Soal Riedl, PSSI Tak Jelas

Tuduhan PSSI kabinet baru dibawah ketua umum, Djohar Arifin, soal kontrak eks pelatih timnas, Alfred Riedl, yang bukan menjalin kerjasama dengan PSSI melainkan dengan Nirwan Bakrie, kini mulai mengabur. Riedl yang belum mendapat surat pemecatan dari PSSI, hanya mengetahui pemecatan dari media, telah menyerahkan salinan kontrak ke PSSI. Sekjen PSSI, Tri Gustoro, mengatakan bahwa kontrak tersebut kini sedang dipelajari oleh Bagian Legal PSSI. Bukan hanya kontrak Riedl, tetapi Wolfgang Pikal, asisten Riedl, juga menyerahkan salinan kontraknya.

Riedl memberikan waktu sepekan kepada PSSI hingga tanggal 26 Juli mendatang untuk menyelesaikan hak – haknya jika terjadi pemecatan sebelum masa kontrak berakhir. Riedl menyatakan bahwa dia mengikat kontrak dengan PSSI dan ditandatangani oleh Nirwan Bakrie sebagai Wakil Ketua Umum PSSI dan Penanggungjawab Timnas. Kontrak tersebut juga ditulis pada kertas berkop PSSI.

http://www.kompas.com

Djohar Husin yang terlanjur menuduh bahwa Riedl dikontrak Nirwan Bakrie, saat ditanya kembali ,hari Rabu 20 Juli kemarin, menyatakan “no comment” dan menyerahkannya kepada Bob Hippy, anggota exco PSSI.

Alfred Riedl mengancam akan membawa urusan kontrak ke FIFA jika PSSI tidak juga memberikan kejelasan. Menurut Riedl, sesuai kontrak maka kompensasi pemecatan yang harus diterimanya adalah Rp.1,5 Miliar.

Sementara Sekjen PSSI, Tri Gustoro, mengatakan bahwa surat pemecatan akan diterima Riedl berbarengan dengan penyelesaian kompensasinya.

Langkah PSSI yang terkesan kontroversial dengan tiba – tiba memecat Alfred Riedl, menuai kecaman dan kritikan. Karena dilakukan menjelang timnas menghadapi pertandingan penting. Perlakuan yang diterima Riedl dengan hanya mengetahui pemecatan dari media disesalkan juga karena Riedl dianggap berjasa membawa timnas menjadi runner up Piala AFF 2010, dan mampu membuat timnas makin dicintai masyarakat.

Hak Siar Timnas

Belum selesai masalah kontrak, PSSI kembali mengejutkan dengan menunjuk SCTV sebagai stasiun TV yang berhak menyiarkan pertandingan timnas. SCTV dinilai memberikan bidding yang paling tinggi diantaran yang lain dengan nilai Rp.10 Miliar mulai dari 28 Juli sampai akhir 2011.

Hanya saja keanehan muncul ketika RCTI (pemegang hak siar sebelumnya) dan ANTV merasa tidak diberitahu soal proses Bidding tersebut. Padahal seharusnya semua stasiun televisi diberi pemberitahuan soal proses Bidding.

RCTI masih punyak satu lagi hak siar timnas yaitu ketika timnas menjalani Leg 1 melawan Turkmenistan, 24 Juli mendatang.

Sementara ANTV juga terancam karena PSSI berniat menelaah kontrak ANTV dengan PSSI sebagai pemegang hak siar tunggal kompetisi LSI. PSSI akan menelaah kembali kontrak dan jika menurut mereka tidak menguntungkan maka akan dihentikan.

ANTV menanggapi sikap tersebut dengan tenang dan menyebut bahwa kontrak mereka dengan PSSI adalah sah dan mempunyai kekuatan hukum.

Kompetisi

Ketidakjelasan PSSI makin bertambah dengan penyelesaian kompetisi antara LSI dan LPI. PSSI mengisyaratkan untuk menggabungkan LPI dengan LSI. Apalagi PSSI merasa klub – klub LPI lebih mandiri karena non – APBD.

Namun langkah ini sudah menuai kritik terutama klub – klub LSI dan divisi dibawahnya. Mayoritas keberatan dengan langkah PSSI ini. Bagaimanapun jika terjadi, klub LPI mempunyai keistimewaan dengan tiba – tiba masuk dikompetisi tertinggi di sepakbola Indonesia.

Hal ini menyakiti perasaan klub – klub divisi utama dan dibawahnya yang harus susah – susah berjuang untuk naik divisi.

Perlu juga dicatat bahwa klub – klub LPI tidak terdaftar di AFC maupun FIFA. Jika penggabungan terjadi maka akan berpengaruh juga kepada jatah Indonesia di Liga Champion Asia, dan AFC Cup.

Pekerjaan yang sedemikian banyak ini menjadi tantangan PSSI baru yang selain berniat melakukan revolusi sepakbola juga harus memenangi hati para pecinta sepakbola Indonesia.

Djohar – Farid harus bisa membuktikan kapabilitasnya dan menepis tudingan bahwa duet ini adalah “boneka” K – 78. Namun sampai sejauh ini langkah – langkah PSSI terkesan kontroversial dan seperti melakukan politik balas dendam dengan “membersihkan” PSSI dari sisa – sisa kabinet lama.

sumber : http://www.kompas.com
http://www.vivanews.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Soal Riedl, PSSI Tak Jelas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s