Kacau

Sebenarnya saya agak malas untuk menulis kembali kisruh PSSI. Soalnya dari hari ke hari malah semakin tidak jelas arahnya dan tampak seperti sebuah sinetron. Ada air mata, ada kekerasan, ada intimidasi dan lainnya. Kedua belah pihak sama – sama mengedepankan ego.

FIFA sudah mengeluarkan keputusan agar PSSI harus menggelar kongres sebelum 30 April 2011 ini. Selain itu FIFA juga meminta PSSI agar menggelar sidang pleno pada 26 Maret nanti untuk menyusun komite pemilihan dan mengadopsi tata cara pemilihan sesuai standard electoral code FIFA.

Pada hari Selasa, 1 Maret yang lalu, Komisi X DPR – RI telah memanggil PSSI. Nurdin Halid curhat menerima ancaman dari menteri dan meminta perlindungan dari DPR. Selain itu ia mengatakan bahwa mosi tidak percaya yang diajukan 84 pemegang hak suara tidaklah valid. Karena dibuat oleh wakil organisasi yang tidak representatif atau diluar jabatan ketua, wakil ketua dan sekretaris. Bahkan Nurdin menyebutkan peranan militer dalam menekan pemegang hak suara di daerah – daerah.

George Toisutta tidak terima dengan klaim adanya tekanan militer. George menyebutkan bahwa Nurdin tidak cerdas dan mentalnya tidak stabil. George juga menyebutkan bahwa dia lebih terhormat daripada Nurdin jika dilihat dari jabatan.

Sementara kubu KPPN ( Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional ) yang beranggotakan para pemegang hak suara PSSI yang mengajukan mosi tidak percaya dan beberapa klub LPI siap akan menyelenggarakan kongres luar biasa PSSI pada 26 April nanti di Kota Solo. KPPN akan mensahkan George Toisutta sebagai ketua umum dan Arifin Panigoro sebagai wakil ketua umum.

Menpora yang tetap berkelit dari anggapan intervensi terhadap PSSI, ternyata mendukung KPPN dan tidak akan mencampuri KPPN. Padahal lahirnya KPPN hanya akan menambah permasalahan baru bahkan dengan rencana memilih ketua umum dan wakil ketua umum akan melenceng dari keputusan FIFA yang seharusnya menjadi panduan yaitu PSSI harus menggelar kongres sebelum 30 April.

Jika KPPN tetap mensahkan George dan Arifin maka akan ada PSSI tandingan. Sanksi FIFA sudah pasti diturunkan. Seperti di Brunei, BAFA yang merupakan asosiasi yang diakui FIFA, ditandingi oleh organisasi baru bentukan pemerintah.

Jalan keluar paling cepat dari masalah ini tampaknya sudah tidak ada. Karena kedua pihak sama – sama egois, sama – sama ingin kekuasaan, sama – sama menjatuhkan lawan dengan cara yang tidak jantan.

Semangat perubahan di PSSI memang telah disuarakan oleh elemen – elemen suporter sejak jauh – jauh hari bahkan sebelum gonjang ganjing ini terjadi. Namun kini tekad berubah ini sudah jauh dari kemurnian karena didompleng oleh berbagai kepentingan. Yang ada hanyalah pembalasan dendam dan niat mencari kekuasaan.

DPR telah meminta langsung kepada Nurdin Halid untuk mundur karena memang ini jalan yang diharapkan saat ini. Tetapi penggantinya, saya rasa, lebih baik bukan Nirwan Bakrie, George Toisutta ataupun Arifin Panigoro.

Nirwan Bakrie adalah kubu incumbent dan jika dia maju, maka permasalahan hari ini bisa mencuat kembali ataupun terus tak akan ada akhirnya.

George dan Arifin juga sebaiknya tak usah maju. Karena rentan akan aksi balas dendam dan juga jika ditelisik lebih jauh mereka berencana menggabungkan LSI dengan LPI.

Walau LPI mengusung semangat perbaikan tapi kehadirannya merusak tatanan kompetisi yang sudah mapan dengan keluarnya 3 klub dari LSI. LPI selalu menyebut klub – klub pesertanya mandiri. Padahal sampai saat ini belum ada klub LPI yang mandiri karena masih menetek kepada konsorsium LPI. Pembelian pemain oleh klub pun harus disetujui oleh konsorsium karena konsorsium yang keluar uang. Isu perbaikan yang diusung belum terbukti sampai sekarang. LPI lebih banyak dibangun oleh pemain – pemain asing dan pemain – pemain veteran Indonesia.

Jika LSI dan LPI digabung maka akan merusak tatanan yang sudah ada. Klub – klub LSI adalah klub – klub yang telah mempunyai historis yang lama dan melalui tahapan yang berjenjang untuk mengikuti LSI. Klub – klub LPI adalah debutan. Statusnya pun bukan profesional. Karena untuk kontrak pemain dan pelatih pun harus ditentukan oleh konsorsium LPI.

Level LSI adalah liga utama, sedangkan LPI? susah menentukannya karena tidak ada kompetisi dibawahnya.

Selain itu jika digabung maka ini akan menyakiti hati klub – klub divisi utama dan divisi dibawahnya yang berjuang mati – matian untuk tampil dikasta teratas kompetisi sepakbola. Jika klub LPI dengan mudah digabung, maka suporter pun akan tersakiti hatinya, ini rawan memicu perselisihan kembali.

Bukan Nurdin, Nirwan, George ataupun Arifin. Karena keempat tokoh ini sudah terlihat egois dan keras kepala. Kita butuh sosok baru yang tidak haus kekuasaan dan mengerti cara mengurus sepakbola.

DPR mengharapkan semua kubu berdialog karena memang itu yang belum dilakukan sampai sekarang.

Kepada semua kubu, berbesar hatilah dan tekan ego masing – masing. Saya sudah bosan melihat kericuhan ini.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s