancah internasional, mental mereka sudah jeblok bahkan sebelum wasit meniup peluit kick off. Inilah salah satu yang harus diubah. Perbaiki mental Indonesia.

Mental akan menentukan langkah kedepan. Mental yang kuat, tekad yang bulat akan menjadi modal yang berharga dan tiada duanya. Tidak semua negara yang bermain dipiala dunia mempunyai permainan yang bagus. Modal mereka ke piala dunia adalah mental yang kuat, ingin merasakan level tertinggi dalam sepakbola, dan ingin membuat nama negaranya harum.

Ini yang perlu dimiliki dan ditanamkan timnas Indonesia setiap kali berlaga. Sehingga suatu saat, dengan Rahmat ALLAH SWT, kita akan melihat Indonesia di piala dunia dan kita pun tidak hanya kebagian ramainya saja.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

6 thoughts on “Baru Ramainya Saja”

  1. setuju bro!!!

    q malah seneng nonton sepakbola liga eropa pas kelas 4 ampe 6 sd… trus di smp sampe kls 1 sma mulai bosen sama sepakbola. tapi pas kelas 2 sma, aq jadi gak pernah absen buat nonton ISL, apalagi kalo arema ato persib yg maen.
    ngeliat persipura ma persiwa di level asia kemaren miris banget. tapi liat permainannya pemain arema jadi pengen liat kalo arema main di LCA..
    tmen2 q jg kyk gitu, nonton sepakbola indonesia gak menarik. tapi menurutq justru ada keterikatan emosi antara sepakbola indonesia dengan kita. justru itu yang bikin menarik dan bikin pengen nonton. meskipun hanya berharap menantikan indonesia di world cup.

    btw, bro gak minat gabung google friends connect??

  2. yup..aku lebih senang nonton ISL sama juga kalo bisa jangan absen nonton..ampe bener2in antena segala naek ke atap buat nonton ISL….aku udah baca “sepakbola indonesia di masa lalu” good article, dah comment juga,

    gimana gabungnya?

  3. wah, makasih bro..
    blum tak liat komen nya bro.. di email q ug ga da pemberitahuannya y… ckckckck

    bisa nambah widget di blog nya bro ndiri, atau di blogspot nya orang2 yg ada GFC nya langsung follow lewat situ….

    btw ISL maen lagi kapan??
    partai play off persiram vs pelita jaya ug g kdengaran kabarnya??

  4. kalo ga salah sehabis piala dunia…aneh apa hubungannya jadwal ISL sama piala dunia hehehe….ada fb…nama akun fb nya apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s