PPD 2014 : Blunder Wim

Blunder. Itulah yang hinggap dibenak saya ketika melihat Indonesia vs Bahrain yang baru saja habis. Pertandingan yang sejatinya penuh dengan optimisme harus ditutup dengan luka karena Garuda kalah 0-2.

Mengapa blunder? karena Indonesia turun dengan formasi yang kurang biasa plus penempatan pemain yang tidak biasa. Indonesia turun dengan formasi 4 – 2 – 3 – 1.

Pos bek diisi Benny Wahyudi – M.Roby – Hamka Hamzah – M.Nasuha. Dua gelandang bertahan diisi Ahmad Bustomi dan Firman Utina. Didepan mereka trio Boaz Solossa – Bambang Pamungkas – M.Ridwan, mendukung striker tunggal Christian Gonzalez.

Formasi ini memang menjanjikan gebrakan dari lini kedua. Bambang Pamungkas, saya rasa, pada awalnya dijadikan second striker. Sedangkan Firman Utina menjadi playmaker seperti biasa namun daerah operasinya lebih ke dalam.

Entah kenapa semuanya tak berjalan mulus. Jarak antar pemain malah melebar, sedangkan kebiasaan umpan jauh Indonesia terus dipraktekkan. Firman justru lebih berperan seperti gelandang bertahan sementara Bambang Pamungkas lebih menjadi penjemput bola.

Ketidak mulusan ini ditambah dengan switching side aneh antara Boaz dan M.Ridwan. Boaz yang kidal dipaksa bermain dikanan, sementara M.Ridwan yang lebih fasih dengan kaki kanan dipaksa bermain kidal.

Permainan dari kaki ke kaki pun tidak muncul. Umpan jauh, umpan lambung terus diumbar dari belakang ke depan. Sementara didepan pun kebingungan.

Hanya satu peluang emas di babak pertama lewat Bambang Pamungkas, dan kebobolan diakhir babak pertama menjadi kesimpulan awal.

Babak kedua Wim menurunkan dua jangkar sekaligus. Hariono dimasukkan mengganti Firman Utina. Tetap ini tidak membuat perbedaan, karena Bahrain bisa bertahan dengan baik, dan serangan Indonesia jarang masuk ke kotak penalti Bahrain.

Indonesia malah menderita gol kembali, setelah ketidakdisiplinan pemain belakang membuat Markus tak berdaya membendung bola.

Indonesia di pertandingan kali ini benar – benar kehilangan arah. Rasanya sangat aneh melihat permainan timnas yang biasanya mengundang greget. Kali ini semuanya nampak membingungkan walau diakhir pertandingan greget itu sempat muncul ketika Indonesia mulai menemukan semangat yang sayangnya terlambat.

Mungkin saja tekanan untuk memenangkan pertandingan juga menjadi beban yang terlalu sarat bagi para pemain. Sehingga skema permainan menjadi kacau.

Tragedi petasan menjadi hal lain dalam pertandingan ini. Saya yang hanya menonton di televisi tak melihat petasan mengancam jalannya pertandingan. Peluit wasit pun bisa didengar dengan jelas oleh para pemain dari Indonesia maupun Bahrain. Entahlah.

Sisa pertandingan 4 lagi. 2 laga home dan 2 laga away. Indonesia benar – benar harus bisa mengambil poin dari semua pertandingan sisa. Tidak boleh ada kekalahan lagi jika mimpi Brazil 2014 masih mau berlanjut.

Tenanglah pemain ke -12 alias kami para suporter setia akan selalu berada dibelakang kalian. Terbanglah Garudaku!!!

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s