Saling Boikot Demi Kekuasaan

Buntut dari batalnya kongres PSSI masih akan panjang kelihatannya. 2 pihak yang memperebutkan kursi PSSI I masih keras kepala dan tidak mau membuka dialog.

Muncul lagi kelompok baru yang menamakan dirinya TANDUK ( Tim Advokasi Untuk Kehormatan Bangsa ) melaporkan Sekjen PSSI, Nugraha Besoes, ke pihak kepolisian karena menganggap Nugraha Besoes melakukan kebohongan publik dengan menyatakan batalnya kongres atas usulan perwakilan FIFA dan AFC yang hadir di Riau.

Kebohongan yang dimaksud berawal setelah belakangan muncul berita tentang e-mail dari FIFA yang mengatakan bahwa mereka tidak mengusulkan pembatalan kongres dan dihalang – halangi oleh pengurus PSSI untuk hadir di Hotel Premiere Riau tempat kongres.

Nurdin Halid pun membela dengan mengatakan bahwa suasananya sudah tidak kondusif untuk menyelenggarakan kongres.

Menegpora, Andi Alfian Mallarangeng, pun sudah menyatakan tidak mengakui pengurus PSSI yang sekarang. Bahkan pelatnas Timnas U-23 sudah diambil alih oleh KONI / KOI. Pengurus kompleks SUGBK sudah mengeluarkan surat penghentian penggunaan gedung Sekretariat PSSI.

Walau demikian, PT.Liga Indonesia tidak akan menghentikan roda kompetisi meski Menegpora sudah tidak mengakui kepengurusan PSSI. Joko Driyono,CEO PT.Liga Indonesia, mengatakan kesalahan besar jika menghentikan roda kompetisi. Bahkan Sriwijaya FC dan Persib Bandung sudah menyatakan tidak rela jika kompetisi dihentikan. Sriwijaya bahkan mempertanyakan nasib mereka, karena sekarang sedang berkompetisi di level Asia bersama Persipura Jayapura dan Arema Indonesia.

Menanggapi hal ini FIFA akan melakukan rapat yang akan digelar pada hari Sabtu, 2 April nanti.

Jika dilihat, pembekuan dan tidak adanya pengakuan dari Menegpora sudah merupakan intervensi kepada organisasi PSSI. Menegpora lebih terlihat pro kepada KPPN dan memang berseberangan dengan PSSI. Meruncingnya perseteruan antara Nurdin Halid dan Andi Mallarangeng muncul sehabis gelaran Piala AFF.

Andi Mallarangeng adalah salah seorang pemberi restu terhadap gelaran LPI. Budiarto Shambazy, wartawan senior, dalam wawancara dengan Metro TV mengatakan bahwa sekarang sudah bukan masalah sepakbola lagi, namun persaingan dua partai, partai kuning vs partai biru. Persaingan dua partai itu dipresentasikan oleh Nurdin Halid vs Andi Mallarangeng.

Persaingan pun menjurus tidak sehat bahkan sudah adu intrik. Pemberitaan di media pun sudah tidak seimbang dan netral. Informasi mana yang benar, sulit dibaca. Kedua kubu sama – sama mengklaim dekat dengan FIFA. Keduanya sering mengumbar informasi yang diklaim dari FIFA, namun dari segi kebenaran susah dibuktikan.

Munculnya kelompok baru seperti KPPN dan Tanduk, justru bukan bagian dari pemecahan masalah. Malah menambah kekisruhan. Klaim sebagai kelompok yang paling benar, bertindak sesuka hati justru memperuncing persaingan.

Nurdin Halid, dalam wawancara Metro TV, dan juga menurut Mantan Wapres, Jusuf Kalla, menyatakan bahwa dia sudah tidak bersedia dicalonkan kembali namun tidak akan mundur. Jika kongres berjalan lancar, maka Nurdin sudah tak akan manggung lagi. Pembatalan kongres dan pencabutan pengakuan dari Pemerintah, justru membuat Nurdin diatas angin. Sebuah blunder yang dilakukan kubu perubahan. Ataukah memang kesengajaan?

Kekisruhan hari ini juga disebabkan tidak tegasnya para pengprov PSSI. Mereka tidak peka menangkap aspirasi masyarakat yang sudah tidak mau melihat Nurdin kembali jadi ketua. Namun ternyata pada pencalonan awal, Nurdin mendapat suara paling banyak dari pengprov
yaitu 82 suara. Beruntung Komisi Banding menggagalkan semua keputusan Komisi Pemilihan.

Sikap Pengprov ini berbalik 360 derajat dikemudian hari. Muncullah KPPN yang mengklaim para pemilik hak suara. Jika saja Pengprov – pengprov PSSI sudah mengikuti arus aspirasi sejak awal, maka tak akan ada kisruh seperti sekarang.

Lantas Bagaimana, akhir drama ini? Saya rasa jawabannya harus dikembalikan kepada FIFA. Karena jika diserahkan kembali ke PSSI maka gejolak tak akan padam. Sekali lagi kedua kubu sama – sama mencari kekuasaan.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s