Merdeka….!!!???

Sejenak sebelum mandi sore saya ingin menulis. Menulis apa yang tercitra dalam benak, menulis apa yang termakna dalam hati. Sudah lama sejak saya menulis apa yang ada dalam benak saya sendiri. Walau saya sendiri agak bingung untuk menulis apa yang tergambar dalam otak saya.

Hari ini, 17 Agustus 2010, Indonesia berulang tahun kemerdekaan yang ke – 65. Seperti yang kita tahu 17 Agustus 1945, Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Proklamasi ini merupakan puncak perjuangan para pejuang bangsa melawan penjajahan. Selama 3,5 abad Indonesia dijajah Belanda ( Walau saya sendiri ragu benarkah selama itu kita dijajah?), dan 3,5 tahun Jepang menduduki Nusantara, sebelum Indonesia memproklamirkan diri menjadi bangsa pemenang dari sebuah pergulatan panjang untuk kebebasan.

Kita adalah bangsa yang merdeka untuk selanjutnya. Tetapi benarkah merdeka? Pagi ini saya membaca sebuah status seorang teman di Fb, yang mengucap syukur telah 65 tahun Indonesia merdeka, namun diakhir status dia sendiri bertanya apakah kita sudah merdeka??. Siang tadi seorang kawan mengomentari status saya. Kesimpulannya jika Indonesia benar merdeka kenapa harga sembako masih membumbung tinggi.

Indonesia memang merdeka secara de facto dan de jure. Secara mudah wilayah kita yang terbentang dari sabang – merauke, adalah milik kita, diurus oleh kita, didiami oleh warga negara Indonesia. Kemerdekaan kita pun telah diakui bangsa – bangsa lain di dunia. Belanda sebagai bangsa yang pernah bercokol di bumi nusantara, menjadi bangsa yang telat mengakui Kemerdekaan Indonesia, karena pengakuan mereka secara langsung baru secara resmi diberikan melalui pidato Menteri Luar Negeri Belanda, Bernard Rudolf Bot, pada 16 Agustus 2005 atau tepat pada peringatan ke – 60 Kemerdekaan Indonesia di Gedung Departemen Luar Negeri Republik Indonesia.

Balik lagi soal merdeka. Sering kita mendengar bahwa kita hanya merdeka secara fisik, tetapi secara tak kasat mata kita masih dikendalikan oleh pihak – pihak lain. Saya memang melihat hal – hal seperti ini terjadi. Bagaimana sebuah proyek tambang di Jawa Timur, akhirnya jatuh ke perusahaan asing, setelah menteri luar negeri dari negara asing tersebut datang kesini. Padahal sebelum kedatangannya proyek tersebut akan ditangani perusahaan nasional.

Dalam siaran televisi acara kritik – mengkritik, sering kita dengar bahwa kebijakan – kebijakan negara kita juga dikendalikan negara lain. Intinya kita ini belum merdeka seutuhnya. Karena ekonomi, budaya bahkan sekarang ideologi kita dijajah oleh bangsa lain.

Kemerdekaan ini belum ternikmati bagi kebanyakan orang. Belum ternikmati karena kebutuhan – kebutuhan pokok masih mahal. Kemerdekaan yang ini adalah merdeka dari tuntutan kebutuhan hidup sehari – hari. Pendidikan pun masih belum bisa dinikmati bagi kebanyakan orang. Malah yang terjadi sekarang adalah pendidikan semakin mahal. Kualitas, belum tahu. Banyak sekali permasalahan untuk sebuah bangsa yang merdeka. Semua itu bisa terlihat dilayar kaca setiap hari, dan tak jarang menimbulkan keputusasaan.

Bila dikaitkan dengan Ramadhan, karena proklamasi 17 agustus 1945 pun dilaksanakan pada Ramadhan, apakah kita sudah mengingkari begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan bagi Indonesia. Dalam pembukaan UUD 1945, kemerdekaan kita adalah BERKAT RAHMAT ALLAH SWT. Tetapi mungkin secara nyata kita telah mengingkari berkat dan rahmat-Nya.

Begitu banyak PR yang harus diselesaikan bangsa ini. Belum lagi soal kedaulatan wilayah yang mulai diusik – usik si tetangga melayu. Mereka berani menahan petugas Republik Indonesia yang menangkap Nelayan dari negeri Jiran yang secara nyata melewati batas wilayah dan berada diwilayah Indonesia tanpa izin. Ini adalah yang keberapa kali mereka melecehkan kedaulatan Indonesia. Belum lagi soal kebudayaan Indonesia yang terus mereka klaim. Kita hanya melakukan teguran, perundingan, seperti langkah kita tidak tegas. Kita seakan tidak punya keberanian untuk sesekali menghardik mereka, sesekali membentak mereka, sesekali memperingatkan mereka dengan keras. Kita perlahan menuju bangsa yang lemah.

Kita terlalu mendongakkan kepala kita bila bertemu bangsa lain. Melihat mereka dengan segala kekaguman, padahal belum tentu mereka hebat. Alih – alih memandang mereka sejajar, kita lebih dahulu menyanjung mereka. Mengganggap mereka hebat, padahal anak bangsa pun banyak yang hebat dan berprestasi. Kita terlalu sering menundukkan kepala bila bertemu bangsa lain.

Ah entahlah, jika tulisan ini saya teruskan masih banyak uneg – uneg saya. Namun semuanya acak – acakan susah untuk dikeluarkan. Satu hal yang pasti dibalik semua permasalahan tersebut, masih banyak rasa optimis yang muncul dalam hati bahwa bangsa ini akan menjadi kuat dan memperbaiki semua permasalahan yang masih terjadi.

Cinta terhadap Republik ini masih banyak, walau dilayar kaca masalah – masalah tetap datang, tapi tak satu pun melunturkan kecintaan saya terhadap Republik ini. Begitu pula saya masih melihat banyak rasa cinta yang ditumpahkan untuk Ibu Pertiwi.

Dirgahayu Indonesia, Bangkitlah Bangsaku.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s