Sepakbola dan Politik

Sepakbola, satu cabang olahraga yang paling banyak diminati diseluruh belahan dunia, telah menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Ekonomi sebagai contoh saat ini tidak bisa dilepaskan dari industri sepakbola diseluruh dunia.

Politik pun sangatlah lekat dalam sepakbola. Jika kita melihat perseteruan negara – negara dalam bidang politik, selalu menjadi bumbu ketika kedua negara bertemu di lapangan hijau.

Jepang dan China yang dilatarbelakangi “the Rape of Nanking” pada tahun 1937. Inggris dan Argentina dengan latar belakang “perang malvinas”, juga antara Elsalvador dan Honduras yang juga pertemuan mereka dilapangan hijau diwarnai perang antara 2 negara tersebut dimasa lalu.

Jika dilihat dari makna politik secara umum sebagai jalan untuk meraih sesuatu maka sepakbola adalah jalan untuk meraih sesuatu tersebut. Ditambah lagi dengan fakta bahwa sepakbola digemari oleh banyak orang dan bisa melibatkan sisi emosi, sisi nasionalisme setiap orang dengan begitu hebat. Fakta yang lain adalah melalui olahraga kebanggaan nasional bisa dicapai.

Sepakbola Indonesia pun tak luput dari politik. Pada prakualifikasi penyisihan Piala dunia 1958, Indonesia telah berhasil mengalahkan Cina 2 – 0 di Jakarta. Pada pertemuan kedua di Cina, Indonesia kalah 3-4 dari Cina. Alhasil pertandingan ketiga digelar di Birma, kedua tim berbagi skor 0 – 0. Indonesia pun dinyatakan sebagai juara.

Tahap selanjutnya Indonesia harus berhadapan dengan Israel, namun PSSI menolak bertanding dengan Israel. Pada saat itu pemerintah dibawah Presiden Soekarno memang tidak mengakui eksistensi Israel sebagai negara. Hal serupa juga terjadi pada Asian Games 1962 di Jakarta, Presiden Soekarno tidak mengizinkan Israel dan Taiwan ikut serta. Indonesia dikenai sanksi oleh IOC dan Presiden Soekarno pun menggagas Ganefo ( Game of Energing Forces ) yang diikuti 43 negara.

Bukanlah rahasia bahwa Presiden Soekarno menentang segala bentuk penjajahan, seperti yang dilakukan Israel. Bahkan sampai sekarang pun Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan negara yang masih menjajah Palestina tersebut.

PSSI yang mengusulkan kepada FIFA agar menggelar pertandingan ditempat netral melawan Israel dan tanpa menyanyikan lagu kebangsaan pada tahun 1958, harus menerima keputusan bahwa langkah timnas merah putih terhenti. Karena FIFA menolak usulan ini.

Mundur jauh ke belakang, seperti yang saya tulis pada postingan “Fakta Dibalik Indonesia di Piala Dunia 1938”. Ir.Soeratin yang menggagas PSSI memang mencoba membangkitkan semangat nasionalisme melalui sepakbola. Beliau sadar betul bahwa permainan ini sangatlah digemari banyak orang dan telah dimainkan rakyat Indonesia sejak awal abad – 20. PSSI dibawah pimpinan beliau menggariskan satu hal penting bahwa klub Indonesia tidak boleh kalah bertanding dari klub Belanda yang banyak didirikan oleh orang – orang Belanda. Klub orang Belanda ini sangatlah diskriminatif karena tidak mengizinkan pribumi sebagai pemainnya.

PSSI pada masa awalnya mencoba menggerakkan, membangkitkan semangat kemerdekaan lewat sepakbola.

Jika dahulu adalah untuk membangkitkan kemerdekaan, menegakkan semangat kebangsaan, menegaskan sikap anti penjajahan, bagaimana dengan masa sekarang?

Politik masih mewarnai sepakbola. Apalagi sekarang jamannya pemilihan langsung. Kampanye lewat sepakbola kerap dilakukan oleh pasangan – pasangan yang mengikuti Pilkada didaerah masing – masing. Saya masih ingat iklan salah satu Cagub Sumsel yang memasang beberapa pemain Sriwijaya FC sebagai salah satu penarik perhatian. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya menemukan flyer yang memajang 2 ikon Persib Bandung sebagai pemanis bersama pasangan Cabup-Cawabup Kab.Sukabumi.

Klub – klub yang sekarang dituntut untuk mandiri secara pendanaan memang harus segera melepaskan diri dari dana APBD. Selain menuju pengelolaan profesional, juga untuk menghindari kepentingan – kepentingan sesaat pihak – pihak yang mencoba memanfaatkan klub sepakbola untuk tujuan politik mereka.

FIFA pun telah melarang politik untuk masuk kedalam sepakbola. Peraturan yang tidak memperbolehkan pemerintah intervensi terhadap asosiasi sepakbola negaranya adalah sebuah penghalang politik. Juga para pemain pun dilarang dengan menyampaikan pesan – pesan politik ketika bertanding bahkan jika itu merupakan sikap dan pendirian si pemain.

Namun agaknya sampai kapanpun sepakbola tidak bisa sepenuhnya bebas dari politik. Olahraga ini telah larut dalam segala macam bumbu dalam tumbuh kembangnya. Membatasilah yang mungkin.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Sepakbola dan Politik”

  1. Yah, sebaiknya olahraga dan Seni jangan di campur dg urusan politik. Agar Olahraga dan Seni bisa leluasa memberikan ekspresi dan karya2nya di bidang Olahraga dan Seni. Dimana hal tersebut memberikan nuansa positif bagi bangsa akan karya2nya.
    Tetapi apa daya politik sudah melekat seperti budaya yang tak bisa hilang begitu saja. Hanya Allah swt yang Maha Tahu segalanya kapan “INDONESIA” bisa berjaya dan di pandang baik oleh dunia dan sebagai negara yang dihormati karena karya2nya yang luar biasa sama dengan negara2 dunia pada umum yang juga di hormati akan prestasi yang baik dalam karya2nya yang baik oleh sebuah bangsa” INDONESIA”.
    “JAYALAH NEGARA KU INDONESIA.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s