Kemelut Panjang

Kongres PSSI untuk memilih Komite Pemilihan dan Komisi Banding berakhir tanpa kejelasan, setelah PSSI membatalkan kongres karena menganggap sudah tidak memungkinkan untuk menjalankan kongres sampai selesai.

Penyebab batalnya kongres ini adalah aksi dobrak paksa yang dilakukan oleh orang – orang yang mengaku seharusnya mendapatkan undangan kongres. Aksi tersebut membuat PSSI, setelah menerima masukan dari utusan AFC dan FIFA, untuk membatalkan kongrs karena suasana sudah tidak terkendali.

Kongres yang diadakan di Pekanbaru hari Sabtu (26/3) juga diwarnai kehadiran sejumlah tentara yang berseragam yang ikut ambil bagian dalam aksi Masyarakat Sepakbola Indonesia di lobi hotel Premiere Riau tempat kongres berlangsung.

Kehadiran para tentara ini disebut – sebut untuk menjaga keamanan kongres dan sebelumnya telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Namun juga kehadiran mereka juga ditengarai ikut dalam aksi dobrak ruangan kongres. Setelah ruangan berhasil dibuka paksa, orang – orang yang tidak mendapatkan undangan ini, yang tergabung dalam KPPN ( Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional) ini menggelar kongres sendiri untuk memilih komite pemilihan dan komite banding.

Kongres tandingan ini sudah menetapkan anggota komite pemilihan dan komite banding, bahkan telah mengirimkan hasil ini ke FIFA. Belum diketahui apa tindakan FIFA selanjutnya.

Kongres tandingan ini bukanlah pihak resmi dan diakui untuk menggelar kongres, karena hanya PSSI yang berhak. Aksi mereka kemarin lusa di Riau menambah kemelut yang seakan – akan semakin dibuat rumit, demi memuaskan kehendak satu pihak.

Saleh Mukadar, yang merupakan anggota KPPN menyatakan puas bisa menggagalkan kongres PSSI. Karena Saleh merasa punya hak suara dalam kongres tersebut. Belakangan hak Saleh dicabut PSSI karena keikutsertaan Persebaya ke LPI.

Semakin kesini, perjalanan pemilihan ketua umum PSSI semakin tidak tentu arah. Keinginan berkuasa dan balas dendam menodai sportivitas kongres. Bahkan kubu perubahan yang sebelumnya bercita – cita membuat perubahan dalam persepakbolaan Indonesia, kini malah terkesan lebih mencari kekuasaan.

Adanya larangan Presiden FIFA, Sepp Blatter, yang melarang Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta dan Arifin Panigoro untuk mencalonkan diri ulang, diabaikan semua pihak. Pernyataan Presiden FIFA masih dianggap pendapat pribadi karena tidak dibarengi dengan keluarnya surat keputusan FIFA.

Entah sampai kapan kisruh ini akan selesai. Semua pihak, baik status quo maupun kubu perubahan sama – sama tidak dewasa dan tidak profesional. Nafsu mengejar kekuasaan lebih dikedepankan.

Semuanya kini dikembalikan kepada FIFA. PSSI akan melaporkan kepada FIFA tentang kekacauan kongres. Sedangkan KPPN sudah mengirimkan hasil kongres ke FIFA, bahkan Dubes Indonesia untuk Swiss telah siap mengakomodir keinginan KPPN.

Sampai kapan episode ini berakhir? rasanya hanya FIFA yang bisa mengakhiri ini. Karena jika dikembalikan kepada dua kubu tadi, semuanya bisa kacau, karena sama – sama ingin kekuasaan.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s