Nurdin Halid ( Plus Minus )

courtesy of http://www.okezone.com

Kemelut persepakbolaan Indonesia sampai hari ini belum menemukan jawaban pasti. Keinginan masyarakat untuk melihat Nurdin Halid turun dibalas dengan keangkuhan Puang, julukan Nurdin.

Kongres 26 Maret 2011 di Bali nanti diliputi ketidakjelasan setelah komite banding menganulir semua keputusan komite pemilihan yang berarti tidak ada calon ketua umum pada kongres nanti. Kewenangan diberikan kembali kepada PSSI yang berarti Nurdin Cs memegang kendali masa depan PSSI pada 26 Maret nanti.

Demonstrasi terus terjadi seperti di Subang, bola yang ditempeli foto wajah Nurdin ditendang dan dipermainkan. Ini juga terjadi di Medan. Kantor PSSI dikompleks GBK Jakarta setiap hari didemo dan disegel oleh para pendemo yang merupakan para suporter sepakbola Indonesia.

Muncul PSSI tandingan, juga Indonesia Football Watch dan timbul juga gerakan Save Our Soccer. KPK didesak untuk memeriksa PSSI. Setelah gelaran Piala AFF, selain gelora mendukung timnas yang semakin meningkat juga gelombang desakan agar Nurdin Halid turun setiap hari kita lihat. Setiap hari diberbagai media kita disuguhi headline “NURDIN TURUN”.

Menpora, Andi Mallarangeng, yang seharusnya menengahi kemelut malah ikut – ikutan mendukung Liga Primer Indonesia dan ngotot agar Arifin Panigoro dan George Toisutta masuk bursa calon setelah sebelumnya digagalkan oleh komite pemilihan. Ketua Komite Banding, Tjipta Lesmana, menganggap tekanan Andi sudah dapat dianggap “intervensi pemerintah” yang diharamkan dalam asosiasi sepakbola yang berinduk kepada FIFA.

Saya sangat tidak ingin melihat Nurdin Halid memimpin PSSI kembali. Nurdin telah diberikan waktu dari 2003 untuk menakhodai PSSI, saatnya agar PSSI digantikan oleh seseorang yang segar dan baru.

Namun apa yang saya lihat beberapa hari belakangan ini, demo – demo tampaknya bukan hanya menyuruh agar Nurdin turun, tetapi muncul perasaan khawatir jika ini ( usaha menurunkan Nurdin ) sudah didompleng niat perebutan kekuasaan.

Sepakbola itu bak gadis cantik yang membuat mata semua lelaki terpesona. Rasanya tak aneh jika dia kemudian diperebutkan semua lelaki melalui segala cara. Saya semakin khawatir ketika kubu pemerintah lewat Menpora terus mengadakan pressure dan memanfaatkan situasi yang berkembang sekarang.

Melihat demo – demo yang terus terjadi dan tampak kehilangan arah ( didompleng niat meraih kekuasaan) saya mencoba mencatat plus minus seorang Nurdin Halid agar mengingatkan bahwa Nurdin harus turun betul – betul didasari oleh alasan – alasan yang dimengerti.

Memang tidak terlalu menyeluruh namun inilah beberapa plus minus nya :

1. Organisasi

(+) Plus :
– PSSI mempunyai acuan hukum yang berinduk kepada statuta FIFA. Acuan ini sebelumnya tidak dimiliki PSSI.

(-) Minus :
– Sayangnya Statuta PSSI yang berinduk kepada Statuta FIFA dipelintir oleh PSSI agar melanggengkan kekuasaan Nurdin Halid. Dalam penjelasan Artikel 32 Statuta FIFA tentang calon anggota komite eksekutif, FIFA menetapkan bahwa calon anggota tidak pernah dihukum atas tindakan pidana.

Namun Nurdin Halid cs memelintir menjadi ” calon tidak sedang menjalani hukuman pidana saat menjalani kongres”. Jika PSSI tetap pada aturan FIFA, Nurdin sudah pasti terpental.

2.Kompetisi ( Liga Super Indonesia )

(+) Plus :

– Liga Super Indonesia menjadi liga peringkat nomor 8 di Asia.

– Peningkatan standar struktur fasilitas pertandingan setiap musimnya mengacu kepada ketentuan AFC dan FIFA.

– Munculnya Liga Super Indonesia U-21 yang telah berjalan untuk musim ke – 3.

– Animo masyarakat dalam menonton liga Super Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. ANTV sebagai pemegang tunggal hak siar LSI menyebutkan bahwa LSI mempunyai rating yang tinggi.

(-) Minus :

– Wasit terus menjadi sorotan dari musim ke musim. Tidak terlihat adanya upaya serius untuk membenahi problem ini.

– Walaupun PT.Liga Indonesia telah menetapkan aturan agar klub tidak memakai APBD namun dalam prakteknya, penerapan aturan ini tidak tegas. Sehingga klub – klub masih menetek pada APBD. Dalam pengamatan saya hanya 2 klub yang mendapatkan modal dari sponsor / non – APBD: Persib Bandung dan Arema Indonesia.

– Isu – isu suap yang terus berkembang belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Satgas anti suap memang dibentuk PSSI namun belum bisa menyelesaikan masalah. Isu ini terus ada dari musim ke musim.

– Komisi Disiplin dibuat mandul oleh Nurdin Halid. Walau sering menjatuhkan hukuman atas pelanggaran oleh unsur – unsur pertandingan dalam pelaksanaan Liga Super Indonesia, namun dengan mudahnya Nurdin Halid “memaafkan” para terdakwa dan menghapus semua hukuman setelah para pelaku bersilaturahmi kepada Nurdin Halid. Hukum dibuat murah disini.

Bukan bermaksud menyinggung, tapi contoh kasus saja ketika penyerang timnas, Christian Gonzalez dihukum 1 tahun skorsing dari Liga Indonesia pada tahun 2008. Namun Februari 2009, Nurdin Halid mengampuninya, padahal masa hukumannya belum usai.

Marcio Souza, pemain Deltras asal Brazil, musim 2009/2010 di divisi utama bersama Semen Padang kerap melakukan pelanggaran – pelanggaran. Dia kerap memicu perkelahian dengan lawan. Komisi Disiplin menjatuhinya hukuman skorsing 1 tahun sampai 12 Mei 2011.

Tetapi Marcio Souza sudah bermain untuk Deltras Sidoarjo sejak awal Liga Super Indonesia musim 2010/2011.

– Jadwal liga yang kerap dikritik karena amburadul tetap berlangsung dari musim ke musim. Kritikan soal jadwal yang terbaru datang dari pelatih Sriwijaya FC, Ivan Kolev yang kecewa karena jadwal Liga begitu padat padahal Sriwijaya harus tampil di Playoff Liga Champions Asia. Kolev menyayangkan pengaturan jadwal yang ketat sehingga anak asuhnya kehabisan stamina saat harus bermain di Playoff Liga Champions Asia.

– Pelaksanaan hukuman tebang pilih terjadi pada musim 2009/2010. Ketika Persebaya dipaksa turun kasta, padahal telah dinyatakan menang WO atas Persik Kediri yang tidak mampu menggelar pertandingan. Belakangan kemenangan WO dianulir dan Persebaya mesti kehilangan poin. Ujungnya Persebaya terdegradasi.

Hal serupa dialami Persija yang dinyatakan kalah WO akibat gagal mendapat izin pertandingan dari aparat keamanan. Keputusan ini tidak pernah dianulir PSSI.

– Hak siar dan Hak sponsor tidak dibagikan kepada klub. Hanya saja setelah LPI muncul, pembagian ini muncul kembali. Sebelumnya pembagian ini pernah diadakan PT.Liga Indonesia, namun hilang, kemudian muncul lagi saat LPI bergulir.

– Peningkatan kualitas kompetisi berjalan lambat. Peringkat 8 Asia masih sebatas pada kemeriahan penyelenggaraan.

3. Timnas

(+) Plus :
– Program SAD di Uruguay yang merupakan proyek seperti Primavera dan Baretti.

– Masuknya pemain naturalisasi dan pemain keturunan ke skuad timnas.

(-) Minus :

– Tidak ada prestasi baru yang diraih oleh timnas. Paling banter timnas hanya meraih runner up pada Piala AFF tahun 2004 dan 2010.

– Target pencapaian prestasi yang turun. Seperti pada Piala AFF 2010, PSSI hanya mencanangkan target masuk final. Sea Games 2005 PSSI tidak berani memasang target medali emas. Target hanya masuk Final kembali muncul pada Sea Games 2007. Pada Piala AFF Timnas hanya diberi target masuk final. Nampak tidak ada gairah menjadi juara. Juga karena menganggap Thailand dan Singapura terlalu kuat di ASEAN.

– Indonesia gagal ke Piala Asia 2010. Indonesia yang selalu lolos sejak tahun 1996 harus gigit jari karena jadi juru kunci grup di babak kualifikasi.

– Ujicoba untuk mengukur kemampuan timnas tetap minim dari tahun ke tahun.

– PSSI senang menggunakan pelatih eks negara – negara ASEAN. Peter Withe eks pelatih Thailand, Alfred Riedl eks pelatih Vietnam menjadi pelatih Indonesia. Usaha untuk membawa Indonesia jadi juara di kawasan ASEAN dengan menggunakan pelatih yang telah hapal kelemahan dan kekuatan negara – negara ASEAN masih gagal sampai sekarang.

Itulah beberapa plus minus yang sempat saya catat. Memang tidak semua, menyeluruh dan rinci. Namun saya rasa cukuplah bagi kita untuk melihat kenapa NURDIN HARUS TURUN. Mudah- mudahan cukup.

Kemelut yang terjadi hari ini entah sampai kapan. Saya terkesan ketika membaca tulisan Ian Situmorang dalam sebuah artikel tentang kisruh PSSI VS LPI, yang menyatakan filosofi yang dipakai sekarang adalah filosofi layang – layang. Daripada kamu dapat sedangkan saya tidak lebih baik hancur semuanya.

Gejala – gejala ke arah sana sudah terlihat. FIFA menurut kabar akan bersidang menentukan sikap atas “intervensi pemerintah” kepada PSSI. Kita terancam dibekukan dari kegiatan – kegiatan FIFA. Alamat buruk bagi persepakbolaan Indonesia.

Pembekuan bukanlah jawaban yang benar dari semua kemelut ini. Lihatlah Brunei Darussalam yang masih dihukum karena Pemerintah dan BAFA ( Badan Sepakbola Brunei ) masih berseteru.

Keinginan pemerintah dan beberapa pihak melawan kekerasan hati Nurdin Halid bisa saja jadi long ending story yang mengorbankan mimpi semua rakyat Indonesia.

Masih ada jalan yang bisa dipakai yaitu melalui dialog yang didasari hati murni dan keinginan yang sama yaitu memajukan sepakbola Indonesia. Bukan keinginan untuk meraih kekuasaan, melanggengkan kekuasaan atau juga memanfaatkan sepakbola demi politik, yang saya rasa, dimiliki oleh semua pihak yang bertikai.

Kesadaran Nurdin Halid untuk segera mundur tentunya adalah jawaban yang diharapkan semua pihak sebelum vonis FIFA datang. Kesadaran dari semua pihak juga tentunya diharapkan.

Kembali saya teringat tulisan Ian Situmorang tentang drama yang menceritakan dua tokoh yang bersebrangan. Ternyata akhir cerita endingnya tidak jelas karena Sutradara lupa menutup drama padahal dia yang pertama memukul gong mulainya drama, tetapi lupa memukul gong penutup dan cerita pun berlarut – larut dan semakin tidak jelas. Siapa sutradara itu? saya sudah punya tebakan. Silahkan tebak saja sendiri.

Semoga kemelut ini segera usai. Perubahan harus terjadi demi Indonesia berprestasi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Nurdin Halid ( Plus Minus )”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s