Can You Give Us Victory Meneer? (Jangan ikutan salahkan pemain)

Setelah kekalahan Indonesia atas Bahrain suara – suara kontra atas kepemimpinan Wim Rijsbergen di timnas Indonesia mulai bermunculan. Lihatlah komentar – komentar atas pemberitaan Timnas di berbagai media online, hampir semua menghujat Wim Rijsbergen, apalagi setelah Wim mengeluarkan komentar yang menyalahkan pemain. Wim menyebut pemain kita belum siap bertanding di level internasional.

Memang rasanya sangat tak etis jika Wim Rijsbergen menyalahkan pemain. Karena pemain hanya menjalankan skema dan instruksi pelatih. Mungkin memang instruksi pelatih tak dijalankan pemain saat melawan Bahrain, namun ini seakan ditunjang dengan penempatan pemain yang membuat kening kita mengernyit bertanya – tanya untuk apa Boaz bertukar posisi dengan M.Ridwan?.

Anyway memang Wim dikontrak oleh PSSI disaat pemain – pemain timnas sudah terdaftar ( warisan Alfred Riedl ). Walau sempat melatih PSM Makassar di kompetisi LPI namun Wim belum sepenuhnya mengenal karakter pemain Indonesia.

Wim menegaskan bahwa akan ada perombakan skuad, dia akan memilih pemain yang sesuai dengan visi permainannya. Visi yang mulai ditunjukkan saat timnas berujicoba dengan Palestina, Jordania lalu melawan Iran dan Bahrain.

Di dua pertandingan awal melawan Turkmenistan, skema Alfred Riedl masih terasa. Wim pun terbantu dengan kehadiran seorang Rahmad Darmawan ( sekarang pelatih timnas U-23) yang menjadi jembatan penghubung antara dia dengan pemain. Pada dua fase awal ini peran Rahmad Darmawan lebih menonjol, karena Wim pun baru datang memimpin latihan beberapa hari menjelang keberangkatan tim ke Turkmenistan.

Wim hanya punya waktu singkat dan merasa ini bukanlah para pemain pilihannya. Kini setelah Rahmad Darmawan ke timnas U-23, Wim melaksanakan semuanya “sendiri”. Memang hasilnya tidak terlalu menggembirakan jika dilihat dari 5 pertandingan yang baru saja dijalani. Satu kali imbang lawan timnas U-23, menang sekali, kalah tiga kali.

Kita lihat apakah Wim mampu membuat sebuah perubahan “besar” pada laga melawan Qatar nanti dengan janji perombakan skuad Garuda merah putih. Apakah ideologi total football Belanda bisa diterapkannya di Indonesia?

Sebagai catatan Wim memang ada di tim Trinidad and Tobago di Piala Dunia 2006, tapi mohon dicatat saat itu posisinya asisten pelatih layaknya Liestiadi di timnas sekarang. Fungsi, tugas dan tekanannya beda. Apalagi tekanan masyarakat Indonesia sangatlah besar karena sudah ingin segera melihat prestasi nyata timnas, bukan janji – janji belaka.

Disisi lain PSSI seperti menelan ludah sendiri terkait Alfred Riedl. PSSI yang menuduh bahwa kontrak Riedl dijalin bersama pribadi Nirwan Bakrie, kini harus menjelaskan keputusan pemutusan kontrak Riedl kepada FIFA. Dari sikap FIFA secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kontrak Riedl memanglah dengan lembaga PSSI.

Jangan Ikutan Salahkan Pemain

Belum cukup dengan “kemarahan” atas Wim Rijsbergen, komentar mengenai performa pemain juga ikutan manggung. Kebanyakan menyorot penampilan Markus Horison dan Bambang Pamungkas.

Markus Horison memang akhir – akhir ini menurun penampilannya. Musim kemarin di Persib dia harus rela berbagi tempat dengan kiper kedua, Cecep Supriatna. Markus pun punya penyakit sering kehilangan konsentrasi.

Tetapi dalam pertandingan kontra Bahrain memang bola – bola pemain Bahrain yang menjadi gol, harus diakui adalah bola – bola yang sulit. Bola menyilang datar dan situasi one on one kebanyakan menjadi gol di sepakbola manapun, siapapun kipernya.

Apakah anda ingat gol Turkmenistan ( skor 4 -3 ) di GBK yang dihasilkan lewat situasi one on one, bahkan Ferry Rotinsulu bergerak ke arah yang berlawanan dengan bola. Ini menunjukkan tingkat kesulitan memprediksi arah bola dalam situasi ini.

Bambang Pamungkas (BP ) memang tak selincah dulu. Usia telah mereduksi kemampuannya. Namun dari era Peter Withe, Benny Dollo, Alfred Riedl, namanya selalu dipanggil oleh para pelatih itu. Ini menunjukkan bahwa kemampuan, skill, ketajamannya masih berguna bagi timnas. Dia adalah pencetak gol terbanyak di timnas sampai sekarang, dan dia juga musim kemarin bisa masuk ke jajaran pencetak gol terbanyak di LSI dengan 12 gol.

Mengenai permainannya lawan Bahrain kemarin, BP ditempatkan di posisi yang tak ideal yaitu sebagai pemasok bola. Biasanya dia adalah striker. Ditambah ketidakjelasan permainan timnas kemarin, maka BP menjadi bulan – bulanan kekesalan.

Ada juga yang menginginkan pemain naturalisasi. Victor Igbonefo, Greg Nwokolo digaungkan untuk segera dipanggil. PSSI sendiri sudah menyatkan sikap tak akan melakukan program naturalisasi kembali. Tapi itu semua tergantung kepada pilihan pemain Wim Rijsbergen nantinya.

Bahkan ada yang menginginkan Sergio Van Dijk. Pertanyaannya adalah apakah kita pernah melihat secara langsung permainannya? Pemain indo-belanda sampai saat ini belum terlalu sukses. Ruben Wuarbanaran dan Diego Michiels pun belum terlalu terlihat permainannya. Bahkan di ujicoba lawan timnas senior Rahmad Darmawan baru memainkan mereka di menit – menit 70 dan 80.

Semuanya kembali kepada kemampuan seorang pelatih .Kita lihat saja nanti saat melawan Qatar, apakah Wim mampu memaksimalkan skuad yang baru. Apakah dia mampu membuat para pemain kita menjadi “buas”? apakah dia mampu menerapkan permainan yang jelas?”

Wait n See.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s