Mbah Petruk

Foto diatas seperti kita ketahui adalah foto dari letusan gunung Merapi baru – baru ini. Foto yang diambil oleh Suswanto pada hari Senin, 25 November 2010 ini memang mirip kepala wayang berhidung panjang atau lebih dikenal dengan tokoh petruk.

Petruk, yang dalam cerita pewayangan didaerah sunda dikenal dengan nama Dawala dan dalam setiap kemunculannya selalu humoris dengan tingkah laku polos dan mempunyai hidung panjang, ternyata sangat berbeda dengan kepercayaan masyarakat sekitar gunung Merapi tentang Petruk.

Mbah Petruk dalam mitos gunung Merapi diyakini sebagai salah satu penghuni gaib gunung Merapi. Tugas mbah petruk adalah memberikan wangsit tentang kapan gunung Merapi akan meletus termasuk memberi kiat – kiat kepada masyarakat agar selamat.

Ini cuma mitos yang tidak boleh dipercayai. Bahkan Sri Sultan Hamengkubowono X terkesan sudah tidak mempercayai hal – hal mistis semacam itu dengan memberikan komentar Pinokio pun hidungnya panjang.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel yang dimuat diharian Republika karya Susiyanto dengan judul “Misteri Mbah Petruk”. Disinilah saya mendapatkan versi yang berbeda tentang mbah petruk.

Masyarat Cepogo dan Selo ternyata mempunyai versi sendiri tentang Mbah Petruk. Dalam versi mereka Mbah Petruk adalah sebutan bagi seseorang yang bernama asli Kyai Handoko Kusumo. Kyai Handoko adalah penyebar agama Islam diwilayah sekitar Merapi pada tahun 1700-an. Kyai Handoko ini keturunan arab. Kyai Handoko mempunyai postur tubuh yang agak bungkuk. Karena hidungnya mancung maka beliau diberi sebutan “mbah petruk” oleh masyarakat sekitar.

Dalam versi masyarakat Selo. Kyai Handoko atau tenar dengan sebutan mbah petruk adalah seorang anak pejabat dikawasan itu. Keterangan terpisah lainnya menyebutkan kemungkinan kyai Handoko adalah generasi kedua murid Sunan Kalijaga.

Perjuangan Kyai Handoko dalam menyebarkan agama Islam tidaklah mudah. Karena kepercayaan masyarakat sekitar kepada hal – hal mistis sangatlah tebal. Adanya sinkretisme antara agama Kapitayan dan aliran Bhairawa Tantra adalah salah satu tantangannya. Aliran ini sudah menyatu dengan mantra – mantra Jawa Kuno dan kepercayaan terhadap tukang sihir. Penobatan raja – raja Jawa pun dilakukan dengan percampuran ritual tantra dan dicampur dengan sihir serta ajaran rahasia.

Agama Kapitayan adalah keyakinan masyarakat Jawa sebelum proses Indianisasi yang meliputi perkembangan Hindu dan Budha.

Sedangkan Bhairawa Tantra adalah aliran kepercayaan pada abad ke 6 M di Benggala Timur. Inti dari ajaran ini adalah penghambaan kepada hawa nafsu. Hawa Nafsu tidak dikekang dan dikendalikan justru harus diikuti karena jika nafsu terpuaskan maka pencerahan pun akan didapatkan. Aliran ini meniadakan moral.

Percampuran antara Kapitayan dan Bhairawa Tantra di Merapi memunculkan ritual pengorbanan manusia dikawah Merapi. Ini pula yang menjadi tantangan Kyai Handoko pada masa itu.

Kembali ke persoalan Mbah Petruk. Perjuangan Kyai Handoko menyebarkan agama Islam ternyata dinodai oleh kepercayaan masyarakat tentang kematian Kyai Handoko.

Karena makam Kyai Handoko tidak diketahui dimana letaknya dan menurut kabar diperkirakan meninggal dikawasan Gunung Bibi, kawasan yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar, justru diprediksi menimbulkan anggapan spekulatif bahwa Kyai Handoko itu moksa.

Anggapan inilah yang sangat disayangkan. Hanya karena makamnya tidak diketahui maka Kyai Handoko pun “dirugikan” dengan dikatakan moksa. Perjuangannya menyebarkan Islam seakan dilupakan.

Memang antara Mbah Petruk dalam mitos merapi dengan mbah petruk julukan Kyai Handoko, adalah sesuatu yang BERBEDA, TIDAK SAMA. Tidak boleh dihubung – hubungkan. Yang satu adalah mitos penunggu merapi sedangkan yang satu benar – benar nyata dan berjuang menegakkan Islam. Kesamaannya adalah lokasi Merapi saja.

Justru salah satu perjuangan Kyai Handoko adalah membebaskan masyarakat dari hal – hal mistis. Inilah yang harus terus digelorakan dan dilanjutkan. Karena sampai sekarang mitos – mitos itu masih hidup.

sumber : HU.Republika (18-11-2010), http://www.thephenomenon.wordpress.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s