Kelompok 78 Tak Ubahnya Nurdin Halid Cs.

Akhirnya tercapailah kemenangan sejati Kelompok 78 ( K-78 ). Mereka berhasil “membajak” kongres PSSI 20 Mei lalu. Begitu banyak interupsi yang mereka lemparkan sehingga jalannya kongres tidak menyentuh 3 agenda utama Kongres PSSI.

Sampai pukul 20.45 WIB kongres masih tak dapat berjalan, Agum Gumelar, selaku Ketua Komite Normalisasi ( KN ), akhirnya menyatakan kongres berakhir karena situasi sudah tidak kondusif. Bahkan nyaris adu pukul. Status Kongres ‘DEADLOCK” ( Buntu / tanpa hasil ).

K-78 terus melakukan interupsi yang tidak terlalu ” prinsip ” yaitu agar dilaksanakan voting agenda yang akan dilaksanakan kongres yang sebelumnya telah disusun KN, interupsi karena terlalu banyak aparat keamanan, dan interupsi para peserta yang yang tidak mempunyai hak suara agar keluar ruangan.

Interupsi lain pastinya soal nasib George Toisutta – Arifin Panigoro ( GT-AP). Mereka meminta Komite Banding menjelaskan hasil banding yang meloloskan GT-AP walau telah dilarang oleh FIFA untuk mencalonkan sejak kisruh Kongres Pekanbaru.

Perwakilan FIFA, Thierry Regenass, yang hadir di kongres pada akhirnya diminta Agum untuk menjelaskan pelarangan pencalonan GT-AP. Thierry menjelaskan pelarangan GT-AP adalah karena adanya Liga Primer Indonesia ( LPI ). LPI berada diluar PSSI dan tidak bisa dikontrol FIFA. Sehingga siapapun yang terlibat didalamnya tidak bisa menjadi kandidat pemimpin PSSI. GT adalah pendukung LPI, AP adalah pencetus, pemodal LPI.

Lebih lanjut Thierry menjelaskan bahwa Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie pun dilarang mencalonkan kembali.

Kegagalan kongres kembali bisa dikatakan adalah “kemenangan” K-78. Bagaimana tidak, kegagalan majunya dua jagoan mereka, digantinya 5 orang anggota K-78 dalam KN dan tidak diprosesnya aduan mereka oleh CAS ( pengadilan arbitrase olahraga internasional ) soal pelarangan GT-AP, membuat mereka mencari cara supaya kongres tak berjalan.

Ancaman “pembajakan” kongres sudah mereka tebar jauh – jauh hari. Bahkan semakin kencang terdengar saat KN membatalkan keputusan Komite Banding yang meloloskan GT – AP.

KN berprinsip pada instruksi FIFA yang sedari awal KN dibentuk melarang GT – AP bersama Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie untuk maju sebagai kandidat lagi.

Indonesia kini dibawah ancaman sanksi FIFA. K-78 sesungguhnya bukan hanya men – DEADLOCK – kan kongres tetapi juga mengancam deadlock persepakbolaan Indonesia.

FIFA masih memberi kesempatan kepada Indonesia untuk menggelar kongres PSSI selepas kericuhan di Pekanbaru. Tetapi ketika diberi kesempatan hasilnya sama saja.

Pelaku pembajakan kongres tersebut tetap sama yaitu K-78 Pendukung GT – AP. Sangat disayangkan bahwa kemudian GT – AP tidak bersikap legowo jauh – jauh hari dengan keputusan FIFA. Mereka tetap memaksakan kehendak agar bisa menjadi pimpinan PSSI.

Jika sudah begini, maka apa bedanya K-78 dengan Nurdin Halid ?. Sosok yang berhasil mereka “kudeta” dalam kongres Pekanbaru. Sampai kapan mereka akan tetap memaksakan kehendak? Rasanya jika melihat begini maka mereka akan berhenti jika sanksi FIFA sudah turun, walau sekarang pun sanksi sosial sudah diterima karena banyak orang yang tidak suka lagi dengan sosok GT – AP dan K -78 yang memaksakan kehendak.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s