Lepaskan Sejenak Belenggu

Apa yang diciptakan kemudian dibutuhkan, akan mempunyai kekuatan membelenggu.

Handphone ( HP ) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Kebutuhan komunikasi kapanpun,dimanapun, tak memandang penting atau tidak isi sebuah informasi yang akan dikomunikasikan membuat HP harus selalu ada kemana kita pergi. Membuat segalanya menjadi mudah memang benar. Kita tak perlu lagi repot – repot mencari wartel atau telepon umum untuk berkomunikasi. Seberapa jauh pun jarak orang yang diajak berkomunikasi bisa diselesaikan dengan HP.

Era tahun 90an, telegram sempat menjadi pilihan untuk mengirimkan pesan cepat dan darurat. Pager muncul namun tidak bisa dinikmati semua orang selayaknya HP jaman sekarang.

Semua kemudahan yang diberikan HP membuat ketergantungan. Ketergantungan yang membelenggu. Sehingga segala sesuatunya serasa tidak komplet kalau kita tak memegang HP. Bahkan ketika sering merasa sepi jika HP tak berdering SMS atau telepon seharian yang berarti tak ada yang menghubungi. HP yang membuat kita lupa akan waktu. Kemudahan berbrowsing, chatting, membuat seseorang bisa terpaku lama dengan HP, kurang mempedulikan apa yang terjadi di sekitar.

Disatu sisi memudahkan namun memiliki kekuatan untuk mengikat kehidupan manusia. Apa rasanya hidup tanpa HP kembali?

Saya pernah merasakan sekitar tahun 2003 – 2004. Hp saya dicolong ketika naik DAMRI Leuwipanjang – Dago. Sekitar satu bulan saya hidup tanpa HP. Awalnya agak sulit, karena keinginan untuk terus berhubungan dengan teman – teman lewat SMS, tak bisa dilakukan. Namun, kemudian perasaan lain hadir. Perasaan ringan, senang, justru muncul tak diundang.

Tanpa Hp hidup saya dimundurkan 2 – 3 tahun, karena saat itu saya belum menggunakan Hp. Justru ketika saya tak punya Hp saya bernostalgia kembali dengan masa lalu. Tak ada perasaan ingin selalu berSMS dan menelpon, tak ada bunyi dering, tak ada tuntutan untuk isi pulsa, membawa kedamaian tersendiri dihati saya.

Ringan, karena bebas melenggang kemana saja tanpa perlu dirisihkan dering HP yang sewaktu – waktu berbunyi. Enteng, karena tak perlu repot menyisihkan uang untuk beli pulsa. Tenang, tak perlu takut berjalan di keramaian kecolongan Hp kembali. Semuanya bergabung dalam sebuah kesenangan. Berhubungan dengan teman – teman? menjadi hanya pada saat bertemu dikampus dan diwaktu kami kumpul. Diluar itu saya punya kebebasan waktu.

Sebuah kedamaian yang saya rasakan. Memang tak lama kemudian, saya dibelikan Hp yang baru oleh orang tua karena ingin setiap saat memantau saya yang ketika itu kuliah diluar kota.

Sejenak kedamaian hadir.

Sehari yang lalu, saya membaca dua kisah hebat bagaimana dua sosok melepaskan diri dari belenggu kehidupan.

Belenggu yang dirasakan setiap manusia. Belenggu yang bisa membuat orang senang, membuat orang susah, membuat orang serakah, membuat orang sombong, membuat orang lupa diri.

Heidenmarie Schwermer ( 69 tahun ) mampu hidup 15 tahun tanpa bertransaksi dengan menggunakan uang. Mark Boyle (31 tahun ) hidup setahun tanpa uang.

Heidenmarie berangkat pada 1996 dengan membawa koper, ponsel, laptop. Berkelana kota ke kota bahkan melanglang ke luar negeri. Tanpa Uang. Untuk memenuhi kebutuhannya dia melakukan apa yang dilakukan sebelum uang menjadi alat transaksi. Barter. Dia bekerja tapi tidak dibayar dengan uang melainkan dengan kebutuhannya. Dia melanglang ke luar negeri dengan “gaji” yaitu tiket perjalanannya menjadi guru dan psikoterapis.

Mark Boyle menanam semua yang akan menjadi makanannya. Dia memakai ponsel dan laptop bertenaga matahari. Memanfaatkan fasilitas internet gratis disebuah peternakan. Mendaur ulang sampah, dan mendapatkan baju dari website gratis daur ulang. Dia mampu bertahan hidup tanpa mengeluarkan uang.

Uang telah membelenggu manusia sedemikian rupa. Alat yang diciptakan untuk mempermudah transaksi jual beli, disatu sisi adalah rantai yang mengikat kuat setiap kaki – kaki manusia.

Ketika semuanya telah terlalu membelenggu, dua orang itu memutuskan untuk memecah ikatan rantai dan berlari bebas.

Keduanya mampu hidup tanpa uang. Pun keduanya tak kekurangan suatu apapun selama hidup tanpa uang. Semuanya bisa dilakukan tanpa uang, semuanya bisa dilakukan dengan melakukan barter. Barter barang atau barter jasa.

Apa yang mereka berdua rasakan? Kebahagiaan.

Sebagian orang akan mengernyit aneh dan bertanya bagaimana mungkin. Namun manusia diberikan kecerdasan dan daya tahan untuk bertahan hidup. Inilah yang dilakukan oleh kedua orang itu. Mereka memunculkan insting bertahan hidup dengan cara kreatif.

Kita sudah terlalu terbelenggu dengan uang. Sehingga pagi, siang, malam uang selalu ada dipikiran. Uang juga yang telah mempermainkan kehidupan manusia. Karena manusia membiarkan dirinya terikat uang.

Kedua orang itu rasanya tak perlu pusing lagi berpikir ketika dompet mulai tipis, kedua orang itu rasanya tak perlu pusing lagi memikirkan hari esok ketika uang habis. Mereka menemukan kedamaian mereka. Bahkan Heidenmarie ketika hidup tanpa uang masih bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan menjadi guru.

Kita tidak perlu seradikal itu memang. Namun jika anda sudah merasa lelah dengan uang, ada baiknya anda melepaskan sejenak uang dari kehidupan. Lupakan uang untuk sesaat. Kita selalu berpikir uang bisa membeli kebahagiaan. Bisa benar namun sering juga kita salah.

Heidenmarie dan Mark Boyle justru mendapatkan kebahagiaan tanpa uang. Bukankah Kita selalu mencari kebahagiaan dalam hidup?

Lepaskan sejenak semua itu jika kita sudah merasa lelah. Lepaskan sejenak semua itu jika kita sudah hambar dalam merasa. Lepaskan sejenak semua itu jika sudah terlalu membelenggu.

foto : http://www.ratihayuwulandari.wordpress.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s