Jangan Main Tarkam

Tarkam atau gacong merujuk kepada pertandingan sepakbola yang dimainkan di tingkat kecamatan, kelurahan, desa. Beberapa tahun yang lalu kompetisi tarkam ramai disebut dengan sebutan “domba cup” karena memang berhadiah domba untuk klub yang menjadi juara. Inilah kompetisi yang tak pernah mati ( karena selalu terus ada, tak terganggu oleh faktor apapun), ajang unjuk bakat pemain – pemain sepakbola dari level masyarakat. Bisa dibilang ini juga merupakan hiburan alternatif masyarakat.

Namun yang namanya sebuah kompetisi, tidak pernah lepas dari rasa gengsi dan harga diri. Tak jarang satu kampung berselisih dengan kampung lain, lantaran pertandingan tarkam. Pengalaman saya sekitar tahun 1998 dalam sebuah kompetisi antar klub seperti ini, keributan terjadi. Penyebabnya tak lain, tim dari sebuah kampung sudah kelihatan kalah karena sudah ketinggalan tiga gol. Lucunya bukan pemain yang berkelahi, tapi penonton dari kampung yang kalah memicu keributan.

Awalnya si provokator berada diseberang lapangan yang lain. Sedikit demi sedikit dia bergerak menuju tempat suporter lawan. Ketika sudah berada di “markas musuh” dia pilih target, dan langsung memukuli targetnya tanpa sebab apa – apa. Alhasil pertandingan dihentikan. Kebetulan pertandingan tersebut dihelat dilapang TNI. Pihak TNI segera memutuskan menghentikan pertandingan dan sekaligus kompetisi karena sering terjadi perkelahian seperti itu.

Tahun 1997 saya juga menyaksikan, bagaimana sebuah pertandingan tidak dilaksanakan 2 x 90 menit. Babak kedua tidak tuntas 45 menit. Entah karena adzan Magrib sudah berkumandang, tapi yang jelas menurut desas – desus, wasitnya takut dipukuli oleh salah satu tim. Karena tim yang ditakuti sudah unggul, maka lebih baik cepat – cepat meniup peluit panjang.

Waktu bergeser. Keributan kini sudah jarang terdengar. Gengsi sekarang bergeser ke arah lain. Klub – klub sepakbola tarkam memakai pemain – pemain nasional, tak jarang pemain asing, untuk terjun dikompetisi tarkam. Pengusaha – pengusaha lokal yang mensuport klub – klub tersebut.

Maka tak aneh, jika 1 bulan yang lalu, dalam sebuah foto pertandingan antar klub Sukabumi, saya melihat sosok Zaenal Arif ( Persikabo ) dan Tantan ( Batavia Union ). Sebelumnya setahun yang lalu, saya mendengar nama orang asing ikut bermain di kompetisi itu.

Berita sehari yang lalu, Manajer Persib, Umuh Muchtar, marah karena beberapa pemain Persib, seperti Nova Arianto, Hilton Moreira, Siswanto kedapatan main tarkam di Purwakarta. Umuh menilai mereka tidak profesional karena tidak menghormati kontrak yang menyebutkan mereka dilarang membela klub lain selama terikat kontrak dengan Persib.

Pernyataan seorang pengusaha asal Purwakarta yang mendatangkan mereka, menyiratkan bahwa ini adalah semacam gengsi dan kebanggaan jika berhasil mendatangkan pemain terkenal tak peduli berapa besar dana yang harus dikeluarkan.

Bahkan seorang Boaz Solossa dikabarkan menolak panggilan timnas Indonesia karena ingin ikut bermain di Kuskus Cup, semacam kompetisi seperti itu.

Kompetisi tarkam jaman sekarang sudah mengadopsi model kompetisi profesional dari sisi perekrutan pemain. Satu klub bisa saja mengontrak pemain kampung lain atau bahkan pemain taraf nasional untuk memperkuat klub mereka. Para pemain “bon” ( sewaan ) ini hanya dikontrak selama kompetisi berlangsung.

Sisi gengsi dan hiburan lebih dikedepankan. Disinilah letak pergeseran terjadi. Kompetisi masyarakat seharusnya menjadi sebuah ajang bibit – bibit sepakbola daerah untuk unjuk diri bukan justru mematikan. Bisa dibayangkan seorang pemain lama berlatih di klub ketika kompetisi tarkam dimulai malah diganti oleh pemain sewaan. Bayangkan pula jika pemain itu punya bakat.

Sisi pembinaan pemain – pemain muda Indonesia telah dirusak oleh gengsi.

Sangat disayangkan sikap para pemain taraf nasional yang malah ikut kompetisi tarkam dalam jeda kompetisi. Entah apa yang dipikirkan oleh para pemain itu. Mungkin uang atau menghibur masyarakat. Hal ini “didukung” oleh tidak adanya peraturan yang melarang para pemain ini ikut di kompetisi tersebut. Peraturan yang ada mungkin hanya tertera dalam kontrak pemain dan klub, namun itupun sering dilanggar.

Padahal kerugian bisa didapat bermain dikompetisi ini. Cedera adalah kerugian yang utama. Klub pun tak akan mau menanggung perawatan cedera pemain yang main dikompetisi tarkam.

Lebih jauh lagi, jika mereka menyadari bahwa inilah ajang penyemaian bibit – bibit muda sepakbola didaerah, rasanya mereka tak akan mau. Karena bisa saja mereka yang bermain dilevel nasional, lahir dari kompetisi tarkam.

Dari sisi pandang para penyelenggara dan sponsor klub tarkam pun harus dirubah. Lupakan gengsi, karena justru membuat buntu kesempatan para pemain muda daerah. Silahkan memberikan hiburan, tapi mendatangkan beberapa pemain level nasional bahkan pemain asing, rasanya hiburan yang terlalu.

Kembalikan tarkam kepada inti yang sebenarnya. Pembibitan pemain – pemain daerah, ajang unjuk bakat para pemain daerah. Tanpa kehadiran para pemain level nasional dan asing pun, tarkam tetap dijubeli penonton dari berbagai usia, pria dan wanita. Tahun 1997 & 1998 ketika saya menonton tanpa kehadiran pemain nasional dan asing pun lapangan sepakbola dikelilingi oleh ratusan orang.

Tanpa kehadiran para pemain itu, tarkam bisa menjadi hiburan masyarakat. Maka kembalikanlah tarkam pada jiwa yang sebenarnya.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Jangan Main Tarkam”

  1. saya baru tau…

    cz di daerah saya kok ndak ada sistem tarkam seperti itu. paling sepakbola ya sepakbola aja tanding antar kampung tapi ndak pake kontrak2 gt..

    btw, sip2 nambah pengetahuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s