Playmaker “Mungil” Terbaik Indonesia

Indonesian Midget. Masih ingat berkali – kali kata ini diucapkan oleh komentator televisi Australia saat laga pra Piala Asia 2011 antara Australia melawan Indonesia.

Midget yang bisa diartikan kerdil atau pendek. Si Komentator merujuk pada perawakan beberapa pemain timnas yaitu Firman Utina, Syamsul Chaerudin, Hariono dan Eka Ramdani yang rata – rata memiliki tinggi badan antara 165 – 170 cm. Paling pendek diantara pemain timnas yang lain. Memang terlihat kecil dilapangan dibandingkan dengan para pemain Australia dan sudut pengambilan gambar makin kentara memperlihatkan “kecil”-nya mereka.

Walau begitu dari segi skill dan talenta mereka tidak bisa dibilang “kerdil”. Masuknya mereka ke timnas bahkan Firman, Hariono dan Eka masih menjadi penghuni reguler timnas sampai sekarang menunjukkan kualitas yang dimiliki oleh mereka.

Kata Midget ini membawa pikiran saya beberapa tahun ke belakang. Mengingatkan saya tentang beberapa playmaker jempolan Indonesia yang meskipun berpostur tubuh kecil tapi punya skill besar sejak saya mulai rutin menyaksikan timnas Indonesia bermain.

Siapa yang tak kenal Fachri Husaini. Playmaker setia Pupuk Kaltim ( Bontang FC ). Punya olah bola menawan, umpan matang, dan ketajaman. Membela timnas dari tahun 1986 – 1997 dengan catatan 42 caps dan 13 gol.

Saya masih ingat panggung permainan Fachri Husaini adalah ketika final sepakbola Sea Games Jakarta 1997. Indonesia yang ketika itu dilatih Henk Wullems bertemu dengan Thailand diperebutan medali emas. Fachri Husaini mempunyai andil besar dalam meloloskan Indonesia ke babak final dengan satu golnya ke gawang Singapura pada pertandingan semifinal yang berakhir dengan skor 2 – 1 untuk Indonesia.

Dibabak final pun, Fachri menunjukkan kualitasnya. Sayangnya Indonesia harus gagal meraih medali emas ketiga Sea Games setelah Indonesia kalah dalam adu penalti.

Kini Fachri Husaini menjadi pelatih di klub yang membesarkan namanya Pupuk Kaltim yang berganti nama menjadi Bontang FC. Sosoknya sebagai pelatih dikenal sebagai sosok pelatih potensial. Walau gagal menyelamatkan Bontang FC dari jurang degradasi musim kemarin namun dedikasinya patut diacungi jempol. Karena disaat krisis keuangan mendera klub dan pembayaran gaji terkatung selama berbulan – bulan, Fachri tetap setia.

Sosok mungil lainnya adalah Yusuf Bachtiar. Playmaker legendaris Persib Bandung. Ikut mengantarkan Persib menjadi kampiun perserikatan 1989 dan menjadi juara Liga Indonesia I ( Liga Dunhill ) 1994. Punya dribling yahud, visi permainan jelas, cakap dalam memainkan tempo, dan umpan matang membuat ia menjadi langganan timnas dari tahun 1983 – 1993.

Pelatih Indra Thohir sampai perlu memanggilnya kembali ke Persib Bandung pada Liga Indonesia 2001 saat dirinya sempat satu tahun absen dari sepakbola dan usianya saat itu sudah 39 tahun. Bisa dilihat begitu pentingnya seorang Yusuf Bachtiar. Disisi lain ini juga menunjukkan belum ada pada saat itu playmaker yang bisa menyamai kualitasnya di Persib.

Playmaker “kecil” lainnya adalah mantan pemain Mastrans Bandung Raya, Pelita Jaya dan timnas Indonesia, Alexander Saununu.

Mengantarkan Bandung Raya sebagai Juara Liga, penampilan Alexander Saununu ketika itu benar – benar mendukung ketajaman duet Peri Sandria – Dejan Gluscevic. Alexander yang juga sempat memperkuat Persikab kini masih bergelut dalam dunia sepakbola dengan menjadi pelatih.

Pemain yang satu ini pernah mendapat label pemain termahal ketika pindah dari Medan Jaya ke Pelita Jaya. Sosok yang kerap dipanggil Uwak ini memang lebih ke gelandang bertahan, tetapi dia sering juga berfungsi sebagai playmaker. Intinya dilapangan tengah dia fasih menjalankan peran bertahan dan menyerang.

Ansyari Lubis selain mempunyai umpan – umpan akurat juga dikenal sebagai eksekutor tendangan bebas. Pemain yang terakhir memperkuat timnas pada 1997 dalam Sea Games 1997 berduet dengan Fachri Husaini, terakhir berkarir di PSDS Deli Serdang.

Midget lainnya ada pada sosok Imran Nahumarury. Nyong Ambon ini sempat absen 2 tahun dari sepakbola sebelum kembali ke dunia yang membesarkannya kala bergabung dengan Persitara Jakarta Utara tahun 2010.

Imran - Seragam Biru

Pemain mungil ini merupakan gelandang serang yang mengantarkan Persija Jakarta menjuarai Liga Indonesia 2001. Pernah pula membela Persib Bandung dan Persikabo Bogor. Imran memperkuat timnas Indonesia sebanyak 21 kali dengan 3 gol. Penampilan terakhirnya dengan skuad Garuda adalah pada tahun 2003.

Para pemain ini hampir sejaman. Bahkan jika dilihat dari urutan waktu, mereka seakan saling mengisi saat yang satu tak lagi dipanggil timnas. Memang masih ada Uston Nawawi, namun bagi saya karena ini tulisan kaitannya dengan postur mungil, maka Uston tidak masuk kategori karena punya postur tinggi.

Bagi saya para pemain ini biar mungil tapi punya peran yang tak bisa dianggap remeh. Bukti bahwa rata – rata mereka baru pensiun diusia hampir menjelang 40 tahun membuktikan bahwa belum ada yang bisa menggantikan mereka. Setidaknya menyamai kualitas permainan mereka.

Indonesian Midget biar kecil tapi menyengat abiz!!!!

*berbagai sumber*

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Playmaker “Mungil” Terbaik Indonesia”

  1. memang saya akui fachry husaini, yusuf bachtiar dan ansyari lubis mainnya hebat. dribel dan umpan oke.
    rindu melihat permainan mereka.

    awalnya ane sempat bingung ini maksudnya yusuf bachtiar atau yusuf ekodono?
    karena mereka sama-sama playmaker hebat pada masa itu.
    dan setelah ane ingat-ngat emang iya beda.. bachtiar di persib sementara ekodono menjadi legenda di persebaya..

    blog ane gan http://ahmadsyawal12.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s