Mimpi dan Mental Baja

Akhirnya gelaran piala dunia hampir sampai babak 16 besar. Satu wakil dari benua Asia, Korea Selatan, berhasil masuk ke babak 16 besar setelah mengalahkan Yunani, imbang lawan Nigeria dan kalah dari Argentina. 3 wakil Asia lainnya masih berjibaku. Korea Utara sudah dibilang habis peluangnya, tinggal mengincar kemenangan pelipur lara saja lawan Pantai Gading. Jepang dan Australia masih berpeluang. Jepang mempunyai peluang lolos yang lebih besar karena sudah mengantongi 1 kemenangan. Ya semoga saja dari benua Asia setidaknya ada 2 tim di babak 16 besar.

Jika dilihat – lihat agaknya ada 2 faktor yang mempengaruhi penampilan satu negara di pentas internasional. Mimpi dan mental baja.

Mimpi itu biasanya diawali dari mimpi seorang pemain. Setiap pemain sepakbola profesional pasti punya cita – cita untuk mengharumkan negaranya dipentas internasional. Semua pesepakbola mempunyai cita – cita itu. Berawal dari satu pemain kemudian tergabung sebelas cita – cita untuk mengangkat nama negaranya dipentas internasional. Tetapi cita – cita itu juga harus seragam dengan cita – cita organisasi sepakbola mereka. Cita – cita organisasi kemudian dituangkan dalam sebuah program kerja yang nyata dan terukur untuk membawa kejayaan bagi persepakbolaan negaranya.

Kemudian mimpi pun harus ditopang oleh mental baja. Agaknya gelaran piala dunia kali ini, harus benar – benar disaksikan oleh para pengurus PSSI, pemain, pemilik klub, pelatih, dan semua insan yang terlibat langsung dalam pengelolaan sepakbola dalam negeri. Juga tak lupa para pendukung sepakbola dalam negeri.

Lihatlah Selandia Baru. Negara kecil yang bahkan sepakbola kalah populer oleh olahraga lain, namun bisa membuat dunia tercengang pada piala dunia kali ini. Italia dibuat mati kutu oleh mereka, hanya “diving” yang bisa menggagalkan kemenangan Selandia Baru.

Jika dilihat lebih jauh, maka akan ada fakta yang lebih mengejutkan. Pemain mereka kebanyakan bukan pemain terkenal. Kompetisi dalam negeri mereka hanya diikuti 9 tim. Bahkan ada klub Selandia baru yang ikut berkompetisi di Liga Australia. 2 pemain mereka tidak punya klub. Bahkan 1 pemain sudah tidak bermain bola dilevel klub selama 2 tahun. Salah satu pemainnya, Andy Barron, selain bermain bola juga punya pekerjaan sebagai pegawai bank.

Tetapi mental baja mereka mampu membuat catenaccio Italia runtuh. Itulah modal utama selain mimpi, yang harus dimiliki setiap tim ketika berlaga di pentas internasional. Ketika memasuki lapangan, maka mereka harus menjadi buas dan ganas bagi setiap lawan – lawannya. Tidak lagi menghitung perbedaan skill dan nama besar lawan.

Selama ini yang saya lihat, ketika Indonesia berlaga lawan Singapura saja, mereka tampak kebingungan. Bayangan kekalahan – kekalahan Indonesia atas Singapura, malah menjadi beban dan sedikit membuat nyali ciut. Terlihat sekali perbedaan mental pemain kita dengan lawan. Pemain kita sering nampak sudah kalah sebelum bertanding.

Bukan bermaksud tidak menghargai perjuangan pasukan merah putih, namun itulah yang sering terlihat oleh saya.

Contohlah Selandia Baru yang tak gentar sekalipun menghadapi negara yang mempunyai akar kuat dalam sejarah sepakbola. Mereka hanya pemain antah berantah, tapi Italia tak bisa berbuat banyak menghadapi mereka.

Sebagai pendukung setia Merah Putih yang selalu berusaha tidak pernah luput menonton perjuangan kesebelasan Merah Putih di pentas internasional, saya ingin sekali melihat negara kita kembali berjaya. Kisah kejayaan masa lalu hanya bisa dilihat dalam berita – berita. Tapi tidak saya rasakan getarnya. Semoga Indonesia bisa berjaya dalam 2 even yang akan datang, Piala AFF dan Sea Games.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Mimpi dan Mental Baja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s