Sang Jendral, Eduard Ivakdalam

Di era sepakbola Indonesia jaman sekarang agaknya sulit mencari pemain yang loyal sampai menghabiskan bermusim – musim membela satu klub walau banyak tawaran datang dari klub lain. Hanya ada satu pemain yang mampu menghabiskan 16 tahun mengabdikan dirinya bagi klubnya. Dia adalah Eduard Ivakdalam, Sang Jendral Persipura Jayapura.

Ditemukan Tumpak Sihite saat melatih Persipura Jayapura, Edu, panggilan akrabnya, langsung tidak bisa dilepaskan dari Persipura. Pesepakbola kelahiran Merauke 19 Desember 1974 ini mengisi pos tengah sebagai playmaker yang juga mampu bertahan sama baiknya. Dia pun sering menjadi algojo tendangan bebas atau penalti. Ciri khasnya adalah tendangan kaki kiri yang akurat dan mobilitas tinggi. Singkat kata, kualitas teknik Edu sangatlah mumpuni.

Banyaknya tawaran yang datang bagi pemain bernomor.10 ini tidak menggoyahkan ketetapan hatinya untuk tetap setia kepada Persipura. Dari tahun 1994 – 2010, Edu tetap menjadi playmaker Persipura. Pergantian pelatih pun tidak membuat posisinya tergeser, setiap pelatih yang datang ke Persipura tetap mengandalkan jasa pemain yang sebelumnya membela PS Merauke dan PS Maren Jayapura.

Tak aneh ban kapten tim mutiara hitam pun melekat dilengan Edu. Kepercayaan Persipura kepadanya dibalas dengan torehan prestasi. Kala ikut membawa Persipura menjadi juara Liga Indonesia pada tahun 2005 dan 2008. Tiga kali runner up Copa Dji Sam Soe pada 2006, 2007, dan 2008 juga menghiasi catatan karir pemain yang mempunyai dua anak ini, Denilson dan Donadoni Ivakdalam.

Sebagai pemain timnas Indonesia dari tahun 1996 – 2003, Edu ikut menyumbangkan medali perak bagi Indonesia pada gelaran Sea Games 1997 di Jakarta. Turnamen yang pernah diikutinya bersama timnas adalah Piala Asia 1996, Sea Games 1997, Piala Asia 2000. Terakhir prestasi pribadinya adalah penghargaan Fair Play Award pada musim 2009/2010.

Namun tak ada yang selamanya abadi. Edu pun harus mengucap perpisahan kepada Persipura. Karena musim depan Edu tak akan lagi membela Persipura. Pemain berusia 36 tahun ini bergabung dengan Persidafon Dafonsoro di divisi utama. Panggung ISL 2009/2010 adalah panggung terakhir Edu bersama Persipura.

Saya yakin, termasuk saya, banyak penggemar Sepakbola Indonesia yang akan rindu pada kehadirannya. Karena Edu telah menancapkan namanya di pentas sepakbola nasional sekian lama. Bagi saya, Persipura tak bisa dilepaskan dari Edu dan begitu juga sebaliknya. Memang Persidafon masih akan tampil di Piala Indonesia dan siapa tahu bisa promosi ke ISL musim depan. Edu bagi saya adalah tetap mutiara hitam. Inilah hidup ada perjumpaan dan perpisahan.

Farewell General, semoga berjumpa kembali.

*dari berbagai sumber*

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s