PSSI ‘Selamatkan’ LPI

Federasi Sepakbola Argentina ( AFA ) sempat mengeluarkan wacana yang kontroversial beberapa waktu yang lalu. Mereka hendak menggabungkan Primera Division dan Primera B Nacional menjadi satu divisi dan satu kompetisi. Ini berarti menggabungkan 38 klub dari dua divisi yang berbeda dilebur kedalam satu kompetisi.

Namun rencana ini sudah ditentang para pemain, pelatih, klub dan suporter sepakbola. Karena rencana ini lebih kental akan aroma politis untuk menyelamatkan salah satu “wajah” persepakbolaan Argentina yaitu klub River Plate yang terdegradasi musim ini. Turun kasta River Plate ini memang mengecewakan banyak pihak, karena klub ini merupakan salah satu kekuatan sepakbola Argentina dan ikon Argentina selain Boca Junior.

Walau begitu rencana “penyelamatan” River Plate dengan meleburkan kompetisi divisi utama dengan divisi I ditentang banyak pihak. Biarpun River Plate adalah klub legendaris Argentina namun selayaknya hukum kompetisi, untuk naik kembali maka diperlukan perjuangan dengan menempuh kompetisi divisi I. Disinilah letak nilai sportivitas dan fair play tetap dijunjung. Masih beruntung pihak – pihak yang terlibat persepakbolaan Argentina masih dimiliki “kesadaran” dalam menanggapi rencana federasi ini.

Di Indonesia hal serupa nampaknya akan terjadi. PSSI yang kini dipimpin Djohar Arifin Husin dituntut untuk menuntaskan LPI ( Liga Primer Indonesia ). Awalnya LPI yang disebut FIFA sebagai Breakaway League dan tidak diakui, sudah diakui PSSI ketika Komite Normalisasi pimpinan Agum Gumelar mengendalikan PSSI.

Setelah kemenangan Djohar Arifin Husin – Farid Rahman maka keduanya dituntut untuk menyelesaikan masalah LPI. Mungkin akan terasa mudah bagi PSSI untuk memasukkan LPI ke dalam struktur kompetisi sepakbola Indonesia dengan menempatkannya dibawah Liga Super Indonesia dan Divisi Utama. Dengan alasan klub – klub LPI baru berdiri sekitar 6 bulan dan belum mendapat pengakuan dari AFC maupun FIFA. Juga karena LPI tidak memiliki kompetisi berjenjang sehingga sulit untuk menentukan statusnya apakah kompetisi teratas atau terbawah karena tidak divisi lain di LPI. Selain itu untuk memenuhi rasa keadilan bagi klub – klub LSI, Divisi Utama dan divisi lain dibawahnya yang telah berdiri duluan dan mengikuti kompetisi sejak lama.

http://www.beritabolanasional.blogspot.com

Hanya saja semuanya menjadi bias karena Djohar Husin – Farid Rahman adalah usungan Kelompok 78 yang notabene para pendukung Arifin Panigoro, sang pendiri, pemodal, pemilik Liga Primer Indonesia. Juga Arifin Panigoro ini bisa disebut sebagai pemilik semua klub LPI karena dari koceknya klub – klub LPI ini bisa bertahan hidup. Bahkan penggajian semua pemain pun tidak oleh klub namun langsung dari konsorsium LPI pimpinan Arifin Panigoro. Konsorsium yang sampai kini tidak jelas siapa saja orang – orang didalamnya.

Workshop AFC – PSSI 3 Agustus lalu di Hotel Sahid Jaya Jakarta menjadi “jalan” LPI untuk tetap hidup. Bagaimanapun juga, investasi yang dikeluarkan untuk LPI sudahlah besar, dan inilah sebagai “ikon” baru yang diusung PSSI dengan jargon revolusi sepakbola Indonesia. Tentu semua sia – sia jika tiba – tiba klub – klub ini masuk ke divisi bawah. Mungkin juga belum balik modal. Maklum pendanaan klub – klub LPI yang langsung oleh konsorsium, mewajibkan klub tersebut untuk mengembalikan modal dari konsorsium pada jangka waktu yang tertentu.

PSSI demi “menyelamatkan” LPI akhirnya membuat keputusan kontroversial yaitu dengan mengosongkan Liga Super Indonesia dan divisi utama. Istilah mudahnya seperti ini jadi klub divisi utama, LSI, LPI, harus “daftar ulang” untuk mengikuti kompetisi musim depan. Tentunya ada beberapa syarat wajib yang harus dipenuhi bagi setiap pendaftar ulang. Kalau tidak dipenuhi tidak akan bisa ikut kompetisi. Satu hal lagi, dengan sistem ini PSSI tidak memandang strata klub lagi disini, jadi tidak ada pemisahan divisi, semuanya dianggap sama sebagai calon peserta kompetisi.

Syarat – syarat wajib yang harus dipenuhi klub adalah tentang :

1. Aspek Legal = Klub harus berbadan Hukum ( dalam hal ini berbentuk PT.)

2. Aspek Finansial = Mampu secara finansial tanpa APBD, dan menyetorkan Deposit.

– Untuk klub yang ingin berlaga di Liga Super harus setor ke PSSI Rp.5 Miliar.

– Untuk klub yang ingin berlaga di divisi utama harus setor ke PSSI Rp. 2 Miliar.

3. Aspek Infrastruktur : Mempunyai stadion sesuai syarat – syarat AFC.

4. Aspek Sporting : Klub harus mempunyai pembinaan pemain muda.

5. Aspek Personel : Klub harus didukung SDM manajemen yang profesional.

Lima aspek ini harus dipenuhi tanpa kecuali. Namun dimana tempat klub nantinya apakah di Liga Super atau divis utama, itu tergantung kepada kemampuan klub dalam menyetor deposit kepada PSSI. Kalau hanya kuat 2 Miliar ya mau tak mau harus didivisi utama.

Secara umum Klub – klub LSI sudah memenuhi beberapa aspek diantaranya aspek personel dan sporting. Aspek legal baru beberapa klub yang sudah berbentuk PT seperti Semen Padang, Persib, Pelita, Arema, Sriwijaya. Sedangkan sisanya masih menunggu beresnya proses perizinan di Kementerian Hukum dan HAM.

Aspek Infrastruktur menjadi hal dilematis. PSSI mensyaratkan harga mati bahwa stadion harus memenuhi standar AFC. Sedangkan permasalahannya terletak pada kepemilikan stadion di daerah masing – masing yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah. Klub hanya memakai tidak mempunyai hak untuk merenovasi.

Aspek Finansial menjadi ganjalan lain. Klub – klub LSI dan divisi utama yang mayoritas masih didanai oleh APBD harus berpikir keras dan mencari sumber pendanaan baru buat klub karena pemerintah telah melarang APBD digunakan klub sepakbola profesional mulai musim depan. Ditengah pencarian mereka akan sumber keuangan baru, beban mereka tambah berat dengan adanya deposit yang disyaratkan oleh PSSI untuk mengikuti kompetisi.

Bagaimana dengan klub LPI. Mereka selalu mengklaim bahwa mandiri. Padahal pengertian mandiri mereka adalah Non – APBD karena mereka didanai oleh Konsorsium LPI. Sedangkan untuk sumber keuangan sendiri dalam artian benar – benar mencari sendiri, mereka pun belum punya. Contoh teranyar salah satu alasan Medan Chiefs bubar adalah ketiadaan dana.

Namun yang jadi pertanyaan apakah deposit akan menjadi ganjalan mereka?? rasanya tidak jika mereka masih didanai oleh Arifin Panigoro.

Aspek sporting. Mayoritas klub sudah punya pembinaan pemain junior di klub masing – masing. Sedangkan personel, klub – klub LSI maupun divisi utama sudah didukung oleh para pelatih yang berlisensi A dan B.

Oh iya, dan semua dokumen persyaratan ini harus dikirimkan ke PSSI paling lambat 22 Agustus 2011. Pada tanggal 23 Agustus 2011 PSSI akan memverifikasi semua dokumen yang masuk dan nantinya klub ini akan dibuat peringkat yang berpengaruh untuk penentuan posisi klub dikompetisi. Pada saat yang bersamaan klub juga harus menyertakan surat jaminan yang isinya menyatakan kesanggupan mengikuti kompetisi selama 3 tahun berturut – turut. Oh jangan lupa setor deposit juga.

Pengumuman klub – klub peserta kompetisi musim depan akan diumumkan pada 25 Agustus mendatang. Pada tanggal 3 September 2011 PSSI akan menyerahkan dokumen kelengkapan kompetisi pada AFC. Kompetisi akan dimulai tanggal 8 Oktober 2011.

Sikap PSSI dengan “mengosongkan” Liga Super Indonesia dan divisi utama dari peserta sangatlah membingungkan. Ibaratnya mereka menebang habis apa yang telah menjadi pondasi persepakbolaan nasional beberapa tahun belakangan. Liga Super Indonesia walaupun masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya termasuk salah satu liga yang diakui di Asia. Bahkan di Asia Tenggara, Kompetisi sepakbola Indonesia adalah yang terbaik.

Inilah jalan PSSI untuk mengakomodasi “wajah” mereka yaitu melalui klub – klub LPI. Ide untuk merger antara klub LSI dan klub LPI yang sedaerah sudah ditolak. Alasan penolakan adalah setiap klub mempunyai sejarah yang berbeda walau sekota atau sekabupaten. Selain itu dibalik ide merger ini, klub LPI akan lebih ditonjolkan daripada klub pasangannya. Ibaratnya Klub LPI “numpang nama” pada klub LSI atau divisi utama yang sudah mengakar dimasyarakat.

Maka workshop AFC adalah jalan lain yang ditempuh PSSI untuk menyelamatkan LPI. Sebelum workshop dimulai, anggota komite eksekutif PSSI yang membidangi kompetisi, Sihar Sitorus, mengatakan hanya klub LSI dan divisi utama yang diundang dalan workshop. Tapi sang ketua, Djohar Arifin Husin, mengatakan hal lain dengan memperbolehkan Klub LPI untuk hadir dan ikut “daftar” menjadi peserta kompetisi musim depan.

Satu hal yang penting. Klub – Klub LPI belum menjadi anggota PSSI, AFC maupun FIFA. Apakah tidak melanggar aturan jika nanti mereka ikut kompetisi resmi dan level tertinggi padahal belum jadi anggota?

PSSI yang terkesan tegas dengan 5 syarat bagi setiap klub dalam pengamatan saya akan menerapkan kembali ke-khas-an PSSI orde lama. Yaitu kompromi. Jika secara tegas diberlakukan kelima syarat itu, maka hanya segilintir klub yang ikut kompetisi. Contoh dari aspek stadion, hanya beberapa saja stadion di Indonesia yang memenuhi syarat AFC maupun FIFA. Semua stadion ini adalah milik pemerintah bukan klub. Apakah PSSI sudah memikirkan hal ini?

Mungkin timbul pertanyaan apakah 5 syarat ini adalah baru ditetapkan AFC. Jawabannya TIDAK. Beberapa tahun terakhir PSSI orde lama sudah menetapkan syarat ini. Namun pemenuhan kelima syarat ini tidaklah sekaligus tetapi bertahap dan paling lambat tahun 2012 semua klub sudah memenuhi 5 syarat dari AFC.

Disaat format dan calon peserta kompetisi masih membingungkan. Sang ketua, Djohar Arifin Husin, malah melontarkan ide “gila” yaitu kompetisi dibagi menjadi beberapa wilayah. Halooooo….format kompetisi satu wilayah adalah salah satu syarat dari AFC pak Ketua!! dan idealnya kompetisi memang hanya satu wilayah, karena kualitas kompetisi akan terjaga.

PSSI tampaknya memang ingin menggolkan semboyan “change the game” LPI dengan perubahan kompetisi ini. Bola dikaki mereka sekarang saatnya mereka memainkan bola dalam pertandingan yang penuh aroma balas dendam.

Saya hanya membayangkan Persiba Bantul, Persiraja Banda Aceh, Mitra Kukar, Persidafon Dafonsoro, yang baru beberapa waktu lalu berpesta karena berhasil promosi ke Liga Super Indonesia, kini harus gigit jari.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “PSSI ‘Selamatkan’ LPI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s