Sudahlah Diam GT & AP !!!

Entah bagaimana isu angin surga tentang revolusi sepakbola Indonesia yang disebarkan oleh Kelompok 78 dan Kubu Jenggala saat mencoba mendongkel Nurdin Halid dari kursi PSSI I kini tak terbukti.

Djohar Husin dan Farid Rahman, Ketua dan Wakil Ketua Umum, memang terbukti merevolusi sepakbola Indonesia. Jika revolusi diartikan perubahan, maka mereka berhasil. Hanya perubahannya negatif dan menjauhi beberapa kemajuan yang telah dicapai kabinet Nurdin.

Pemecatan Alfred Riedl menjadi revolusi pertama kabinet Djohar. Riedl dianggap menjalin kontrak hanya dengan pribadi Nirwan Bakrie. Hari ini PSSI menelan ludah mereka, karena ternyata FIFA meminta PSSI segera menyelesaikan kewajiban PSSI yang tertera dalam kontrak Riedl jika terjadi pemecatan sebelum masa kontrak habis. Kabarnya PSSI harus membayar 1,6 Miliar Rupiah kepada Riedl.

Kompetisi yang telah memiliki pondasi yang kuat dan diakui AFC dan FIFA, dirombak habis. PSSI tercatat 3 kali mengubah rencana Kompetisi. Latar belakangnya sama mengakomodasi klub – klub LPI di kompetisi resmi.

Nama AFC selalu dibawa setiap kali PSSI menerapkan syarat peserta kompetisi. PSSI berlindung dibaliknya. Senjata lain PSSI adalah pelarangan APBD pada klub yang berstatus profesional. Masalah dana terus diapungkan. PSSI memberikan solusi merger dengan klub LPI bagi klub yang kelimpungan mencari sponsor.

Merger yang rata – rata ditolak oleh klub LSI dan Divisi Utama, karena disisi lain mereka sadar klub LPI belumlah menjadi anggota resmi PSSI, AFC maupun FIFA. Beruntung klub – klub LSI dan divisi dibawahnya masih mempunyai kewarasan menanggapi solusi tersebut. Jika dipikir klub LPI berhutang kepada Arifin Panigoro, merger adalah salah satu cara agar dana pinjaman bisa dibalikkan.

Jumlah peserta kompetisi teratas berubah terus. Jika pada awalnya 34 klub dengan sistem 2 wilayah. La Nyalla Mattalitti, salah satu anggota Komite Eksekutif, menolak hal tersebut karena menyalahi statuta PSSI.

Djohar sempat ‘sadar’ kembali ke format satu wilayah dengan 18 tim seperti LSI musim lalu dan pesertanya alumnus LSI plus klub divisi utama yang promosi musim lalu. Harbiansyah Hanafiah ditunjuk menjadi ketua BLI.

Belum sepekan keputusan tersebut, PSSI kembali merubah jumlah peserta dengan 24 klub. Keputusan yang berujung pada mundurnya Harbiansyah Hanafiah yang merasa malu karena PSSI terus melanggar peraturan organisasi.

Kabar tak sedap dibalik keputusan 24 klub itu, Djohar sempat diprotes George Toisutta ( GT ) dan Arifin Panigoro ( AP ) karena hendak mengembalikan kompetisi seperti musim lalu.

PSSI yang terus berubah menunjukkan Djohar Husin tidak mempunyai jiwa kepemimpinan. Kecurigaan bahwa dia adalah boneka GT dan AP semakin kuat. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari orang – orang eks LPI yang kini ada dimanajerial timnas, manajerial kompetisi. Belum lagi kabar yang menyebutkan PSSI sering minta “petunjuk” GT dan AP sebelum membuat kebijakan.

Djohar Husin dan Farid Rahman mungkin ingin menunjukkan mereka adalah kacang yang tak lupa pada kulit. Mereka diusung oleh GT dan AP dan kini mereka menunjukkan balas budi.

Tetapi Djohar dan Farid tidak sadar bahwa sepakbola itu bukan milik GT dan AP semata. Sepakbola itu milik rakyat. PSSI menaungi ratusan klub dan itulah yang harus mereka lebih dengar suaranya karena mereka mempunyai hak dan berstatus anggota resmi.

Kebencian PSSI Kabinet baru kepada Nurdin Halid yang dianggap memelintir statuta FIFA kini malah dipraktekkan kembali oleh PSSI yang memelintir dan melanggar peraturan sendiri.

GT dan AP walau tak resmi menjabat, mempunyai kekuatan atas PSSI. Pemecatan Riedl dan penunjukan Wim Rijsbergen juga dipengaruhi oleh mereka. Bagaimana tidak soal pemecatan Riedl, Arifin Panigoro yang lebih dulu memberikan alasan kenapa kenapa publik. Bukan para pejabat PSSI yang resmi.

GT dan AP sekali lagi harus dipaksa untuk diam, tidak ikut campur sepakbola lagi. Perubahan – perubahan yang mereka usung nyatanya malah berujung kepada ketidakpastian.

Kompetisi terus dikejar – kejar deadline AFC. Jika tidak maka Indonesia kehilangan jatah tampil di Liga Champion Asia dan AFC Cup untuk 3 tahun ke depan. Sebuah kerugian bagi sepakbola Indonesia yang jika ini terjadi maka akan semakin tertinggal dalam persaingan antar klub Asia.

Entah apa yang ada dibenak GT dan AP yang terus menjadi pimpinan bayangan. Kebijakan, keputusan mereka justru membuat masa depan sepakbola Indonesia semakin amburadul.

Mereka harus belajar untuk diam atau apakah mereka harus dipaksa untuk diam?

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Sudahlah Diam GT & AP !!!”

  1. Sepertinya AP dan GT memang harus dipaksa untuk DIAM kawan…hehehe..
    Kita tunggu saja hasil verifikasi klub-klub hari ini. Jika keputusan yang diambil memang benar-benar Absurd..maka kita dukung sekalian mereka-mereka yang mampu untuk memaksa AP dan GT serta boneka-boneka cantiknya DIAM UNTUK SELAMANYA!!!.

    Salam Kenal Kawan..

  2. Salam kenal bung Damianus. Sepertinya memang harus dipaksa. Atau sekali lagi menggelar KLB PSSI daripada semua apa yang telah dicapai kini dikembalikan secara paksa ke titik nol. Tapi nol tersebut justru menggambarkan ketidakkonsistenan, ketidak cakapan, dan ketidak mampuan para pengurus PSSI mengemban amanat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s