Satu Kesempatan Lagi

FIFA masih bermurah hati setelah kembali memberi peluang kepada Indonesia agar segera membentuk kepengurusan PSSI yang baru. Setelah kongres 20 Mei berakhir deadlock, FIFA memberi deadline baru yaitu 30 Juni 2011.

Kesempatan sekali lagi. Agaknya inilah yang harus disadari semua stakeholder sepakbola Indonesia. Karena menurut kabar AFC telah melayangkan surat kepada FIFA agar Indonesia dikenai sanksi setelah kekacauan 20 Mei.

K – 78 harus bisa meredam kalau tidak mau diredam. Kengototan mereka untuk mencalonkan George Toisutta – Arifin Panigoro ( GT – AP ) sudah bukan masanya. Kekukuhan mereka bahwa calon usungannya mampu membawa sepakbola Indonesia lebih maju harus dipertanyakan.

Setelah pengakuan salah satu anggota K – 78, Usman Fakaubun, di Metro TV bahwa mereka dijanjikan berbagai fasilitas dan uang jika GT – AP menang mengubur slogan “change the game”.

Salah satu anggota K -78 beberapa hari usai deadlocknya kongres menanggapi dengan enteng bahwa kalau pun Indonesia dikenai sanksi hanya akan berjalan sebentar karena negara – negara lain pun hanya sebentar dikenai sanksinya. Sungguh pernyataan yang menantang dan tidak sadar. Sanksi FIFA terhadap negara – negara yang sebelumnya dikenai sanksi hanya sebentar karena negara – negara tersebut menunjukkan perubahan menuruti dan menaati aturan FIFA. Cepat atau lambat itu terserah kepada negara yang bersangkutan. I’tikad baik untuk melakukan perubahan adalah yang terpenting.

Jika melihat pertikaian yang disulut K – 78 dan kengototan mereka maka rasanya akan sulit mencapai kata mufakat dalam kongres. Pernyataan yang mengatakan sanksi hanya akan berlangsung sebentar sangat tidak bertanggung jawab.

K -78 sudah mendapatkan sanksi sosial mereka. Wadah – wadah suporter menghujat mereka dan menyalahkan mereka sebagai pihak yang paling bertanggung jawab andaikata sanksi dijatuhkan.

Namun ada suporter yang aneh. Mudah sekali berubah sikap bagaimana angin berhembus. Menpora pada awalnya mendukung kelompok ini. Bahkan mendukung lahirnya LPI, salah satu penyulut kekacauan sepakbola Indonesia. Dia menandatangani mosi tidak percaya kepada pengurus lama PSSI. Tetapi ketika angin berubah, cepat – cepat dia mengambil dukungannya dan ikut menghujat K -78.

Seharusnya peran yang diambilnya sedari awal adalah sebagai penetralisir, mediator pihak – pihak yang bertikai. Bukan memberi dukungan kepada kelompok yang dari awal sudah salah. Sayangnya, banyak pihak melupakan episode ini dalam drama “PSSI Rusuh”.

30 Juni harus melahirkan kata final. Apakah maju atau tidak. Inilah yang harus disadari semua pihak. Jangan mengorbankan nasib persepakbolaan Indonesia demi janji – janji manis duniawi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s