Ramadhan Tanpanya

Ramadhan tahun 1432 hijriyah. Ramadhan ke – 28 dalam hidupku. Ini juga menjadi ramadhan yang sunyi karena ayah sudah tak bersama kami lagi. Padahal ayah sudah berencana untuk Shaum tahun ini. Sudah 2 tahun ayah dilarang untuk shaum karena penyakit gagal ginjal yang mengharuskannya harus selalu minum.

Kita hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Sebulan yang lalu, ayah meninggal dunia. Impian luhur ayah untuk bisa merasakan nikmatnya shaum kembali, berburu waktu menunggu adzan magrib, mendirikan taraweh, hanya menjadi impian belaka.

Tahun lalu, aku masih ingat, walau tak shaum ayah masih melakukan taraweh. Hanya biasanya aku menjadi makmum, kemarin aku menjadi imam. Di awal – awal bulan Ramadhan ayah masih mengimami kami. Hanya sesak napas yang sering kambuh ketika lelah membuat ayah memutuskan tidak menjadi imam.

Tersengal – sengal napasnya, menderu dalam setiap tarikannya. Apalagi ketika bangkit dari sujud, berat dan cepat dalam helaan napasnya, masih ku ingat ketika kami berdua melaksanakan taraweh. Aku selalu bertanya, cape pa? Dijawabnya ” iya ” namun tak sekalipun ayah meminta jeda atau istirahat. Semangatnya mengalahkan kelemahan fisiknya.

Kami tahu, ayah sangat ingin melakukan shaum. Namun peringatan dokter bahwa ginjal harus selalu basah, tidak boleh kering, membuat semuanya tak mungkin. Shaum selama 13 jam tanpa minum tentunya hanya akan memberikan derita bagi ayah. Walau dalam setiap sorot matanya ketika kami sahur ataupun berbuka, ayah sangat merindukan shaum. Beliau selalu bergabung dengan kami pada subuh dan magrib, berkumpul di meja makan seperti yang selalu kami lakukan. Namun walau ikut makan minum, ayah menyadari bahwa ini semua tak lengkap tanpa shaum.

Tahun inilah beliau berencana untuk shaum. Memang menjelang “kepulangannya” ayah sudah jarang lapar. Mungkin inilah yang memotivasi ayah untuk bisa melaksanakan shaum. Karena beliau merasa jarang makan pun dia kuat.

Ibu mengiyakan waktu ayah mengutarakan niatnya itu. Satu lagi yang ayah khawatirkan adalah pertanggungjawaban di akhirat kenapa tidak shaum. Ayah hanya berkelakar bahwa ketika nanti ditanya, dia akan menjawab “kata dokter!”. Walau ayah tahu orang yang sakit keras mendapat dispensasi di bulan Ramadhan. Tetapi kerinduan untuk beribadah, melaksanakan kewajiban tak pernah surut dari hatinya.

Ramadhan kini cepat berlalu. Bagai anak panah yang melesat kencang lepas dari busur. Ini hari ke – 22. Sangat cepat bahkan terasa lebih cepat dibanding tahun kemarin.

Kehilangan seseorang yang sangat kami cintai, sangat terasa menyakitkan. Kami semua ikhlas karena memang inilah takdir yang tak bisa dilawan. Kita semua akan mati. Kehampaan yang mendera kami hari demi hari. Hari – hari kami dipenuhi kenangan.

Setiap hari aku mencoba menyusun puzzle kenangan ramadhan bersama ayah. Dalam sadarku aku merangkai semuanya. Terkadang apa yang kulihat langsung memicu rantai kenangan untuk bereaksi. Aku ingat pernah bersama ayah seperti ini, aku ingat ayah pernah seperti ini. Setiap hari inilah yang selalu memenuhi rongga pikiran.

Sementara kesepian sesak memenuhi rongga dada. Pada setiap apa yang kumiliki ada kerinduan tentang ayah, pada setiap yang kulakukan ada kehampaan.

Dirimu pergi dengan meninggalkan berjuta kenangan, berserak pada setiap hari. Kau pulang meninggalkan kehampaan, kesunyian pada setiap detik yang kami lalui.

Hanya didalam do’a aku menjumpaimu, hanya dalam kenangan kita bersama kembali. Ayah kami menyayangimu.

“kita akan pergi dan ditinggal pergi”

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s