Fight For Asia Mc.6 ( ACL ) : When Dreaming Is Not Enough

Tuntas sudah perjalanan satu – satunya wakil Indonesia di Liga Champions Asia musim 2011 ini. Arema Malang menutup perjalanan mereka dengan membawa setengah lusin gol dari Korea Selatan (10/05).

Arema berangkat dengan persiapan seadanya. Hanya membawa 18 pemain dan hanya didampingi pelatih dan tim pelatih. Tersiar kabar bahwa manajemen sempat mencari dana talangan untuk keberangkatan Arema menghadapi partai tandang ke kandang Jeonbuk Motors. Sempat ada miskomunikasi antara Miroslav Janu, Pelatih Arema, dan manajemen. Janu kesal karena tidak ada unsur manajemen yang hadir pada saat Arema menjamu Cerezo Osaka di Kanjuruhan 4 Mei lalu. Manajemen beralasan seperti diatas.

Arema benar – benar hancur dari sisi dana musim ini. Gaji pemain telat beberapa bulan. Sampai Aremania mengumpulkan dana untuk diberikan kepada para pemain pada pertandingan melawan Jeonbuk di Kanjuruhan. Terakhir, manajemen angkat tangan terhadap pendanaan Arema. Arema ditawarkan 20 Miliar Rupiah kepada siapapun yang berminat.

Dari sisi pemain kesulitan dana sangat menguras mental mereka. Mereka harus punya stok kesabaran yang banyak. Pierre Njanka sudah angkat kaki pindah ke klub LPI Aceh United akibat masalah dana. Sebuah kewajaran. Para pemain lain yang memilih tinggal dan tetap berjuang, bersabar, bermain, tetap memberikan usaha maksimal ditengah masalah ekonomi yang mungkin saja berimbas kepada urusan dapur rumah tangga.

Walau mereka berusaha memberikan yang maksimal, namun tak bisa dipungkiri permainan mereka tak lepas. Langkah kaki mereka sarat dengan beban. Ditambah mereka bergabung dengan klub Asia Timur yang satu tingkat diatas klub sepakbola Asia Tenggara.

Maka gol cepat Krunoslav Lovrek saat pertandingan baru mencapai detik 43 ke gawang Ahmad Kurniawan siang tadi, adalah akumulasi dari segala beban yang harus ditanggung para pemain Arema. Hanya dalam 10 menit Jeonbuk menggandakan kemenangan lewat Kim Dong Chan menit 9. Gol Jeung Shung Hoon menit 27 dan Lovrek menit 45+2 menutup babak pertama dengan kemenangan Jeonbuk 4 – 0.

Arema bukan tanpa perlawanan. Serangan balik mereka beberapa kali merepotkan lini belakang Jeonbuk. Hanya saja permainan Jeonbuk yang mampu mendominasi membuat Arema harus bertahan total.

Kelemahan koordinasi lini belakang yang menyediakan celah – celah bagi pemain Jeonbuk membuat mereka leluasa mengirim umpan – umpan berbahaya ke kotak penalti Arema. Kang Seung Jo menambah gol pada menit – 77, sedangakan Krunoslav Lovrek membuat hattrick pada menit – 60.

Kegagalan Roman Chmelo mengeksekusi penalti menit -82 menandakan kejatuhan mental Arema.

Hanya 1 poin yang bisa diraih Arema pada Liga Champions musim ini. Kualitas organisasi permainan lawan masih menjadi alasan kenapa Arema sulit meraih kemenangan. Namun alasan utama, adalah karena para pemain sudah terlalu lelah secara mental oleh persoalan internal klub.

Salam satu jiwa bagi para pemain Arema yang sudah memberikan yang terbaik. Sesaat mimpi Arema akan melangkah lebih jauh di Liga Champions hadir kala melihat penampilan pertama mereka di Osaka Jepang. Namun mimpi itu sirna seketika, it’s all about the money.

Photos : the-afc.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s