LPI vs PSSI : Perbaikan atau Kehancuran ( adakah aroma politik ?)

slogan LPI

LPI akhirnya melaju terus. Setelah akhirnya izin keramaian dari kepolisian dikantongi. Partai perdana LPI antara SOLO FC vs Persema Malang akan terlaksana sesuai jadwal hari Sabtu, 8 Januari 2010 di Stadion Manahan Solo.

PSSI semakin pening karena PSSI Pengcab Solo justru ikut – ikutan mendukung LPI. Melalui Ketua pengcab yang sekaligus Wakil Walikota Solo, Rudi Hadyatmo, menyatakan kesiapan menggelar laga – laga LPI dan mendukung LPI.

LPI menawarkan konsep klub mandiri tanpa APBD. Apakah konsep ini baru? TIDAK !!. PT.Liga Indonesia telah berusaha menerapkan konsep ini sejak 2 tahun lalu di Liga Super Indonesia. Persib Bandung dan Arema Malang kini adalah 2 klub yang sejauh ini bisa dibilang hidup dengan sokongan sponsor. Konsep ini sudah coba diterapkan hanya dalam pelaksanaannya lebih banyak dispensasi. PSSI lebih banyak menoleransi klub – klub yang belum mampu hidup tanpa APBD, efeknya belum ada klub yang murni tanpa APBD.

Pembagian uang dari sponsor utama Liga juga sudah pernah dilakukan di LSI, walau besarannya tidak sebesar apa yang ditawarkan LPI. Pembagian subsidi ini baru dimulai lagi pertengahan 2010 setelah LPI mulai ramai.

Dalam hal penegakan peraturan dan sportivitas LSI banyak penyimpangan. Persebaya merasakannya musim lalu karena “dipaksa” degradasi setelah kemenangan WO mereka atas Persik Kediri dianulir. Seharusnya kemenangan WO Persebaya tidak bisa dianulir. Karena sesuai peraturan Persik kediri tidak bisa menggelar pertandingan dan oleh karena itu dikenai kalah WO. Keputusan ini tidak bisa dibanding seharusnya. Namun Persik mengajukan banding dan keputusan pun dianulir.

Aroma skenario penyelamatan sebuah klub yang seharusnya terdegradasi, ada dibalik cerita ini. Bukan Persik yang diselamatkan karena musim ini Persik ada di divisi utama, bukan pula Persebaya.

Kepindahan Persebaya, Persema, Persibo dan PSM bukanlah hal yang aneh, setelah mereka lelah dengan segala penyimpangan yang ada di LSI.

Juga bukan rahasia segala keputusan dan hukuman Komisi Disiplin PSSI terhadap pelanggaran terhadap peraturan sepakbola di Liga Super Indonesia, bisa dinegosiasikan dengan ketua umum, Nurdin Halid. Jika klub atau pemain dihukum atas sebuah pelanggaran, tinggal “sowan” saja ke ketua umum, dijamin hukuman akan dihapus.

Kepindahan 3 klub peserta ISL adalah tanda hilangnya harga diri PSSI sebagai sebuah lembaga tertinggi sepakbola. Siapa yang menyebabkan lembaga ini kehilangan harga diri?

Tak lain tak bukan, sikap Nurdin Halid Cs sendiri yang menyebabkan PSSI kehilangan kredibilitasnya.

LPI sendiri juga salah. Secara etika Arifin Panigoro salah!!. Arifin Panigoro cs sudah menawarkan konsep LPI sejak pra – musim LSI. Siapa yang ditawari oleh mereka? Klub – klub ISL. Secara kasar, Arifin Panigoro cs coba membajak klub – klub untuk pindah ke LPI ketika kompetisi telah berlangsung. Faktor kesalahannya adalah ketika Arifin Panigoro tidak pernah duduk satu meja dengan PSSI menawarkan konsepnya. Tidak langsung ke klub – klub.

Mungkin Arifin Panigoro sudah hapal karakter Nurdin Halid tapi etika tetap harus dilaksanakan. Jangan memandang Nurdin Halid tapi pandanglah PSSI lembaga sah diakui FIFA dan AFC mengatur persepakbolaan Indonesia.

Apa jadinya jika semua klub pindah ke LPI dan LSI kosong ditinggal peserta. Sedangkan LSI adalah kompetisi resmi terdaftar di FIFA. FIFA pasti turun untuk menginvestigasi. Bagaimana pula kontrak sponsor di LSI. Harusnya secara etika ada diskusi dahulu antara Arifin Panigoro cs dan Nurdin Halid cs. Tidak langsung mengajak begitu saja.

Dalam sebuah wawancara di Metro TV, Jubir LPI mengibaratkan LPI sebagai anak PSSI. Seharusnya sang anak silaturahmi kepada PSSI, bukan kemudian mencoba menggoyahkan PSSI.

Sekali lagi pandanglah PSSI. Ketua Umum PSSI sekarang memang Nurdin Halid, tetapi Nurdin Halid bukanlah pemilik PSSI. PSSI itu mengurus sepakbola Indonesia. Sepakbola milik rakyat. Secara tak langsung PSSI milik rakyat.

Konsep – konsep LPI ada yang baru dan ada yang lama. Apa yang harus ditekankan adalah konsistensi pelaksanaan konsep. Itulah yang hilang dari Liga Super Indonesia.

LPI ingin menjadikan klub sebagai industri. Konsep yang sering ditemui di liga – liga Eropa. Pada akhirnya konsep ini mengutamakan kekuatan modal. Lihat apa yang terjadi di liga Inggris sekarang. Klub dengan mudah berganti pemilik. Tak jarang karena ini pula banyak klub yang akhirnya bangkrut. Karena para pengusaha yang membeli klub menjadikan klub sebagai ladang usaha baru. Sepakbola pada akhirnya juga melupakan pembinaan, dengan kekuatan uang, banyak bintang – bintang sepakbola didatangkan. Tidak aneh satu klub liga Inggris bisa sampai memainkan 9 atau 10 pemain asing, menyisakan satu tempat untuk satu pemain asli Inggris, bahkan kadang tidak menyisakan satupun. Inilah yang harus juga dikaji oleh tim Liga Primer Indonesia.

Aroma Politik ( Prediksi )

Saya sangat menyesalkan sikap Menpora, Andi Mallarangeng, yang terang – terangan mendukung LPI. Seharusnya sebagai institusi pemerintah, Menpora bisa menjadi penengah dalam konflik ini. Duduklah bersama Arifin Panigoro, Nurdin Halid, dan Ketua KONI, Rita Subowo, diskusikan hal ini.

Andi Malarangeng ingin ada reformasi di sepakbola, tapi dia juga harus ingat kapabilitasnya sekarang. Seharusnya dia menjadi penengah antara 2 kubu.

Liga Super Indonesia sebagai kompetisi resmi terdaftar di FIFA dan AFC kini gembos. Hal ini bisa saja mengundang FIFA untuk turun tangan, apa jadinya jika mendapati Menteri Olahraga lebih mendukung LPI. Bukankah Menpora adalah tangan pemerintah. Sedangkan campur tangan pemerintah dalam persepakbolaan adalah “haram” bagi FIFA. Karena itu pula PSSI bersifat independen. Walaupun para pengurusnya mungkin tidak independen.

Tetapi sikap Andi bisa dimaklumi. Kenapa? karena Liga Primer Indonesia adalah buah dari Kongres Sepakbola Nasional yang digagas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Andi adalah kader partai Biru, karena itu keputusannya mendukung LPI bukanlah hal aneh.

Sasaran Kongres Sepakbola Nasional dan LPI sebenarnya adalah Nurdin Halid. Jalur yang ditempuh untuk mencapai sasaran ini diluar sistem yang berlaku. Kredibilitas PSSI yang sudah turun, semakin turun dimata masyarakat oleh adanya LPI.

Siapa yang jadi pendukung Nurdin Halid?. Pada ramainya pergelaran AFF kemarin, jelaslah Ketua Umum partai Kuning, Aburizal Bakrie, ada dibelakangnya. Nirwan Bakrie dan Iman Arif ( Bakrie Group ) pun ada dilingkaran PSSI.

Dengan melihat fakta ini, saya takut. Ketakutan saya adalah semua isu reformasi sepakbola ini adalah pepesan kosong belaka. Dibalik LPI vs PSSI adalah pertarungan dua kubu politik.

Bukan rahasia jika partai biru dan partai kuning saling bersaing dalam memperebutkan kekuasaan.

Arifin Panigoro sendiri mantan politikus partai merah. Pusing jika melihat kepada semua fakta ini. Politik telah menemukan lahan terbaru untuk bertanding yaitu kursi ketua umum PSSI.

Reformasi sepakbola bisa saja dijadikan media persaingan. Pada akhirnya tak ada reformasi sama sekali. Keadaan bisa begini – begini saja.

Satu yang lebih saya takutkan adalah condongnya pemerintah kepada LPI. Saya sudah dibilang diatas FIFA mengharamkan intervensi pemerintah kepada lembaga pengurus sepakbola. Jika ini yang kemudian dibaca oleh FIFA maka siap – siaplah Indonesia dihukum dari pentas internasional. Semoga saja tidak terjadi.

Sekali lagi, berunding dan berdiskusilah untuk kedua pihak. Korban nyata dari Konflik ini yaitu pemain dan pelatih. Jangan sampai ada korban terbesar yaitu masyarakat Indonesia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s