Dimana…Dimana..Dimana?

Saya rasa itu pertanyaan yang pas untuk para pengurus PSSI sekarang. Dimana..dimana..dimana..cita – cita merevolusi sepakbola Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Patut kita bertanya soalnya sekarang PSSI sudah kehilangan arah.

Munculnya kelompok 14 yang merupakan klub – klub yang menolak PT.Liga Prima Indonesia Sportindo sebagai pengelola Liga Primer Indonesia ( Liga baru bentukan PSSI dengan 24 klub ). Dikarenakan PT. yang baru ini justru menawarkan hal yang ganjil kepada klub. Jika PT.Liga Indonesia pada kongres Bali kemarin sudah menyusun bahwa pembagian saham PT. 99 % dikuasai klub Liga Super Indonesia dan 1 % PSSI. Maka PT. yang baru ini menguasai 70 % saham atas nama Djohar Arifin Husin atas nama PSSI. Sedangkan 30 % atas nama Farid Rahman yang katanya mewakili klub.

PSSI menguasai 70 % karena dalam alasannya harus menjamin jika ada klub yang bangkrut. Tapi itu katanya, sedangkan dalam keputusan pembagian saham ini klub – klub tidak diajak berembuk.

Kenapa Farid Rahman sebagai wakil ketua PSSI mewakili klub. Jubir PSSI menerangkan bahwa ini adalah bentuk kehati – hatian karena jika atas nama klub harus dihindari kemungkinan klub terdegradasi. Hal yang aneh, kenapa tidak PSSI menyuruh klub – klub yang bergabung di liga sepakbola level I untuk membuat sebuah forum, paguyuban, atau apalah namanya yang bisa menjadi pemegang saham? Jika menghindari kemungkinan klub terdegradasi, maka Farid Rahmdan pun hanya akan manggung sampai 2014.

Selain itu PT. Liga Prima Indonesia Sportindo ( PT.LPIS ) baru disahkan oleh Kemenkum dan Ham pada 10 Oktober 2011. Legalitas dari AFC pun belum dipunyai. Bahkan dalam verifikasi AFC, PT.LPIS mendapat raport merah hanya satu yang positif soal manual liga. AFC masih mengakui PT.Liga Indonesia dengan CEO Joko Driyono sebagai pengelola liga, bukan PT.LPIS dengan Widjajanto sebagai CEO nya.

Bukan hanya itu. Keputusan mengangkat 6 klub juga menjadi bara yang tak kunjung padam. Klub – klub yang musim lalu bergabung di LPI, Divisi Utama, dan terdegradasi musim ini tiba – tiba dimasukkan kembali dengan satu alasan yang diantaranya sangat menggelikan, pesanan sponsor.

Jadwal liga yang dulu menjadi bahan kritikan pengurus PSSI sekarang kepada kabinet Nurdin Halid justru menjadi blunder pengurus PSSI sekarang, karena mereka pun tak becus mengatur jadwal.

Bahkan sempat ada skenario jadwal liga dengan setiap klub bertanding 4 kali dalam seminggu, imbas dengan adanya 24 klub sebagai peserta liga. Gila!! Manajer Liga Inggris saja sering mengeluh jika timnya harus bertanding 5 kali dalam 2 minggu. Apalagi Indonesia yang terdiri dari pulau – pulau dan belum adanya moda transportasi yang bisa mempersingkat waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain maka 4 kali bertanding dalam seminggu sama saja dengan membunuh pemain.

Indonesia Premiere League ( IPL ) atau LPI telah dibuka sabtu, 15 Oktober 2011 kemarin. Namun sejak belum adanya verifikasi pemain terhadap semua klub, maka partai itu bisa dibilang hanya berstatus ujicoba. PSSI buru – buru menggelar pembukaan tanpa persiapan matang karena deadline AFC.

Mereka seharusnya tak harus dikejar deadline jika saja liga tidak dirombak habis – habisan seperti sekarang.

Sampai sekarang belum ada lagi pertandingan liga. Beberapa klub yang dijadwalkan setelah pertandingan Persib vs Semen Padang, menolak bertanding karena masih banyak masalah dalam pengelolaan liga. Menurut kabar liga baru akan bergulir setelah SEA Games. Waktu yang sangat lama. Imbasnya kepada timnas Indonesia. Pemain lama libur tanpa kompetisi yang kompetitif, level permainan dan kebugaran pemain pun menjadi hal yang sukar diharapkan.

Atau pengurus PSSI sudah tak peduli terhadap timnas dan lebih memilih untuk mengotak – atik liga. Menghitung berapa untung yang bisa didapat oleh para pengurus?

PSSI kembali mengulangi kesalahan dengan membiarkan timnas U-23 banyak beruji coba dengan klub. Hal yang jelek sesungguhnya karena tensi permainan antar negara dengan klub sangat berbeda. Sedangkan negara – negara Asia Tenggara lainnya benar – benar serius menjajal kekuatan timnya untuk SEA Games.

Bisa jadi pula PSSI sudah mempersiapkan “alasan” jika timnas U-23 gagal di Sea Games dengan mengatakan bahwa laga ujicoba tidak memadai dan liga tersendat karena adanya pemberontakan?

Jika itu yang terjadi maka inilah jawaban khas politisi yang tidak pernah melihat secara jernih apa sumber masalah yang sebenarnya. Sumber masalah yang paling sejati adalah tindak – tanduk mereka yang sampai sekarang lebih mengutamakan hal – hal yang berbau Rupiah daripada membenahi sektor – sektor yang perlu diperbaiki.

Drama ini akan panjang, saudara. Seperti kasak – kusuk mereka menjelang pemilihan Ketua Umum PSSI kemarin. Bak sinetron, episodenya terus bertambah tak peduli penonton sudah muak dan bosan, yang penting sponsor masih banyak pasang iklan.

Yah dimana dimana hatimu? kemana kemana kemana arahmu?

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

3 thoughts on “Dimana…Dimana..Dimana?”

    1. wkwkw…lama kali cak 2 bulan?!!…ga lupa kan cara nyalaiinnya? hahaha…ga akan kelar cak..selama Rupiah yang berkuasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s