Selamat Jalan Ayah

Minggu 3 Juli 2011 09.40

Aku dan Kakak Iparku tiba di ruang ICU tempat ayah dirawat. Aku lemas mendapati kenyataan ayah sedang diberi pertolongan. Dadanya terus dipompa, cairan terus disedot dari tenggorokannya. Sensor jantung menunjukkan denyut yang kian lemah. Sejurus kemudian Ibu, Kakak, Istriku, dan Ade menghambur ke ruang ICU. Kami semua terdiam dalam tangis berharap ini bukanlah saat yang terakhir.

……………………………………………………………..

Rasa optimis menyelimuti hati karena sejak ayah harus masuk ICU hari Jumat 1 Juli, tensinya yang semula selalu rendah antara 40 – 70 bisa naik ke angka 100.

Hanya yang membuat kami cemas adalah ayah sudah tak mau makan. Mulutnya dikunci rapat bahkan minum pun tak mau. Kami semua membujuk ayah agar mau makan. Kami takut ini adalah bentuk kemarahan ayah, protes kenapa harus dirawat kembali.

Kami sadar, kami mengerti, ayah sudah lelah. Dalam waktu 1 tahun sudah 5 kali ayah keluar masuk rumah sakit untuk menjalani perawatan. Namun inilah jalan satu – satunya yang mau tak mau harus kami ambil, karena kami ingin ayah sembuh.

Dua hari menjelang ayah masuk ICU kondisinya sudah drop. Tak ada lagi tenaganya, bahkan ketika kami papah berjalan tak jarang ayah hampir jatuh. Setiap saat rasa sakitnya menjadi, ayah menjerit. Makannya pun tak banyak paling hanya 4 suap. Ditambah dengan kegagalan cuci darah pada hari Rabu yang menjadi jadwal rutinnya karena tensi drop. Diinfus obat penaik tensi selama 4 jam, tensinya tetap 40.

Keesokan harinya kami mencoba untuk melakukan cuci darah kembali. Cuci darah adalah sebuah keharusan, karena jika tidak ayah akan lebih menderita. Tubuhnya akan penuh cairan. Rasa sakitnya pasti bertambah, dan sesak napas sudah bisa dipastikan.

Aku ingat Rabu sore itu. Ketika itu hujan. Ada sebuah perasaan aneh yang hinggap. Ketika kami berkumpul dirumah, rasanya seperti kami sudah lama tak bertemu, walau setiap hari kami bertemu. Ada perasaan keakraban, kehangatan, namun penuh dengan kemuraman.

Walau setelah diinfus selama 4 jam tensi ayah naik menjadi 90, namun cuci darah tidak berhasil. Hanya 0.03 liter cairan yang ditarik dari tubuhnya jauh dari biasanya yang bisa mencapai 2 – 3 liter.

Harusnya ayah langsung dirawat, namun ayah marah dan tetap ingin pulang. Bahkan ayah berteriak memanggilku, karena saat itu aku sedang dikantor yang hanya berjarak ratusan meter dari rumah sakit. Sebelumnya aku menemani ayah tapi pamit sebentar untuk kembali ke kantor.

Hujan besar sore itu saat kami membawa ayah pulang. Susah payah kami menaikkannya ke mobil karena hujan deras, beberapa kali ayah hampir terjatuh dari kursi rodanya.

Hari jumat pagi ayah akan kami bawa untuk periksa jantung agar diketahui penyebab turunnya tensi. Namun Ibu ku melihat ayah sangat berbeda. Ayah seperti sadar tapi tak sadar. Akhirnya ayah dibawa ke rumah sakit dengan ambulance karena sudah tak bisa bangkit dari tempat tidur.

Pihak rumah sakit menyatakan ayah harus masuk ICU karena gula darahnya pun hanya 61 jauh dari batas normal. Kami merelakan ayah dirawat karena kami menyayanginya, dan kami yakin inilah jalan yang terbaik untuk membantu ayah.

Siang itu kami menjenguk ayah. Peraturan diruang ICU bahwa pasien tidak boleh ditunggui siapapun kecuali pada jam – jam tertentu yang diperbolehkan membuat kami terbatas untuk menemui ayah.

Aku ingat tatapan ayah saat aku dan istriku menjumpainya jumat siang. Aku bilang sekarang tensinya sudah bagus, mudah – mudahan bisa cepat pulang. Ayah hanya menatap tajam ke arahku tanpa berkata apa – apa. Perasaan sedih menghantam dadaku.

Malamnya kami berusaha membujuk ayah untuk makan. Kami bilang ayah jangan putus asa, ayah kembali dirawat karena memang harus. Akhirnya walau 5 suap ayah mau makan.

Sabtu, 2 Juli 2011

Ayah harus disedot cairan lambungnya melalui hidung. Ada pendarahan dilambungnya. Kami agak senang karena selama ini ayah memang harus disedot cairan yang berkumpul dilambungnya namun urung karena tensinya terus drop. Tensi naik, cairan bisa disedot, 2 masalah nampaknya sudah teratasi.

Sabtu, 17.00 WIB.

Kami kembali menjumpai ayah. Ibu mendekati ayah dan berbisik ” pa kami datang “, ayah yang sudah tak punya tenaga, entah darimana tiba – tiba langsung merangkul ibu dengan kuat. Lama sekali. Ibu menangis.

Ibu yang biasanya tegar tak pernah menangis setiap kali mendampingi ayah dalam perawatan dan pengobatan, memang tiga hari terakhir terus menangis. Sedih melihat penderitaan ayah.

Sabtu 18.15 WIB

Aku masuk kembali ke ICU. Ibu minta digantikan dulu karena mau solat Magrib. “Bimbing ayahmu istighfar” kata Ibu. Aku membimbing ayah, kuusap rambutnya, namun ayah tampak gelisah. Tak lama adikku datang, Ade langsung mengusapi kaki ayah. Ayah tetap gelisah.

Dan sesuatu yang tak kuduga terjadi, tangan ayah mendarat 2 kali diwajahku. Aku bilang apakah ayah marah padaku? sambil menahan air mata aku meminta maaf kepada ayah.

19.00 WIB — kami harus meninggalkan ruangan. Hanya Ibu yang masih mendampingi ayah meminta izin waktu tambahan sebentar kepada perawat. Malamnya aku dan ade yang berjaga dirumah sakit.

Minggu, 09.22 WIB.

Baru saja 10 menit aku sampai ditempat pengajian. Awalnya aku agak malas, karena badan masih terasa pegal karena harus tidur dilantai ruang tunggu pasien semalam. Namun aku tetap berangkat.

09.22 Istriku menelepon, Pihak rumah sakit mengatakan keluarga harus secepatnya datang ke rumah sakit.

Aku dan kaka iparku bergegas mengendarai motor menembus kepadatan lalu lintas.
……………………………………………………………..
Minggu, 09.40 – 10.15 WIB.

Dada ayah terus dipompa. 3 orang perawat bahkan dokter pun ikut memompa dadanya. Kami menunggu dalam ketidakpastian, mengelilingi ayah. Kami tak henti berdoa.

Aku berdoa agar ayah dipanjangkan umurnya dalam kesehatan, namun bila ini sudah saatnya aku pintakan kemudahan.

Tim medis terus berusaha. Sensor jantung menunjukkan denyut – denyut lemah yang diikuti garis lurus.

Pemeriksaan EKG menunjukkan masih ada harapan. Ayah sempat bernapas kembali, namun hilang kembali. Ibu terus berbisik kepada ayah.

10.15 WIB Ibu tiba – tiba berkata ” dokter, saya sering mengurus jenazah, saya hapal tanda – tandanya ” Dokter hanya terperangah.

Aku yang terlalu fokus memperhatikan sensor menyadari sesuatu yang dilihat ibu.

Aku pun bertanya ” dok, bagaimana peluangnya?” Dokter menjawab bahwa peluangnya sangat kecil. Apa yang terlihat disensor, maupun yang terdengar dengan stetoskop kemungkinan besar efek obat yang tersisa.

Aku diam berusaha mencerna. Lalu aku bertanya ” jadi sudah dok?” dokter hanya menjawab sudah dan bersabar. Tangisku meledak. Pria yang sangat kucintai, kusayangi, telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.

11.30 Ayah dibawa pulang kerumah. “Ayah, pulang” aku terus berkata itu dalam hati sambil menggotong keranda. Ayah kami mandikan. Ibu yang memimpin, karena ini merupakan janji ibu kepada ayah untuk memandikannya bersama anak – anak jika takdir telah sampai.

13.30, 14.30 Aku terus menghitung waktu menyadari ayah sebentar lagi tak akan ada dirumah ini.

15.45 Aku duduk disamping keranda, tangisku tak hentinya mengalir. Ayah maafkan aku, hatiku terus memanggil – manggil ayah.

16.30 Ayah telah beristirahat ke tempat yang abadi. Kesedihan yang sangat dalam setiap langkahku meninggalkan pemakaman.

17.00 Aku merasakan kehampaan yang sangat. Aku tiba – tiba ketakutan menjalani hidup, rasanya aku ditinggalkan sendiri. Aku kehilangan seorang ayah, aku kehilangan pelindung, aku sunyi tanpamu ayah.

Ibu, Ayah, Cucu pertama

Ayah, maafkan aku, aku yang sering mengecewakanmu, maafkan aku ayah belum bisa membahagiakanmu. Malam ini aku sangat rindu padamu, namun hanya doa yang bisa terucap dari bibirku dan berjuta kenangan yang jatuh dalam tetesan air mata. Aku merindukanmu Ayah.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

5 thoughts on “Selamat Jalan Ayah”

  1. sabar nya a…
    aku merasakan perih dan kehilangan yang kau rasakan..
    karna pa yaya dan kalian sudah ipa anngap keluarga sendiri..
    ipa selalu mendoakan pa yaya..
    ttap semangat a..
    aku mendukung mu.

  2. yang sabar ya kk ,,,,
    nasib kt sm kk , sm22 d tinggalin oleh ayah , kk msih mnding krn kk d tingglin di saat kk udh dewasa sdnggkan aku d tnggalin di saat aku kls 6 sd, di saat di mn aku sangat mmbutuhkan ayah berada di sampingku

    yg sabr ya kk

  3. Seandainya suami bukanlah orang yang harus dipatuhi setelah pernikahan terjadi,atau ada hak anak atas kasih sayang dari kedua orang tuanya, ingin rasanya aku tetap disana, menemani hari-hari ayah, menghibur dengan untaian kebahagiaan yg tercerna, menghadirkan canda tawa dari mulut mungil bocah lelaki 2,5 tahun yang sangat ceria,
    ayah.. mungkin kesalahan anakmu ini sangatlah besar, tp tidak pernah sekalipun engkau marah, atau bahkan hanya sekedar mengingatnya..
    malam ini sulit kupejam mata karena terurai tangis..
    Ayah.. andai tidak ada tanggung jawab itu,
    Andai,aku bisa kembali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s