Angka

Pagi ini sementara masih saya masih tidur – tiduran dikamar sambil menonton acara olahraga diberitakan PSSI akan memberikan bonus 40 juta Rupiah kepada para pemain jika Indonesia mampu mengalahkan Qatar dalam lanjutan prakualifikasi Brazil 2014.

Jumlah yang banyak kawan. 40 Juta Rupiah. Jika ada digenggaman saya sekarang mungkin saya akan segera cari rumah dan bayar DP, mungkin masih cukup ganti velg yang lebih besar untuk motor saya. Dengan gaji yang telah dipotong hutang ke bank, mengumpulkan 40 juta adalah sesuatu mimpi.

Mungkin juga PSSI menjanjikan bonus sebesar itu mengingat tipisnya peluang Indonesia setelah 2 kali kekalahan lawan Iran dan Bahrain. Apalagi Qatar diperkuat juga para naturalisasi.

40 juta. Membawa saya jauh kedalam pemikiran yang dulu sempat hinggap diotak saat masih berseragam putih abu. 40 adalah angka yang disandingkan dengan 6 angka 0. Angka. Ya itulah yang sempat hadir dibenak. Betapa kita dididik untuk meraih angka sejak kecil, apa yang kita lakukan dikompensasi dengan angka.

Mungkin anda tidak sadari itu, tapi cobalah lihat. Mau mengerti mau tidak tentang satu pelajaran yang penting nilai ulangan bagus. Biasanya itu yang dahulu ditegaskan kepada para siswa. Entah dengan sekarang. Bagaimana mau nilai bagus jika tidak mengerti? ya itu sih terserah siswa bagaimana jalannya. Selama nilainya bagus ya semuanya pun akan senang. Bangga malahan.

Proses disederhanakan dengan melihat hasil akhir. Pepatah yang mengatakan “yang terpenting adalah proses” ditepis dengan “yang terpenting adalah hasil akhir”. Mirip dengan filosofi Jose Mourinho mau dengan cara apapun tim harus menang. Percuma permainan jogo bonito ala Brazil jika akhirnya kalah.

Hasil akhir adalah angka. Tak usah berindah – indah dalam proses, tak usah berpayah – payah menggapai tujuan yang penting di akhir ada angka yang besar bagi kita. Angka telah menyederhanakan prinsip perjuangan, angka sudah mengkerdilkan arti perjuangan.

Satu komentar baru saja saya baca setelah memposting di YNM tentang bonus PSSI tersebut. Salah seorang pengkomentar mengatakan “tidaklah naif karena belajar disekolah sampai perguruan tinggi adalah untuk meningkatkan harga diri dan mencari penghidupan yang layak”.

Betul. Saya akui itu adalah prinsip umum. We learn to survive. Survive means we have decent life, decent job and lot of money. Saya pun belajar untuk kemudian mencari uang.

Pikiran saya kembali jauh kedalam file – file ingatan yang tersimpan diotak. Saya ingat ketika baru beberapa bulan bekerja, saya ditugaskan untuk menyusun sebuah kata pengantar pamflet. Saya diberi arahan lalu saya coba kerjakan.

Setelah selesai bos saya memeriksa dan menyatakan “hasil kerja anda memuaskan”. Hanya kata – kata tanpa angka. Hanya ekspresi wajah puas tanpa angka. Namun itu sudah melambungkan saya. Sudah membangkitkan kebahagiaan saya. Cukup dengan pujian tapi sangat membuat senang.

Lantas saya juga pernah menemukan bahwa kepuasan batin itu tidak cukup. Semua hasil kerja keras tidak cukup dengan kata “bagus” “anda cerdas” tidak cukup. Semuanya harus diterjemahkan lewat angka.

Sisi kepuasan. Sisi hati yang menginginkan sebuah kredit yang layak atas sebuah kerja keras dan pemikiran digelapkan oleh angka. Wajar memang wajar. Tapi kondisinya sudah tak berimbang karena angka lebih mendominasi daripada kebahagiaan yang datang dari kepuasan.

Angka memang dibutuhkan tapi batin pun memerlukan pengakuan. Inilah dua sisi yang kadang sejalan kadang bertentangan. Seringnya angka yang lebih menang.

Kembali ke PSSI. Apakah bonus akan memberikan semangat kepada para pemain. Bisa ya bisa tidak. Jika dilihat dari kondisi sekarang, kompetisi yang semrawut, ada pemain yang belum jelas nasibnya, mungkin 40 juta adalah stimulan yang hebat.

Tapi jangan sampai angka membuat para pemain lupa bahwa ini adalah urusan bela negara. Ada atau tidak ada bonus mereka tetap harus tampil habis – habisan. Tidak mudah menjadi mereka (para pemain timnas) yang diberikan kehormatan untuk menyematkan Garuda didada mereka. Mereka dipilih untuk mewakili mimpi jutaan penggemar sepakbola Indonesia. Mungkin 40 juta adalah angka yang pantas. Tapi mereka tetap harus ingat Garuda didada mereka bukan angka. Garuda didada mereka adalah harga diri dan martabat bangsa yang harus dibela mati – matian tanpa angka. Tanpa berharap kompensasi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

5 thoughts on “Angka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s