Pertandingan Tidak Boleh Diintervensi Pihak Luar

Terkait intervensi Kapolda Jateng, Alex Bambang Riatmodjo, pada pertandingan Final Piala Indonesia (1/8), wasit Jimmy Napitupulu dan beberapa pengamat sepakbola mengganggap hal itu sudah diluar kewenangan. Walaupun begitu kredibilitas PSSI yang lemah juga dianggap sebagai pemicu.

Berikut keterangan Jimmy Napitupulu yang saya dapat dari vivanews.com ;

Apa sebenarnya yang diinginkan Kapolda Jateng kepada Anda?

Dia (Kapolda Jateng, Alex B Riatmodjo) hanya mengatakan wasit Jimmy harus diganti. Sekarang pengawas pertandingan tidak bisa mengganti saya. Itu peraturan.

Lantas siapa yang berhak mengganti Anda?

Yang berhak mengganti wasit itu adalah wasit itu sendiri. Kalau saya tidak sanggup lagi, kalau saya pincang, saya keram, atau saya sakit perut dengan pemeriksaan dari dokter dan ada surat dari dokter yang mengatakan saya perlu diganti, baru saya boleh diganti. Selama masih mampu memimpin pertandingan tidak seorangpun yang bisa mengganti wasit termasuk presiden.

Jangankan presiden, masuk ke dalam lapangan tanpa seizin saya pun tidak boleh. Itu sebabnya, BLI (PT Liga Indonesia) pun tidak bisa ikut campur, tidak bisa intervensi saya. Pengawas pertandingan juga tidak berhak mengganti saya.

Bagaimana kalau seandainya Anda sampai diganti?

Kalau saya sampai saya diganti saya akan lapor FIFA. Betul, saya akan lapor FIFA karena di sini saya bisa. Saya akan lapor AFC, saya akan lapor FIFA karena saya tidak cedera tidak sakit tapi diganti.

Apakah PP sempat meminta kepada anda agar diganti?
Nggak. PP (Pengawas Pertandingan) hanya menanyakan apakah kau masih siap? Saya jawab siap. “Kalau begitu lanjutkan, saya dukung kau,” kata PP.

Setelah itu ada perundingan antara BLI (PT Liga Indonsia), Kapolda, dan Komite wasit. Kemudian ditanyakan bagaimana solusinya. Wasit lalu dipanggil.

Setelah itu apa yang terjadi?
Kapolda mengatakan kepada saya? “Apakah anda bisa memimpin lebih baik lagi di babak kedua?” Trus saya tanya, “Kesalahan saya apa pak?” Katanya, “Kamu tadi tidak lihat kalau pemain nomor sembilan mendorong wajah salah satu lawannya.”

Lalu saya jawab, “Kalau saya lihat pasti saya hukum.” Saya manusia. Selagi saya tidak lihat saya tidak tahu apa yang saya tidak lihat. Oke itu satu. Sekarang giliran saya yang bicara. Piala Dunia antara Jerman lawan Inggris. Inggris membuat gol tapi tidak disahkan oleh wasit. Diganti nggak wasitnya? Ada polisi intervensi? Tidak ada!

Kapolda mengatakan di hadapan televisi nasional, kalau anda bersedia memperbaiki kekeliruan di babak pertama. Apakah ada pembicaraan seperti itu?

Saya tidak bilang memperbaiki kekeliruan tapi saya bilang akan memperbaiki penampilan dan performa saya. Kalau saya keliru, berarti saya tahu dong kalau saya salah.

Apakah anda merasa diintervensi?
Kalau saya merasa tidak diintervensi kenapa Kapolda meminta saya diganti? Tapi saya tidak mau. Anda-anda, saya-saya. Selagi dalam pertandingan sepakbola dan saya memimpin saya tidak akan mau diganti. Saya profesional dalam menjalankan tugas saya.

Apakah anda terbebani dengan kejadian ini?
Tidak ada. Saya tidak terpengaruh dengan orang di luar. Yang penting saya konsentrasi di dalam lapangan. Mau apa kata suporter di luar, saya tidak perduli. Saya adalah Jimmy.

Apa kejadian seperti ini pantas dalam sepakbola?
Tidak boleh. Saya katakan ini tidak sehat. Pertandingan ada aturannya sendiri. Kita kenal hukum. Dalam hukum juga dikenal lex specialis derogat lex generalis.

Bahwa peraturan khusus tidak boleh di bawa ke peraturan umum. Dalam sepakbola sudah ada aturannya. Pemain salah, kartu kuning, kartu merah. Dilanjutkan ke Komisi Disiplin kemudian didenda. Itu sudah aturannya.

Sebelumnya anda pernah mengalami kejadian seperti ini?
Ini pertama kali. Tapi dua bulan lalu dia (Kapolda) justru ngasih saya hadiah Rp 5 juta karena katanya saya bagus mimpin pertandingan Persiba vs Persijap.

Dikasihnya saya lima juta. Apakah karena saya menghukum kartu merah saya dikatakan tidak adil?

Itulah keterangan wasit Jimmy Napitupulu yang tetap pada peraturan bahwa pertandingan dan perangkat pertandingan tidak bisa diintervensi.

Sedangkan komentator sepakbola, Gita Suwondo dan M. Kusnaeni, menilai Jimmy telah memimpin pertandingan dengan baik sesuai aturan.

“Intervensi kapolda sangat berlebihan cenderung kebablasan. Harusnya dalam sebuah pertandingan tidak ada yang boleh mengatur jalannya laga kecuali wasit,” kata Kusnaeni. Bung Kus menilai apa yang dilakukan Alex Bambang dipengaruhi oleh kredibilitas PSSI yang lemah.

Sementara itu Gita Suwondo merasa kalau polisi pada pertandingan kemarin telah bertindak di luar proporsinya. Meminta wasit diganti bear-benar tak bisa diterima.

“Kapolda harusnya hanya memikirkan soal keamanan. Urusan pertandingan di lapangan itu urusannya wasit. Dia (kapolda Jateng) khawatir soal keamanan padahal pertandingan aman-aman saja. Tidak ada yang bisa mengganti wasit, bahkan presiden sekali pun,” kata Gita.

sumber : vivanews.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s