Stop Salahkan Wasit!!

Arsene Wenger, Manajer Arsenal, mengkritik kinerja wasit saat Arsenal ditahan imbang Sunderland 1 – 1, 18 September 2010. Sir Alex Ferguson kecewa terhadap kepemimpinan wasit, Mark Clattenburg pada saat Manchester United ditahan Birmingham 1 – 1, 10 Januari yang lalu. Fergie mengatakan bahwa Darren Fletcher tidak layak diberi kartu kuning kedua karena pelanggaran yang dilakukannya masih dalam batas wajar. Bukan hanya dua manajer top itu saja yang pernah kecewa pada wasit. Tapi hampir semua pelatih papan atas dunia pernah mengkritik wasit, pada kompetisi – kompetisi Eropa yang selalu disebut – sebut sebagai acuan sepakbola dunia.

Liga Super Indonesia ( LSI) penuh dengan kritik dan kekecewaan terhadap wasit. Kasus yang masih hangat, ketika Persib vs Arema, Manajer Persib, Umuh Muhtar, menilai buruk kinerja wasit yang berujung pada rusuhnya pertandingan tersebut.

Liga Primer Indonesia ( LPI ) yang disebut – sebut sebagai liga profesional dan bersih, ternyata tak lepas dari kritikan tajam seputar kinerja wasit. Bahkan kompetisi ini sudah bercitarasa LSI karena pernah terjadi juga pemukulan terhadap wasit oleh pemain Semarang FC, Simon Kujiro.

Semuanya berawal dari ketidakpuasan. Tidak puas karena diperingatkan, dihukum sehingga dikeluarkan oleh wasit membuat pemain kecewa dan tak jarang melakukan tindak penganiayaan terhadap wasit.

Ketidakpuasan karena tim kalah, tak jarang membuat manajer atau pelatih melempar tudingan miring bahwa wasit memihak, wasit tak becus kerjanya.

Ketidakpuasan melihat tim kesayangan kalah, membuat suporter ikut – ikutan menyalahkan wasit karena diberikan contoh oleh pemain dan tim yang didukungnya. Maka tak aneh kita sering dengan koor “wasit goblog”.

Jika kita telusuri lebih dalam, maka ada benarnya suara para korps pengadil yang sering diungkapkan “wasit adalah manusia, bisa benar dan bisa salah”.

Tentunya ingatan kita masih segar, ketika Inggris berhadapan dengan Jerman pada piala dunia 1966. Bola yang jatuh tepat digaris gawang Jerman, disahkan menjadi gol sehingga Inggris keluar jadi Juara Dunia. Hal serupa terjadi kembali saat Inggris kembali bertemu Jerman pada Piala Dunia 2010. Bola tendangan Frank Lampard yang jatuh dibelakang garis gawang Jerman, tak dianggap gol oleh wasit padahal dalam tayangan lambat jelas gol sudah terjadi.

Wasit memiliki beban berat karena dalam hitungan detik mesti membuat keputusan yang sering kali krusial. Dengan pengetahuan tentang peraturan permainan sepakbola dan pengalaman wasit dituntut harus selalu benar. Seorang wasit mempunyai beban dan tekanan berat, tanpa harus dicampuri tekanan eksternal, tugas seorang wasit sudah mencapai batas maksimum. Apalagi jika memang ada tekanan – tekanan pihak luar.

Isu suap menyuap yang sering terdengar pada persepakbolaan Indonesia, semakin menyudutkan wasit. Wasit disatu sisi harus mempertahankan independensi tetapi disisi lain harus berhadapan dengan ancaman. Yang tak kuat tekanan memang ada. Tapi yang kuat tekanan juga masih banyak.

Satu pertanyaan saya, jika memang isu jual beli pertandingan ini benar, kenapa telunjuk selalu mengarah kepada wasit bukan kepada pihak yang menekan wasit?. Memang wasit akan disoroti karena bertugas dilapangan. Tetapi apakah telunjuk kita akan selamanya mengarah kepada wasit? sementara orang – orang keji yang merusak citra wasit dibiarkan begitu saja?.

Isu sulit menang diluar kandang pada pertandingan LSI pun tidak selamanya terbukti. Karena kadang tim tamu berhasil unggul atas tuan rumah. Jika ada pelatih, manajer, pemain, menuding wasit memihak tuan rumah maka seharusnya sebelum menuding mereka menilai diri sendiri dulu. Apakah usaha dilapangan sudah maksimal untuk meraih kemenangan?

Saya akui bahwa kinerja wasit kita masih dalam taraf antara baik – buruk. Tapi tak selamanya dari pertandingan sepakbola Indonesia yang sering saya tonton di TV, wasit menjadi biang kekalahan. Justru kebanyakan permainan buruk sebuah tim yang mengakibatkan mereka kalah. Juga rasanya tak adil jika terus menyalahkan wasit karena kita tahu bahwa mereka walau mempunyai kuasa penuh menjadi pengadil di lapangan namun terbatas. Terbatas dalam penglihatan adalah yang utama. Tak ada ceritanya wasit sampai melihat dulu tayangan ulang sebelum memutuskan hukuman. Juga cepatnya waktu yang ada untuk mengambil keputusan.

Kinerja wasit di Indonesia masih perlu dibenahi. Namun tidak selayaknya telunjuk kita terus mengarah kepada mereka. Kepercayaan, mengembangkan sikap berprasangka baik, evaluasi diri sendiri sebelum bersikap adalah yang harus ditumbuhkan dalam persepakbolaan Indonesia.

Karena penilaian terhadap kinerja wasit dari apa yang terjadi pada pentas sepakbola internasional sampai nasional seringkali bersifat subjektif. Semuanya berangkat dari kekecewaan karena gagal meraih kemenangan.

Berilah wasit ruang dan waktu berbenah. Kontrol terhadap wasit memang harus dilakukan tetapi bukan kontrol yang tak tentu arah.

Stop menyalahkan wasit adalah sebuah langkah untuk membenahi kinerja wasit.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s