Analisis : Kalah Mental Indonesia Kalah, Nurdin Kurang Bijak

Masih terasa kekecewaan, kesedihan dan kekesalan akibat kekalahan 0 – 3 dari Malaysia di Bukit Jalil Minggu kemarin. Beres pertandingan, Pelatih Indonesia, Alfred Riedl, mengatakan bahwa peluang Indonesia tinggal 5 – 10 persen saja. Walau menang dengan skor 3 – 0 lewat waktu normal masih terbuka.

Riedl mengakui konsentrasi pemain buyar saat gol pertama Malaysia terjadi. Gangguan laser sudah menjadi pemecah konsentrasi apalagi saat Safee membobol gawang Markus, pemain Indonesia malah semakin kacau dalam bertahan. Riedl dalam pernyataannya akan segera berbicara dengan pemain bertahan Indonesia tentang apa yang terjadi di Bukit Jalil lusa kemarin. Hal yang Riedl juga akui bahwa permainan Indonesia kalah dan Malaysia lebih baik.

Ditengah kesedihan saya berusaha melihat kenapa kita bisa kalah kemarin. Satu hal yang pasti adalah kita sudah kalah mental terlebih dahulu. Malaysia lewat skuad dan suporternya sukses mengintimidasi para pemain Indonesia. Menjalani semua laga di kandang dari penyisihan grup sampai semifinal memang merugikan. Kita tak punya pengalaman bermain tandang. Sedangkan Malaysia menjalani 4 partai tandang. 3 partai di Jakarta dan 1 partai di Vietnam. Mental mereka sudah teruji.

Lihatlah pada awal pertandingan saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Keanehan saya tangkap. Pemain Indonesia yang saling berangkulan berdiri sejajar tidak semuanya ikut menyanyikan Indonesia Raya. Ada yang terdiam bahkan ada yang tampak bingung. Satu ekspresi yang terlihat dari semua pemain adalah GUGUP. Apalagi ditengah gemuruh suporter Malaysia, bikin nyali tambah ciut.

Pertandingan dimulai. Indonesia sebetulnya bisa mengendalikan tempo sampai menit – 50 babak kedua. Para pemain masih bisa menjaga kedisiplinan. Walau peluang kita minim untuk mencetak gol. Momentum ada pada Indonesia saat babak kedua dimulai. Gol offside Gonzalez dan tembakan keras Ahmad Bustomi cukup untuk membuat gentar Malaysia.

Namun akhirnya semuanya berubah saat protes sinar laser terjadi. Kiper Markus Haris Maulana tampak begitu semangat untuk keluar dari lapangan. Memang sejak dari babak pertama gangguan sinar laser sudah terjadi pada Markus, seperti halnya gangguan kepada kiper Vietnam, Binh Trandh Tuong.

Disini saya juga melihat tampaknya disisi lain ada keinginan dari pihak Indonesia untuk menang WO. Ketua PSSI, Nurdin Halid, sudah mengisyaratkannya jauh – jauh hari. Bahwa jika suporter Malaysia bermain laser, maka Indonesia akan Walk Out.

Tapi apakah hal itu benar? sejauh yang saya tahu bahkan FIFA pun tidak memerintahkan sebuah pertandingan berhenti jika suporter satu kubu menyerang para pemain lawan dengan sinar laser. Bahkan dalam situs FIFA masalah laser kemarin hanya menjadi informasi dalam berita. Tidak ada tindak lanjut apa – apa. Jika ya, tentu Malaysia sudah dihukum karena hal ini juga terjadi saat semifinal leg 1 lawan Vietnam.

Dalam tatanan Fair play Sinar laser dilarang. Tetapi tidak akan mengganggu jalan sebuah pertandingan apalagi sampai dihentikan. Ucapan Nurdin Halid mungkin dalam segi Fair Play. Tapi harusnya ucapan ini tidak keluar begitu saja. Karena dengan kejadian sinar laser saat pertandingan berjalan kemarin, pemain bisa saja mengharapkan pertandingan dihentikan dan langsung menang WO atas Malaysia.

Setelah protes kemarin, permainan Indonesia langsung berubah. Konsentrasi buyar dan permainan kacau. Tertekan secara mental dan pemain kita makin sulit keluar dari tekanan. Psy war Malaysia berhasil. Pelatih Persib Bandung, Daniel Roekito, dalam Pikiran Rakyat terbitan hari ini ( 28 / 12 ), menyebutkan seharusnya pemain tidak usah memperdulikan gangguan sinar laser dan protes untuk menghentikan pertandingan.

Paling banter hukuman akibat sinar laser dari suporter adalah kerugian pertandingan tanpa penonton bagi tim dari suporter tersebut pada pertandingan berikutnya dan denda. Tidak ada perubahan hasil pertandingan dan tidak ada menang WO.

Kembali soal kalah mental. Permainan Indonesia tidak berkembang karena mental down. M.Nasuha dan M.Ridwan tidak lincah seperti biasanya. ketika mereka memegang bola, mereka berlama – lama dan terlihat berpikir kemana bola harus dikirimkan. Apalagi setelah kalah 0 – 1, pemain tengah dan belakang kehilangan fokus. Pemain Malaysia dengan bebas mengobrak – abrik pertahanan kita.

Ketika kita mencoba membalas, kita sudah kehilangan momentum. Malaysia semakin percaya diri, sedangkan kita ingin buru – buru mencetak gol.

Persoalan mental ini harus segera dibenahi. Karena kita harus mengejar defisit 3 gol. Mudah – mudahan puluhan ribu suporter setia Merah Putih bisa memberikan energi hebat bagi para pemain Indonesia nanti.

Riedl setelah kekalahan ini mengatakan bahwa agenda pemain sekarang adalah berlatih dan berlatih. Menganalisis, menyadari dan membenahi semua kesalahan kemarin. Tidak ada lagi acara makan – makan, foto – foto dan menghadiri beberapa undangan. Pemain harus fokus. Sebelum pertandingan pertama melawan Malaysia memang para pemain disibukkan dengan agenda – agenda non teknis. Kehilangan fokus menjadi akibatnya. Padahal kita belum juara sama sekali.

Peluang menjadi juara Piala AFF untuk pertama kali masih ada. Sulit tapi tak ada yang tak mungkin. Berdoa dan berusaha selalu menjadi kunci. Semoga di GBK besok ( 29/12 ) Indonesia bisa balas menghajar Malaysia dengan skor 5 – 0.

Amin Ya Rabbal A’lamin.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Analisis : Kalah Mental Indonesia Kalah, Nurdin Kurang Bijak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s