Jangan Menyerah

Siaran pagi ini saya membawakan sebuah kisah menarik tentang seorang mantan atlet pencak silat yang pernah mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Lebih hebat lagi karena dia adalah seorang wanita, seorang single parent yang harus menghidupi kedua anaknya.

Marina ( 47 tahun ) merupakan mantan atlet pencak silat yang saat masa jayanya pernah menjadi Juara Asia. Selepas pensiun dari ajang beladiri, wanita ini memasuki fase – fase berat dalam kehidupannya.

Berpisah dengan suaminya dan dihadapkan pada kenyataan masa – masa manis telah usai.

Mantan atlet, hampir dimana – mana, sehabis jasa mereka tak terpakai lagi memang harus pintar – pintar bertahan hidup. Ada yang menurunkan keahliannya menjadi pelatih, ada yang bekerja di pemerintahan atau perusahaan swasta, ada yang lebih tragis dari itu.

Ibu Marina harusnya menikmati masa pensiun atletnya dengan tenang. Tapi itu tak terjadi karena dia harus berjuang untuk kehidupan dengan menjadi seorang supir taksi.

Namun meski dia pernah mengharumkan nama Indonesia dan saat ini dia diacuhkan, dia tak mau meminta belas kasihan dan merengek kepada pemerintah untuk kehidupan yang lebih baik.

Dia bertahan hidup dan berjuang dengan jalannya sendiri. Tujuannya jelas. Yaitu ingin melihat anak – anaknya jadi sarjana.

Kisah Ibu Marina, adalah salah satu dari banyak kisah mantan atlet yang diusia senja kerepotan untuk hidup. Tak ada uang pensiun. Berbagai medali, piala, yang dulu menghiasi lemari mereka, mungkin sudah berpindah tangan ke tukang loak untuk makan sehari – hari.

Satu hal yang saya dapat dari kisah ini adalah perjuangan yang hebat untuk bertahan hidup. Mereka mungkin sarat puja – puji dahulu, namun sekarang siapa yang akan mengenal mereka.

Dahulu mungkin uang mereka mencukupi, namun sekarang untuk sehari – hari saja sulit.

Perubahan keadaan yang drastis ini jika seseorang tak mempunyai mental baja, mungkin mereka bisa jatuh stress dan hanya duduk melamun sepanjang hari.

Mental baja yang didapat lewat latihan selama menjadi atlet untuk menjadi yang terbaik di arena, kini menjadi alat untuk bertahan hidup. Salah satu naluri dasar manusia adalah bertahan hidup. Tetapi tak semua orang bisa memakai naluri ini dengan benar, tak semua orang bisa terus berjuang. Sebagian orang akan mengucap “menyerah”.

Hidup ini bagai roda kadang diatas kadang dibawah. Semuanya menuntut kesiapan mental. Bahkan menghadapi kebahagiaan pun kita harus mempunyai mental yang kuat menerimanya. Apalagi dimasa – masa suram. Sehingga seseorang yang tak kuat akan berkata hidup ini kejam.

Mungkin hidup ini tidak kejam. Hidup ini penuh dengan masalah. Tetapi tak ada masalah tanpa solusi, tak ada malam tanpa siang, tak ada hujan tanpa tandus, tak ada harapan tanpa kenyataan.

Mungkin ini terdengar klise. Tapi menengok kisah Ibu Marina, saya menjadi malu. Karena kadang kita sering malas dan menyerah menghadapi masalah. Padahal keadaan kita lebih baik dari Ibu Marina.

Apa yang dialami pun tidak sehebat dan setragis Ibu Marina. Tapi dia bisa menangani semuanya dengan baik. Dia memperjuangkan cita – citanya walau berat, dia tanpa malu menjadi seorang supir taksi walau dulu dunia mengenalnya.

Berjuang di Arena untuk menjadi Juara Asia, kini Ibu Marina berjuang di Arena kehidupan. Menang atau kalah tak akan ada yang tahu apa yang dibawa esok hari. Tetapi Ibu Marina terus berjuang.

sumber : republika.co.id

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s