Teror Tsavo Maneaters

Semalam kembali menonton salah satu film favorit saya sepanjang masa. Film yang menceritakan keganasan 2 ekor singa memangsa manusia. Kedua singa ini dalam perburuannya selalu bekerja sama, mereka cepat dan kuat. Yang membedakan mereka dengan singa lainnya, adalah mereka memiliki sarang di sebuah gua, dimana mereka membawa korban mereka kesana. Sehingga gua ini dipenuhi kerangka manusia dan binatang. Kedua singa ini bisa dibilang psikopat, karena senang membunuh.

Salah satu adegan dalam The Ghost and The Darkness

Film The Ghost and The Darkness yang meraih penghargaan piala Oscar untuk film thriller dan best sound editing pada tahun 1996. Film yang dibintangi oleh Val Kilmer dan Michael Douglas ini ternyata diangkat dari kisah nyata.

Kisah asli dari film tersebut adalah Tsavo Maneaters ( Pemangsa Manusia dari Tsavo ). Pada tahun 1898 Inggris membangun rel kereta api yang menghubungkan Kenya – Uganda. Saat membangun rel diatas sungai Tsavo, Kenya. Kisah teror menakutkan ini dimulai.

Proyek pembangunan rel di kawasan sungai Tsavo ini dipimpin oleh Lt.Col. John Patterson. Proyek ini memakan waktu sembilan bulan. Selama pembangunan rel tersebut dua ekor singa jantan meneror para pekerja. Mereka kerap menyerang tenda – tenda pekerja India pada malam hari, menarik korbannya dan melahap mereka dihutan. Para pekerja mencoba menakuti kedua singa tersebut dengan membangun pagar semak berduri disekililing tenda pekerja.

Tetapi pagar tersebut tak mampu menahan keganasan kedua ekor singa tersebut. Mereka tetap melakukan serangan dan memangsa satu persatu pekerja. Akhirnya John Patterson mencoba memasang jebakan untuk membunuh kedua ekor singa tersebut. Perangkap itu gagal. Beberapa kali percobaan membidik mereka dari atas pohon juga gagal. Para pekerja yang ketakutan meninggalkan Tsavo, proyek pun terbengkalai.

Pada akhirnya Patterson berhasil membunuh salah seekor singa pada 9 Desember 1898. Dalam sebuah catatannya Patterson mengaku menembak singa ini dengan Martini-Einfield Caliber 303 diantara kaki dan pinggang singa tersebut. Tetapi Singa tersebut bisa meloloskan diri walau sudah tertembak. Pada malam harinya Singa yang terluka ini kembali mencoba menyerang kamp proyek. Patterson melepaskan beberapa tembakan dan pada pagi harinya, dia mencari singa tersebut. Dia menemukan singa itu tewas.

Singa ini mempunyai panjang tubuh 3 meter. Butuh delapan orang untuk membawa bangkai singa tersebut ke kamp proyek.

Tiga minggu kemudian singa yang kedua berhasil dibunuh. Singa ini ditembak lima kali dengan menggunakan senjata Lee-Einfield kaliber 303. Namun singa ini terus berusaha menyerang Patterson, Patterson kembali melepaskan tiga tembakan yang tepat menembus dada dan kepala singa itu. Itulah akhir dari Tsavo Maneaters.

Patterson menyebutkan korban keganasan dua singa itu adalah 135 orang tewas. Patterson juga menjadikan kulit singa itu sebagai karpet. Kemudian karpet itu dijual ke Chicago Field Museum dengan harga 5000 dolar pada tahun 1924. Kedua singa itu direkonstruksi dan dibuat bonekanya sebagai salah satu pajangan di museum tersebut.

Patung Tsavo Maneaters di Chicago Field Museum

Keganasan dua ekor singa tersebut mengundang perhatian para peneliti bahkan di era modern. Penelitian yang dilakukan Chicago Field Museum terhadap spesimen dua ekor singa tersebut menyebutkan bahwa korban yang dimangsa singa – singa ini berkisar pada angka 35 korban dan menganggap Patterson melebih – lebihkan dengan mengatakan 135 korban tewas.

Tetapi Tom Gnoske dan Julian Kerbis Peterhansa dalam Journal of the East African Natural History Society menyebutkan angka korban tewas mencapai 100 jiwa lebih.

Tom Gnoske dan Julian Kerbis Peterhansa ( 2001 ) juga Patterson (2004) menyebutkan bahwa keganasan dua singa ini kepada manusia disebabkan beberapa hal. Pertama adanya wabah rinderpest pada tahun 1898 yang menyerang hewan – hewan makanan utama singa sehingga kedua ekor singa ini mencari sumber makanan alternatif yaitu manusia.

Teori yang kedua menyebutkan bahwa singa – singa yang ada dikawasan sungai Tsavo terbiasa melihat jenazah manusia dan kemungkinan memakannya sehingga mereka memburu manusia. Pada masa itu kereta – kereta pembawa budak belian sering melintasi sungai Tsavo.

Sedangkan teori ketiga adalah ritual kremasi manusia yang diadakan oleh para pekerja dari India memancing kedua singa tersebut.

Neiburger and Patterson (2000, 2001, 2002) dan dalam Bruce Patterson’s (2004) book menemukan singa yang pertama dibunuh memiliki kerusakan pada giginya sehingga mengurangi kemampuannya untuk berburu mangsa yang biasa.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s