Pra Piala Dunia 2014 : Gampang – Gampang Sulit

Hasil undian Kualifikasi Piala Dunia 2014 menempatkan Indonesia di Grup E bersama Iran, Qatar dan Bahrain. Pada babak ketiga kualifikasi ini 20 negara Asia dibagi menjadi 5 grup dan setiap juara dan Runner – up Grup berhak lolos ke Babak keempat Kualifikasi.

Sebagai wakil Asia Tenggara, Indonesia tak sendiri karena Singapura ( Lolos mengalahkan Malaysia ) berada di Grup A bersama Cina, Yordania, dan Irak. Sedangkan Thailand menempati grup D bersama Australia, Arab Saudi, dan Oman.

courtesy of http://www.gampangsaja.com

Indonesia akan mengawali kampanye panjang menuju Brazil pada 2 September 2011 dengan bertandang ke Azadi Stadium Tehran, Iran. Selanjutnya timnas akan bertanding pada tanggal :

– Indonesia vs Bahrain ( 6 September 2011, Gelora Bung Karno )

– Indonesia vs Qatar ( 11 Oktober 2011, Gelora Bung Karno )

– Qatar vs Indonesia ( 11 November 2011, Jassim Bin Hammad Stadium )

– Indonesia vs Iran ( 15 November 2011, Gelora Bung Karno )

– Bahrain vs Indonesia ( 29 Februari 2012, Bahrain National Stadium )

Dua lawan yang akan dihadapi Timnas Garuda pernah ditaklukkan. Qatar pernah ditundukkan 2 – 1 saat Piala Asia 2004 Cina. Dua gol Indonesia kala itu dicetak Budi Sudarsono dan Ponaryo Astaman. Kemenangan itu sendiri menjadi sejarah karena langsung membuat Phillippe Trousier, angkat kaki sebagai pelatih Qatar.

Walau begitu Indonesia punya catatan head to head yang kurang menyenangkan dengan Qatar. Karena dari 6 kali pertemuan diberbagai ajang. Indonesia mencatat 1 kemenangan, 1 kali imbang, dan 4 kali kalah.

Sedangkan Bahrain, saya rasa kita masih ingat kenangan Piala Asia 2007 yang digelar di empat negara Asean termasuk Indonesia. Kala itu dua gol Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas menuntaskan perlawanan A’ala Hubail dan kawan – kawan.

Pada Piala Asia 2004 pun Indonesia bertemu Bahrain, hanya saat itu kita kalah 1 – 3. Catatan Head to Head Indonesia dari 5 kali pertemuan dengan Bahrain adalah 2 kali menang, 2 kali seri, 1 kalah.

Sedangkan Head to head dengan Iran tercatat 3 kali pertemuan. Dengan 1 kali imbang dan 2 kali kekalahan.

Jika berbicara peluang, maka sesuai dengan judul diatas peluang Indonesia gampang – gampang sulit. Apalah arti statistik diatas karena jika sudah berada dilapangan, peribahasa bola itu bundar yang akan bisa membuat cerita.

Indonesia akan dihadapkan pada permainan sepakbola gaya ala Arab yang mengandalkan speed, umpan – umpan terobosan, dan keunggulan fisik dan stamina.

Inilah faktor – faktor yang selalu membuat Indonesia merasa inferior kala harus bersua tim – tim dari negara Arab. Indonesia selalu ketakutan jika harus bertemu dengan lawan – lawan yang mempunyai postur tubuh tinggi besar karena alasan klasik yaitu soal stamina. Langkah kaki yang lebih panjang tentu akan sulit mengejar dengan langkah kaki yang lebih pendek.

Pengalaman kualifikasi Piala Asia 2011 layak dijadikan pelajaran. Ketika Benny Dollo, selaku pelatih timnas, membawa Indonesia memutus rantai catatan selalu lolos ke Piala Asia sejak 1996.

Indonesia gagal pada kualifikasi itu. Kegagalan lebih disebabkan, dalam penilaian saya, perasaan kalah sebelum bertanding dengan melihat keunggulan fisik lawan. Penerapan permainan dilapangan pun nyata penuh “ketakutan”. Permainan Defensif menjadi ciri khas timnas. Indonesia hanya mencetak 3 gol selama kualifikasi. Hanya imbang 3 kali dan kalah 3 kali mengubur asa Garuda di Asia.

Puncak kekecewaan terjadi saat salah seorang suporter Indonesia, berlari membawa bola ke gawang Oman dan berusaha membobol gawang Ali Al-Habsi.

Indonesia dikalahkan dirinya sendiri bahkan jauh sebelum bertanding. Perasaan pesimis, lemah, menilai kekuatan lawan secara berlebih membuat Indonesia lebih sering meraih kecewa.

Indonesia sebenarnya bisa jika percaya diri. Contoh ketika mengalahkan Qatar, Bahrain, dan terakhir Turkmenistan menjadi sebuah fakta bahwa postur tubuh tinggi besar tidak selamanya menakutkan. Semuanya dapat diatasi dengan strategi yang pas, kekompakan, dan kepercayaan diri.

Lebih jauh lagi rasanya PSSI kabinet baru harus memasang standar baru di Liga Indonesia. Yaitu standar VO2maxx yang sekiranya menyamai negara – negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Berikan reward dan punishment kepada klub – klub berkaitan dengan peningkatan standar VO2MAXX. Ini untuk menjawab persoalan stamina pemain timnas dan pelatnas yang tidak terlalu habis porsinya untuk menggenjot fisik.

Tapi, persoalan format kompetisi pun belum selesai bagaimana mau memikirkan soal stamina pemain timnas.

Balik lagi soal peluang, ya saya tetap pada harapan gampang – gampang sulit. Gampang karena kita pernah mengalahkan mereka dan itu seharusnya menjadi penebal kepercayaan diri dilapangan. Sulit, ketika semuanya diperumit oleh perasaan takut dan cemas melihat lawan.

Berjuang terus Garuda !!!!

sumber : http://www.wikipedia.org

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s