Revolusi Semakin Menggelora

Bagaikan penggulingan satu rezim yang sudah berkuasa lama di satu negara, tuntutan terhadap mundurnya Nurdin Halid semakin banyak disuarakan oleh orang – orang yang menginginkan perubahan di tubuh PSSI.

Gagalnya dua calon, Arifin Panigoro dan Jendral George Toisutta dalam proses verifikasi calon ketua umum semakin menambah kekecewaan masyarakat terhadap PSSI.

Alasan gagalnya dua calon tersebut karena dianggap belum memenuhi syarat 5 tahun aktif dalam sepakbola. Padahal George aktif di PS.AD dan Arifin berkecimpung di Liga Medco U-15 walau sebatas sponsor.

Nurdin Halid pun sebenarnya “cacat” karena pernah menyandang status “narapidana” akibat kasus korupsi. Hal ini tidak sesuai dengan statuta FIFA yang melarang orang yang pernah menjadi terpidana ikut dalam pencalonan ketua asosiasi sepakbola. Namun Statuta FIFA ini “dipelintir” oleh Nurdin dan rombongannya. Anehnya Statuta PSSI ini diakui FIFA dan diberi predikat terpuji.

Selain demonstrasi yang semakin marak diberbagai daerah dan dikantor PSSI, kelompok suporter juga membentuk “PSSI TANDINGAN” yang telah dideklarasikan di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu juga dibentuk Indonesian Football Watch ( IFW ) yang diketuai Sumaryoto, calon anggota komite eksekutif PSSI.

Menpora, Andi Mallarangeng, kembali ikut bersuara menuntut Nurdin mundur. Nurdin menanggapi hal ini dengan sebuah somasi kepada Andi Mallarangeng.

Bukan rahasia jika Andi dan Nurdin saling berselisih. Andi mendukung LPI dan menjamin pelaksanaan LPI. LPI dianggap ilegal oleh PSSI. Namun diluar itu nampaknya masih ada hal lain yang menyebabkan 2 orang asal Sulawesi Selatan ini berseteru. Saya sejak lama menengarai pertikaian politik yang ada dibalik Andi vs Nurdin. Inilah pertikaian dua partai politik diranah sepakbola, Demokrat vs GOLKAR.

Demo berjalan terus, revolusi harus terwujud. Namun Nurdin Halid masih tebal muka untuk terus berjalan maju kembali dalam pencalonan ketua umum PSSI. Seperti yang pernah dikatakannya dalam satu media olahraga bahwa dia memulai karir dalam sepakbola tanpa ada yang menyuruh, oleh karena itu tidak ada yang bisa membuat dia berhenti kecuali atas kehendaknya sendiri.

Revolusi dan perubahan memang harus terjadi dalam koridor peningkatan prestasi sepakbola. Tetapi sangatlah disayangkan kalau dibalik semua ini ada rebutan kekuasaan antara dua kubu partai politik.

Wujudkan perubahan..Jauhkan sepakbola dari politik.

*dari berbagai sumber*

foto : http://www.koranbola.info

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s