Catatan Sepakbola Minggu Ini ( LPI )

Ehm sudah beberapa hari saya tidak menulis sesuatu. Agak blank dalam otak saya padahal banyak peristiwa yang terjadi baik yang terlihat maupun terbaca.

Salah satu yang ingin saya tulis adalah tentang Liga Primer Indonesia ( LPI ). Isu hot dibalik berjalannya LPI sudah mulai mereda. Beberapa petinggi PSSI pun sudah tak mulai ambil pusing. Nirwan Dermawan Bakrie, Wakil Ketua PSSI, adalah diantaranya. Menurutnya, seperti yang dilansir Tabloid Bola edisi 2.146, bahwa biarkan LPI berjalan sebagai tontonan tambahan bagi masyarakat. Baginya LPI adalah liga hiburan saja.

Profesionalisme yang diusung LPI pun masih dalam tahap dipertanyakan. Setidaknya tahun ini adalah tahun pembuktian bagi mereka. Klub – klub LPI memang tidak didanai APBD tetapi didanai oleh Arifin Panigoro seorang. Ini melanggar statuta FIFA artikel 18.2 yang melarang satu orang memiliki lebih dari satu klub. Selain itu para pemain yang ikut di LPI dikontrak oleh klub dan LPI. Konsorsium LPI bisa dibilang memiliki semua pemain di LPI. Ini juga salah.

Klub – klub yang diberi dana 15 – 40 Miliar untuk mengikuti LPI diwajibkan mengembalikan dana tersebut dalam jangka waktu 4 – 7 tahun. Bukan hal yang mudah, apalagi hampir semua klub LPI adalah klub yang baru dibentuk ataupun klub pecahan dari klub yang mengikuti kompetisi PSSI. Tidak ada perhitungan ekonomi yang matang disini. Apalagi untuk musim pertamanya, konsorsium LPI yang mendrop tiket pertandingan penonton untuk semua klub. Dengan animo masyarakat yang turun terhadap LPI tentunya, untuk mengembalikan modal adalah hal yang sulit. Kesulitan menggaet sponsor adalah juga kendala yang lain. Bagaimana jika klub kemudian kolaps, karena mencari sponsor tidak semudah membalik telapak tangan.

Klub – klub baru ini belum mempunyai basis suporter yang besar. Wajar masih baru. Persema, Persebaya 1927, PSM, Persibo adalah klub – klub yang memang telah mempunyai basis suporter fanatik sebelumnya. Bagi mereka nampaknya tidak sulit untuk menjual tiket pertandingan, beda dengan klub baru yang masih harus menanamkan image dan mencuri perhatian masyarakat.

Soal bakat – bakat baru. Nampaknya ditahun pertama akan sulit melihat bintang – bintang baru di LPI. Rata – rata pemain LPI adalah pemain yang sebelumnya bermain di kompetisi PSSI baik di LSI maupun divisi yang lebih rendah. Bahkan beberapa diantaranya sudah termasuk dalam kategori tua. Contoh Joao Bosco Cabral, Yaris Riyadi, dan Kurnia Sandy.

Wasit yang dijanjikan oleh LPI adalah wasit asing. Tapi sampai hari ini saya tidak melihat satupun wasit asing memimpin laga LPI. Bahkan ada yang menurut saya ada wasit yang agak kurang baik memimpin pertandingan saat Real Mataram bertemu Bali De Vata minggu lalu.

Jadwal LPI pun masih acak – acakan mirip Liga Super Indonesia. Ada dua versi jadwal yang pertama jadwal 19 klub dan yang kedua jadwal 20 klub. Jubir LPI mengatakan bahwa soal jadwal masih menunggu satu klub besar Liga Super Indonesia yang katanya akan bergabung. Sampai sekarang belum ada lagi klub yang menyeberang dari LSI. Hanya PSIS Semarang yang menyeberang dari Divisi Utama.

Soal klub besar LSI. Kenapa sampai LPI menunggu klub itu untuk bergabung. Nampaknya, dalam penilaian saya, pihak LPI sadar bahwa dengan klub – klub baru akan sulit mencuri perhatian masyarakat. Apalagi dalam beberapa pertandingan LPI, saya menilai masih kalah seru dari Liga Ti Phone ( Liga Divisi Utama PSSI ).

Tak cukup hanya mengandalkan image Irfan Bachdim untuk mengalihkan minat penonton. Bahkan rating siaran langsung LPI sudah turun. Saat laga pertama Persema vs Ksatria XI Solo FC rating menembus 3.3/22. Sedangkan laga hari berikutnya atau laga kedua antara Persibo vs Batavia Union rating langsung turun menjadi 1.1/11.

Harus disadari bahwa LSI masih seru untuk ditonton walaupun banyak kelemahan – kelemahan, namun LPI masih belum bisa mengalahkan LSI. Tanpa penonton, apalagi suporter fanatik maka roda bisnis akan tersendat baik bagi klub maupun pihak LPI. Harus diakui pula bahwa LPI adalah sebuah bisnis dan investasi jangka panjang.

Ada lagi satu yang menarik. Para pengurus klub di LPI bukanlah wajah – wajah baru. Kebanyakan dari mereka pernah menjadi pengurus di klub – klub yang sebelumnya ikut kompetisi PSSI. Jika dulu mereka selalu protes kepada PSSI soal jadwal yang tak tentu, tapi di LPI mereka tidak pernah protes walau jadwal pertandingan satu musim kabarnya belum jelas.

Kompetisi LPI bernaung dibawah BOPI ( Badan Olahraga Profesional Indonesia ) bentukan Kemenpora. LPI tidak berafiliasi ke PSSI, AFC, dan FIFA. Dengan begitu maka para pemain, pelatih, wasit, berada diluar jangkauan FIFA. Bagaimana seandainya ada kasus hukum seperti masalah kontrak pemain dengan klub, acuan mana yang akan mereka gunakan. Pemain pun tidak bisa melapor kepada PSSI ataupun FIFA karena LPI berada diluar wilayah hukum PSSI dan FIFA. Ini juga yang harus dipikirkan oleh konsorsium LPI.

Tahun ini akan menjadi tahun pembuktian bagi LPI. Apakah mampu mewujudkan semua visi dan misinya? mari kita saksikan bersama.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s