World Cup Note : Skema tak Terduga

Pada awal piala dunia, semua prediksi hampir sama. Menjagokan negara – negara yang secara historis pernah berjaya di ajang 4 tahunan ini atau pula negara – negara yang memiliki liga yang ditonton jutaan penggemar sepakbola setiap minggunya diseluruh dunia. Juga negara – negara yang memiliki pemain – pemain yang selalu menghiasi tajuk utama sepakbola.

Seiring dengan berjalannya piala dunia, prediksi mulai terbentur fakta. Prancis mantan juara piala dunia 1998 dan finalis piala dunia 2006, gagal lolos dari grup A. Bahkan menjadi juru kunci. Perselisihan, pembelotan pemain, dan pengkhianatan membumbui kisah Prancis di Piala dunia 2010 yang memang sedari awal telah datang ke Afsel dengan “noda” kontroversi handball Thierry Henry yang meloloskan negaranya dalam playoff melawan Irlandia. Satu prediksi telah tumbang.

Inggris terseok – seok menahan gempuran AS, Aljazair dan Slovenia walaupun akhirnya lolos ke 16 besar. Kiper masih menjadi masalah yang akut dikubu Inggris. Kesenangan klub – klub Liga Inggris memakai kiper impor berimbas kepada The Tree Lions karena tidak mempunyai stok kiper yang tangguh dan dapat diandalkan. Ketajaman pun jadi masalah bagi Inggris. Wayne Rooney yang biasanya ganas di Manchester United seakan tak berdaya di Afsel. Begitu pula para pemain yang lain. Kekalahan 4 – 1 dari Jerman dibabak 16 besar menunjukkan singa – singa inggris tidak cukup ganas untuk menggulingkan si panser Jerman. Justru mereka kelabakan saat mesin panser menggerus mereka. Hal ini mendukung fakta bahwa Liga Inggris adalah salah satu pengimpor pemain asing terbanyak, dan memakai pemain – pemain asing secara reguler setiap minggu pada setiap pertandingan liga Inggris. Pemain lokal kebanyakan hanya menjadi waiting list dibangku cadangan. Kebijakan impor yang sangat tidak bijak.

Catenaccio pun menjadi karatan di Afsel 2010. Kombinasi pemain tua dan muda di sentral bek, Fabio Cannavaro dan Giorgio Chiellini, tak cukup untuk menghadang Selandia Baru, Paraguay dan Slovakia. Ditambah ketidaktajaman lini depan Italia menambah nestapa mereka. Beban sebagai juara Piala Dunia 2006 tampaknya tidak bisa ditanggung oleh para pemain pilihan Marcello Lippi pada tahun ini. Tanpa kemenangan dan hanya meraih 2 kali seri, membuat mereka duduk sebagai juru kunci grup, dikalahkan Selandia Baru yang kembali tampil setelah 20 tahun lebih tak pernah tampil di ajang piala dunia.

3 prediksi tumbang. Ketiga negara tersebut yang mempunyai sejarah kehebatan dipentas dunia, malah tampil hancur – hancuran.

Yang tak terduga justru datang dari tiga zona yang dipandang sebelah mata. Asia, Afrika dan oseania. Jepang dan Korea Selatan tampil perkasa. Keduanya mengulang prestasi tahun 2002 ketika piala dunia diadakan dinegaranya. Jepang menundukkan Kamerun dan Denmark dan kalah oleh Belanda, Korea menundukkan Yunani, bermain imbang melawan Nigeria, tapi dikalahkan oleh Argentina. Ketidakberuntungan justru datang pada babak 16 besar.

Korsel harus berjibaku sebelum akhirnya mengakui keunggulan Uruguay 1- 2. Sempat menyamakan kedudukan menjadi 1 – 1, Luis Suarez menghancurkan mimpi mereka mengulang kenangan manis lolos ke semifinal. Jepang bernasib sial setelah tendangan Komano membentur mistar gawang kiper Paraguay, Justo Villar, pada adu tendangan penalti. Walaupun hanya sampai 16 besar tetapi kekuatan Asia sangat terasa di piala dunia kali ini.

Patut dicatat pula, Uruguay dan Paraguay merupakan sebuah skema yang tak terduga. Karena piala dunia sebelumnya kedua negara ini mesti susah payah bahkan difase grup. Paraguay terhenti diperempatfinal oleh Spanyol, Uruguay menghentikan tim tak terduga Ghana untuk lolos ke semifinal.

Ghana merupakan kejutan. Memang jika dilihat tahun 2006 tidaklah terlalu mengejutkan karena mereka bisa lolos ke 16 besar. Namun Ghana tetap tak terduga, karena prediksi lebih menjagokan Pantai Gading yang justru tenggelam di Piala Dunia ini. Ghana menang atas Serbia, imbang melawan Australia, dan kalah oleh Jerman. Babak 16 besar mereka menundukkan Amerika Serikat. Namun mimpi mereka terhenti ketika tendangan Sebastian “el loco” Abreu masuk dengan mudah ke gawang Richard Kingson pada adu tendangan penalti babak perempatfinal melawan Uruguay.

Dari zona Oseania, datanglah sebuah negara dengan kumpulan para pemain yang tak dikenal dipanggung sepakbola Eropa, bahkan sebagian berstatus semi amatir. Selandia Baru datang ke Afrika Selatan setelah menang playoff lawan Bahrain. Tak ada yang membebani tim ini dengan hasil – hasil prediksi kemenangan. Bahkan mungkin bergabung dengan Italia, Slovakia, dan Paraguay, membuat mereka adalah lumbung gol potensial. Namun tiga lawan mereka mesti mengakui ketangguhan mereka. Tiga lawan mereka tak mampu meraih kemenangan. Bahkan Italia harus berterimakasih pada diving Danielle De Rossi yang berbuah penalti. Tiga hasil imbang adalah sesuatu yang tak terduga bagi Selandia Baru.

Yang tak terduga pula datang dari Brazil dan Argentina. Hebat di kualifikasi grup, namun takluk oleh Belanda dan Jerman. Brazil yang pada pertandingan pertama grup mesti susah payah menundukkan Korea Utara 2 – 1, bernasib buruk saat melawan belanda. Felipe Melo, pemain yang di Juventus pun sering dikritik, kali benar – benar jadi bintang pertandingan, karena dia dianggap biang kekalahan Brazil. 1 gol bunuh diri dan kartu merah menjadi pelengkap catatan piala dunianya. Pemilihan pemain oleh Carlos Dunga pun dianggap cukup aneh. Brazil tak mengeluarkan gaya samba khas di piala dunia kali ini. Mereka hanya punya Kaka dan Robinho yang mampu mengolah bola untuk membongkar pertahanan lawan. Ronaldinho, Pato, Diego Ribas ditinggalkan oleh Dunga. Fakta yang mengejutkan adalah bahwa gaya permainan brazil berbeda jauh dengan ciri khas mereka.

Argentina yang dilatih pahlawan sepakbola mereka, Maradona, memang hebat di fase grup. Tiga kemenangan sempurna. Namun gaya permainan mereka tidaklah berubah dari fase grup sampai 16 besar dan Joachim Loew, pelatih jerman, melihat ini dengan seksama. Trisula dilini depan Lionel Messi, Carlos Tevez, dan Gonzalo Higuain bermain dengan pola yang sama. Lebih mengedepankan skill individu seperti yang selalu mereka lakukan diklub masing – masing. Pertahanan Jerman terlalu tangguh bagi mereka. Maradona pun tak memberikan penyegaran pada trisulanya, hasilnya pola permainan mereka sudah terbaca. Diego Milito yang membobol pertahanan Bayern Muenchen pada final Liga Champion 2009/2010, diacuhkan oleh Maradona. Hasil 4 gol tanpa balas adalah fakta yang menyakitkan bila melihat keperkasaan mereka sampai babak 16 besar. Ini tak terduga bila melihat pula bahwa Argentina pernah mengalahkan Jerman pada laga persahabatan, saat Maradona masih diawal kepemimpinannya.

Yang tak terduga lainnya adalah, Lionel Messi dan Wayne Rooney tak segarang seperti dilevel klub. Bahkan keduanya gagal mencetak gol di Piala Dunia ini.

Piala dunia mulai mendekati akhir. Uruguay melawan Belanda, dan Spanyol menantang Jerman, memang diluar prediksi. Belanda yang tidak terlalu diharapkan, Spanyol yang selalu gagal difase 16 besar, Uruguay yang pada piala dunia sebelumnya selalu gagal menampilkan permainan terbaik, dan Jerman yang ditangani oleh pelatih yang sebelumnya menjadi asisten Jurgen Klinsman pada piala dunia 2006, masih hijau untuk pentas piala dunia, dan juga Jerman tanpa sang kapten, Michael Ballack. Skema ini tidaklah terduga. Mungkin saja yang tak terduga akan segera muncul, mengejutkan dunia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s