Menjelajah Waktu

Saya selalu membayangkan hidup pada era 60, 70 dan 80an. Jika doraemon ada disini pasti saya sudah menemuinya dan minta keajaiban dari kantong ajaibnya. Saya bakal minta mesin waktunya mengantar ke tahun – tahun tadi. Plus saya bakal pinjam jubah tak terlihatnya Harry Potter. Karena saya datang dari masa depan dan lebih baik tidak terlihat ketika kembali ke masa lampau. Tidak terlihat menimimalkan resiko mengubah catatan sejarah dan waktu. Jadi saya pun bisa bebas foto – foto dan merekam apa yang terjadi pada masa lampau.

Saya akan mengambil cuti 1 minggu saja lepas dari rutinitas kantor dan menikmati perjalanan liburan ke masa lampau. Tak perlu banyak – banyak bekal cukup kamera saja. Bekal uang pun tak perlu karena gambar uang masa kini beda dengan jaman lalu. Bisa dibayangkan jika saya ceroboh belanja, dan suatu saat dimasa depan seorang kolektor uang kuno kaget karena dia mendapatkan uang kuno yang mirip sekali dengan uang masa kini. Mungkin dia berpikir itu adalah protoype uang masa kini dan langsung berkoar – koar di internet dan media bahwa dia memiliki prototype uang masa depan. Saya hanya akan senyum – senyum saja andai itu terjadi.

Tapi sebelumnya ke tukang jahit langganan, saya akan minta dibuatkan celana cutbray. Mode pakaian pun harus disesuaikan jangan terlalu mencolok berbeda, walau gaya busana masa kini kembali mencontoh busana masa 60, 70 dan 80an. Terus saya akan beli kemeja polos mirip yang biasa dilihat difilm – film yang bercerita pada masa lalu. Kacamata hitam dengan frame besar sudah punya jadi tak usah beli lagi. Rambut? ah kayanya model plontos aman – aman saja untuk perjalanan lintas jaman. Atau kalau ga saya akan mencontoh “seragam” the beatles saja untuk tetap ” stay out of sight “.

Saya akan banyak menggunakan kata “bung” sebagai sapaan pada semua orang yang ditemui. Gaya bicara seperti ” ya iyalah” atau “O em Ji”, harus sedikit dihilangkan. Saya mesti blend in dengan jaman itu.

Perjalanan pertama saya adalah Bandung. Rasanya akan menyenangkan melihat kedua orang tua saya dalam masa muda mereka. Jaman mereka masih Pedekate hehehe. Saya akan lihat kakek dan nenek saya yang waktu itu masih berumur antara 30-40 tahunan. Melihat rumah dijalan Kopo pada masa itu. Melihat kakek saya masih berdinas di ABRI dan melihat paman dan bibi saya ketika mereka masih muda dan kecil hehe. Pasti menyenangkan. Tapi saya harus jaga jarak kalau bisa cuma meneropong saja dari jauh. Bagaimana jadinya bila mereka melihat saya waktu itu dan masa kini ketika mereka melihat saya mereka bilang ” kok mirip orang yang dulu suka nongkrong sambil neropong diseberang jalan rumah kita?” wah membahajakan.

Sengaja saya bawa radio kecil. Pasti asyik mendengarkan koes plus, the rollies, god bless sepanjang hari. Ketika musik – musik di nusantara masih ada dalam tahap awal industri. Rasanya akan sangat beragam. Rock n roll masih akan sering terdengar tak seperti jaman sekarang dimana band pop dianggap rock star. Rock n roll sudah mulai kehilangan makna.

Saya akan datangi berbagai konser musik. Tak cuma di Indonesia. Dengan mesin waktu saya akan berangkat ke luar negeri, untuk menonton Janis Joplin, Jimi Hendrix, Rolling Stones, Deep Purple, Black Sabbath dan banyak lagi. Rock n Roll all day long. Satu yang tidak akan saya lewatkan tanggal 4 dan 5 Desember 1975 ketika Deep Purple mengguncang Senayan.

Kehidupan pada jaman itu menyehatkan. Kendaraan belum banyak berlalu lalang. Tidak seperti jaman sekarang dengan uang ratusan ribu bisa mendapatkan motor. Udara akan terasa sejuk, bernapas pun enteng tak bersaing dengan CO2 yang bertebaran diudara. Hutan masih lebat, pepohonan masih rimbun.

Tidak ada Handphone. Tidak ada dering SMS dan telepon ketika kita ingin sejenak sembunyi dari hiruk pikuknya hidup. Bebas kemanapun melangkah, tanpa banyak orang tahu. Tak ada beban ketika sengaja mematikan handphone karena tak ingin diganggu, dan tak ada beban ketika pulsa mulai habis. Hidup rasanya lebih nikmat tanpa kekangan teknologi. Telegram rasanya cukup untuk berbagai kepentingan darurat.

Saya lihat ketika bangsa ini masih berjaya tak dipandang remeh bangsa lain. Ketika bangsa ini masih jadi sumber inspirasi dan kekuatan bagi bangsa – bangsa lain. Saya lihat kejayaan olahraga kita. Ketika lawan dibuat ketar – ketir ketika atlet Indonesia menjadi lawan tanding mereka.

Time travelling saya akan diakhiri dengan kembali pada hari saya dilahirkan pada tahun 1983. Tapi saya hanya akan diam diseberang jalan rumah sakit bersalin “bahagia”. Tapi jika saya baru dilahirkan kenapa saya dalam wujud dewasa bisa hadir pada hari kelahiran saya. Itulah misteri waktu. Tapi jika saya berubah pikiran maka saya akan memilih perjalanan terakhir saya di Jakarta tahun 1987 ketika Indonesia untuk pertama kali merebut emas sepakbola di Sea Games.

Sampai ketika saya melangkahkan kaki ke kantor pada hari pertama setelah cuti lintas jaman. Saya akan pamerkan foto – foto menjelajah waktu. Tapi respon teman – teman paling hanya ” bagus tuh ngedit fotonya, pake software apa?” . Sial!!!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s