Menunggu Hujan Tuntas

Hujan sejak tadi pagi belum tuntas

Lebat walau gerimis. Dingin tapi tak menusuk. Secangkir kopi bukan menawarkan kehangatan, hanya pembuka pagi yang sudah bermulai. Kiranya sejuk inilah yang dinanti. Setelah tandus.

Kemarau terlampau panjang. Mendung tak menjanjikan apa – apa. Tak menerjemahkan deras. Hanya rintik. Sesaat lalu menghilang. Untuk tak diketahui dimana ia jatuh.

Misteri. Semuanya hanya jawaban yang mengambang. Tak pasti. Ketidakpastian mengikat kita. Pada setiap helaan napas. Bahkan sesuatu yang kita yakin terbalut sebuah misteri. Entah berlabuh entah karam.

pic taken from : http://www.coklatpanasdankertas.blogspot.com

Tenggelam. Tak ada perahu yang berlayar selamanya. Satu saat ia akan menemukan surut. Menemukan dangkal. Menjumpai perhentian. Walau harap ditebar seluas samudra. Tapi tak selamanya, mentari disisi kita.

Akan ada kelam, akan ada gelap. Menguji kita. Untuk Menemukan siapa kita didalamnya. Untuk Mengenali siapa kita. Tapi tak selamanya, cahaya akan kembali.

Sehingga kita bisa melihat kemilau sang mentari kala tumbuh, sampai kita menikmati kemilau sang mentari kala berpulang. Sehingga kita bisa menghayati setiap kilauannya yang menggantung di embun pada dedaunan di pagi hari.

Hujan rupanya tuntas. Titik – titik air masih turun. Bergegaslah sebelum ia deras. Berharaplah ia akan segera lebat kembali.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s