Gulali, Bebentengan, Congcorang (Yang makin susah dicari)

Inget obrolan dikantor hari Kamis lalu. Ngobrolan ngalor ngidul dari makanan, tempat, sampe permainan, intinya obrolan mengenang – ngenang masa lalu. Ternyata banyak hal – hal yang sudah makin sulit dicari karena perkembangan jaman. Lingkungan yang sudah berubah, alam sudah berubah, the point is banyak yang sudah berubah. Waktu secara pasti menghilangkan beberapa hal dari masa lalu kita.


Dulu jaman SD sampe SMP paling mudah nemuin dua jenis belalang ini. Belalang hijau dan belalang sembah ( sunda : congcorang ). Dulu hampir tiap hari dua jenis belalang ini ada dihalaman rumah. Sekarang susahnya minta ampun nyari belalang ini. Satu bulan yang lalu adalah terakhir kali saya nemu belalang hijau dihalaman rumah. Satu lagi yang sulit dicari adalah belalang batu yang berwarna coklat.

Jajanan waktu kita sekolah jaman tahun 90an banyak banget macamnya. Waktu itu restoran – restoran fastfood dari luar negeri bisa dibilang belum ada. Jadi makanan – makanan yang dijual pedagang – pedagang kaki lima disekitar sekolah adalah yang paling akrab buat saya. Satu yang susah dicari sekarang adalah arum manis. Memang masih ada arum manisnya, tapi liat yang tukang arum manis yang genjot – genjot pedal bikin arum manis udah jarang banget.

Makanan yang jarang juga saya temui sekarang adalah gulali. Ciri khas pedagangnya adalah bawa tanggungan yang ada ketel kecil berisi adonan gula berwarna merah. Nanti si adonan ini bisa dibentuk macam sesuai keinginan kita. Ada yang bentuk ayam, koin, bunga, macem – macem deh. Bahkan ada gulali yang kalo ditiup bisa keluar suaranya.

Jaman saya SD sekitar tahun 1990an, rasanya liat anak SD yang pake kacamata jarang banget. Tapi sekarang banyak banget. Perkembangan teknologi video game dan terlalu banyak nonton televisi salah satu penyebab si anak lebih cepat memakai kacamata, karena lebih banyak menghabiskan waktu didepan layar televisi.

Dulu mesin video game tahun 80an itu ada atari. Kemudian muncul nintendo, super nintendo, sega, dan kemudian playstation. Tapi yang paling booming adalah gamewatch. Nih yang kaya gini biar pada inget :

Sampe ada tukang gamewatch yang mangkal disekolah, sewa – sewain gamewatch sekali main sampai game over dengan harga Rp.100 – Rp.200. Karena saat itu masih jarang yang punya gamewatch dirumah. Era gamewatch diganti oleh tetris yang booming banget pertengahan 90an.

Pokonya top banget mesin tetris ini yang mainnya dari anak – anak sampe orangtua. Apalagi ada tetris yang kalo kita kalah keluar suara “BEGO LU!!”.

Walau mesin video game sudah ada pada tahun – tahun itu. Tapi permainan tradisional masih sering dimainkan. Saya sendiri melihat anak – anak kecil disekitar rumah sudah tidak pernah memainkan permainan tradisional. Paling banter main layangan, main kelereng saja sudah jarang.

Permainan waktu itu pada tahun 90an yang paling sering dimainkan adalah petak umpat, garasin, bebentengan, sprintong, bekel, congklak, sondah. Petak umpat pasti udah tahu cara mainnya.

Garasin dimainkan oleh dua tim. Satu tim harus menembus penghalang yang dimainkan oleh tim yang satu lagi dengan cara menghalangi jalan tim lawan sambil merentangkan tangan. Yang menang adalah tim yang bisa lewat semua rintangan.

Bebentengan juga dimainkan dua tim. Dua tim ini masing – masing mempunyai satu benteng yang harus dipertahankan. Biasanya ditandai pake batu. Cara bermainnya tiap anggota dari kedua tim akan berlari ke arah lawan sambil “mengajak” lawan agar mengejar. Ketika lawan mengejar, pemain yang dikejar akan mencoba mengarahkan si lawan ke arah bentengnya, dan menghindari “sergapan” si pengejar. Karena kalau tangan si pengejar berhasil menepuk bagian tubuh kita, maka kita keluar dari permainan dan harus menunggu permainan selesai untuk bermain kembali. Ini dilakukan berulang – ulang sampai lawan habis dan bentengnya dikuasai atau permainan berakhir saat lawan berhasil menginjak batu tanda benteng kita.

Permainan – permainan semacam ini sangatlah mendidik. Karena menumbuhkan kerjasama, kecerdikan, dan membantu dalam tumbuh kembang fisik. Pada masa saya, biasanya kita lebih banyak berlari dilapangan dibanding terpaku bermain video game. Sayangnya permainan – permainan sudah makin ditinggalkan oleh anak – anak jaman sekarang.

Ya jaman makin berubah. Seakan sudah jadi suratan, beberapa hal pun harus hilang. Perkembangan jaman membuat semua hal yang menjadi kenangan manis masa kecil kita terlupakan. Tapi mudah – mudahan tidak hilang, walau dalam ingatan kita.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s