Rasa – Rasanya Ujung – Ujungnya D…

Kelompok 78 yang mengklaim beranggotakan para pemegang hak suara PSSI tetap nekat untuk mengusung pasangan George Toisutta – Arifin Panigoro walau FIFA telah melarang kedua orang ini bersama Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie untuk mencalonkan dan dicalonkan jadi ketua umum PSSI.

Bahkan FIFA tidak menganggap komite pemilihan yang dibentuk Kelompok 78 ini yang dihasilkan melalui kongres “bajakan” di Riau beberapa waktu yang lalu. FIFA hanya mengakui komite banding hasil bentukan mereka.

Komite Normalisasi yang telah dibentuk oleh komite darurat FIFA telah dibebankan tugas sebagai komite pemilihan sehingga tidak perlu ada lagi komite pemilihan lain.

Kelompok 78 kini meradang. Mereka bahkan siap menggelar kongres tandingan yang akan memperbolehkan George – Arifin untuk tetap maju. Padahal Agum Gumelar selaku ketua Komite Normalisasi telah datang ke Swiss untuk mengkonfirmasi ulang kepada FIFA soal George – Arifin. Jawaban FIFA konsisten “TIDAK BOLEH”.

Agum Gumelar ( Ketua Komite Normalisasi ) & Joko Driyono ( Anggota Komite Normalisasi)

Kecewa karena keputusan FIFA bahkan mereka akan menggugat FIFA ke pengadilan arbitrase olahraga internasional tentang hal ini.

Menpora yang semula berada dibelakang kubu jenggala dan kelompok 78 kini mulai menunjukkan penolakan terhadap tindakan – tindakan kelompok ini. Komunitas Save Our Soccer pun mengkritik tindakan kelompok tersebut.

Jika saya lihat dan simpulkan, justru kelompok 78 ini buang – buang energi saja dan rawan menghadirkan sanksi FIFA. Padahal tujuan utama untuk “mengusir” Nurdin Halid dan konconya sudah berhasil. Komite Normalisasi adalah jawaban FIFA.

Jika dilihat lebih jauh, maka ini erat kaitannya dengan LPI. Saya rasa pertaruhan modal untuk memutar LPI sudah lah banyak. Jika dilihat dari ukuran kontrak pemain asing pun maka belasan miliar rupiah telah dikucurkan konsorsium LPI. Karena semua pemain lokal maupun asing di LPI dibayar oleh konsorsium LPI.

Keinginan untuk melahirkan kompetisi tandingan yang lebih baik dari ISL pun belum terpenuhi. Masalah wasit tetap ada, bahkan wasit asing pun kualitasnya dipertanyakan. Pemain bintang baru? masih tanda tanya karena LPI dibesarkan oleh pemain asing. Kualitas permainan? masih dibawah ISL. Animo penonton pun masih belum bagus. Bahkan dua stasiun TV sudah mundur dari LPI.

Bahkan pengakuan PSSI melalui Komite Normalisasi yang mengakui LPI sebagai turnamen adalah sebuah tamparan bagi mereka. Bahkan kemudian nasib LPI untuk musim depan akan diputuskan oleh kongres kabinet PSSI yang baru.

Berapa banyak uang yang sudah berputar tanpa ada kepastian kapan balik modal? kenapa saya bilang begini karena sampai saat ini seragam klub – klub peserta LPI masih polos tanpa sponsor. Penonton yang datang ke stadion sedikit, penghasilan tiket pun sedikit.

Walau ada sponsor yang bergabung, tapi nilainya belum tentu dapat menutup modal yang telah dikeluarkan.

Jadi kenapa kubu jenggala dan kelompok 78 begitu ngotot? rasa – rasanya, walau tanpa meraba, ini adalah masalah uang.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

5 thoughts on “Rasa – Rasanya Ujung – Ujungnya D…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s